
Hari weekend telah berakhir dan hari ini seperti biasa hari yang paling dibenci siapapun karena pada hari itu aktivitas harus mereka jalani lagi setelah seharian bermalas-malasan di atas kasur ataupun rumah mereka. Tapi berbeda dengan Al, justru hari itu yang merupakan hari Senin adalah hari yang paling di sukai Al. Bahkan anak itu baru pukul 6 pagi sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Dan kini dirinya sudah menuruni anak tangga dan menuju ke ruang makan.
"Selamat pagi tuan muda," sapa art yang bertugas menyiapkan sarapan untuk keluarga tersebut.
Al kini melirik kearah art tadi sembari tersenyum.
"Selamat pagi," balas Al sembari duduk di kursi makannya menunggu sarapan yang masih dalam proses pembuatan itu selesai di buat.
"Minum dulu susunya tuan," ucap art tadi sembari menaruh segelas susu di depan Al. Lagi-lagi Al hanya tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya. Dan baru saja art tadi memutar tubuhnya untuk menyelesaikan pekerjaannya, tiba-tiba Al memanggilnya.
"Mbak," panggil Al yang membuat art tadi kini memutar tubuhnya kembali.
"Ya tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya art tadi.
"Tolong buatkan saya bekal untuk saya bawa ke sekolah. Sandwich saja," ujar Al.
"Siap. Laksanakan tuan," ucap art tadi lalu baru lah ia kembali ke dapur dan segera menyiapkan apa yang di mau Al tadi.
Dan saat Al tengah fokus membaca buku di depannya sembari menunggu sarapannya itu, Devano baru saja menghampirinya dengan dasi dan jas yang belum ia pakai.
"Selamat pagi, boy," ucap Devano sembari mengelus rambut Al.
"Selamat pagi," balas Al tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya.
Devano yang kepo dengan buku yang dibaca oleh Al pun ia ikut membaca sedikit isi buku tersebut yang ternyata merupakan buku tentang love self. Devano yang sudah melihatnya dan merasa buku itu aman untuk dibaca anaknya pun ia mengangguk-anggukkan kepalanya sembari berjalan menuju kursi makannya.
"Al, Papa boleh tanya gak?" ucap Devano mencoba mencarikan suasana di ruangan tersebut.
Al kini mengalihkan pandangan kearah Devano dengan kerutan di keningnya.
"Tanya apa?" tutur Al.
"Itu lho masalah buku yang Al inginkan tadi malam. Itu judulnya apa?" tanya Devano.
"Papa tidak perlu susah payah cari buku itu. Al tidak masalah kalau tidak mendapatkannya," ujar Al dengan tatapan yang sudah kembali ke bukunya.
Saat Devano ingin kembali angkat suara, art yang membuatkan Al sandwich tadi telah kembali sehingga membuat Devano mengatupkan mulutnya.
"Tuan, ini sandwichnya ditaruh dimana?" tanya art tadi.
"Di dalam tas saja," tutur Al yang langsung membuat art tadi bergerak untuk memasukkan sandwich tadi kedalam tas Al. Dan hal itu membuat Devano mengerutkan keningnya, tidak seperti biasa Al meminta di buatkan bekal segala. Dan perasaan setiap makan siang, disekolah sudah di siapkan makanan. Apa makanan disekolah Al sudah mulai menipis sehingga banyak siswa yang tidak kebagian atau karena rasanya tidak masuk ke selera makan Al? Ah entahlah Devano tak tau, alasannya kenapa Al membawa bekal itu.
"Tuan Devano mau kopi atau teh?" tanya art tadi yang membuat Devano kembali tersadar dari lamunannya tadi.
"Teh saja," jawab Devano yang diangguki oleh art tadi dan setelah art tadi pergi, Al kini turun dari kursi. Bahkan anak itu juga sudah memakai tas sekolahnya itu.
"Pa, Al berangkat dulu," ucap Al saat dirinya sudah berdiri di samping Devano.
"Lho kok udah mau berangkat. Sarapan aja belum lho Al. Sarapannya udah jadi juga tuh, sarapan dulu gih," ujar Devano.
"Al sarapannya di sekolah saja. Kan tadi Al sudah membawa bekal," tutur Al yang membuat Devano kini paham alasan Al membawa bekal itu tadi.
"Tapi nak, ini kan masih terlalu pagi buat berangkat sekolah. Apa kamu gak takut nanti saat di sekolah cuma ada kamu saja disana?" Al menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah kalau gitu terserah kamu. Tapi kalau ada apa-apa langsung kabarin Papa." Al menganggukkan kepalanya. Setelah itu ia tampak menatap ke sekeliling ruangan tersebut, seperti tengah mencari seseorang.
"Mama dimana?" tanya Al.
"Mama di kamar Kiya," jawab Devano yang membuat Al kini bergerak menuju lantai atas untuk menemui Ciara sebelum berangkat sekolah.
Dan saat dirinya baru masuk kedalam kamar Kiya, ia sempat melongo saat melihat kondisi kamar adiknya yang cukup berantakan bahkan didepan pintu itu terdapat bantal tidur Kiya disana.
"Ma," panggil Al yang membuat Ciara kini menolehkan kepalanya kearah sumber suara.
"Eh Al," ucap Ciara sembari tersenyum kearah Al dan tangannya dengan cepat menyeka keringatnya yang memenuhi keningnya.
"Ada apa ini? Kenapa kamar Kiya seperti ini?" tanya Al. Ciara kini menghela nafas kemudian ia menggeser tubuhnya agar Kiya yang masih asik tidur itu terlihat oleh Al.
"Nih anak saat Mama tadi kesini, masak dia tidur di depan pintu. Dan sekarang dia gak bisa dibangunin," keluh Ciara yang sudah frustasi dengan kebiasaan tidur Kiya yang selalu membuatnya terkejut.
"Kok bisa dia tidur di sini?" tanya Al sembari menunjuk bantal dihadapannya itu.
"Mana Mama tau. Mungkin dia tidur sambil jalan kali," ujar Ciara.
Al kini menghela nafas dan karena ia kasihan dengan Mamanya, ia kini bergerak mendekati tubuh Kiya. Dan setelah itu ia mencondongkan tubuhnya untuk membisikan sesuatu ke Kiya. Dan anehnya bisikkan itu berhasil membuka mata Kiya. Bahkan anak perempuan itu kini telah berlari kearah kamar mandi di kamar tersebut.
Ciara yang melihat hal itu pun melongo tak percaya.
"Apa yang kamu bisikkan ke adik kamu, Al?" tanya Ciara.
"Masalah makanan yang di suka, juga alat makeup barunya itu," ujar Al sembari mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Ciara yang langsung di balas sang empu tanpa sadar.
"Al berangkat dulu. Assalamualaikum," tutur Al.
"Waalaikumsalam," balas Ciara yang masih menatap kearah pintu kamar mandi tersebut. Dan setelah Al pergi dari kamar tersebut, ia baru tersadar dengan ucapan Al tadi.
"Lho lah ini udah jam berapa?" bingung Ciara.
"Eh masih jam 6 lebih dikit lho. Kok dia udah mau berangkat aja. Apa dia udah sarapan? Duh gara-gara si gadis yang banyak tingkahnya itu sampai gak fokus sama Al tadi. Ck," kesal Ciara pada dirinya sendiri. Lalu dengan cepat kini ia bergerak untuk menyusul Al yang ternyata sudah meninggalkan rumah tersebut dan hal itu membuat Ciara semakin kecewa dengan dirinya sendiri.
Sedangkan Al yang sudah berada di dalam mobil yang sekarang tengah menuju ke sekolahnya pun tak pernah mempermasalahkan orangtuanya yang lebih fokus ke Kiya karena ia tau Kiya memang membutuhkan pantauan yang cukup ekstra dari kedua orangtuanya.
Dan saat mobil itu terus berjalan, Al tak sengaja melihat beberapa orang telah tergeletak di pinggir jalanan yang masih sepi itu dan tak jauh dari sana terlihat ada beberapa laki-laki yang tengah berlari mengejar sekarang gadis kecil di depannya.
"Ini ada apa sih gerangan? Kenapa banyak orang yang lagi lari-larian begitu? Jalanan juga sepi banget kayak kuburan," tutur Toni yang langsung mendapat geplakan dari Doni.
"Dia kayaknya lagi mau culik gadis kecil itu deh. Dan sebenar, sepertinya aku pernah lihat gadis itu," ujar Doni yang semakin menajamkan penglihatannya.
"Ah iya aku ingat. Gadis itu mirip banget sama gadis kecil yang di tolong tuan muda saat itu," sambung Doni. Al yang tadinya tak peduli dengan situasi di luar pun kini ia mengalihkan pandangannya kearah bahu jalan.
"Om, stop!" perintah Al tiba-tiba yang membuat Toni menghentikan mobil tersebut secara mendadak. Untung saja di belakang mobil itu tak ada mobil lainnya yang juga tengah melintas. Kalau saja ada, sudah di pastikan dirinya akan kena omel Devano saat sang empu melihat mobil tersebut penyok dimana-mana.
"Om, bantu Al buat menghalau semua orang yang mengejar anak itu," ujar Al dan sebelum mendapatkan persetujuan dari kedua bodyguardnya tadi, Al sudah lebih dulu turun dari mobil tersebut.
Sedangkan kedua bodyguard tadi yang sebenarnya malas untuk berurusan dengan orang lain yang tak membahayakan tuan muda mereka pun kini mereka berdua saling pandang satu sama lain. Lalu setelahnya mereka berdua sama-sama saling menghela nafas. Tapi setalahnya mereka berdua juga turun dari mobil tersebut dan mengikuti langkah Al yang sudah berada jauh di depan mereka.