
Di suatu tempat lebih tepatnya disekolah Al, ada seorang anak laki-laki perlahan mendekati gerbang sekolah tersebut. Saat sudah keluar dari gerbang tadi, anak laki-laki itu yang tak lain dan tak bukan adalah Al tengah melihat sekitarnya.
"Belum ada yang jemput ternyata," gumam Al saat dirinya tak menemukan seseorang yang ia kenal untuk menjemputnya pulang sekolah. Dua bodyguard yang selalu mengikuti Al kemanapun dia pergi tiba-tiba juga menghilang entah kemana. Mungkin kedua bodyguard itu tengah beristirahat atau pergi untuk makan siang kali, pikir Al dengan gidikan bahunya. Lebih baik ia menunggu didalam area sekolah saja, bisa bahaya kalau menunggu jemputan di pinggir jalan, takut nanti ada tante-tante yang menculiknya secara kan di tampan. Maka dari itu untuk menghidari hal tersebut Al memilih kembali masuk kedalam area sekolah yang perlahan sudah mulai sepi karena teman-temannya sudah di jemput semua oleh orangtuanya.
Al kini duduk di sebuah ayunan yang tak jauh dari gerbang sekolah tersebut. Bahkan jalanan di depan sekolah itu bisa ia lihat dari tempatnya sekarang, hal itu akan memudahkan dirinya untuk melihat apakah sudah ada orang yang menjemput atau belum.
5 menit 10 menit 20 menit hingga 30 menit masih saja tak ada yang menjemputnya. Wajahnya yang tadi ceria kini tertekuk masam. Ia tak suka kalau harus menunggu lama seperti ini apalagi dalam posisi sepi sekali hanya ada satpam penjaga yang kini perlahan menghampirinya.
"Lho Den Al kok belum pulang," ucap satpam tersebut setelah dirinya sampai didepan Al.
Al menengadahkan kepalanya untuk melihat wajah satpam tersebut.
"Al belum di jemput Pak Nu," jawab Al dengan menundukkan kembali kepalanya.
Satpam yang di panggil dengan sebutan Pak Nu tadi duduk di ayunan disamping Al yang masih kosong.
"Ya sudah Pak Nu temenin Aden ya," tutur Pak Nu yang dijawab anggukan kepala oleh Al.
Setelahnya tak ada lagi pembicaraan antara dua orang berbeda usia itu hingga tiba-tiba Al menoleh ke arah Pak Nu dan membuka suaranya.
"Pak Nu," panggil Al.
"Iya, kenapa Den?"
"Al boleh pinjam ponsel Pak Nu gak?"
"Buat apa ya Den?" bukannya menjawab Pak Nu malah bertanya balik.
"Al mau pinjam buat telpon Papa atau kalau gak Mama," ucap Al. Pak Nu menggaruk tengkuk kepalanya sembari nyengir kuda.
"Maaf Den sebelumnya. Bukannya Pak Nu gak mau kasih pinjam ponsel Pak Nu tapi Pak Nu gak punya pulsa hehehe," ucap Pak Nu.
"Yahhhhh. Terus Al sampai kapan dong nunggu orang rumah jemput Al," tutur Al kembali lesu.
Pak Nu yang melihat raut wajah Al yang tertekuk kembali pun, kini berdiri dari duduknya.
"Den Al mau Pak Nu antar ke rumah Den Al gak?" Al kini menatap Pak Nu dengan binar dan tanpa pikir panjang ia menganggukkan kepalanya.
"Tapi Pak Nu hanya bisa antar Den Al pakai motor bukan mobil."
Saat sampai disamping motor tersebut, Pak Nu langsung masuk kedalam pos tersebut untuk mengambil kunci dan helm kecil untuk Al. Helm itu sengaja disediakan pihak sekolah untuk berjaga-jaga saja jika ada anak yang seperti Al, lupa dijemput orangtuanya dan berakhir akan diantar salah satu satpam disana atau helm itu juga sering di pinjam para orangtua yang berkendara menggunakan motor dan mereka lupa membawanya helm untuk anak mereka.
"Nih Den helmnya dipakai dulu." Al menerima helm yang di berikan Pak Nu tadi dan segera memakainya sendiri.
Saat dilihat Pak Nu sudah berada diatas motor, Al kini bersiap untuk naik di jok belakang motor tersebut tapi baru satu kakinya yang naik, suara teriakan seseorang menghentikkan aktivitasnya.
"Tuan muda!" teriak orang tersebut sembari berlari kearah Al. Al mengernyitkan dahinya kemudian ia turun dari motor itu kembali.
"Hufttt. Alhamdulillah masih aman," ucap orang tersebut.
"Om bodyguard dari mana saja? Al sudah nungguin dari tadi lho," tutur Al dengan bibir mengerucut.
Kedua bodyguard yang tengah mengatur nafasnya pun kini berdiri tegap lagi setelah dirasa nafasnya sudah mulai normal kembali.
"Eh, wajah Om bodyguard kenapa?" tanya Al saat melihat jelas wajah kedua bodyguard itu terdapat beberapa memar dan juga luka bahkan ada darah yang mengering di sudut bibir, hidung dan pelipis bodyguard itu.
"Ah itu tadi kita berdua jatuh. Iya benar jatuh," ucap satu bodyguard yang bernama Toni kemudian ia menyenggol lengan temannya.
"Iya Tuan muda kita tadi tak sengaja jatuh di selokan saat mengejar tikus yang mau mendekati tuan muda," timpal Doni.
"Tikus?" tanya Al dan diangguki oleh dua bodyguard tersebut. Jika hampir seluruh orang di muka bumi ini takut dengan kecoa, Al justru takut dan jijik dengan hewan yang bernama tikus. Hewan yang paling ia benci di bumi ini.
Al kini bergidik ngeri kemudian ia melepaskan helm yang masih menempel di kepalanya setelah itu ia menyerahkan helm tadi ke Pak Nu kembali.
"Pak Nu, gak perlu antar Al lagi karena om bodyguard udah jemput. Al pulang dulu takut nanti tikus itu kembali lagi kesini. Bye Pak Nu." Al kini berlari menuju mobil yang sudah menunggunya di depan gerbang sekolah tersebut.
"Terimakasih sudah menjaga tuan muda, Pak. Kita berdua pamit undur diri," ucap Doni.
"Sama-sama Mas. Hati-hati, jaga Den Al baik-baik," Ucap Pak Nu dan diangguki kedua orang tersebut. Kini kedua bodyguard tadi menyusul Al yang sudah lebih dulu masuk kedalam mobil jemputannya. Dan perlahan mobil itu kini melaju meninggalkan depan sekolah Al.
Mereka tak sadar jika setiap pergerakan mereka tadi liput dari pandangan seseorang yang tengah bersembunyi, dan kini orang tersebut nampak mengepalkan tangannya dengan ekspresi wajah tak senang sama sekali.
"Ck sial, kenapa mereka berdua bisa lebih dulu sampai di sini. Arkh. Sia-sia sudah," geramnya dengan menggertakkan giginya.
Dan dengan emosi yang membuncah orang misterius itu berjalan meninggalkan persembunyiannya tadi. Jika hari ini dia gagal maka ia akan coba di lain hari.
"Tunggu saja tanggal mainnya," gumam orang misterius itu dengan smrik di bibirnya. Orang misterius itu terus berjalan hingga sampai di sebuah mobil yang terparkir di pinggir jalan tak jauh dari area sekolah Al. Dan tanpa basa-basi lagi orang misterius tersebut masuk kedalam mobil tersebut yang didalamnya ternyata sudah ada satu orang lagi yang menunggunya disana.