
Kini keluarga kecil Devano tengah bersiap-siap untuk pergi ke acara pernikahan Zidan dan Rahel yang akan di adakan di salah satu hotel mewah milik keluarga mempelai laki-laki.
"Al sudah siap sayang?" tanya Devano saat melihat Ciara masuk kedalam kamar mereka setelah istrinya itu mengurus Al di kamarnya. Tak lupa tangan Devano kini tengah sibuk mengancingkan kemeja yang tengah ia pakai.
"Aman. Dia udah siap semuanya. Cuma kurang kamu aja yang leletnya masyaallah," ucap Ciara. Kemudian ia langsung mendekati sang suami dan membantu Devano agar cepat selesai melakukan aktivitasnya. Sedangkan Devano, ia kini tersenyum dan melingkarkan tangannya di pinggang Ciara sehingga tubuh keduanya sekarang tengah menempel satu sama lain yang hanya terhalang perut Ciara saja.
"Aku kan sengaja nungguin kamu bantu aku buat bersiap sayang," ucap Devano dengan menatap wajah Ciara.
Ciara berdecak lalu ia menepuk-nepuk dada lebar Devano setelah semua kancing di kemeja tersebut selesai ia kancingkan semuanya.
"Mau di tambah jas atau gini aja?" tanya Ciara.
"Kalau cuma kayak gini, aku terlihat sangatlah muda sayang. Aku tambah pakai jas supaya ada kesan bapak-bapaknya gitu. Dan jasnya biar aku aja nanti yang pakai sendiri," jawab Devano sembari mencuri ciuman sekilas di bibir Ciara.
"Ck, lipstick aku nanti hilang ih. Jangan main cium-cium lagi." Ciara berusaha melepaskan tangan kekar Devano yang masih setia melingkar di pinggangnya. Tapi usahanya sia-sia pasalnya tangan itu bukannya terlepas malah semakin erat saja memeluk pinggang yang semakin melebar itu.
"Gak akan hilang sayang. Toh kalau hilang kan tinggal di kasih lagi."
"Ck tar lipsticknya cepat habis kalau di pakai terus menerus," tutur Ciara.
"Habis ya beli lagi lah. Uang suamimu ini gak akan habis cuma gara-gara beliin kamu lipstick aja," ucap Devano dan dengan segera ia menyambar bibir Ciara kembali tapi untuk sekarang bukan hanya kecupan sekilas saja melainkan ciuman yang cukup dalam dan menuntut untuk memberikan sensasi panas di diri mereka.
Ciara memukul-mukul dada Devano saat pasokan oksigen ditubuhnya mulai berkurang. Tapi hal itu tak bisa menghentikan aksi Devano, laki-laki itu justru sekarang memegangi tangan Ciara yang tadi di gunakan untuk memukul dadanya menggunakan satu tangannya sedangkan tangannya yang lain ia gunakan untuk tetap memeluk pinggang Ciara.
Ciuman Devano semakin ganas hingga membuat Ciara lama kelamaan geram dengan aksi sang suami yang tak tau situasi padahal sebentar lagi acara pernikahan itu akan di mulai ditambah nafasnya mulai tak beraturan. Dan dengan geram, Ciara menggigit bibir bawah Devano agar suaminya itu melepaskan ciuman mereka.
Benar saja, Devano kini melepaskan ciumannya dan langsung memegangi bibirnya.
"Kenapa di gigit sih?" Devano mengerucutkan bibirnya tak suka dengan kelakuan Ciara tadi.
Sedangkan Ciara yang sekarang tengah menghirup oksigen dengan rakus, perhatiannya harus teralihkan menatap Devano yang cemberut sembari memeriksa bibirnya di depan kaca meja riasnya.
"Tuh kan, bibir aku sampai berdarah gini," ucap Devano yang sudah menatap kembali kearah Ciara.
Ciara yang merasa tak tega dengan ekspresi wajah Devano pun segera menghampiri sang suami.
"Maaf. Coba sini aku lihat." Ciara berjinjit agar matanya bisa melihat langsung di bibir Devano.
Devano yang peka akan kondisi Ciara yang tak memakai high heels ditambah jarak tinggi mereka membuat Devano dengan segera mendudukkan tubuhnya di kursi rias Ciara. Hal itu ia lakukan agar Ciara bisa dengan bebas melihat luka di bibirnya walaupun ia diawal ingin merajuk agar sang istri bisa merayunya nanti. Tapi dia juga tak akan egois, hanya gara-gara aktingnya nanti akan menimbulkan hal-hal yang diluar kendalinya.
Ciara meringis saat melihat darah segar keluar dari bibir Devano. Ia yakin setelah ini pasti luka itu akan berubah menjadi sariawan yang membuat Devano merengek karena tak bisa makan nantinya. Dan hal itu akan berakhir dengan dirinya sendiri yang akan repot dengan tingkah manja bayi besarnya itu nanti.
"Ke kamar mandi dulu ya. Kumur-kumur biar darahnya cepat berhenti," ucap Ciara dengan lembut.
Devano menggelengkan kepalanya kemudian ia menarik tubuh Ciara agar bisa ia peluk. Kepalanya kini ia sandarkan di perut Ciara.
"Aku kan udah minta maaf. Lagian kamu juga main nyosor gitu aja. Padahal waktu udah makin mepet. Kalau tadi gak aku gigit bibir kamu emang kamu bisa berhenti? Aku jamin 100% kamu gak akan berhenti malah bisa-bisa menuntut untuk yang lebih," cibir Ciara.
"Acaranya masih 1 jam lagi. Kalau aku kebablasan juga masih ada waktu banyak, kita juga gak akan ketinggalan acaranya." Ciara memutar bola matanya malas. Ia yakin Devano tadi sudah mulai terpancing dengan aksinya sendiri.
"Iya, emang gak akan ketinggalan acaranya tapi mbok ya lihat-lihat lah. Kita udah rapi gini masak mau berubah jadi berantakan lagi ditambah Al juga udah nunggu kita di bawah," geram Ciara.
Devano tambah mengerucutkan bibirnya saat mendengar omelan dari sang istri.
"Tuh kan sayang. Mama marahin Papa lagi." Ciara menghela nafas, sudahlah percuma juga ia menasehati Devano ketika sang empu dalam mode manja seperti ini.
"Oke-oke baiklah. Maaf ya suamiku sayang. Sekarang ke kamar mandi dulu sana gih," ucap Ciara dengan lembut. Devano menengadahkan kepalanya untuk menatap wajah Ciara kemudian ia menggelengkan kepalanya lalu menyembunyikan wajahnya di perut buncit sang istri.
"Ya sudah kalau gak mau. Minggir dulu sebentar oke. Aku mau betulin lipstik aku dulu." Lagi-lagi Devano menggelengkan kepalanya.
"Ayolah sayang. Jangan ngambek mulu. Aku juga capek berdiri terus kayak gini." Devano terdiam tapi masih enggan untuk melepaskan pelukannya.
"Hufttt. Baiklah, katakan apa yang kamu inginkan?" ucap Ciara pada akhirnya.
Devano menatap wajah Ciara dengan mata berbinar.
"Emang kalau aku minta. Apa kamu mau nurutin yang aku mau?" Ciara dengan sabar menganggukkan kepalanya.
"Beneran?" Lagi-lagi Ciara hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Serius?" Astaga, Ciara sudah tak mempunyai stok sabar lagi untuk kali ini.
"Buruan Dev. Jangan berbelit-belit. Katakan to the point!" geram Ciara yang malah mendapat cengiran kuda dari Devano.
Kemudian Devano kini berdiri dari duduknya dan memajukan wajahnya sampai di samping telinga Ciara.
"Aku mau jenguk baby," bisik Devano diakhiri dengan gigitan kecil di telinga Ciara. Seketika tubuh Ciara bergidik saat mendapat gigitan tadi. Ia juga tau maksud dari ucapan Devano itu.
Ciara kini menatap wajah Devano yang sudah menjauh dari telinganya kemudia ia menangkup kedua pipi sang suami.
"Nanti malam aja ya. Kalau sekarang takutnya telat dan gak keburu kita lihat acara ijab qobulnya. Kasihan Al juga kalau harus nungguin kita kelamaan. Jadi aku mohon jangan sekarang ya sayang." Devano tampak melunak saat mendengar ucapan Ciara tadi.
"Kamu janji?"
"Iya aku janji."
"Baiklah kalau gitu. Tunggu Papa nanti malam sayang," ucap Devano pada akhirnya setelah itu ia membungkukkan badannya untuk mencium perut Ciara sebelum ia menuntun tubuh istrinya duduk di kursi yang tadi ia duduki. Ciara hanya bisa pasrah. Jika ia tadi tak menjanjikan hak itu, pasti sang empu akan terus nemplok di tubuhnya tanpa membiarkan dirinya bergerak bebas kemanapun yang ia mau.