Young Mother

Young Mother
Tahan Emosi


Rahel hanya melirik sekilas kearah Devano yang kebetulan duduk disisi lain Ciara dan untungnya laki-laki yang dulu sangat ia idam-idamkan itu tengah asik bercakap dengan teman-temannya saat dirinya melirik kearahnya tadi. Kemudian Rahel semakin merapatkan tubuhnya dengan tubuh Ciara.


"Kenapa harus tanya Devano? Apa hubungannya coba? Dan setahu aku, kamu dan dia dulu gak saling akrab satu sama lain. Orang kamu dulu sering banget menghindar kalau ketemu sama dia. Dan gimana ceritanya dia malah tau semua masalah kamu sedangkan aku yang notabenenya hampir setiap hari nempel sama kamu dulu saja gak tau masalah ini sampai kamu hilang ditelan bumi. Kamu yang serius dong Ci," bisik Rahel yang matanya masih aktif melihat kearah Devano, takut-takut jika laki-laki itu mendengar bisikannya.


"Aku udah serius tau Hel. Emang muka aku kelihatan orang mau ngibul gitu?"


"Ya enggak sih. Tapi kalau di nalar dari pikiranku sendiri nih ya, kamu tuh dulu termasuk orang yang tertutup. Mana mungkin kamu cerita masalah itu sama orang lain yang gak terlalu akrab sama kamu ditambah orang itu berjenis kelamin laki-laki. Yang kemungkinan akan buat kamu mikir seribu kali sebelum cerita ke orang itu. Ayo lah jangan ngulur waktu lagi, aku udah nunggu ini bertahun-tahun lho," geram Rahel.


Ciara memutar bola matanya malas, sahabatnya itu memang sangat menyebalkan, ia tak akan percaya sebelum Ciara menceritakannya sendiri. Tapi sayangnya Ciara tak akan menceritakan hal itu sendiri melainkan ia akan melemparkan itu ke Devano, biarkan suaminya itu yang menjelaskan semuanya.


Ciara kini membenarkan posisi duduknya yang tadinya dengan sempurna menghadap kearah Rahel kini ia merubah sedikit hingga melihat ke arah Devano. Kemudian ia menyenggol lengan Devano agar sang empu mengalihkan pandangannya kearahnya.


Dan benar saja baru satu kali senggol, Devano sudah menoleh kearah Ciara.


"Kenapa?" tanyanya dengan kedua alis yang terangkat.


"Ceritain gih sama Rahel. Dia mau tau cerita itu mulai dari awal sampai akhir," jawab Ciara.


Devano yang belum paham dengan arah perkataan dari Ciara pun mengerutkan keningnya.


"Cerita apa sih? yang jelas dong sayang," ucap Devano.


Rahel yang mendengar kata sayang terucap dari bibir Devano pun membelalakkan matanya.


"Apa nih apa? Kenapa Devano panggil Ciara dengan sebutan sayang? Aku ketinggalan apa ini?" batin Rahel penuh kebingungan. Bahkan matanya kini menelisik setiap gerak gerik keduanya.


"Itu lho Rahel mau tau cerita masa lalu kita," ucap Ciara yang lagi-lagi membuat Rahel terbengong dengan banyaknya pertanyaan yang melintas di dalam otaknya.


Sedangkan Devano kini langsung menatap kearah Rahel sesaat kemudian dia menganggukkan kepalanya untuk menjelaskan semuanya kepada sahabat dari istrinya itu.


"Kamu pindah sini aja," tutur Ciara dan sebelum dirinya beranjak untuk bertukar posisi duduknya dengan sang suami, tangan Devano lebih dulu melingkar indah di pinggangnya.


"Kamu tetap duduk disini. Kalau kita tukeran tempat duduk, kamu bakal berdekatan dengan laki-laki lain dan aku gak suka lihat hal itu terjadi," ucap Devano.


Tanpa melepaskan tangannya dari pinggang sang istri, Devano mulai membuka suaranya.


"Kamu mau tau cerita masalalu Ciara, kenapa dia bisa hilang mendadak tanpa ada yang tau dia kemana?" tanya Devano sembari menatap Rahel.


Rahel yang di tatap Devano dengan tatapan mengintimidasi pun, ia hanya bisa menganggukkan kepalanya.


"Baiklah kalau kamu mau tau semuanya, biar aku yang menceritakan masalah itu ke kamu," ucap Devano. Lalu ia menghirup oksigen dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapannya. Bahkan semua orang di sana yang awalnya sangat ribut dengan suara yang saling bersahutan, kini mulut mereka semua terasa terhipnotis untuk diam dan siap memasang telinga mereka untuk mendengarkan cerita dari Devano. Tak lupa pandangan mereka mengarah ke Devano, Ciara dan Rahel.


"Ciara menghilang itu karena suatu masalah yang cukup besar buat dirinya. Dia memilih untuk pergi dan menjauh dari orang-orang yang ia kenal yang kemungkinan akan merendahkan dirinya saat tau bahwa dirinya waktu itu tengah mengandung janin yang tak semua orang inginkan. Masalah itu dimulai saat kesucian Ciara diambil paksa oleh laki-laki bajingan. Laki-laki itu tak memperdulikan masa depan Ciara akan seperti apa nantinya, gak peduli dengan tangis pilu Ciara saat dia menidurinya dan ia juga tidak peduli konsekuensi yang akan diterima Ciara kedepannya. Laki-laki itu hanya memikirkan dirinya sendiri dengan menyalurkan keinginannya untuk segera berhubungan dengan Ciara. Dan atas kejadian satu malam itu, hanya berselang beberapa bulan saja, Ciara dinyatakan positif hamil. Dia berusaha untuk membicarakan hal itu ke laki-laki bajingan itu, tapi tak seperti yang dia harapkan. Laki-laki itu justru tak mengakui jika janin yang ada di dalam kandungan Ciara adalah anaknya. Ia menuduh tanpa bukti dengan merendahkan diri Ciara, menyamakan Ciara dengan wanita-wanita lain yang menjual dirinya untuk mendapatkan uang. Dan lebih bejatnya lagi, laki-laki itu menyuruh Ciara untuk mengugurkan janin yang tak bersalah sama sekali." Devano tampak terdiam sesaat dengan senyum miris, membayangkan kembali dirinya dulu saat menolak Ciara dengan sombongnya.


Ciara yang melihat Devano kembali ke bayang-bayang masa lalunya itu kini mengelus lembut lengan sang empu.


Devano yang awalnya menunduk kini mendangakan wajahnya, menatap lurus kearah Ciara yang tengah tersenyum manis kepadanya.


Devano yang seakan-akan mendapat kekuatan dari Ciara pun melanjutkan cerita itu.


"Tapi syukurnya Ciara tak melakukan apa yang di inginkan laki-laki bajingan itu. Dan pada akhirnya Ciara memilih untuk pergi ke negara tetangga dan memulai lembaran baru dengan janin yang kini terlahir sebagai anak yang sangat tampan dan pintar. Selang beberapa tahun akhirnya Ciara memutuskan kembali ke tanah kelahirannya dengan kedua sahabatnya yang telah membantu banyak dirinya disana. Dan saat dirinya sudah berada disini, entah kebetulan atau memang sudah menjadi takdir Ciara dan laki-laki bajingan itu dipertemukan kembali. Bahkan laki-laki bajingan itu dengan tak tau malunya memohon ampun dan meminta maaf ke Ciara, wanita yang sudah ia sakiti luar dalamnya. Tapi, entah terbuat dari apa hati Ciara ini yang dengan lapang dada memaafkan semua kesalahan yang dilakukan laki-laki bajingan itu ke dirinya. Dan kamu tau laki-laki bajingan itu siapa?" Rahel yang sedari tadi menyimak dengan rasa sesak di dadanya pun menggelengkan kepalanya saat pertanyaannya Devano dilayangkan untuknya.


"Laki-laki bajingan itu adalah laki-laki yang sedang berada di hadapanmu. Laki-laki yang tengah memeluk Ciara dan laki-laki yang tadi menceritakan masa lalu Ciara untuk mu," tutur Devano.


Rahel kini di buat melongo tak percaya, ternyata laki-laki yang pernah ia idam-idamkan itu adalah laki-laki yang dengan lancangnya merusak sahabatnya sendiri.


"Jadi ka---kamu yang." Devano mengangguk.


"Ya, laki-laki bajingan itu adalah aku," ucap Devano.


Rahel mengepalkan tangannya dengan gertakan gigi untuk menahan emosinya yang sudah meledak. Ia takut jika emosinya itu tak ia kendalikan, Devano dan seisi rumah ini akan hancur karena ulahnya. Dan kini Rahel berdiri dari duduknya kemudian ia semakin mendekati Devano, lalu...


Plakkk!!!!


Ia menampar pipi Devano dengan cukup keras bahkan Devano sempat meringis merasakan pipinya yang kebas akibat tamparan itu.