Young Mother

Young Mother
Kesibukan Baru


1 Minggu setelah kepulangannya dari rumah sakit yang menjadi tempat melahirkan Ciara waktu itu. Hari-hari keluarga kecil dari Devano pun terasa tambah hangat dan lengkap. Setiap malam yang awalnya hanya sunyi karena semua manusia di dalam rumah tersebut terlelap kini malam-malam terasa ramai setelah baby Kiya lahir. Lebih tepatnya yang ramai hanya kamar Devano dan Ciara yang setiap tengah malam atau dini hari pasti terdengar suara tangisan nyaring dari baby Kiya.


Seperti saat ini contohnya, kamar yang hanya terdengar suara jam dinding kini tiba-tiba saja tangisan baby Kiya menggelegar yang berhasil mengusik tidur salah satu orang yang sedari tadi memeluk tubuh wanita yang menjadi istrinya itu dan orang itu adalah Devano. Laki-laki yang kini sudah memiliki dua anak itu pun mengerjabkan matanya, menyesuaikan sinar lampu masuk kedalam retinanya. Sejak saat baby Kiya keluar dari rumah sakit, pasangan orangtua itu memang berinisiatif untuk menidurkan baby Kiya di dalam kamar mereka yang otomatis lampu di kamar itu harus menyala terus dan saat umurnya sudah menginjak 6 bulan maka mereka sudah bersepakat untuk melatih baby Kiya tidur di kamarnya sendiri dan kamar itu juga masih saling berhubungan dengan kamar utama hanya di pisahkan oleh tembok pembatas dan sebuah pintu yang ada di dalam kamar tersebut yang menghubungkan antara kamar utama dan kamar baby Kiya.


Devano melirik kearah box bayi dan setelahnya tatapan mata itu beralih ke wajah Ciara yang tampak damai dalam tidur tapi wajah itu juga tampak lelah. Mungkin efek jaga baby Kiya dan juga Al secara bersamaan karena Ciara tak ingin baby sitter untuk membantunya mengurus anak-anaknya. Kata Ciara, biar anak-anaknya tak kurang kasih sayang dari ibu kandungnya dan biar nantinya mereka hanya akan ketergantungan dengannya bukan orang lain. Ditambah banyaknya kasus baby sitter yang melakukan tindakan kekerasan kepada bayi yang mereka asuh membuat Ciara semakin enggan untuk memperkerjakan baby sitter di rumahnya. Ia cukup protektif terhadap anak-anaknya itu.


Devano yang tak ingin membangunkan Ciara pun dengan perlahan ia menjauhkan tangan istrinya itu yang tadi memeluk pinggangnya dan setelah berhasil ia segera turun dari ranjang dan menuju ke box bayi, menghampiri baby Kiya yang belum berhenti menangis.


"Uhhhh anak Papa kenapa nangis sayang? Kiya lapar?" tanya Devano sembari meraih tubuh baby Kiya untuk ia gendong.


Tapi baru saja tubuh itu mendarat dalam gendongan Devano, baby Kiya langsung mengeluarkan sesuatu yang mengganjal di perutnya apalagi kalau bukan pup dan juga suara kentut yang masih bisa Devano dengar.


"Astaga, ternyata kamu pup nak. Bilang dong sama Papa," ucap Devano sembari menciumi pipi baby Kiya. Baby Kiya yang sudah berhenti menangis pun tersenyum dengan mata yang sepertinya sudah mulai ngantuk lagi. Dan sebelum baby Kiya kembali tertidur, Devano dengan cepat menidurkan baby Kiya ke atas tempat khusus untuk mengganti popok dan tanpa rasa jijik sedikitpun, Devano mengganti popok baby Kiya dengan penuh kehati-hatian.


Ciara yang tak merasakan tubuh sang suami disampingnya pun kini mulai membuka matanya dan menatap kearah sekitar. Dan seketika matanya memincing saat melihat Devano tengah membersihkan pantat baby Kiya dengan air didalam baskom, lalu setelah itu mengelapnya dengan tisu kering. Ciara kini beranjak dari ranjang dan mendekati Devano.


"Baby Kiya kenapa?" tanya Ciara yang membuat Devano langsung mengalihkan pandangan.


"Baby Kiya tadi nangis karena pampersnya penuh dan juga pup," jawab Devano dengan senyum.


"Baby Kiya pup?" Devano menganggukkan kepalanya.


"Kenapa gak bangunin aku tadi kalau kamu tau baby Kiya pup?" Devano mengerutkan keningnya.


"Kenapa harus bangunin kamu kalau aku juga bisa gantiin pampers baby?"


"Emang kamu gak jijik gitu lihat pup-nya baby Kiya?"


"Astaga sayang. Kenapa harus jijik sih? Kiya juga anak aku lho dan masih bayi pula. Kalau aku lihat pup kamu baru jijik," tutur Devano kemudian kembali sibuk dengan aktivitasnya sekarang.


Sedangkan Ciara, ia kini mencebikkan bibirnya.


"Ya siapa tau kamu jijik sama pup baby," ucap Ciara.


"Enggak sayang. Jadi kamu tenang aja oke. Dan sekarang kamu tidur lagi sana. Biar baby Kiya aku yang jaga," tutur Devano.


"Biar aku aja Dev. Kamu aja yang tidur, besok kamu juga harus kerja." Devano menggelengkan kepalanya tanpa mengalihkan pandangan kearah pampers yang akan selesai ia pasangan di tubuh baby Kiya.


"Kamu tidur sekarang ya. Setelah baby Kiya tidur lagi, nanti aku susul. Aku tau kamu sangat lelah, jadi izinkan aku untuk menggantikan tugas kamu untuk saat ini. Masalah kerjaanku untuk nanti pagi, semuanya udah aman. Gak ada tumpukan berkas di meja kerjaku untuk pagi ini. Jadi aku mohon kamu tidur lagi ya, aku gak mau kamu terlalu kelelahan dan berakhir kamu akan sakit nanti. Dan perlu kamu ingat sayang, Al ataupun Kiya adalah anakku juga. Sudah jadi tanggungjawabku juga buat jagain mereka bukan cuma kamu aja. Sekarang tidur ya. Baby Kiya kayaknya juga bentar lagi tidur, matanya dari tadi udah sayu," tutur Devano sembari mengecup kening Ciara.


"Tapi Dev."


"Udah gak ada tapi-tapian. Balik tidur lagi, baby Kiya biar aku yang jaga. Kamu gak perlu khawatir, walaupun aku masih kaku tapi lumayan lah kalau urusan nidurin anak," ucap Devano.


Ciara hanya menghela nafas kemudian ia menganggukkan kepalanya lalu sebelum beranjak untuk kembali ke ranjang, Ciara memeluk tubuh Devano.


"Terimakasih sayang," tutur Ciara.


"Udah jadi tanggungjawabku sayangku, istriku, cintaku." Ciara terkekeh geli saat mendengar ucapan Devano itu.


"Ya udah aku tinggal tidur gak papa kan. Kalau baby Kiya nanti haus kamu tinggal bangunin aku," ucap Ciara dengan jujur. Tubuhnya memang sangatlah lelah karena Al tadi pagi sempat demam dan baru turun demamnya saat sore hari ditambah saat anak pertamanya itu sedang sakit maka ia akan sangat manja dan rewel. Alhasil ia sedikit kelimpungan dengan mengurus Al dan juga Kiya ya walaupun di bantu dengan art di rumahnya untuk menjaga Kiya. Walaupun begitu, baby Kiya juga sesekali menangis dan hanya dirinya atau Devano yang bisa mendiamkan putri kecil mereka itu. Alhasil ia sangat sibuk hari ini. Ia ingin menelfon Devano untuk membantunya tapi ia urungkan niat tersebut karena ia tak ingin mengganggu kerjaan Devano. Jika ingin memanggil orangtuanya atau mertuanya, tak akan mungkin ia lakukan karena kedua pasangan itu baru kemarin terbang ke Eropa untuk honeymoon lagi kata mereka, sekaligus double date. Ahhhh dasar tua-tua keladi.


Saat tubuh Ciara sudah kembali terbaring diatas ranjang, Devano kembali menghampiri baby Kiya yang sudah tertidur lagi.


"Baik hati sekali sih anak Papa yang paling cantik ini. Baru aja Papa mau nidurin kamu eh taunya kamu udah tidur duluan," ucap Devano dengan lirih kemudian dengan hati-hati ia memindahkan tubuh baby Kiya kedalam box bayi lagi.


Setelah ia menyelimuti tubuh mungil anak perempuannya itu dan sudah ia pastikan jika semuanya aman, Devano mengecup sekilas kening baby Kiya sebelum matanya beralih melirik kearah Ciara yang juga sudah mulai terlelap.


Dan bukannya ia langsung ikut tidur bersama Ciara, Devano justru melangkahkan kakinya keluar dari kamar tersebut menuju ke kamar Al yang berada disamping kamar mereka tadi. Ia sudah tau jika Al tadi sempat sakit karena ia diberitahu Ciara setelah ia pulang dari kantor. Awalnya ia ingin marah kepada Ciara karena istrinya itu tak memberitahunya masalah ini tapi emosinya pergi begitu saja saat melihat wajah Ciara yang tampak kelelahan. Alhasil ia berpikir mungkin Ciara tak ingin mengganggunya dan istrinya itu juga tak mau jika ia nantinya akan kepikiran tentang Al yang berujung akan berpengaruh ke kerjaannya. Maka dari itu ia kembali luluh lagi dan tak jadi marah dengan Ciara.


Dengan perlahan Devano membuka pintu kamar Al lalu ia melangkahkan kakinya menuju ke arah Al yang tengah terbaring diatas ranjang dengan posisi telentang.


Saat sampai di samping tubuh Al, Devano langsung mengecek suhu tubuh Al menggunakan punggung tangannya yang ia tempelkan di kening Al.


"Alhamdulillah sudah normal," ucap Devano lirih agar suaranya tak mengganggu Al dari tidurnya.


Wajah Devano kini mendekati wajah Al dan setelahnya ia mengecup kening putranya itu.


"Cepat sembuh jagoan Papa. Good night, mimpi indah ya nak. Love you," tutur Devano disela-sela menciumi pipi Al.


Setelah selesai melihat kondisi Al, Devano kembali keluar dari kamar Al menuju kamar yang ia tempati dengan Ciara.