
Kini sewaktu pulang sekolah, Al dan Yura bukannya langsung pergi kerumah mereka masing-masing. Justru keduanya kini tengah berjalan-jalan disebuah taman yang tak jauh dari sekolahan mereka. Bahkan Al yang hanya mau menghabiskan satu hari yang spesial ini dengan Yura, ia sampai mengusir kedua bodyguardnya untuk tak menganggu ataupun mengikuti mereka berdua. Walaupun sempat ada perdebatan kecil yang tercipta, tapi pada akhirnya setelah Doni menelepon Devano dan Ciara untuk mengadukan aksi Al itu, dan kedua orangtuanya justru berpihak kepada Al untuk membiarkan anak mereka menikmati waktu spesialnya itu dan juga untuk memberikan sedikit nafas untuk Al yang selama ini terus dijaga ketat oleh para bodyguard pun, akhirnya Doni dan Toni mengalah dan mengizinkan kedua anak itu pergi masuk sendiri ke dalam taman tersebut.
Namun karena perasaan mereka yang tiba-tiba mulai tak tenang, dengan diam-diam Doni dan Toni mengikuti mereka berdua tanpa sepengetahuan Al ataupun Yura.
Dan kini kedua anak tersebut tampak tengah terduduk tepat di kursi yang menghadap kearah danau kecil di taman tersebut.
"Yura," panggil Al. Yura yang tadinya fokus ke arah danau didepannya itu, kini dia menolehkan kepalanya kearah Al.
"Iya?" balas Yura.
"Apa kamu tau, berkat kebersamaan kita selama ini, banyak sekali perubahan yang aku rasakan didalam diriku sendiri. Aku yang dulunya tertutup, tidak mau bercerita mengenai keseharianku kepada orang lain, dan aku yang dulunya kaku tanpa ada senyum di wajahku, sekarang berkat kamu semuanya berubah. Aku semakin terbuka dengan orang lain, banyak tersenyum bahkan aku tidak segan-segan untuk menceritakan semua kejadian yang aku alami ke orang-orang terdekatku," ucap Al yang menatap sekilas wajah Yura sebelum tatapan matanya kini berpindah ke pemandangan didepannya itu.
"Entah bagaimana jika aku tidak bertemu dan mengenal kamu seperti saat ini. Mungkin saja kemarin, sekarang atau dimasa depan aku akan tetap menjadi Al yang sangat kaku dan tanpa ekspresi," sambung Al diakhiri dengan ia tersenyum kala mengingat dirinya yang dulu.
Yura yang melihat senyum di bibir Al pun kini ia ikut tersenyum pula.
"Yura senang kalau Yura bisa membuat seseorang merubah dirinya menjadi lebih baik lagi. Dan perlu Al tau, saat kita berdua pertama kali bertemu, Yura sempat takut kepada Al. Karena Al dulu natap Yura seakan-akan Yura itu mangsa Al yang kapanpun bisa Al tangkap dan makan," ujar Yura diakhir dengan kekehan kecil.
"Tapi ternyata setelah Yura berhasil menjadi teman Al, semua ketakutan Yura itu hilang dengan sendirinya. Terlebih tatapan Al sekarang tidak terlihat menyeramkan seperti dulu," sambung Yura.
Al kini mengalihkan pandangannya kembali kearah Yura.
"Terimakasih," ucap Al.
"Untuk?"
"Untuk semua yang sudah Yura lakukan. Terlebih sudah membantu Al untuk merubah sifat Al yang dulu menjadi seperti sekarang," ujar Al yang diangguki oleh Yura.
"Yura juga mau berterimakasih ke Al karena sudah mau menerima Yura sebagai teman Al. Best." Yura kini mengacungkan jari kelingkingnya.
"Friend," sambung Al dengan mengacungkan jari kelingkingnya juga.
"Forever!" teriak mereka berdua sembari menautkan jari kelingking mereka satu sama lain.
"Oh ya, Yura, Al punya sesuatu buat kamu. Sebenarnya ini sudah lama mau aku kasih ke kamu tapi aku lupa terus hehehe," ujar Al.
"Al mau ngasih sesuatu ke Yura?" tanya Yura dengan mata berbinar. Al menganggukkan kepalanya sembari tangannya sibuk mencari benda yang akan ia berikan kepada Yura.
Dan setelah mendapatkan apa yang ia cari pun, ia kini semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Yura. Lalu tanpa hitungan menit, tangan Al kini bergerak untuk memasangkan benda tadi ke kepala Yura.
"Cantik," ucap Al saat benda tadi sudah terpasang di kepala Yura.
Yura kini meraba kepalanya.
"Bando? Al kasih Yura bando?" Al tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
"Wah sepertinya bandonya bagus. Yura mau foto dong sama bando pemberian Al ini," ujar Yura sembari mengeluarkan ponselnya dan baru saja ia ingin berpose, Al merebut ponsel Yura itu.
"Eitssss Al juga mau ikut foto," ucap Al saat Yura ingin protes atas aksinya tadi. Dan hal itu semakin membuat Yura melebarkan senyumnya.
Dan setelahnya kini kedua anak tersebut tengah sibuk berselfi tanpa melihat dan peduli dengan keadaan sekitarnya. Apa lagi dengan keberadaan kedua dua bodyguard pribadinya itu yang sekarang tengah mengintip kegiatan mereka di balik pohon besar tak jauh dari tempat duduk yang Al dan Yura gunakan.
"Menyebalkan memang. Kenapa juga sih harus uang yang menjadi pokok utama dalam hidup, kalau gak ada uang kita bisa kelaparan dan gak akan bisa bertahan hidup. Kenapa gak cinta aja sih, kan enak tuh kalau kita dapat pasangan yang saling mencintai, kita bisa langsung hidup bahagia. Tapi sayangnya, kita tidak bisa kenyang karena cinta. Haish menyebalkan!" geram Toni yang sudah mulai kacau dalam pembicaraannya.
"Ck, sudahlah. Mikirin tentang cinta itu gak ada habisnya. Mending kita mikirin itu tuan muda dan nona Yura mau kemana? pakai gandeng tangan segala pula. Haish belum dewasa aja bucinnya bikin geleng-geleng kepala. Gimana coba kalau mereka sudah besar, pasti tambah bucin lagi. Ck," decak Doni dengan menghentak-hentakkan kakinya seperti anak kecil yang tengah merajuk saja.
"Lama-lama nih pohon aku balik juga nih," sambung Doni yang sepertinya tingkat ke-irianya itu sudah sangat tinggi.
"Tahan-tahan. Jangan sampai kamu gila karena lihat keromantisan mereka berdua. Kita tuh harus tetap kuat disaat guncangan per-ayangan tengah melanda bumi ini. Yuk ah, jangan lama-lama meratapi nasib kita. Mari kita bekerja lagi untuk mendapatkan cuan yang banyak biar kita nanti tidak mencari perempuan dengan susah payah karena meraka nantinya yang justru mencari kita. Dan kita tinggal tunjuk saja sudah bisa milih siapa yang menjadi pasangan kita. Semangat semangat!" ucap Toni dengan menyeret kerah Doni agar mereka segera bergerak mengikuti kedua anak tadi.
Sedangkan Doni yang ditarik paksa saat ia sedang melampiaskan semuanya kepada pohon besar tadi, ia hanya bisa pasrah saja hingga akhirnya mereka berdua kembali bersembunyi saat mereka melihat Al dan Yura yang tengah membeli eskrim yang masih berada di area taman tersebut.
"Kamu mau yang rasa apa?" tanya Al.
"Coklat," ucap Yura yang diangguki oleh Al.
Dan saat Al memesan eskrim tadi, mata Yura yang menatap ke sekeliling pun kini tatapan matanya menetap ke satu obyek yang menarik perhatiannya.
"Al, kucingnya cantik," ucap Yura sembari menarik-narik ujung baju Al.
Al kini menatap kearah Yura sebelum tatapannya itu beralih kearah pandang Yura.
"Iya cantik," ujar Al. Lalu setelahnya ia kembali fokus memesan es krim untuknya dan untuk Yura.
Dan tanpa ia ketahui, Yura sekarang tengah melangkah kakinya mendekati kucing tadi yang berada di pinggir jalan.
"Hay meow. Sini sama aku," ucap Yura saat ia mencoba mendekati kucing tadi. Tapi sayangnya kucing itu justru menghindari setiap pendekatan dari Yura tadi. Hingga tanpa Yura sadari, ia sekarang sedang berada ditengah jalan raya. Dan tanpa ia duga, ada sebuah mobil yang sedari tadi sudah standby di lokasi. Bahkan kini orang yang berada didalam tengah tersenyum devil melihat Yura telah masuk kedalam jebakannya itu.
"Goodbye untuk kalian semua," ucap orang tersebut.
Sedangkan Al yang baru selesai memesan es krim itu dan ingin memberikannya kepada Yura pun kini ia dibuat bingung karena tak ada Yura disampingnya. Hingga ia mengedarkan pandangannya dan saat ia melihat keberadaan Yura, ia membelalakkan matanya.
"Yura!" teriak Al. Dan tanpa menunggu lama, ia kini berlari kearah Yura yang tengah dalam bahaya itu.
Doni dan Toni yang juga baru sadar karena tiba-tiba saja dirinya seperti tengah di hipnotis pun, mereka kini keluar dari persembunyiannya saat melihat kedua orang yang sedari tadi ia mata-matain berada ditengah jalanan tersebut. Bahkan mereka berdua semakin terkejut saat mereka melihat ada mobil yang tengah melaju kearah mereka berdua.
"Tuan muda, nona Yura! Awas!" teriak keduanya dengan berlari kearah mereka berdua.
Tapi saat keduanya sudah menginjakkan kaki mereka ke jalanan, tak mereka sadari jika mobil yang tadinya mengarah ke Al dan Yura, justru langsung banting setir kearah mereka berdua, hingga...
Brakk!!!
Hantaman keras yang menerjang tubuh keduanya tak bisa lagi mereka berdua hindari. Hingga akhirnya tubuh keduanya kini telah terkapar di jalanan tersebut.
Al dan Yura yang melihat semua kejadian tadi pun mereka berdua berteriak histeris.
"Om Doni, Om Toni!" teriak mereka berdua.
Dan tanpa melihat situasi disekitar mereka, Yura dan Al kini berlari untuk menghampiri kedua bodyguard Al tersebut.
Tapi lagi-lagi nasib sial memang tengah melanda keempat orang tadi. Karena saat kedua anak tadi hampir sampai di kerumunan orang-orang tadi, lagi-lagi mobil dengan kecepatan yang sangat kencang menuju kearah mereka berdua dan tanpa hitungan detik mobil itu menghantam tubuh dua anak tersebut hingga terpental beberapa meter dari tempat tersebut dan mendarat dengan keras di atas aspal jalan disana.