
Pagi harinya seperti yang dikatakan oleh Yura satu hari sebelumnya bahwa tepat hari ini adalah hari dimana Al bertambah usia. Dan walaupun Al meminta dirinya untuk tak memberikan hadiah apapun, Yura tetap bersikukuh untuk memberikan kado kepada Al tanpa sepengetahuan Al tentunya. Dan kado itu akan ia berikan bukan disaat acara ulang tahun Al berlangsung, melainkan ia akan memberikannya di pagi itu juga.
Dan kini anak perempuan itu tengah berjalan menuju ke kelas Al dengan kado kecil di tangannya.
Saat dirinya sudah berada di depan pintu kelas Al, ia tersenyum sembari menatap kado tersebut. Lalu setelahnya ia menyembunyikan kado tersebut di belakang tubuhnya. Dan barulah dirinya melangkahkan kakinya masuk kedalam kelas yang tampak sepi itu dan hanya ada Al saja di sana.
Al yang sadar akan keberadaan Yura yang tengah mendekati dirinya pun ia kini menghentikan aktivitas belajarnya dan kini tatapan matanya tertuju kearah Yura hingga anak perempuan itu berdiri di depannya.
"Happy birthday Al," ucap Yura heboh. Al yang melihat senyum yang mengembang di bibir Yura pun ia kini turut tersenyum pula.
"Terimakasih," ujar Al sembari menggeser posisi duduknya agar Yura yang masih berdiri bisa ikut duduk disampingnya.
"Al," panggil Yura sembari mendudukkan tubuhnya disamping Al.
"Kenapa?" tanya Al.
"Yura punya sesuatu buat Al," ujar Yura yang membuat Al kini mengerutkan keningnya.
"Sesuatu apa?" tanya Al penasaran.
"Kalau Al mau tau, Al harus tutup mata dulu dong," ujar Yura.
"Kenapa harus pakai acara tutup mata segala sih? Kan mau Al tutup mata atau tidak, aku nanti juga akan tetap tau sesuatu yang kamu maksud itu," tutur Al yang mencoba bernegosiasi dengan Yura.
Yura yang keinginan tak langsung di lakukan oleh Al pun kini ia mengerucutkan bibirnya. Dan hal membuat Al menghela nafasnya.
"Baiklah aku sekarang tutup mata," ujar Al mengalah. Dan setelah perkataannya itu Yura terlihat kembali tersenyum.
"Jangan ngintip sebelum Yura nanti suruh buat buka mata," ucap Yura yang membuat Al tambah mengeratkan matanya yang terpejam itu.
"Iya-iya. Aku tidak akan mengintip," tutur Al.
Dan setelah memastikan Al benar-benar menutup matanya, Yura kini mengeluarkan kado kecilnya itu yang sedari tadi ia pegang dengan tangan kirinya. Dan tangan yang membawa kado kecil itu kini ia sodorkan kearah Al.
"Al boleh buka mata sekarang," perintah Yura yang lagi-lagi dituruti Al.
Saat mata Al terbuka ia bisa melihat kotak kecil seukuran telapak tangan Yura.
"Apa ini?" tanya Al sembari menunjuk kearah kotak tadi.
"Buka saja. Nanti Al juga tau sendiri," ujar Yura.
Tangan Al kini bergerak untuk mengambil kotak tadi dari tangan Yura dan dengan perlahan ia membuka kotak tersebut. Dan saat kotak itu terbuka, Al mengambil isi di dalam kotak tadi.
"Ini?"
"Itu kalung, Al. Ya walaupun kalung itu tidak mahal harganya tapi Yura harap Al menerima pemberian Yura dengan senang hati," ujar Yura.
"Kalung ini juga ada tulisan kita dibelakang liontin tau Al," ujar Yura yang membuat Al kini membalik liontin di kalung yang ia pegang tadi. Dan benar saja, dibelakang liontin itu terukir nama mereka berdua.
"Oh ya bukan cuma itu saja tapi liontin ini bisa kita buka dan bisa kita pasang foto kita berdua disana. Tapi maaf, Yura sudah lebih dulu memasang fotonya tanpa sepengetahuan Al sebelumnya," tutur Yura.
Al tersenyum saat dirinya melihat foto dirinya bersama dengan Yura yang tengah berpose konyol didalam liontin tersebut.
"Kenapa harus foto ini yang kamu taruh disini?" tanya Al tanpa melunturkan senyumannya tadi. Bahkan ia sekarang tengah terkekeh kecil.
"Karena fotonya lucu. Dan Yura berharap Al terus tersenyum karena foto itu. Kan nanti kalau Al lagi marahan sama Kiya atau ada sesuatu yang buat Al marah dan sedih, Al kan bisa langsung buka liontin itu dan lihat foto didalamnya, Yura jamin Al pasti akan tertawa kembali," ujar Yura.
"Jadi tujuan kamu memberikan kalung ini agar aku terus tertawa walaupun aku sedang tidak baik-baik saja?" Yura tampak menganggukkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Al yang menginginkan alasan lebih dari Yura.
"Karena Yura tidak suka melihat Al cemberut, marah-marah apalagi menangis. Yura benar-benar tidak suka melihat Al menangis. Karena saat Al menangis, Yura nanti juga ikut bersedih," ujar Yura.
Al yang sepertinya sudah puas mendengar alasan yang diberikan oleh Yura pun, tangannya kini bergerak untuk mengacak rambut Yura sebelum ia memasang kalung tersebut di lehernya.
"Mau Yura bantu?" tawar Yura.
"Boleh," ujar Al yang membuat Yura dengan senang hati membantu Al memasang kalung tadi.
"Sudah selesai," ucap Yura dengan menepuk pelan kedua bahu Al.
Al kini memutar tubuhnya sembari memainkan liontin tadi.
"Tapi kenapa kamu memberikan kado ini sekarang? Bukannya kamu nanti malam juga di undang dalam pesta ulangtahunku?" tanya Al.
"Yura diundang kok. Yura hanya mau melakukan sedikit hal yang berbeda dari orang-orang lainnya. Jadi Yura tadi berinisiatif untuk memberikan kado itu sekarang dan tidak menunggu nanti malam. Walaupun Yura tadi tidak yakin kalau Al mau menerimanya karena harga kalung itu benar-benar tidak mahal, ditambah Al kemarin sempat bilang kalau tidak mau hadiah apapun dari Yura. Tapi ternyata hadiah dari Yura sekarang menjadi hadiah pertama yang sudah Al lihat dan Al pakai," ucap Yura dengan ekspresi wajah senang yang tak bisa ia sembunyikan lagi.
"Ya memang aku tidak membutuhkan kado dari kamu karena cukup kamu saja sudah cukup dari semua kado yang nantinya akan aku terima. Tapi karena kalung ini adalah pemberian dari kamu dan kamu sendiri yang memilihnya, juga karena ada nama kita yang terukir di liontin ini, aku terima hadiah dari kamu ini. Terimakasih," ujar Al sembari mencubit gemas pipi Yura.
"Ish Al mah kebiasaan. Sakit tau Al pipi Yura," ucap Yura yang membuat Al kini melepaskan cubitan di pipi anak perempuan tersebut dan kini tangannya bergerak untuk mengelus pipi Yura.
"Aduh sakit ya? Maaf," ucap Al tanpa menghentikan usapan di pipi Yura.
"Yura akan memaafkan Al kalau Al berjanji tidak akan pernah melakukannya lagi," ujar Yura.
"Iya-iya Al janji, tidak akan---" ucap Al dengan sengaja menggantung perkataannya itu.
"Tidak akan apa? Lanjutkan dong," tutur Yura.
"Tidak akan berhenti mencubit pipi kamu sampai kapanpun," ucap Al dengan mencubit kembali pipi Yura, tapi sekarang bukan hanya satu melainkan dua pipi sekaligus yang ia cubit. Dan setelah ia melakukan hal tersebut, ia langsung berlari menjauhi Yura.
"Ish Al!" geram Yura dengan pipi yang ia gembungkan. Lalu ia kini bergerak untuk mengejar Al yang terus berlari menghindari dirinya. Dan disitulah aksi kejar-kejaran dari keduanya tercipta bahkan sesekali suara tawa memenuhi ruangan tersebut saat keduanya saling mengejek satu sama lain.