
Al masih saja menceritakan semua kejadian tadi dibantu oleh Yura agar orangtua Yura tak memiliki pikiran negatif lagi kepada keluarganya.
Sedangkan orangtua Yura yang menyimak ucapan dari dua anak kecil itu pun hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya sebagai respon ucapan mereka.
"Jadi begitu ceritanya, Ma, Pa. Jangan nuduh orang yang udah bantu Yura lagi ya," ucap Yura untuk mengakhiri penjelasan mereka.
Orangtua Yura kini menghela nafas lega kemudian mereka menatap wajah Al yang masih saja datar tak memperlihatkan senyumannya. Mungkin Al masih marah kepada mereka karena sudah menuduh mereka tanpa bukti, pikir Bian dan juga Franda.
"Hmmmm, tente boleh tau nama kamu siapa?" tanya Franda untuk memecahkan suasana yang canggung itu.
"Al," jawab Al dengan singkat.
"Al, Tante dan Om minta maaf karena tadi sudah menuduh keluarga Al yang tidak-tidak dan sudah membuat keributan disini," ujar Franda yang hanya diangguki oleh Al saja lalu setelahnya Al berdiri dari duduknya.
"Jika Om dan Tante sudah jelas dengan semua kesalahpahaman ini maka saya pamit undur diri. Permisi," ucap Al dengan membungkukkan badannya lalu tak lupa ia mencium tangan kedua orangtua Yura secara bergantian kemudian ia segera beranjak menuju kearah kedua orangtuanya yang masih saja saling berpelukan lebih tepatnya Devano yang memeluk tubuh Ciara.
Al yang melihat hal itu pun memutar bola matanya malas. Bisa-bisanya orangtuanya itu bermesraan saat banyak pasangan mata yang menatap mereka berdua.
"Ehemmm," dehem Al saat dirinya sudah sampai didepan Ciara dan Devano yang sepertinya orangtuanya itu tak menyadari kehadirannya.
"Ehemmm," ulang Al dengan suara yang ia perkeras lagi. Dan hal itu berhasil membuat kedua orangtuanya menolehkan kepalanya kearah Al.
"Udah selesai ceritanya?" tanya Devano tanpa melepaskan pelukannya.
"Udah," jawab Al dengan menatap Devano penuh aura permusuhan.
Devano yang merasakan aura tersebut pun kini ia mengerutkan keningnya.
"Kenapa lihatin Papa kayak gitu?" tanya Devano.
"Papa mau tau alasannya?" bukannya langsung menjawab Al justru bertanya balik kepada sang Papa.
Devano pun menganggukkan kepalanya.
"Karena Papa sama Mama pelukan di depan banyak orang," ujar Al.
Ciara kini membelalakkan matanya lalu dengan reflek ia menyikut perut Devano yang membuat sang empu merintih kesakitan.
"Aws, sakit sayang," ucap Devano sembari memegangi perutnya dengan badan yang membungkuk.
"Eh ah maaf, maaf sayang aku gak sengaja. Beneran deh. Maaf ya, tadi aku refleks," ujar Ciara.
"Refleks sih refleks sayang tapi jangan bikin sakit juga. Ini benar-benar sakit banget lho sayang," tutur Devano yang membuat Al kembali memutar bola matanya.
"Drama mode on," batin Al.
"Apa masih sakit?" Devano menganggukkan kepalanya.
"Aku panggil dokter ya biar kamu diperiksa," tutur Ciara dan saat dirinya ingin beranjak untuk memanggil dokter dirumah sakit itu, lengan Ciara lebih dulu dicekal oleh Devano.
"Kenapa? makin sakit?" panik Ciara.
"Rasanya sih masih sakit tapi aku mohon jangan panggil dokter." Ciara mengerutkan keningnya. Sedangkan Al, ia hanya diam sembari melihat drama yang dibuat dari Devano itu.
"Justru itu kamu harus diperiksa. Aku takut kamu punya luka dalam gara-gara aku tadi," ujar Ciara yang langsung mendapat gelengan oleh Devano.
"Harus mau," kekeuh Ciara.
"Gak usah sayang. Kita duduk aja sekarang dan bantu aku buat mengelus perutku yang masih sakit ini. Mungkin itu bisa mengurangi rasa sakit ini," ujar Devano.
"Beneran?" tanya Ciara memastikan. Devano pun menganggukkan kepalanya. Dan beberapa detik setelahnya, Ciara langsung memapah tubuh Devano menuju ke salah satu kursi yang mereka duduki tadi tanpa menghiraukan Al yang masih melihat mereka berdua.
"Sepertinya Papa punya bakat akting. Ya walaupun masih amatiran, tapi lumayan lah kalau jadi aktor pendukung. Tapi bagian Papa yang numpang jalan doang. Kan lumayan kalau dapat uang bisa buat beliin Kiya eskrim nanti," ujar Al yang membuat beberapa bodyguard yang mendengar ucapan dari Al tadi sebisa mungkin menahan tawanya.
"Om, kalau Om mau ketawa, ketawa aja. Jangan ditahan, nanti sakit perut Om kalau kelamaan nahan tawa," tutur Al yang tau situasi disekitar dan beberapa saat setelahnya para bodyguard tadi terlihat tertawa cekikikan.
"Tapi btw ya Om. Tingkat humor Om-Om semua rendah banget. Sampai-sampai ucapan yang gak mengandung kelucuan sama sekali, bisa buat Om ketawa seperti ini. Tapi lanjutkan saja ketawanya, Al mau lihat kelanjutan drama yang dibuat Papa. Kasian kalau gak ada yang lihat," ujar Al kemudian ia melangkahkan kakinya menuju kearah orangtuanya dan meninggalkan gerombolan para bodyguard tadi yang sekarang tampak terdiam tanpa tertawa lagi.
Saat keluarga Devano masih terus melanjutkan drama itu, berbeda dengan Bian juga Franda yang kini hanya menatap kearah Al dengan perasaan bersalahnya.
"Kamu sih pakai urat dulu tadi sebelum kita dengar penjelasan dari Al juga Yura. Ya walaupun Yura tadi udah kasih tau jika mereka gak bersalah, kamu juga masih aja keras kepala. Huh," sebal Franda kepada suaminya itu.
Bian yang kena omelan sang istri pun menggaruk tengkuknya yang tak gatal ditambah dengan cengiran kudanya.
"Ya kan manusia harus selalu waspada sayang. Siapa tau kan tadi memang mereka pelakunya dan hanya bersilat lidah saja biar kita gak nyerang mereka," ujar Bian yang masih beralasan.
Franda kini mencebikkan bibirnya.
"Aku gak mau tau kita harus minta maaf ke mereka. Jangan sampai nama kita jadi gak baik di mata mereka," tutur Franda sembari beranjak dari duduknya lalu menyeret lengan sang suami agar segera berdiri.
"Buruan berdiri ih," geram Franda.
"Astaga sayang. Sabar bentar lah, ini juga mau berdiri," ucap Bian lalu sesaat setelahnya dirinya ikut berdiri dan mengikuti langkah sang istri karena lengannya masih saja di pegang kuat oleh Franda, takut Bian akan melarikan diri untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya tadi. Sedangkan Yura yang melihat hal itu hanya bisa menggelengkan kepalanya lalu ia segera mengikuti langkah orangtuanya tadi.
Dan saat mereka sudah sampai di depan Ciara dan Devano, cekalan tangan dari Franda tadi terlepas. Sedangkan Devano yang sedari tadi masih merintih kesakitan dengan perut yang di elus-elus oleh Ciara, kini laki-laki itu menegapkan tubuhnya sembari membenarkan jaket serta bajunya yang sempat tersingkap keatas saat Ciara dengan cepat menarik tangannya setelah melihat orangtua Yura sudah berada di depan mereka.
Untuk beberapa menit kedua belah pihak itu tak ada yang saling berbicara hanya menatap satu sama lain.
Hingga akhirnya Ciara juga Franda yang tersadar dari tatapan mereka dan dengan cepat mereka berdua menyenggol lengan suami masing-masing yang masih saling bertatap-tatapan. Ngeri juga kalau mereka berdua tidak cepat-cepat disadarkan, bisa-bisa mereka saling suka bahkan sampai jatuh cinta lagi, kan bisa bikin repot Ciara dan Franda nantinya.