Young Mother

Young Mother
Rahel


Kini Al, Mommy Nina dan juga wanita yang membela Al tadi sudah berada disebuah restoran di dalam mall tersebut. Wanita yang membela Al tak tau kenapa dirinya juga dibawa kesana oleh Mommy Nina, awalnya dia pikir Mommy Nina salah menggandeng tapi saat dirinya tadi menghentikan Mommy Nina untuk bertanya, Mommy Nina justru mengabaikannya dan terus membawa dirinya hingga sampai di restoran tersebut.


"Maaf nyonya, kenapa saya juga ikut kesini?" tanya wanita itu setalah dirinya duduk di hadapan Mommy Nina dan juga Al.


Mommy Nina yang awalnya masih mengerucutkan bibirnya karena hatinya masih panas dengan ulah Tiara tadi, kini berubah jadi tersenyum manis kearah wanita itu.


"Kita makan dulu, anggap saja sebagai ucapan terimakasih saya karena kamu sudah membela Al tadi," ucap Mommy Nina.


"Tak perlu repot-repot nyonya. Saya membantu adik kecil ini secara suka rela dan juga ikhlas," tutur wanita tersebut merasa tak enak hati. Padahal dia cuma menjaga Al dan menurutnya dia tak melakukan apapun tadi, kenapa Mommy Nina harus membalas budi perbuatannya itu?


"Tak apa. Saya tak merasa direpotkan kok. Saya juga ikhlas mentraktir kamu makan. Kamu paling juga belum makan siang kan?" Dengan malu-malu wanita itu mengangguk.


Mommy Nina tersenyum, kemudian ia memanggil waiters restoran untuk segera menuju kearah mejanya.


"Mbak saya pesan pasta makaroninya 1, spaghetti bolognese 1 dan ice lychee tea 2," ucap Mommy Nina.


"Kamu pesan saja apa yang kamu mau. Tak usah sungkan." Wanita itu mengangguk kemudian ia mulai memesan hal yang sama seperti Mommy Nina kemudian setelah selesai menulis pesanan untuk Mommy Nina dan wanita tersebut, waiters tadi segera undur diri dari hadapan mereka.


"Oh ya nama kamu siapa? Tante sampai lupa tanya nama kamu. Oh ya jangan panggil saya dengan sebutan nyonya, panggil saja Tante," tutur Mommy Nina.


"Saya Rahel, tante," ucap wanita tersebut dengan senyum yang mengembang.


Mommy Nina menganggukkan kepalanya paham.


"Oh ya apa saya boleh tanya Tante?" tanya Rahel dengan kehati-hatian.


"Silahkan tanya saja Rahel."


"Hmmm saya dengar tadi kalau adik ini ada kaitannya dengan Devano. Kalau boleh tau Devano siapa ya Tante? pasalnya saya mengenal seseorang semasa kuliah yang namanya juga Devano," tutur Rahel.


Mommy Nina kembali tersenyum.


"Dia adalah Al, cucu Tante. Anak dari Devano Belvix Rodriguez. Apa nama teman kamu sama dengan nama anak Tante?" Rahel tampak kaget mendengar nama lengkap Devano disebutkan oleh Mommy Nina.


Ditambahan ia juga tak menyangka kalau Devano telah mempunyai seorang anak yang umurnya menginjak usia 6 tahun itu. Sejak kapan laki-laki itu menikah? kenapa dirinya tak mengetahui hal itu? padahal ia masih tergabung dengan grup di masa kuliahnya yang biasanya akan membahas gosip-gosip terhangat dari orang-orang yang menurutnya pantas untuk mereka gosipkan. Salah satu orang yang selalu mereka gosipkan ya Devano ini. Tapi untuk hal satu itu sepertinya mereka ketinggalan topik hangat ini.


"Rahel," panggil Mommy Nina yang berhasil mengembalikan kesadaran Rahel.


"Ah iya Tante kenapa?"


"Kamu itu yang kenapa Rahel. Setelah Tante selesai berbicara, kamu malah bengong," jawab Mommy Nina bingung.


"Ah tidak kok tante. Tadi saya hanya sedikit kaget saja pasalnya nama Devano yang tadi tante sebut itu sama dengan nama Devano yang dulu satu kampus dengan saya," ucap Rahel dengan senyum canggungnya.


"Oh ya, benarkah?" Rahel mengangguk.


"Kenapa Tante baru tau kalau Dev punya teman kampus secantik kamu."


Ia kira Rahel itu mantan kekasih Devano sewaktu kuliah dulu. Tapi kalau mantan pacar kenapa anaknya itu tak pernah membawa Rahel kerumah? Tapi untungnya apa yang ia tebak itu tak benar adanya.


Tak berselang lama, pesanan mereka datang dan dengan nikmat mereka bertiga menikmati makanan siang masing-masing tanpa berbicara sepatah kata pun.


"Oh ya kamu ikut kerumah Tante yuk," ajak Mommy Nina setelah ia menyelesaikan makan siangnya.


"Lain kali saja Tante. Saya masih ada hal yang harus saya selesaikan soalnya," tolak Rahel dengan sopan.


"Yah, padahal Tante pengen kamu kerumah Tante hanya sekedar ngeteh-teh saja tak apa," tutur Mommy Nina.


"Lain kali saja ya Tante. Saya janji deh kalau ada waktu luang, saya akan berkunjung ke rumah Tante sekalian nanti main sama Al," ucap Rahel.


Mommy Nina tampak menghela nafas pasrah kemudian ia mengangguk.


"Baiklah kalau begitu Tante akan minta nomor ponsel kamu. Biar kalau kamu lupa dengan janji kamu ini, Tante akan teror kamu," tutur Mommy Nina sembari menyodorkan ponselnya kearah Rahel.


Rahel pun segera mengambil ponsel tersebut dan mengetikan nomor ponselnya di sana. Setelah itu ia menyodorkan kembali ponsel Mommy Nina kepemiliknya.


"Saya tak akan lupa dengan janji saya, Tante," ucap Rahel dengan senyumannya dan dibalas dengan anggukan kepala oleh Mommy Nina.


"Oh ya Tante. Saya pamit pulang dulu, terimakasih atas traktiran makanan ini. Maaf merepotkan Tante," pamit Rahel.


"Tante sudah bilang tak ada yang direpotkan Rahel. Baiklah kamu hati-hati dijalan. Tante masih mau nemani Al main disini."


"Al juga mau pulang Mai," timpal Al.


"Benarkah?" tanya Mommy Nina memastikan dengan binar bahagia dimatanya.


"Benar Mai. Al sudah capek jalan-jalan dari tadi." Mommy Nina mengelus kepala Al dengan lembut.


"Baiklah kalau begitu kita keluar mall bareng aunty Rahel ya." Al menganggukkan kepalanya.


Kini mereka bertiga bergegas meninggalkan restoran tersebut dan segera menuju lantai bawah, dimana lantai itu terdapat pintu untuk keluar masuk para pengunjung mall.


Setelah sampai di luar mall, Mommy Nina dan juga Rahel harus berpisah karena sopir Mommy Nina yang sudah stand by dan saat tubuh Mommy Nina dan Al terlihat keluar dari mall tadi, sopir itu langsung tancap gas menghampiri Mommy Nina.


"Tante pulang dulu. Kamu hati-hati." Mommy Nina memeluk sekilas tubuh Rahel kemudian ia melakukan cipika-cipiki.


"Tante juga hati-hati dijalan." Mommy Nina menganggukkan kepalanya. Setelah itu ia mulai memasuki mobilnya yang sudah berada di hadapannya bersama Al tentunya yang lebih dulu sudah masuk kedalam mobil tersebut.


"Bye Tante Rahel." Al melambaikan tangannya melalui kaca mobil yang sengaja ia turunkan.


"Bye Al," balas Rahel sembari menatap kearah mobil yang semakin lama semakin menjauh itu.


Setelah dirasa ia tak melihat mobil tadi, Rahel segera berjalan menuju ke jalan raya untuk memudahkan sopir taksi online yang tadi ia pesan lewat sebuah aplikasi hijau dengan gampang menemukannya nanti. Dan benar saja selang beberapa menit mobil taksi yang ia pesan kini berhenti dihadapannya. Kemudian ia segera masuk dan mobil itu kini perlahan meninggalkan mall tersebut.