Young Mother

Young Mother
In Mall


Mereka berempat kini sudah memasuki mall terbesar di kota tersebut. Dengan senangnya baby Al berlari kesana-kemari bahkan setiap toko pun ia masuki.


"Jangan lari-lari nak. Nanti jatuh!" peringat Ciara. Namun namanya juga anak kecil walaupun dibilangin seperti apa pun ia masih akan bertingkah sama yang menurutnya itu menyenangkan maka ia akan melakukannya.


Mereka bertiga hanya bisa pasrah dan mengikuti kemana arah perginya baby Al tersebut.


"Ya ampun Ci. Kaki aku bisa lepas nih kalau harus ngikutin arah Al terus. Ini aja baru 1 jam kita disini baby Al sudah masuk sana masuk sini tanpa ngasih ceda ke kita buat ambil nafas," keluh Olive sembari mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi toko sepatu yang tengah baby Al kunjungi.


"Ya mau gimana lagi. Al saat ini lagi aktif-aktifnya. Gimana kalau kita ajak aja dia ke Timezone? Siapa tau kan kalau disana dia bisa diam," usul Ciara.


Olive menimbang usulan dari Ciara kemudian ia mengangguk setuju.


"Bisa dicoba," ucapnya sembari berdiri dari duduknya dan menghampiri baby Al yang tengah kejar-kejaran dengan Dea di toko sepatu tersebut.


Dengan sigap Olive memotong jalan yang akan dilalui baby Al dan ia segera menangkap tubuh baby Al kedalam gendongannya.


"Aunty lepasin!" berontak baby Al.


"Aunty nanti lepasin baby Al kalau udah di Timezone," ucapnya sembari melangkahkan kakinya kembali menuju Ciara diikuti Dea dibelakangnya.


"Buruan kita kesana!" perintah Olive kepada Ciara yang masih diam di tempat mengamati tingkah dari anaknya dan juga kedua sahabatnya.


"Iya-iya," ucapnya. Mereka pun berjalan, menaiki eskalator di mall tersebut.


"Aunty," panggil baby Al.


"Iya. Kenapa?"


"Timezone itu apa?" tanya baby Al dengan polosnya.


"Tempat bermain. Disana baby Al bisa main segala macam permainan yang baby Al belum pernah coba kalau dirumah," jawab Olive menerangkan kepada baby Al yang tengah menatap dirinya. Nampaknya baby Al sudah paham mengenai ucapan dari Olive karena dia merespon perkataan tadi dengan anggukan.


Langkah kaki mereka kini sudah sampai di area Timezone. Seperti yang ia ucapkan tadi, Olive segera menurunkan tubuh baby Al. Sesaat baby Al terdiam dengan mata berbinar lucu namun setelahnya ia kembali berlari menuju salah satu permainan disana. Dan permainan yang ia tuju adalah maximum tune yaitu sejenis game balap mobil.


"Mama, mau ini," ucapnya sembari menunjuk permainan tersebut.


"Emang Al bisa mainnya?" tanya Ciara sembari menyamakan tubuhnya dengan tubuh baby Al.


"Bisa," jawabnya.


"Kalau gitu. Pergilah main," ucap Ciara sembari mengusap rambut baby Al.


"Aunty Liv. Let's go," ajaknya sembari menyeret tangan Olive tak sabaran.


"Emang baby Al yakin mau ngelawan aunty?" Baby Al menjawab dengan gelengan kepala.


"Lha terus?" tanya Olive.


"Aunty cama Al," ucapnya.


"Tapi sayang, permainan ini digunakan untuk dua orang." Baby Al nampak mencerna ucapan dari Olive. Ia kemudian menatap Mamanya dengan kedipan mata menggemaskan.


Ciara yang mendapat tatapan seperti itu dari baby Al hanya bisa meringis pasalnya ia tak pernah paham dengan permainan seperti itu.


Baby Al mengalihkan pandangannya ke arah Dea dengan tatapan yang serupa. Dea menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ingin menolak tapi ia tak tega dengan ekspresi dari baby Al tapi kalau ia ikut dalam permainan tersebut sudah dia pastikan dirinya akan selalu kalah karena ia pun sama dengan Ciara, tak mengerti dengan semua permainan di Timezone tersebut.


"Aunty!" panggil baby Al dengan nada rendah seakan-akan ia tengah memohon kepada Dea. Dea menghela nafas sesaat setelah itu ia menghampiri baby Al dan juga Olive.


"Apa sih yang gak buat ponakan Aunty yang paling tampan ini. Yuk kita mulai permainannya," ucap Olive sembari mengacak rambut baby Al.


Mereka bertiga pun menempatkan dirinya di posisi masing-masing. Baby Al berada didepan Olive sedangkan Dea ia duduk disebelah mereka berdua dengan mesin yang berbeda tentunya.


Dengan sengit dua kubu berbeda tersebut saling tatap sebelum memulai permainannya.


"Aunty Dea ciap?" tanya baby Al.


"Siap dong."


"Aunty Liv ciap?" kini pertanyaannya beralih ke Olive yang berada dibelakangnya.


"Siap selalu. Baby Al gimana udah siap?"


Baby Al mengalihkan pandangannya menatap layar mesin maximum tune kemudian ia mengangguk mantap. "Ciap!" teriaknya sembari mengepalkan tangannya diudara yang membuat siapa saja yang melihatnya akan gemas sendiri.


"Oke kalau begitu let's go kita mulai permainan," ucap Olive.


Mereka bertiga pun tampak asik dengan permainan tersebut yang membuat Ciara tersenyum bahagia terlebih saat melihat tawa baby Al yang semakin lebar. Tentram rasanya ketika melihat sang anak tersenyum bahagia walaupun dengan hal kecil yang dia bahkan para Auntynya lakukan.


......*****......


Di apartemen, Devano sudah kembali berpenampilan segar setelah melakukan aktivitas mandinya. Ia keluar dari kamar, menuju area dapur apartemen tersebut. Ia akan memasak sesuatu supaya perut yang sedari tadi berbunyi kembali diam dengan ganjalan sementara dari masakannya walaupun ia yakini masakannya nanti tak akan enak.


Devano dengan santai membuka lemari pendingin di dapur tersebut dan bertapa terkejutnya dirinya saat melihat isi di dalam lemari pendingin tersebut ternyata kosong tak ada secuil pun bahan makanan yang terdapat didalamnya. Devano menghela nafas. Ia kembali menutup pintu lemari pendingin tersebut dengan cukup keras.


Ia tak patah semangat terlebih dahulu. Kini kakinya ia gerakkan menuju lemari tempel yang biasanya untuk menaruh bahan makanan yang lainnya. Siapa tau kan disana ada mie instan untuk mengganjal perutnya saat ini.


Devano kembali membuka satu persatu pintu lemari tersebut bahkan sekarang setiap laci dan celah-celah di dalam dapur tersebut ia lihat dan hasilnya sama saja ia tak mendapatkan apa yang ia inginkan bahkan ia hanya bisa melihat sebuah piring, satu set alat makan dan satu gelas di dapur tersebut.


Devano memijit pangkal hidungnya. Jika ia tahu keadaan apartemen Rafa seperti ini, ia pastikan tak akan pernah mau dengan tawaran Rafa untuk berlibur dengannya dan juga bermalam di apartemen milik Rafa.


Dengan sebalnya, Devano menarik dalam nafasnya sebelum ia gunakan untuk memanggang nama Rafa yang masih santai-santai di kamarnya.


"Rafa!!!" teriak Devano menggelegar seperti seekor singa yang tengah mengaung.


Rafa yang tadinya tiduran sembari mengotak-atik ponselnya pun terkaget hingga ponsel yang ia genggam tadi jatuh mengenai mukanya.


"Aish sakit lah monyet," umpat Rafa kepada ponselnya.


"Itu anak juga nagapain pakai teriak-teriak segala. Emang dia pikir ini hutan apa," gerutu Rafa yang aktivitasnya tadi sempat terganggu dari teriakan Rafa.


"Rafa!!!" teriak ulang Devano yang sudah kian menjadi dan naik beberapa oktaf.


Rafa gelagapan dengan teriakan Devano yang kedua kalinya. Ia segera bangkit dari tidurnya dan ia segera berlari menghampiri Devano disana.