
Saat Al mulai melakukan tindakan operasi dengan Devano dan Ciara yang menunggu proses itu didepan ruang operasi, berbeda dengan Yura yang kondisinya semakin kritis dengan berbagai luka dalam yang ia terima.
"Detak jantung pasien semakin lama semakin lemah," ucap salah satu dokter disana.
"Pasang alat pacemaker," perintahnya yang langsung membuat dokter-dokter yang menangani Yura langsung bergerak untuk memasang alat yang dimaksud oleh salah satu dokter tadi.
Dan saat dokter tadi tengah disibukkan dengan alat-alat yang akan dipasang di bagian dada Yura, salah satu suster yang membantu kerja mereka angkat suara.
"Dok, stok darah dirumah sakit ini yang sesuai dengan darah anak ini sudah habis," ujar suster tadi yang membuat salah satu dokter tadi menghentikan aktivitasnya tersebut.
"Tanyakan ke pihak keluarga siapa yang punya golongan darah yang sama dengan darah anak ini. Dan kamu juga bantu mereka untuk mencari stok darah di rumah sakit lain," perintah dokter tersebut yang diangguki kepala oleh suster itu sebelum akhirnya ia kini berlari keluar dari ruang IGD tersebut.
"Bagaimana Sus?" tanya Bian.
"Kondisi pasien semakin lemah. Dan apakah diantara bapak dan ibu mempunyai golongan darah yang sama dengan golongan darah pasien?" tanya suster tersebut.
"Saya, ambil darah saya sebanyak-banyaknya Sus. Jika itu bisa menyelamatkan anak saya," ucap Bian.
"Baiklah kalau begitu, bapak ikut saya sekarang juga," ujar suster tadi, lalu setelahnya ia melangkahkan kakinya lebih dulu dari Bian.
"Aku tinggal sebentar gak papa kan?" tanya Bian yang sebenarnya tak tega meninggalkan istrinya yang tengah lemah tak berdaya seperti saat ini.
"Gak. Aku gak papa kamu tinggal sendirian disini. Jadi buruan tunggu apa lagi, ikuti suster tadi dan donorkan darah kamu untuk Yura," tutur Franda yang diangguki oleh Bian. Tapi sebelum ia bergerak mengikuti suster tadi, ia menyempatkan dirinya untuk mencium kening istrinya dan menatap sesaat kearah ruang IGD tersebut.
Dan saat Bian sudah benar-benar pergi dari depan ruangan tersebut, Franda yang sendirian di sana kini ia meluruhkan tubuhnya hingga terduduk dilantai dengan kedua kaki yang ia tekuk. Bahkan tangis yang sedari tadi ia tahan kini keluar juga.
"Nak, mungkin Mama terlihat tegar di luar. Tapi perlu kamu tau didalam lubuk hati Mama sekarang tengah hancur saat melihat kamu seperti saat ini. Maafkan Mama yang sudah melanggar janji kita untuk tetap tegar dalam menghadapi apapun. Maafkan Mama, sayang. Dan Mama mohon Yura tetap bertahan agar kembali sehat seperti sedia kala. Kalau Yura kembali sehat Mama janji, Mama akan bawa Yura jalan-jalan keliling dunia. Sesuai dengan impian Yura," ujar Franda dengan wajah yang ia sembunyikan di balik lipatan kedua tangannya dengan gumam doa yang terus ia panjatkan.
Saat keadaan di ruang IGD semakin genting, berbeda diruang operasi yang sudah berjalan hampir 4 jam lamanya akhirnya proses operasi tersebut selesai dilakukan.
Dan dengan harap-harap cemas, Devano dan Ciara langsung menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruangan tersebut.
"Dok, bagaimana?" tanya Devano.
Dokter tadi tampak menghela nafas berat sebelum akhirnya angkat suara untuk menjawab pertanyaan dari Devano tadi.
"Untuk operasi kali ini Alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar, tapi."
"Tapi apa dok?" tanya Ciara tak sabaran.
"Tapi kondisi pasien sekarang belum juga melewati masa kritis dan sekarang pasien tengah koma. Dan kemungkinan saat dia tersadar, ia akan mengalami amnesia sementara," ucap dokter tersebut yang membuat Ciara kini lemas seketika.
Dan tak berselang lama dari dokter tadi meninggalkan ruangan tersebut, brankar yang terdapat Al di atasnya kini tengah didorong beberapa suster keluar dari ruang operasi dan dengan cepat mereka mengantar Al menuju ruang ICU kembali.
Ciara yang tadi sempat melihat kondisi Al yang penuh dengan alat-alat yang menempel di tubuh anak laki-lakinya itu dan juga beberapa perban yang membungkus luka Al membuat hatinya seakan pecah berkeping-keping. Bahkan ia sekarang tidak bisa berucap sepatah katapun, yang ia bisa hanya terus menangis memikirkan kondisi Al.
Sedangkan Devano, yang hatinya juga hancur, ia kini hanya bisa menahan tangisnya dan sebisa mungkin ia tetap tegar untuk menguatkan Ciara.
"Kita ke ruang IGD yuk sayang," ucap Devano dengan membantu Ciara untuk kembali berdiri dan memapah tubuh Ciara menuju ke ruang IGD kembali.
...****************...
Dan dari kejauhan, mereka berdua kini bisa melihat kondisi di depan ruang IGD yang sudah banyak sekali orang-orang yang sebagian mereka berdua kenal dan sebagian lagi sangat asing bagi mereka berdua. Tapi yang membuat mereka kini tak tenang adalah suara tangisan histeris dari orang-orang disana yang langsung membuat Devano dan Ciara kini saling melempar tatapan mata mereka sebelum akhirnya mereka berdua berlari menuju kearah orang-orang tadi.
"Tidak. Ini tidak mungkin. Dokter pasti bercanda kan, Bi! Yura anak kuat, tidak mungkin dia bisa menyerah begitu saja. Jawab Bian! Dokter tadi bercanda kan!" teriak Franda dengan memukul-mukul dada bidang Bian. Sedangkan Bian yang mendapat amukan dari sang istri pun ia hanya terdiam membisu dengan tatapan kosong.
Ciara dan Devano yang belum paham akan kondisi saat ini pun, mereka mendekati dokter yang masih berdiri didepan pintu IGD tadi dengan tatapan iba kearah pasangan orangtua tadi.
"Maaf Dok, ini ada apa ya?" tanya Devano yang berhasil membuat dokter tadi mengalihkan pandangannya kearah Devano.
"Kami benar-benar minta maaf yang sebesar-besarnya karena kami tidak bisa menyelamatkan nyawa anak perempuan didalam. Kondisi jantung yang lemah dan pendarahan yang terjadi akibat pembuluh darah di otaknya pecah membuat anak perempuan itu meninggal dunia," jelas dokter tersebut.
Ciara dan Devano yang mendengar penuturan dan juga kabar duka itu mereka berdua kini menangis dan langsung berlari menuju kearah Franda dan Bian.
Saat mereka berdua telah sampai di samping keduanya. Ciara langsung memeluk tubuh Franda yang masih histeris itu. Sedangkan Devano kini juga tengah memeluk tubuh Bian.
Dan saat pelukan Devano, Bian rasakan. Laki-laki yang tadinya tampak bengong itu kini ia meneteskan air matanya.
"Dev, Yura hisk," ucap Bian sembari mencengkram kuat samping baju Devano.
"Yang tabah, Bi. Aku tau apa yang kamu rasakan saat ini. Karena bukan hanya kamu aja yang merasa kehilangan Yura, tapi aku juga merasakan hal yang sama seperti kamu karena Yura sudah aku anggap seperti anakku sendiri. Walaupun aku tau rasa sakit yang aku rasakan sekarang tidak sebesar rasa sakit yang kamu rasakan. Tapi aku mohon tetaplah tegar karena ada seseorang yang butuh ketenangan dan dukungan dari kamu. Kalau kamu sedih seperti ini, Yura pasti juga tidak akan senang melihatnya di surga nanti. Apa kamu mau melihat Yura bersedih?" ucap Devano mencoba untuk menenangkan Bian. Bian yang mendapat pertanyaan dari Devano itupun ia menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu jangan bersedih lagi. Kamu harus kuat demi Yura yang sudah tenang di surga dan terutama demi istrimu saat ini," ujar Devano yang kini menepuk-nepuk kedua lengan Bian saat pelukan mereka berdua terlepas.
Dan sepertinya ucapan dari Devano tadi membuat Bian kini sedikit lebih tegar, terlihat saat Bian sekarang tengah menghapus air matanya lalu setelahnya ia menghampiri Ciara dan Franda. Kemudian ia mengambil alih posisi Ciara untuk memeluk Franda dengan ucapan-ucapan yang bisa membuat Franda sedikit tenang.
Dan semua yang dilakukan oleh Bian tadi tak lepas dari tatapan mata Devano.
"Jika aku di posisi kamu saat ini, aku yakin, aku tidak akan bisa setegar kamu, Bi. Dan mungkin aku akan menggila di rumah sakit ini. Dan untuk kamu, Yura, anak kedua Papa Dev. Kamu tenang di surga ya sayang. Dan kamu tidak perlu khawatir, Papa Dev pasti akan menjelaskan semuanya ke Al nanti. Walaupun Papa Dev yakin Al akan sangat merasa kehilangan kamu. Tapi sebisa mungkin Papa Dev akan menenangkan Al nanti. Yura! Al, Papa Dev, Mama Cia, Papa Bian, Mama Franda dan yang lainnya sayang sama Yura. Jadilah bidadari di surganya Allah ya sayang. Dan yakin lah kita nanti akan bertemu dan berkumpul lagi di tempat yang paling indah di surga nanti. Love you, Yura. Papa Dev bakal kangen sama kamu, bidadari kita semua," batin Devano dengan air mata yang terus mengalir di pipinya sembari tangannya kini memeluk tubuh Ciara yang juga tengah menangis sesenggukan.