Young Mother

Young Mother
Satu Langkah Lagi


Malam hari kini telah tiba, saat Devano sudah bersiap untuk merebahkan tubuhnya di ranjang king zisenya terdengar dering dari ponselnya yang membuat Devano mengurungkan niatnya tadi.


Devano segera meraih ponselnya yang berada di atas nakas sebelah ranjangnya, setelah itu ia berjalan menuju balkon yang berada di kamar tersebut. Ia segera membuka lock screen ponselnya yang berharga puluhan juta tersebut yang terdapat beberapa notif dari email, log panggilan, message dan beberapa pesan dari aplikasi wa. Ia tak membuka semua notif tersebut karena ia lebih tertarik dengan salah satu pesan dari Nando, anak buah yang tadi ia suruh untuk mencari alamat Olive.


Setelah membuka dan membaca pesan tersebut, senyum terbit di bibir Devano.


"Semoga kamu juga tinggal di alamat ini Cia," gumamnya dengan menggenggam erat ponselnya tadi.


Setelah termenung cukup lama di balkon tersebut, kini Devano melangkah kakinya masuk kembali kedalam kamarnya dan bersiap untuk tidur.


"Selamat tidur Cia dan maafkan aku," ucap Devano sebelum ia menutup matanya untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.


...*****...


Jarum jam baru menunjukkan pukul setengah dua pagi, Ciara mengerjabkan matanya saat merasa tidurnya terganggu dengan suara sang anak di sampingnya.


Ciara pun membalikkan tubuhnya untuk menghadap kearah Al yang tengah mengigau.


"Papa, Papa, Papa jangan pergi, Al rindu sama Papa. Jangan tinggalin Al lagi Papa. Al janji gak akan nakal lagi. Maafin Al, Papa jangan pergi lagi ke surga. Papa harus disini sama Al dan Mama. Papa gak boleh pergi, gak boleh, gak boleh. Papaaaa!" gumam Al dengan nafas yang memburu bahkan sesekali terdengar tangis pilu dan peluh yang membanjir kening Al.


Ciara yang menyaksikan mimpi dari sang anak pun langsung mencium beberapa kali pipi dan kening Al supaya sang anak bangun dari tidurnya.


"Al, tenang sayang ada Mama di sisi Al," ucap Ciara lirih, ia pun sekarang tak bisa menahan lagi air matanya kala melihat Al yang sangat merindukan sang Papa hingga terbawa sampai tidurnya.


Al pun mengerjabkan matanya perlahan dan mata sayunya itu kini menatap sang Mama yang tengah memeluknya sangat erat.


"Mama," gumam Al.


Ciara yang mendengar suara kecil dari Al pun langsung mengusap air matanya. Ia tak mau Al tau ia tengah menangis.


Ia pun menundukkan kepalanya untuk membalas tatapan sang anak.


"Iya sayang," jawab Ciara.


"Mama, Al rindu sama Papa. Al pengen ikut Papa ke surga supaya Al bisa peluk dan cium Papa, Ma." Kini tangis Al kembali pecah didalam pelukan Ciara. Sedangkan Ciara, ia tak menimpali ucapan Al. Ia hanya bisa menangis menahan rasa sakit yang tiba-tiba ia rasakan di dadanya saat melihat anak semata wayangnya yang biasanya ceria dan kuat kini menangis pilu.


Al yang melihat Mamanya menangis pun langsung mengusap air mata Ciara.


"Don't cry Ma," ucap Al dengan suara parau.


"Maafin Al. Al janji gak akan tanya Papa lagi. Al gak rindu sama Papa kok, Al tadi hanya bohong sama Mama. Mama jangan nangis lagi ya, Al gak mau lihat Mama sedih dan nangis lagi," sambung Al dengan terbata.


Ciara menggelengkan kepalanya dan mencoba tersenyum kearah Al.


"It's oke Al. Mama gak Papa kok. Tapi Al harus janji sama Mama, Al gak boleh nakal dan selalu doain Papa ya sayang." Al dengan polos menganggukkan kepalanya.


"Sekarang Al tidur lagi ya, nak. Diluar masih gelap," sambung Ciara sembari mengusap rambut Al.


"Mama jangan tinggalin Al sendirian di sini ya. Al cuma punya Mama. Mama seorang tak ada yang lain," ucap Al lirih.


"Tentu sayang. Mama akan selalu disisi Al dimana pun Al berada," tutur Ciara sembari mengelus punggung Al.


Tak berselang lama terdengar dengkuran halus yang menandakan bahwa Al sudah kembali tertidur. Ia melonggarkan pelukannya dan menatap wajah damai Al.


"Maafin Mama, Al. Mama tak bermaksud untuk terus berbohong dengan Al. Tapi Mama tak ingin kamu merasakan apa yang Mama dulu rasakan nak saat Mama berucap jujur tentang Papamu. Maaf Al maaf," ucap Ciara lirih.


Ciara kini segera menyeka air matanya dan mengecup kening Al.


"Selamat tidur malaikatnya Mama. Mimpi yang indah ya sayang," gumamnya sebelum ia ikut tidur disamping Al.


...*****...


Devano kembali memperhatikan penampilannya di balik kaca di dalam ruang gantinya. Ia tersenyum puas dengan apa yang ia kenakan sekarang.


"Udah kaya mau lamaran aja," gumamnya dengan kekehan kecil.


"Huh, semoga aja perkiraan ku soal Ciara tinggal satu rumah dengan wanita waktu itu benar. Hah semangat semangat semangat menjemput masa depan," sambung Devano memberikan semangat ke dirinya sendiri.


Setalah itu ia kini beranjak dari depan cermin dan keluar dari kamarnya. Ia dengan perlahan menuruni satu persatu anak tangga. Dan karena ia merasa haus, ia membelokkan tubuhnya kearah dapur untuk mencari air minum disana.


Saat dirinya sudah sampai di dapur, terdapat Mommy Nina yang tengah menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya walaupun ada art di rumah tersebut, Mommy Nina memilih untuk memasak sendiri untuk keluarganya itu.


Mommy Nina memincingkan alisnya kala melihat Devano yang tak seperti biasanya sudah rapi dengan setelan jas kantornya.


"Mimpi apa Mom semalam. Pagi-pagi udah lihat kamu rapi gini," ucap Mommy Nina.


"Hehehehe sekali-kali Mom. Toh di kantor juga lagi numpuk kerjaan karena aku kemarin pulang lebih awal," alasan Devano.


Mommy Nina mengangguk percaya begitu saja dengan ucapan dari Devano tadi.


"Ya udah, kamu duduk dulu. Bentar lagi ini matang," tutur Mommy Nina.


"Gak Mom, Dev nanti sarapan dikantor aja," ucap Devano.


"Dev berangkat dulu ya Mom, assalamualaikum," pamitnya sembari mencium telapak tangan Mommy Nina.


Kemudian ia segera pergi dari hadapan Mommy Nina.


"Waalaikumsalam, hati-hati dijalan Dev!" teriak Mommy Nina namun tak ada jawaban dari Devano karena sang empu telah hilang dibalik pintu utama rumah tersebut.


Mommy Nina menghela nafas sesaat. Sebenarnya ia masih khawatir tentang masalah anaknya kemarin namun ia juga berpikir kalau semua masalah yang sedang dihadapi Devano tak semuanya harus diketahui dirinya toh dia juga sudah besar dan sudah seharusnya memecahkan masalahnya sendiri.


"Apa pun masalah yang sedang kamu hadapi sekarang semoga dimudahkan untuk mencari solusi dan segera ada titik terangnya, nak," gumamnya. Kemudian ia kembali ke aktivitas tadi.


...*****...


Setelah menempuh waktu sekitar 20 menit akhirnya Devano telah sampai di depan rumah Olive. Ia lalu turun dari mobilnya dan menghampiri gerbang rumah tersebut.


Ia menghela nafas saat rasa gusar, gugup dan takut memenuhi dirinya. Bukan takut kalau Olive akan memarahinya melainkan ia takut jika Ciara tak berada disitu atau lebih parahnya lagi ia bisa bertemu dengan wanitanya namun harus mengetahui kenyataan bahwa Ciara sudah memiliki pasangan hidup.


"Huh persetanan dengan dia sudah punya suami atau belum. Pikir nanti yang terpenting sekarang aku harus menemui Ciara apapun keadaannya," gumam Devano.


Kini dengan ragu ia memencet tombol yang berada diluar gerbang rumah tersebut.


Ting Tong


Tak lama setelah itu, muncul seorang pria tua yang Devano yakini itu adalah satpam dirumah tersebut yang tengah menghampiri dirinya.


"Maaf cari siapa ya?" tanyanya ramah saat sudah membuka gerbang rumah tersebut sedikit.


"Maaf Pak sebelumnya, saya mau tanya apakah benar disini ada perempuan yang bernama Ciara?" tanya Devano balik.


"Oh neng geulis Ciara. Ada-ada, biasanya pagi seperti ini mereka lagi sarapan. Masuk den," ucap satpam tersebut dengan membuka lebar gerbang tersebut.


Devano yang mendengar ucapan dari satpam tersebut pun merasa lega akhirnya sebentar lagi ia akan bertemu dengan wanitanya yang selama ini ia cari keberadaannya.


...*****...


yuk bisa yuk 400 like 🤭


Happy reading sayang-sayangku 🤗 See you next eps bye 👋