Young Mother

Young Mother
Parno


Setelah mengurungkan niatnya untuk memberi pelajaran kepada Tiara, kini sepasang suami istri itu sudah kembali ke kediaman mereka.


"Assalamualaikum," ucap keduanya saat memasuki rumah yang tampak sepi. Entah dimana para orang-orang dirumah itu.


"Kok sepi," ucap Ciara sembari melihat kesegala arah tapi tetap saja ia tak menemukan orang yang mereka cari siapa lagi kalau bukan ketiga perempuan, Al juga Kiya.


"Mbak juga gak ada," sambung Ciara.


"Tenang aja sayang. Mbak paling lagi istirahat kan sekarang udah jam 12 dan mungkin Olive, Kiara sama Dea dilantai atas nemenin anak-anak yang lagi tidur siang," tutur Devano menenangkan.


Ciara tak menanggapi ucapan dari Devano, ia langsung saja berlari kecil menuju lantai atas diikuti Devano dibelakangnya.


Setelah sampai di lantai atas, Ciara langsung menuju ke kamar Al tapi saat ia membuka pintu kamar itu, ia tak menemui orang-orang yang ia cari. Ia kembali berlari menuju ruang bermain, kamar Kiya dan kamar pribadinya tapi tetap saja hasilnya nihil.


"Mereka gak ada disini Dev," tutur Ciara dengan pikiran yang dipenuhi hal-hal negatif.


"Kamu tenang dulu sayang. Jangan khawatir dulu."


"Gak khawatir gimana kalau anak-anak gak ada dirumah sekarang dan kita juga gak tau mereka sekarang ada dimana?" geram Ciara bahkan matanya sudah mulai berkaca-kaca.


"Oke, kamu boleh khawatir tapi jangan berlebihan kayak gini. Mungkin mereka bertiga lagi ajak anak-anak main ke halaman belakang atau kemana gitu. Dan dari pada kita tadi mondar-mandir gak jelas kenapa gak coba kamu telepon salah satu dari mereka bertiga?" Ciara menghela nafas berat. Benar juga apa yang dikatakan oleh Devano, kenapa dirinya terlalu parno begini setelah mendengar cerita Devano tentang Al diculik jadi pikiran dia saat tak melihat anak-anaknya dirumah ia berpikir jika mereka tengah diculik. Lebay memang tapi namanya seorang ibu yang pastinya sangat tak menginginkan anaknya kenapa-napa dan cenderung akan bersikap khawatir yang berlebihan.


Ciara kini mulai menghubungi nomor Olive hingga suara operator saja yang ia dengar.


"Nomornya gak aktif," tutur Ciara dengan suara mulai bergetar.


"Coba telepon yang lain," ujar Devano sembari mengelus kepala Ciara.


Ciara menganggukkan kepalanya kemudian ia mencari nomor Kiara.


"Arkhhhh gak diangkat," geram Ciara saat adiknya itu tak kunjung mengangkat teleponnya.


"Coba lagi." Ciara kembali menekan ikon telepon dilayar ponselnya dan saat telepon tersambung, bertepatan dengan itu pula terdengar teriakan nyaring dari lantai bawah.


"Assalamualaikum." Ciara menjauhkan ponselnya dari telinganya kemudian ia berlari menuruni anak tangga menuju kearah sumber suara yang ia dengar tadi dan saat dirinya sudah menginjakkan kaki di tangga terakhir, mata yang tadinya berkaca-kaca pun kini mulai menitihkan air mata kemudian ia kembali berlari hingga tubuhnya menubruk tubuh mungil anak laki-lakinya.


"Hiks Al kemana aja sih? Mama cariin dari tadi tapi Al gak ada," tanya Ciara.


"Mama nangis?" tanya Al yang masih didalam dekapan Ciara. Lalu perlahan ia melepaskan pelukannya dari Mamanya itu.


"Mama kenapa nangis? Apa itu gara-gara Al yang nakal sama Mama?" tanyanya lagi sembari tangannya bergerak untuk menghapus air mata Ciara yang membasahi pipi sang empu.


Dengan cepat Ciara menggelengkan kepalanya.


"Al gak nakal. Al anak baik. Mama nangis karena khawatir sama Al," ucap Ciara. Al tersenyum kemudian mencium sekilas pipi Ciara lalu memeluknya kembali.


Sedangkan ketiga perempuan ditambah Kiya yang berada digendongan Olive pun kini mereka sudah duduk santai di sofa ruang tamu sembari menyaksikan drama antara ibu dan anak itu.


Disisi lain saat Devano sudah mengetahui Al dalam keadaan baik-baik saja. Ia kembali ke kamarnya untuk mengistirahatkan tubuh yang teramat lelah itu untuk sementara.


Ciara yang sudah puas memeluk tubuh Al pun kini pelukannya ia lepaskan kemudian ia menatap wajah Al lalu mencium setiap inci wajah tampan anak laki-lakinya itu.


"Lain kali kalau Al mau main sama aunty disaat Mama gak ada dirumah maupun Mama dirumah, Al harus izin dulu ya nak. Jangan bikin Mama khawatir seperti tadi," tutur Ciara diakhiri dengan ia mengerucutkan bibirnya. Al yang melihat bibir Mamanya maju berbeda senti pun terkekeh kecil kemudian ia mengangguk, tanda setuju akan permintaan dari Ciara tadi.


"Maafin Al ya Ma, karena Al tadi gak izin dulu sama Mama atau Papa. Awalnya Al tadi mau pinjam ponsel milik aunty Olive tapi kata aunty, Al gak perlu izin sama Mama atau Papa karena kata aunty, Mama dan Papa akan tau dimana Al berada walaupun Al gak izin sama kalian," ujar Al dengan polos.


Ciara melebarkan matanya kemudian ia mengalihkan pandangannya kearah Olive dan mantap tajam perempuan itu.


"Oh ya Papa dimana?" tanya Al sembari menatap kearah belakang Ciara.


Ciara kini mengalihkan tatapannya kembali kearah Al dengan tatapan yang berubah menjadi lembut.


"Gak tau. Mungkin ada dikamar, lagi istirahat. Coba Al cari sana." Al mengangguk kemudian dengan berlari kecil ia meninggalkan Ciara menuju lantai atas untuk mencari Devano.


Sedangkan Ciara kini melangkahkan kakinya menuju ruang tamu dengan tangan yang ia lipat di depan dada.


"Siapa yang ngajarin dan larang Al buat izin dulu tadi?" tanya Ciara saat dirinya sudah bergabung dengan para cewek-cewek diruang tersebut.


Semuanya terdiam tapi tak berselang lama tangan Dea dan Kiara bergerak untuk menunjuk Olive yang tengah mengalihkan pandangannya ke Kiya dengan seolah-olah dia tengah bercanda gurau dengan bayi itu. Padahal Kiya sekarang tengah tertidur pulas.


Ciara menghela nafas kemudian mendekati Olive lalu tanpa segan ia menyentil kening Olive dengan cukup keras.


"Kalau kamu colek-colek pipi Kiya yang ada dia nanti bangun dan berani-beraninya kamu ngajarin Al gak izin dulu sama orangtuanya kalau mau kemana-mana," tutur Ciara sembari mengambil tubuh Kiya perlahan dari gendongan Olive.


"Motivasi kamu apa hmmm ngajarin Al begitu?" tanya Ciara. Olive mencebikkan bibirnya.


"Cuma iseng doang elah Ci. Dan apa yang aku katakan kedia kan memang benar. Kamu maupun Dev bisa tau lokasi Al. Orang saat Al diculik aja Dev bisa langsung tau titik anaknya berada," alasan Olive.


"Dia tau karena Al nyalain alarm bahaya, bloon. Astaga dah lah capek ngurusin kalian. Mending kalian sekarang pergi. Pulang sana husss," usir Ciara.


"Kamu ngusir kita setelah setengah hari ini jagain kedua bocil kamu. Gila, gak ada sopan-sopannya nih emak-emak," tutur Olive.


"Bodo amat. Pulang sana. Aku mau istirahat," ucap Ciara.


"Kasih makan dulu lah. Laper nih. Tadi gak sempet makan gara-gara Kiya rewel tadi di mall," pinta Kiara sembari memasang wajah yang memelas.


Ciara yang tak tega melihat wajah dari ketiga orang yang sudah meluangkan waktu untuk menjaga anak-anaknya pun dengan berat hati ia mengizinkan mereka untuk makan di rumah tersebut.


"Makan sana tapi cuci piring sendiri," ucap Ciara kemudian ia melenggang pergi dari hadapan ketiga perempuan tadi yang sudah bersiap untuk berlari kearah dapur untuk segera menyantap makanan dirumah tersebut.