
Devano mengkerutkan dahinya saat matanya menangkap Ciara yang masih terdiam memandanginya. Namun sesaat kemudian ia tersenyum miring kala melihat penampilan Ciara yang sangatlah sexy.
Perlahan kini ia mendekati Ciara yang arah pandangnya tak lepas dari tubuhnya. Saat dirinya sudah sampai dihadapan Ciara, ia langsung merangkul pinggang Ciara menyatukan dengan tubuhnya.
"Apakah penampilanmu ini sengaja untuk menggodaku?" ucap Devano sembari menyelipkan rambut Ciara di belakang telinga.
Ciara mengedipkan matanya beberapa kali hingga otak normalnya kembali dan setelah itu ia segera mendorong tubuh Devano agar menjauh darinya tapi sayang lingkaran lengan Devano yang memeluknya cukup kuat sehingga dorongannya tadi tak berpengaruh sedikitpun.
"Lepasin Dev!" perintah Ciara. Devano menjawab dengan gelengan kepala.
"Kalau kamu gak mau lepasin, aku bakal teriak. Biar semua orang yang ada di rumah ini kesini," ancam Ciara.
"Silahkan kalau kamu berani. Toh jika kamu teriak sekencang-kencangnya juga tak akan terdengar karena kamar ini sudah ada kedap suaranya. Kalau pun sampai terdengar, apa kamu gak malu sama tampilan kamu sekarang?" tutur Devano sembari menundukkan kepalanya sehingga belahan dada Ciara bisa ia lihat. Hal itu membuat dirinya kesusahan menelan salivanya sendiri.
"Heh apa yang kamu lihat? Tutup mata gak!" ucap Ciara sembari menutup belahan dadanya itu menggunakan telapak tangannya.
Devano tersenyum penuh arti kemudian ia mendekatkan wajahnya tetap disamping telinga Ciara.
"Ukurannya semakin besar ya. Jadi gak sabar buat coba. Atau kita mulai saat ini juga," bisik Devano penuh dengan godaan.
Ciara membelalakkan matanya kemudian meninju perut Devano.
"Asttttt," rintih Devano padahal ia tak merasakan sakit sama sekali.
"Pikiran kamu mesum banget sih. Lepasin gak!"
"Gak akan. Kan kita belum buat adik untuk Al. Niat kamu ke kamarku dan cuma pakai pakaian dalam kayak gini bukannya memang sudah saatnya buat anak kedua," tutur Devano dengan wajah yang begitu dekat dengan Ciara bahkan bibir keduanya hanya berjarak beberapa senti saja.
"Dev, jangan gini. Lepasin gak. Nafsumu harus kamu kontrol sendiri. Aku juga gak mau punya anak kedua diluar nikah. Cukup, kesalahan dulu jangan diulang lagi," ucap Ciara yang sudah mulai waspada dengan Devano pasalnya tatapan mata Devano sudah sangat berbeda dari sebelumnya.
Devano tampaknya tak menghiraukan ucapan dari Ciara tadi. Ia sekarang malah perlahan membawa tubuh Ciara ke ranjang king sizenya setelah itu ia merebahkan tubuh Ciara perlahan, sedangkan dirinya berada diatas tubuh Ciara, mengunci pergerakan dari Ciara.
Kemudian Devano kembali mendekatkan wajahnya di wajah Ciara dan membuat sang empu hanya bisa terdiam kaku, pita suaranya seakan-akan rusak, tak bisa bersuara maupun berteriak. Dan kini matanya menutup saat hidungnya menyatu dengan hidung Devano.
Devano semakin melebarkan senyumnya kemudian...
Cup!!
Bibir keduanya bertemu cukup lama, hingga Devano memutus ciuman itu dan menjauhkan wajahnya. Kemudian ia mengelus wajah Ciara yang perlahan membuat sang empu membuka matanya.
"Cukup satu kesalahan waktu itu dan untuk kedepannya aku akan menahan semuanya hingga suatu saat nanti kamu sepenuhnya menjadi milikku," tutur Devano kemudian ia mencium kening Ciara sebelum ia bangkit dari atas tubuh wanitanya itu dan menuju ke ruang ganti di kamar tersebut, meninggalkan Ciara yang masih syok di atas tempat tidur Devano.
"Pakai baju dulu, takut masuk angin nanti kalau kamu hanya pakai pakaian dalam aja!" teriak Devano dari dalam ruang ganti.
Ciara kini tersadar dan segera bangkit dari tidurnya kemudian menyambar paper bag tadi dan segera berlari menuju kamar mandi.
Saat sudah di dalam kamar mandi dan memastikan bahwa pintunya terkunci rapat, Ciara mendekatkan dirinya di cermin yang terpasang di kamar mandi tersebut. Ia mengamati setiap inci wajahnya yang memerah, lalu saat matanya melihat bibirnya, ia dengan tak sadar menyentuh bibirnya sendiri dan tersenyum. Entah apa yang dipikirkannya saat ini, padahal kejadian tadi bukan First kissnya tapi entah kenapa ciuman ketiganya dengan Devano tadi seakan-akan itulah ciuman pertamanya.
Ia menggelengkan kepalanya sembari memukul keningnya saat pikirannya kotor tadi tiba-tiba kembali mencemari otaknya itu. Dan dengan cepat ia sekarang menggunakan pakaian yang di belikan Mommy Nina yang sangat pas di badannya.
Ciara sempat memandangi tubuhnya dari pantulan cermin tadi sebelum akhirnya ia keluar dari kamar mandi tersebut. Dan saat sudah keluar ternyata Devano juga telah selesai berganti pakaian dan sekarang sang empu terduduk santai di atas kasurnya sembari menatap layar laptopnya.
"Ehemmm," dehem Ciara untuk mengalihkan pandangan Devano. Devano kini menutup laptopnya dan menatap Ciara.
"Thanks udah izinin aku buat ganti pakaian disini," tutur Ciara tak berani menatap mata Devano karena hal itu mampu membuat detak jantungnya kembali berdetak tak beraturan.
Devano kini mendekati Ciara dan setelah didepan tubuh Ciara, ia mengarahkan tangannya ke dagu Ciara, lalu membantu kepala Ciara tegak dan mengarah kedirinya bukan lantai lagi.
"Gak usah malu. Toh kita juga udah pernah lihat secara detail bentuk tubuh satu sama lain," sambung Devano.
"Ck, jangan mulai lagi deh Dev," tutur Ciara sebal.
Devano terkekeh melihat wajah cemberut Ciara.
"Oke-oke sayang. Maaf maaf. Mau turun kebawah sekarang? atau kita mau pacaran dulu disini? lumayan kan gak akan ada yang ganggu. Al juga udah aman sama Mommy." Ciara memutar bola matanya malas.
"Ingat umur bapak. Kita udah punya anak satu, gak pantas buat kita untuk pacaran segala. Malu sama Al," tutur Ciara.
"Ya udah kalau gitu langsung nikah aja gimana," ucap Devano sembari menaik-turunkan alisnya.
"Ingat, kamu belum mengantongi restu orangtuaku. Jadi kalau kamu mau nikahin aku harus berusaha dapat restu dari mereka, kalau sampai tidak bisa berarti sampai kapanpun kamu gak bisa nikah sama aku. Dan aku mungkin nikah sama laki-laki lain yang lebih tampan dan mapan, baik, sayang sama aku juga Al." Devano membelalakkan matanya kemudian dengan pelan ia memukul bibir Ciara.
"Gak boleh ngomong gitu. Gak baik," tutur Devano.
Ciara mengelus-elus bibirnya.
"Gak baik apanya coba. Orang doaku tadi baik banget malahan."
"Ck, itu doa gak baik sayang. Pokoknya kamu gak boleh nikah sama laki-laki manapun selain aku. Aku yang akan jadi suami kamu, ayah dari anak-anakmu dan juga kepala keluarga di rumahmu. Gak ada yang lain yang bisa gantikan posisiku di hidupmu," ucap Devano sembari memeluk tubuh Ciara.
Sedangkan Ciara kini tersenyum geli akan sifat posesif Devano itu.
"Jangan bilang kayak gitu lagi," tutur Devano.
"Ya kan gak ada yang salah Dev. Kenapa dilarang coba?"
"CIA!" rengek Devano.
"Apa sih?"
"Gak boleh!"
"Gak boleh apa?"
"Gak boleh ngomong kayak tadi." Ciara tambah melebarkan senyumnya.
"Biarin lah."
"Ciaaaaa!"
"Oke-oke gak akan lagi," tutur Ciara.
"Janji," ucap Devano masih dalam pelukan Ciara.
"Iya janji."
Devano kini semakin mengeratkan pelukannya.
"Dasar bayi gede," gumam Ciara lirih tapi masih bisa didengarkan oleh Devano.
"Bukan bayi gede tapi calon kepala keluarga." Ciara memutar bola matanya.
"Baiklah calon kepala keluarga," tutur Ciara sembari menepuk-nepuk punggung Devano.