Young Mother

Young Mother
Kondisi Devano


Ciara menitihkan air mata kala melihat wajah Devano yang kembali lebam bahkan lebih parah dari sebelumnya.


"Pak Badri bantuin Cia!" Teriak Ciara setelah ia mengecek denyut nadi Devano yang melemah.


Pak Badri yang di panggil majikannya pun dengan berlari menghampiri Ciara bersama dengan dua security dirumah itu.


"Cia mohon, bantu Cia bawa tubuh Devano sampai di mobil Cia," mohon Ciara kepada tiga orang yang tengah berhadapan dengannya.


Ketiganya sebenarnya tak berani tapi melihat wajah Ciara yang penuh permohonan itu mereka tak tega dan langsung membawa tubuh Devano keluar dari rumah tersebut dan memasukkan tubuh lemah Devano kedalam mobil Ciara, lebih tepatnya mobil Olive yang ia pinjam tadi.


Setelah Devano sudah aman di kursi belakang, Ciara langsung menjalankan mobil tersebut menuju rumah sakit terdekat dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.


"Aku mohon bertahanlah Dev," ucap Ciara yang sesekali melihat Devano dari kaca di depannya.


Ia terus menjalankan mobilnya tersebut dengan kecepatan yang cukup tinggi sembari terus membunyikan klakson mobil tersebut saat ada pengendara lainnya yang menghalangi jalan mobilnya bahkan ia tak peduli jika nantinya akan berurusan dengan polisi. Yang ada dipikirannya sekarang adalah nyawa Devano harus tetap bertahan.


Mobil yang ia jalankan tadi kini sudah berhenti di depan lobby rumah sakit. Dengan segera ia keluar dari mobilnya dan memanggil beberapa suster untuk membantunya memindahkan tubuh Devano dari dalam mobil keatas banker yang telah dibawa salah satu suster tadi. Dan setelah tubuh itu berhasil di pindahkan, suster kini mendorong banker yang diatasnya ada Devano menuju UGD di rumah sakit tersebut.


Saat sudah berada di depan ruang UGD, terpaksa Ciara tak bisa ikut masuk kedalam.


"Gue mohon Dev, bertahan lah," gumam Ciara sembari mengintip kedalam ruangan tersebut.


Ia sangat menyesal akan keterlambatannya mencegah Papa Julian menghakimi Devano tadi. Jika saja di dalam perjalanannya tak terjadi ban mobil yang pecah, pasti Ciara akan sampai di rumah orangtuanya tak lama setelah Devano sampai disana.


Flashback on


Saat tadi Devano pergi dari rumah Olive tadi, Ciara sudah mulai curiga ditambah dengan perasaan yang tak karuan yang ia rasakan sehingga saat Devano sudah benar-benar pergi dari rumah Olive dan setelah meyakinkan dirinya tadi yang semakin ia yakinkan malah semakin tak karuan. Alhasil ia meminjam mobil Olive dan mengikuti arah mobil yang di tumpangi Devano. Tapi sayang saat di tengah jalan, ban mobil tersebut pecah dan mengharuskan dirinya memanggil montir sehingga ia tertinggal jauh dari Devano. Dan saat dia sudah mulai menyerah dan mencoba berpikir positif, dirinya memilih untuk mengunjungi orangtuanya sekalian ia juga ingin mengambil barangnya yang kebetulan tertinggal di rumah tersebut. Tapi saat dirinya sudah sampai di depan gerbang, matanya menangkap mobil yang ia rasa tak asing di penglihatannya dan benar saja saat di telisik lagi mulai dari merk mobilnya dan juga plat nomor mobil tersebut, Ciara baru tau jika mobil tersebut adalah milik Devano. Dan tanpa babibu lagi Ciara langsung berlari kedalam rumah itu dan betapa kagetnya dia saat matanya menatap sang Papa dengan posisi menginjak dada Devano dan mengayunkan tangannya yang tengah memegang tongkat baseball.


Saat itu Ciara sempat susah untuk mengeluarkan kata-kata. Hanya lemas dengan tubuh bergetar yang ia rasakan. Dan dirinya baru tersadar saat Mama Mila berteriak untuk menghentikan aksi Papa Julian dan barulah ia juga ikut berteriak sekencang-kencangnya, kemudian berlari untuk menolong Devano sebelum terjadi sesuatu kepada laki-laki tersebut. Baru saja ia terduduk dan mengelus wajah Devano yang sempat melihatnya dengan mata sayu dan senyum yang begitu lebar sebelum mata tertutup dan senyum itu menghilang. Dan disitu barulah ia mengecek denyut nadi Devano yang ternyata melemah dan hal itu membuat dirinya semakin tak karuan. Ia tak ingin Devano kembali meninggalkan dirinya untuk berjuang sendiri di dunia yang bergitu kejam ini.


Flashback off


Ciara mengusap wajahnya gusar saat dokter yang menangani Devano tak kunjung keluar dari ruangan tersebut.


"Mama!" Teriak Al berlari menghampirinya bersamaan itu pula Olive, Dea dan kedua orangtua Devano juga tengah berjalan dibelakang Al. Memang tadi ia sempat mengabari orangtua Devano dan juga kebetulan Al tengah rewel mencarinya sedari tadi, yang mengharuskan Olive menelfon dirinya kemudian membawa anak laki-laki tersebut ke rumah sakit dimana dirinya berada.


Tubuh Al kini menubruk kaki Ciara, memeluk kaki tersebut sangat erat. Sepertinya Al juga merasakan kekhawatiran yang Ciara rasakan saat ini, terlebih Al juga memiliki ikatan batin yang kuat dengan Devano.


Kini Ciara membawa tubuh Al ke dalam gendongannya dan memeluk tubuh mungil itu.


"Apa dokternya belum keluar?" Tanya Mommy Nina yang sudah berada disamping Ciara.


"Dad, Mom. Maafin Cia. Ini semua gara-gara Cia yang gak bisa cegah orangtua Cia buat tidak menghakimi Devano sampai seperti ini," ucap Ciara lesu.


Mommy Nina tampak tersenyum dan mengelus kepala Ciara. Walaupun dia juga sama khawatirnya dengan Cia tapi untuk saat ini ia tak ingin menampakan hal itu yang kemungkinan akan menambah rasa bersalah di diri Ciara.


"Sudah tak apa, Ci. Ini semua bukan karena kamu. Devano yang menginginkan itu semua. Dan kamu tau Dad dan Mom sekarang merasa bangga atas keberanian Devano mengakui kesalahannya dan mulai tanggungjawab atas apa yang ia perbuat sama kamu dulu," tutur Daddy Tian.


"Apa yang di katakan Daddy benar Ci. Devano bahkan berani taruhan nyawa untuk menebus kesalahannya kepada orangtuamu yang hatinya sudah dia lukai," sambung Mommy Nina.


Ciara hanya bisa terdiam, ia masih marah dengan dirinya sendiri. Kenapa saat Devano pulang setelah mengantarkan dirinya ia tak mencegahnya dan malah membiarkan laki-laki itu pergi dengan cepat. Dan dia juga sangat menyesal akan keterlambatannya mencegah Papa Julian menghabisi Devano.


Saat Ciara hanyut dalam penyesalan, saat itu pula pintu UGD terbuka dan menampilkan dokter yang sedari tadi menangani Devano.


Semua orang yang menunggu kabar dari dokter tersebut segera merapatkan dirinya menghadap dokter tadi.


"Bagaimana kabar anak saya dok?" Tanya Mommy Nina.


"Alhamdulillah pendarahan di kepalanya karena pukulan yang cukup keras sudah berhenti dan ada salah satu tulang rusuk tuan Devano mengalami keretakan tapi tidak cukup bahaya untuk jantung dan paru-parunya. Sedangkan untuk yang lainnya Alhamdulillah aman tak ada kerusakan. Dan juga beliau sudah melewati masa kritisnya. Hanya saja untuk sekarang tuan Devano belum sadarkan diri," jelas dokter tadi.


Semua orang yang berada disitu tampak menghela nafas lega, setidaknya Devano masih bisa terselamatkan.


"Apa kita boleh masuk Dok?" Tanya Ciara.


Dokter tersebut mengangguk.


"Tapi hanya boleh satu orang saja," jawab Dokter tersebut.


Ciara tampak menoleh ke arah Mommy Nina dan Daddy Tian yang dengan lapang dada mereka mengizinkan Ciara masuk terlebih dahulu.


"Terimakasih Mom, Dad," ucap Ciara.


"Al sama Mai dan Dai dulu ya nak. Mama mau bertemu Papa sebentar," sambung Ciara sembari menatap wajah Al yang masih berada di gendongannya.


"Al mau ikut lihat Papa."


"Al lihat Papanya nanti ya habis Mama ya sayang," ucap Mommy Nina yang turut memberikan pengertian ke Al. Al tampak berpikir sesaat kemudian mengangguk dan merentangkan tangannya kearah Mommy Nina. Mommy Nina pun kini mengambil Al dalam gendongan Ciara.


Setelah itu Ciara baru masuk kedalam ruangan tersebut tapi sebelumnya ia harus mengganti baju khusus terlebih dahulu.