
Zidan keluar dari kamar tadi dengan gerutuan yang tak jelas dan sesekali kakinya ia hentak-hentakkan ke lantai atau tangannya juga ia gerakkan untuk meninju-ninju udara layaknya udara itu adalah sepasang pasutri yang tadi ia lihat sedang enak-enak di dalam kamar.
"Uncle kenapa?" tanya Al saat Zidan sudah berada di depannya.
Zidan yang masih terbakar emosi pun mencoba menenangkan dirinya sendiri agar tak meluapkan emosinya di depan Al. Gini-gini ia masih punya perasaan walaupun Al adalah anak sepasang pasutri tadi. Tapi Al tak punya salah, karena ia tak tau apa yang tengah di lakukan orangtuanya.
Zidan menghela nafas berkali-kali sebelum menjawab ucapan Al tadi.
"Huft, orangtua kamu nakal sama uncle Al," tutur Zidan yang sudah mulai tenang.
"Mama, Papa nakal?" Zidan menganggukkan kepalanya.
"Nakal karena apa?" tanya Al penasaran.
"Karena udah buat Uncle kesakitan," jawab Zidan sembari membawa tubuh Al kedalam gendongannya.
"Uncle sakit?" Lagi-lagi Zidan menganggukkan kepalanya.
"Lain kali kalau Al di suruh pergi dari kamar Mama, Papa dengan alasan mau buat jalan baby supaya babynya cepat keluar, Al jangan mau keluar." Al mengernyitkan keningnya.
"Kok gitu? Kenapa?'
"Al tau gak?" bukannya menjawab, Zidan malah. bertanya balik.
"Al gak tau Uncle. Emang Al harus tau apa?"
"Nih ya Uncle kasih tau. Mama sama Papa nyuruh Al keluar kamar dengan alasan mau buat jalan baby. Itu semua bohong, baby itu akan keluar kalau sudah waktunya dan biasanya baby itu lahir saat usia kandungan Mama kamu berumur 9 bulan 10 hari. Nah kalau perut Mama kamu belum memasuki usia segitu ya baby-nya gak akan keluar. Jadi apa yang mereka katakan itu bohong. Mereka hanya gak mau Al ganggu waktu mereka buat berduaan," tutur Zidan mencuci otak Al agar anak itu suatu saat nanti akan menggagalkan aksi bercocok tanam kedua orangtuanya. Hitung-hitung buat balas dendam, pikir Zidan.
"Berarti Mama sama Papa bohongi Al?" Tanya Al dengan wajah polosnya, walaupun dirinya tak terlalu paham dengan ucapan Zidan tadi.
"Iya. Lain kali kalau mereka ngomong gitu dan nyuruh Al buat keluar kamar mereka. Atau kalau gak saat malam terus Al mau ke kamar Mama Papa, terus kamarnya di kunci. Al gedor-gedor aja pintunya ya. Karena pada saat itu Mama sama Papa pasti lagi berduaan dan gak mau di ganggu Al," jawab Zidan dengan diakhiri senyum tipisnya. Karena saat ia melihat wajah Al, ia yakin anak itu otaknya sudah terkontaminasi oleh ucapannya tadi.
"Berarti mereka sekarang lagi berduaan gitu?" Zidan menganggukkan kepalanya.
"Kalau gitu biar Al ganggu mereka." Al berusaha untuk turun dari gendongan Zidan.
"Kalau sekarang jangan dulu deh Al. Biarin dulu mereka berduaan untuk malam ini dan sebagai pembalasannya nanti pagi saja saat Al ketemu sama Mama, Papa. Al harus ngambek biar mereka gak bohongin Al lagi. Oke boy," tutur Zidan dengan semangat.
"Oke. Nanti pagi Al harus ngambek sama Mama, Papa karena udah nakalin Uncel dan udah bohongin Al," ucap Al diakhiri dengan pipi yang ia gembungkan serta bibir yang ia majukan.
Zidan yang melihat hal itu pun tampak gemas sendiri hingga tangannya bergerak untuk mencubit pipi tersebut.
"Ngambeknya jangan sekarang. Nanti pagi aja saat ketemu Mama, Papa. Oh ya Al mau ketemu aunty cantik kan?" tanya Zidan yang membuat Al langsung mengubah ekspresi wajahnya. Dan dengan antusias Al menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu kita temuin aunty yuk di dalam." Zidan kini berjalan mendekati pintu kamar pengantin dan saat sudah di depan pintu tersebut, Zidan membukanya sedikit agar ia bisa mengintip istrinya didalam sudah berpakaian apa belum.
Saat matanya melihat kedalam, ternyata Rahel sudah tak ada di ranjang. Mungkin tengah di kamar mandi buat ganti baju, pikir Zidan.
Setelah dirasa aman, Zidan membuka lebih lebar lagi pintu tersebut agar bisa ia gunakan untuk masuk kedalam bersama Al yang masih setia berada di gendongannya. Saat sudah didalam ia menutup kembali pintu tersebut dan barulah ia menurunkan tubuh Al.
Al tampak melihat keseluruhan sudut kamar tersebut.
"Mungkin lagi di kamar mandi. Al sini aja, rebahan disamping Uncle." Al menuruti ucapan Zidan untuk mendekati tubuh Zidan dan setelah ia sampai, ia ikut merebahkan dirinya disamping Zidan.
"Al sudah ngantuk kan?" tanya Zidan pasalnya mata Al sudah tampak memerah dan sesekali anak itu menguap.
Al menganggukkan kepalanya karena ucapan dari Zidan tadi memang benar adanya.
Zidan pun tersenyum kemudian ia mengikis jarak antara dirinya juga Al lalu ia memeluk tubuh mungil tersebut dan tangannya juga mulai menepuk-nepuk paha Al.
Al yang merasa nyaman dan rasa kantuk yang sudah tak bisa ia tahan lagi pun kini mengubah posisi tidurnya menjadi menghadap ke dada bidang Zidan yang tak memakai baju itu dan tangan mungilnya sudah ia lingkarkan di tubuh Zidan.
Dan tak butuh waktu lama, mata lentik milik Al tertutup dan terdengar dengkuran halus yang menandakan bahwa Al telah tertidur.
"Jago juga ternyata aku buat nidurin anak. Duh jadi pengen cepat-cepat punya sendiri. Tapi ah sudah lah, malam ini gagal padahal udah di ujung kalau mau nerusin ya gak baik. Ada Al disini. Ya sudah tak apa, tahan bentar aja, besok malam juga masih ada kesempatan," gumam Zidan dengan lirih.
Saat Zidan masih sibuk melihat wajah damai Al, terdengar suara pintu kamar mandi tersebut terbuka. Zidan pun mengalihkan pandangannya kearah sumber suara yang matanya langsung menangkap tubuh Rahel yang sudah terbalut pakaian tidur yang berbeda dari tadi.
Dan dengan perlahan Rahel mulai mendekati ranjangnya tersebut.
"Kok ada Al disini?" tanya Rahel.
Zidan mengkode Rahel agar istrinya itu menurunkan suaranya. Rahel yang paham pun mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Jadi kenapa dia tidur disini?" tanyanya lagi dengan suara yang lebih kecil dari sebelumnya.
"Ck, dia diusir dari kamar orangtuanya," jawab Zidan sekenanya saja. Toh menurut dia apa yang ia katakan memang benar adanya.
"Kok bisa?"
"Ya bisa lah orang mereka berdua lagi indehoy," tutur Zidan diakhiri dengan mencebikkan bibirnya.
Rahel yang sepertinya paham dengan apa yang dikatakan oleh suaminya pun hanya bisa menahan tawanya. Ia yakin Zidan sekarang tengah mengumpat dan menyumpah serapani kedua sahabatnya itu.
"Ya sudah tak apa. Jangan emosi. Itung-itung Al sebagai simulasi kita saat punya anak nanti," tutur Rahel mencoba menenangkan diri suaminya kemudian ia ikut merebahkan tubuhnya disamping Al dan kini tubuh mungil itu tengah diapit oleh sepasang pengantin baru itu.
Zidan tampak menghela nafas pasrah, karena mau bagaimana lagi. Semuanya juga sudah terlanjur dan sepertinya sudah menjadi takdirnya agar menunda terlebih dahulu malam pertamanya. Dia juga kasihan dengan Al kalau ia tadi mementingkan ego-nya.
"Malam ini kita tidur ya. Tenaga aja kita masih punya malam-malam yang lainnya buat kita melakukan kewajiban kita nanti," tutur Rahel sembari ikut memeluk tubuh Zidan walaupun terhalang tubuh Al yang masih saja memeluk tubuh suaminya itu.
Zidan tersenyum dengan perkataan istrinya tadi. Sungguh dirinya bangga mempunyai istri yang sangat bisa membuat hatinya kembali tenang. Dan ia pun kini membalas pelukan tersebut dan setelah itu ia mencium pipi Rahel.
"Terimakasih." Rahel tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Ya udah tidur gih udah malam juga ini. Apa mau aku puk-puk sama seperti Al tadi?" tawar Zidan.
"Boleh." Tangan Zidan pun kini beralih ke bokong Rahel untuk menepuk-nepuk agar istrinya itu cepat tidur dan benar saja beberapa saat setelahnya Rahel sudah memasukinya alam mimpinya.
Zidan yang melihat wajah damai Rahel pun tersenyum kemudian ia mengecup kembali pipi istrinya sebelum beralih mengecup puncak kepala Al.
"Good night kesayangan," ucap Zidan sebelum dirinya ikut terlelap bersama kedua orang yang berada di ranjang yang sama dengannya.