Young Mother

Young Mother
S2_Story MK Al, Kiya Part 51


Devano mengeluarkan senyum miringnya saat melihat wajah pucat dan penuh dengan keringat dari kepala sekolah tersebut yang tengah menyaksikan cuplikan video yang tengah berputar di laptop Devano.


Kepala sekolah yang tengah kebingungan, ia ingin berbuat apa pun dengan cepat ia meraih laptop tadi dan segera menghapus rekaman video yang tadi ia lihat.


"Tuan," teriak para bodyguard tadi saat melihat apa yang tengah kepala sekolah tersebut lakukan. Devano yang awalnya terkejut pun dengan cepat ia mencegah pergerakan para bodyguard tadi untuk tak mendekati kepala sekolah tersebut.


Sedangkan kepala sekolah yang sudah berhasil menghapus video itu pun kini ia tersenyum penuh kemenangan.


"Maaf, tuan, bukti anda sudah tidak ada lagi," ucapnya yang membuat Devano kini menyandarkan tubuhnya di senderan kursi yang ia duduki.


"Huft sepertinya saya terlalu meremehkan anda tuan. Tapi sebaiknya anda tidak terlalu senang terlebih dahulu karena selain di laptop itu, rekaman tadi sudah saya salin disini," ujar Devano sembari mengangkat ponsel ditangannya.


"Semua tindak kejahatan yang anda lakukan di sekolah ini dan tindakan kurang sopan yang telah anak anda lakukan, sudah aman didalam genggaman saya. Memang benar CCTV disini rusak dan entah siapa yang sengaja merusaknya tapi sayangnya perusak itu kurang jeli dalam melakukan aksinya. Bahkan sampai kamera tersembunyi yang saya sengaja pasang disini tidak sampai kelihatan dan ikut dirusak oleh dia. Ck Ck Ck jadi apa yang dia lakukan benar-benar kurang cermat," ujar Devano tanpa mengalihkan pandangannya kearah kepala sekolah tersebut.


Dan saat kepala sekolah itu, ingin menimpali bahkan ia sudah mengebrak meja di dihadapannya dan berdiri dari duduknya, para polisi yang di panggil oleh pihak Devano lebih dulu memasuki ruangan tersebut.


"Angkat tangan dan jangan bergerak!" perintah salah satu polisi sembari mengarahkan pistolnya kearah kepala sekolah tersebut.


Kepala sekolah yang tak bisa lagi meloloskan dirinya karena ia sudah di kepung oleh para polisi dan bodyguard Devano pun ia hanya pasrah saja. Dan pada akhirnya dia berhasil di bekuk oleh pihak kepolisian secara paksa karena dia sempat memberontak tadi.


"Terimakasih atas kerjasamanya tuan Devano. Saya dan tim akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat orang ini mendapat hukuman yang setimpal," ujar salah satu polisi tersebut yang hanya diangguki oleh Devano.


"Saya tunggu hasilnya, Pak. Terimakasih," ucap Devano.


"Siap tuan. Kalau begitu kita akan segera membawa dia ke kantor polisi dan langsung memprosesnya, permisi," tutur kepala kepolisian tersebut. Setelah itu semua pihak kepolisian tadi yang membawa kepala sekolah kini mulai pergi dari ruangan tersebut meninggalkan semua orang disana tak terkecuali dengan Henry yang sekarang tengah menangis meraung-raung melihat kepergian sang ayah.


"Om jahat! Kenapa Om melakukan semua ini!" teriak Henry tepat di depan Devano.


"Bukan saya yang jahat melainkan ayah kamu yang jahat. Kamu buruan pulang sana, dan laporkan semua yang kamu lihat tadi ke ibu kamu. Saya mau lihat bagaimana reaksi dia," tantang Devano tanpa ada rasa kasihan sedikitpun dengan Henry.


"Tidak, Mama tidak boleh tau hal ini. Kalau Mama sampai tau dia akan menghukum Henry atau lebih parahnya penyakit Mama akan kambuh setelah tau Papa dibawa polisi," ujar Henry.


"Ya itu urusan keluarga kamu lah. Siapa suruh cari gara-gara sama keluarga saya. Jadi terima sendiri akibatnya," ucap Devano sembari melipat kedua tangannya didepan dada.


"Om Henry mohon, lepaskan Papa Henry. Jangan penjarakan Papa, Om. Henry mohon, hiks," raung Henry.


"Mau kamu memohon sampai tahun depan pun saya tidak akan pernah membebaskan ayah kamu itu. Dan jika kamu sudah cukup umur, saya tadi juga tak akan segan-segan memenjarakan kamu tadi," ujar Devano.


"Please bebaskan Papa, Om," ucap Henry yang terus meminta agar Devano bisa memaafkan kesalahan Papanya dan tak jadi memenjarakan Papanya itu.


"Saya bilang tidak ya tidak," geram Devano.


"Ayolah Om."


"Baiklah kalau Om tidak mau membebaskan Papa saya, saya akan melakukan hal nekat," ancam Henry sembari melangkahkan kakinya mundur kebelakang.


Devano yang tak tau tentang apa yang akan dilakukan oleh Henry pun kini ia mengerutkan keningnya. Hingga matanya terbuka lebar saat Henry dengan gesit menarik tubuh Yura dan setelahnya, tangannya yang entah sejak kapan membawa pisau pun ia arahkan tepat dia leher Yura.


"Yura!" teriak Devano dan Bian berbarengan.


"Bagaimana Om, apakah Om bisa membebaskan Papa saya sekarang juga? Kalau Om masih kekeuh ingin memenjarakan Papa saya, jangan salahkan saya jika saya nanti melukai leher anak ini," ujar Henry.


Bian dan Devano yang tadi sempat terkejut pun kini mereka saling pandang satu sama lain. Disana hanya ada mereka berempat, semua bodyguard Devano telah pergi semua untuk menyelidiki lebih lanjut kasus kerusakan pada CCTV disekolah tersebut dan sebagian mengawal pihak kepolisian, takut-takut kepala sekolah tadi memberontak dan melakukan aksi diluar dugaan mereka.


"Psycho sejak dini," ujar Devano sembari menggelengkan kepalanya.


"Saya beri waktu 5 detik jika Om tak kunjung membebaskan Papa saya, saya akan bunuh anak ini," tutur Henry.


Yura yang menjadi tawanan dari Henry pun ia terdiam karena sang ayah menyuruhnya untuk tetap tenang dan tak menangis.


"Satu!" hitung anak itu.


"Oke-oke begini saja. Kamu lepaskan dulu Yura dan kita akan bicarakan semuanya baik-baik," ujar Devano sembari melangkahkan kakinya menuju kearah Henry dan Yura.


"Jangan mendekat! Kalau kalian mendekat, berarti kalian mempersingkat hidup anak ini. Dan satu lagi, saya tidak akan pernah melepaskan anak ini sebelum Om, benar-benar menghubungi pihak polisi dan membawa Papa saya kembali ke sini," kekeuh Henry yang langsung membuat Devano menghentikan langkahnya, tapi setalahnya ia memberikan kode untuk Bian agar saat Devano mengecoh Henry, Bian langsung bergerak mengambil Yura dari sandraan anak laki-laki tersebut.


"Dua! Waktu terus berjalan Om. Bebaskan Papa saya atau nyawa anak ini melayang!" ulang Henry tanpa mengetahui pergerakan dari Bian yang sekarang mendekati dirinya.


"Sudah saya bilang. Kita bicarakan semuanya baik-baik dan kamu jangan gegabah begini. Karena kalau sampai kamu benar-benar melukai Yura, nyawa kamu juga akan terancam," ujar Devano.


"Saya tidak peduli. Yang saya pedulikan sekarang adalah Papa saya kembali kesini," tutur Henry dengan tegas.


"Oke baik, kalau begitu maumu, saya akan menuruti semua keinginan kamu itu. Saya akan menelepon pihak kepolisian untuk membawa ayah kamu kembali kesini tapi sebelumnya lepaskan Yura." Henry menggelengkan kepalanya tanda tak setuju untuk melepaskan Yura dari kunciannya.


"Saya sudah bilang kalau anda bergerak anak ini akan terluka," ujar Henry yang secara tiba-tiba menghadap kearah Bian.


"Ck, sial. Anak ini memiliki insting yang kuat ternyata," batin Devano maupun Bian.


"Karena kalian sudah melanggar ucapan saya tadi maka satu goresan akan di terima oleh anak ini sekarang juga," ujar Henry.


Dan untuk membuktikan bawa ucapnya tadi bukan hanya gertakan semata, Henry sekarang mendekatkan pisau yang ia bawa tadi lebih dekat lagi kearah leher Yura. Dan hal itu membuat Yura dengan seketika memejamkan mata.Tapi belum sempat pisau itu mengiris leher Yura, ada seseorang yang bergerak terlebih dahulu darinya.


Dorrr!!!


Ya, orang itu bergerak dengan cara menembak peluru kearah Henry tanpa memiliki rasa kasihan sedikitpun dengan anak laki-laki itu. Dan suara dari tembakan tadi benar-benar terdengar sangat nyaring memenuhi seluruh ruangan tersebut. Hingga hal itu membuat Devano maupun Bian terkejut akan apa yang barusan ia lihat itu.