Young Mother

Young Mother
Amukan Rahel


Semua orang yang berada ditempat yang sama pun hanya bisa melongo melihat keberanian Rahel untuk menampar Devano di depan Ciara yang notabenenya istri dari Devano, didepan para teman-temannya bahkan para maid yang kebetulan berada tak jauh dari ruangan itu pun juga sempat melihat tamparan itu, ditambah Rahel melakukan semuanya di rumah orang yang ia tampar.


"Rahel," ucap Ciara yang tadi juga sempat kaget dengan ulah Rahel.


"Apa? kamu mau belain dia? mau belain laki-laki bajingan, bangsat, anjing, babi, brengsek, monyet, laki-laki kayak tai gini yang udah gak tanggungjawab dengan kelakuannya." Ciara hanya bisa menggigit bibir bawahnya saat mendengar semua umpatan keluar dari mulut Rahel. Sahabatnya ini memang sangat lah bar-bar hanya untuk membelanya saja.


"Sini kamu sekarang. Mentang-mentang Ciara hanya diam terus kamu bisa seenaknya gitu aja. Gak semudah itu Ferguso," ucap Rahel sembari menjangkau tubuh Devano dan setelahnya ia langsung meraih telinga Devano untuk ia jewer sekencang-kencangnya hingga membuat sang empu ikut berdiri dengan ringisan menahan sakit di area telinganya yang sudah memerah.


"Rasain nih rasain. Makanya jadi laki-laki itu yang jentel, gak cemen. Berani berbuat ya harus berani bertanggungjawab gak kayak kelakuan kamu ini, udah dapat enaknya eh gak mau susahnya. Emang ya kamu itu bajingan, brengsek, monyet, anjing, babi," tutur Rahel yang tangannya masih ia gunakan untuk menjewer telinga Devano sedangkan tangan satunya aktif untuk mencubit seluruh badan Devano.


"Aw, sttttt," rintih Devano saat badannya terkena cubitan maut dari Rahel.


"Anjir, aku nyesel waktu kuliah sempat jadiin kamu sebagai idola dan tipe idaman pasanganku untuk nanti. Eh taunya kelakuan kamu minus dan sayangnya kebejatan kamu itu tertutup wajah tampan yang sekarang kayak sampah, bangsat," geram Rahel yang masih saja terus menghakimi Devano.


Orang-orang yang disana masih saja melongo dan ada juga yang menahan tawa, karena jika dilihat-lihat Rahel seperti seorang ibu yang tengah memberi pelajaran untuk anaknya. Terlebih Devano tak melakukan perlawanan sedikitpun ke Rahel, walaupun sebenarnya ia bisa melawan wanita yang sayangnya merupakan sahabat dari istrinya itu. Tapi pikirannya masih nalar untuk membalas perbuatan Rahel yang ia pikir itu wajar saja Rahel lakukan. Jika dirinya berada di posisi Rahel, ia juga akan melakukan hal yang sama. Maka dari itu, ia hanya bisa pasrah dan menerima semua kelakuan Rahel walaupun tubuhnya nanti akan membiru semua.


Ciara yang merasa kasihan ke Devano pun ia segera berdiri dari duduknya dan menahan tangan Rahel agar sang empu berhenti mencubit tubuh Devano.


"Udah Hel udah," ucap Ciara.


"Gak, gak akan aku lepaskan laki-laki kayak dia. Dan apa maksud dia tadi panggil kamu dengan sebutan sayang segala bahkan sampai peluk-peluk kamu. Emang ya gak tau malu banget si bajingan yang satu ini," geram Rahel.


"Rahel udah. Malu ih di lihatin orang-orang disini." Rahel kini menghentikan aktivitasnya dengan melepaskan tangannya dari tubuh dan telinga Devano. Bahkan bibirnya sudah maju beberapa senti kedepan kemudian ia menoleh ke arah orang-orang di belakangnya yang sedari tadi menikmati penderitaan Devano, seperti layaknya sedang menonton film di televisi. Lalu kemudian ia melangkahkan kakinya dan duduk di sofa sebelah Ciara lagi.


Sedangkan Devano, ia sudah lebih dulu duduk di tepatnya tadi dengan mengelus-elus telinganya yang terasa hampir lepas dari tempatnya.


"Maaf," ucap Ciara kepada Devano.


"Bu---" belum sempat Devano meneruskan perkataannya, suara Rahel memotong ucapan tersebut.


"Kamu nagapain minta maaf sama dia. Kamu gak salah anjir. Orang yang kayak babi ngepet gak perlu di kasihani. Huh, jadi emosi sendiri aku," tutur Rahel sembari mengibas-ibaskan tangannya ke lehernya. Mungkin karena terlalu terbakar emosi tubuhnya menjadi panas padahal AC di ruangan itu sudah menyala.


"Hel."


"Apa? Kamu mending jauh-jauh dari dia, geseran kesini atau kita tukeran tempat duduk." Lagi-lagi Rahel berdiri dari duduknya dan langsung duduk di tengah-tengah Devano dan Ciara.


Setelah berhasil, ia menatap tajam ke arah Devano.


"Tapi aku sama dia udah---"


"Udah apa hah? jangan mengada-ada ya kamu."


Ciara kini mengelus lengan Rahel agar sang sahabat bisa lebih tenang lagi.


"Hel, mending kamu minum dulu," tutur Ciara sembari memberikan segelas minuman kearah Rahel yang langsung di terima oleh sang empu.


Setalah dirasa Rahel sudah berhenti minum, Ciara tampak menghela nafas sebelum akhirnya angkat suara.


"Hel, ada satu hal lagi yang mungkin kamu belum tau," ucap Ciara dengan takut. Ia benar-benar takut keputusannya menikah dengan Devano ditentang mati-matian oleh Rahel. Bisa-bisa sahabatnya itu mengamuk nanti.


"Katakan," tutur Rahel.


"Sebenarnya aku sama Devano sudah menjalin hubungan dan sudah terikat dalam ikrar pernikahan." Rahel yang baru minum kembali pun terkejut dengan penuturan dari Ciara tadi. Alhasil air yang berada di mulutnya kini menyembur yang kebetulan saat ia ingin menyemburkan air tadi, ia menoleh kearah Devano sehingga yang terkena semburan adalah Devano. Ciara hanya bisa memejamkan matanya sesaat sebelum ia mengambil beberapa tisu dan langsung ia serahkan ke Devano dan langsung di terima oleh sang empu.


"Aduh, maaf, aku sengaja," ucap Rahel kemudian tanpa rasa bersalah ia menoleh kearah Ciara kembali.


"Kamu jangan bercanda ya Ci. Candaan kamu benar-benar gak berkelas banget tau."


"Aku gak lagi bercanda Hel. Aku memang udah nikah sama Devano." Rahel membelalakkan matanya.


"Anjir yang benar kamu, Cia."


"Ya ampun Hel. Aku emang udah nikah sama dia kalau kamu gak percaya, bentar aku cariin foto pernikahan kita." Ciara kini meraih ponselnya yang berada di meja depannya. Kemudian dengan lentik jari-jemarinya menelusuri ribuan foto yang berada di galeri ponselnya.


Setelah ia mendapatkan apa yang ia cari, ia langsung menyerahkan ponselnya kearah Rahel untuk menjadi bukti dari ucapannya tadi.


"Kita nikah 6 bulan yang lalu setelah semua masalah diantara kita selesai. Tak ada pemaksaan sama sekali atas pernikahan ini dari pihak satu dengan pihak lainnya. Pernikahan ini berdasarkan atas keinginan kita berdua yang mencoba berdamai dengan masa lalu yang cukup kelam itu. Ditambah kita punya Al yang berhak mendapatkan kasih sayang seorang ayah. Maka dari itu kita mempertimbangkan pernikahan ini dengan sangat matang, tanpa merugikan sebelah pihak. Dan terlebih lagi setelah melihat perjuangan Devano, perlahan rasa benci di hatiku berganti menjadi rasa cinta, kagum, sayang, nyaman dan merasa tak mau di tinggalkan lagi," jelas Ciara diakhiri dengan gigitan di bibirnya.


"Ja---jadi Al itu anak kamu dan laki-laki bajingan ini?" Ciara menganggukkan kepalanya.


Rahel kini tampak menghela nafas kemudian ia merebahkan tubuhnya disandaran sofa sembari memijit kepalanya yang terasa nyut-nyutan.