
Setibanya di kantor Devano, Rafa dan ketiga orang yang lainnya segera keluar dari mobilnya dan bergegas masuk kedalam kantor tersebut.
Namun saat di lobby mata elang Rafa tak melihat kehadiran Olive yang katanya tadi sudah sampai terlebih dahulu.
"Kemana tuh orang?" gumam Rafa.
"Ngapain lo malah diam disitu?" tanya Vino.
"Gue lagi cari sepupu gue. Katanya tadi udah sampai tapi kok disini gak ada."
Ketiga sahabatnya tersebut mengerutkan keningnya.
"Sepupu lo?" tanya Zidan dan diangguki oleh Rafa.
"Mau ngapain dia?"
"Mau ikut memastikan dan lihat secara langsung apa wajah Devano mirip Al," jawab Rafa.
Mereka bertiga pun membeo mengerti.
"Telepon aja lah, Raf. Kalau cari dia disini bakal lama," saran Kevin.
Rafa pun kini merogoh saku celananya untuk mencari ponselnya. Setelah mendapatkan ponsel tersebut ia langsung menghubungi Olive.
"Halo Liv, lo ada dimana sekarang?" tanya Rafa.
π : "Gue masih di dalam mobil. Lo udah sampai?"
"Astaga, ngapain masih di dalam mobil Maimunah. Pantesan gue cari di lobby gak ada. Gue udah sampai ini. Buruan kesini kalau gak gue tinggal," ucap Rafa.
π : "Iya-iya, tunggu bentar gue lagi jalan ke arah lobby," tutur Olive yang terdengar sangat tergesa.
"Buruan!" perintah Rafa setelah itu ia memutuskan sambungan telepon dari keduanya.
"Orangnya dimana?" tanya Vino saat Rafa sudah kembali memasukkan ponselnya di saku.
"Dia lagi jalan kesini," jawab Rafa.
Tak berselang lama, terlihat Olive tengah berlari kecil kearahnya.
"Nah itu orangnya," ucap Rafa saat melihat tubuh Olive dari kejauhan.
Setibanya di depan mereka berempat Olive mengatur nafasnya terlebih dahulu.
"Capek?" tanya Zidan sok perhatian.
Olive yang tadinya membungkukkan tubuhnya pun kini ia menegakkannya kembali.
"Buruan kasih tau gue dimana ruangan kerja teman lo yang katanya mirip sama ponakan gue!" ucap Olive tak sabaran bahkan pertanyaan dari Zidan, ia tak menjawabnya.
"Ya udah yuk sekarang langsung ke ruangan Devano aja," tutur Kevin.
Ucapan dari Kevin tadi mendapat decakan dari Zidan maupun Vino.
"Ck kenalan dulu lah sama sepupunya Rafa," ucap Zidan dan diangguki oleh Vino.
Namun ucapannya tadi mendapat pelototan tajam dari Olive yang membuat nyali mereka berdua tiba-tiba menciut.
"Nanti aja deh kenalannya. Kita langsung ke ruangan Devano sekarang. Let's go," ucap Zidan takut akan tatapan garang dari Olive. Kini ia setelah berucap seperti tadi langsung ngibrit jalan lebih dulu di ikuti oleh Vino dibelakangnya.
Sedangkan Rafa yang melihat raut wajah ketakutan dari kedua sahabatnya tadi tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, ternyata mereka berdua takut sama lo. Ya iyalah singa betina, mereka lawan," tutur Rafa.
Olive yang lagi tak ingin berkelahi dengan Rafa pun memutar bola matanya malas. Setah itu ia bergegas menyusul ketiga sahabat Rafa yang lebih dulu melangkah kaki mereka menuju ruangan Devano yang berada di lantai atas.
Sedangkan Rafa yang ditinggal sahabat dan sepupunya pun ia segera berlari kecil menghampiri mereka berempat yang telah memasuki lift lebih dulu.
Ting
Suara lift terbuka saat mereka sampai di lantai 18 kantor tersebut. Mereka pun langsung menghampiri ruangan Devano.
Saat mereka telah berada di depan ruangan Devano, terdapat sekertaris dari Devano yang bernama Lidya, tengah menghadang jalan mereka dengan suaranya.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya Lidya dengan centilnya kepada keempat laki-laki didepannya bahkan tubuhnya ia bungkuk supaya mereka semua yang ada didepannya dapat leluasa melihat belahan dadanya.
Untuk beberapa saat, Lidya meluruskan kembali tubuhnya dan ia menatap sinis kearah Olive yang juga tengah menatap dirinya dari kepala hingga sebatas perut Lidya karena itu yang bisa Olive lihat. Bagian pinggul kebawah Lidya kebetulan tertutup dengan pembatas ruangan tersebut.
"Cih, baju kurang bahan, ketat, dua kancing dibiarkan begitu saja sampai buah dada bisa dilihat dengan mata telanjang. Iya kalau isinya gede lah ini. Ck Ck Ck menghawatirkan. Mana tuh muka udah kayak topeng monyet lagi. Menor banget, mau jadi sekertaris apa mau jual diri? Aduh nama kantor sih ternama tapi kok gak bisa cari sekertaris yang bagusan dikit," gumam Olive pedas. Walaupun suaranya tadi lirih namun masih bisa didengar semua orang yang berada disekitarnya tak terkecuali dengan sekertaris yang ia omongkan tadi.
Rafa yang turut mendengar ucapan pedas dari Olive pun terkekeh. Ia tahu betul kalau sepupunya itu tak suka dengan orang lain maka ia akan bersikap secara blak-blakan bukan manis didepan dan berujung mencemooh di belakang orang tersebut. Justru ia akan mengucapkan didepan orangnya langsung. Rafa juga tak berniat menghentikan ucapan dari Olive, biarkan saja toh apa yang diucapkan sepupunya itu memang benar adanya. Walaupun dia laki-laki tapi ia juga muak dengan perempuan yang berpakaian seperti Lidya tadi.
Sedangkan Kevin, Vino dan juga Zidan saling pandang satu sama lain dan tak lupa dengan bisikan kecil dari mulut mereka.
"Anjir, sepupunya Rafa ngeri juga ya kalau ngomong, pedes banget woy melebihi cabai 10 ton," bisik Zidan dan diangguki dua orang lainnya.
Lidya yang di bicarakan oleh Olive tadi, kini memelototkan matanya sempurna.
"Apa yang lo bilang tadi?" tanya Lidya murka.
Olive yang tadinya sudah memalingkan wajahnya kini menatap kembali kearah Lidya.
"Merasa kesindir?" ucap Olive santai.
Damn!! Lidya menatap tajam kearah Olive sedangkan yang ditatap pun tak peduli sama sekali. Kini Lidya meninggalkan kelima orang tersebut dengan wajah yang sudah merah padam karena emosi dan menahan malu.
Olive yang melihat kepergian perempuan tadi kini tersenyum puas. Setelah itu ia beralih menatap Rafa yang berdiri disampingnya.
"Masuk yuk. Ngapain kita masih disini? Mana tadi pakai nanya-nanya lagi sama tuh topeng monyet," jengah Olive.
"Sabar elah Liv," ucap Rafa.
"Emang siapa sih teman lo itu? berasa penting banget jadi orang," geram Olive.
"Lo gak tau Devano siapa?" tanya Rafa.
Olive pun menggelengkan kepalanya, ia benar-benar tak tau sama sekali tentang Devano itu.
"Lihat tuh papan di atas pintu itu," tunjuk Rafa kearah pintu Devano.
"CEO? terus apa hubungannya?" tanya Olive.
"Ck, Devano tuh CEO di kantor ini dan putra tunggal dari Tian Rodriguez. Yang artinya pemilik dari Rodriguez Corp ini," jawab Rafa.
Seketika mata Olive membelalak sempurna dengan mulut yang mengangga. Ia tak percaya bahwa teman dari Rafa tersebut adalah pemilik dari perusahaan nomor satu di kalangan bisnis saat ini. Jika memang benar, Devano adalah ayah biologis dari Al. Sungguh kejam sekali Devano itu. Hidupnya di kelilingi dengan banyaknya harta sedangkan Ciara ia harus bekerja keras untuk menghidupi Al tanpa kenal lelah. Sungguh laki-laki bejat, tak bertanggungjawab sama sekali.
"Tapi tunggu apa hubungan Ciara sama Devano?" batin Olive.
Namun sesaat kemudian ia menormalkan kembali ekspresi wajahnya. Membiarkan pertanyaan diotaknya berkeliaran tanpa ada jawaban.
"Yuk masuk!" ucap Kevin.
Kini mereka pun segera masuk kedalam ruangan Devano.
...*****...
Terimakasih untuk 300 likenya sayang-sayangku π€ Dan sesuai dengan apa yang author katakan kalau udah dapat 300 like walaupun belum per-eps. Tapi ya udah mumpung author lagi baik hati jadi aku kasih double up sekarang π€ Supaya menemani malam Minggu kalian semuaπ€
Dan author harap eps ini juga dapat 300 like π€ Maruk memang author satu ini. Maklumi aja lahπ€£
Dah dulu ya. Selamat malam Minggu sayang-sayangku. Yang jomblo jangan keluar rumah menuh-menuhin jalan aja dan yang punya pasangan dirumah aja ingat lagi PPKM. Jangan kemana-mana oke.
Stay safe and stay healthy π€ See you next eps bye bye π