Young Mother

Young Mother
Rawrrrrr


Ciara kini telah kembali dengan membawakan satu cangkir kopi untuk Devano. Saat dirinya mendekati ruang tamu yang sudah mulai mengeluarkan aura mencekam, ia bergidik sesaat kemudian penglihatannya menatap kearah Devano yang terus beradu pandang dengan Dafit.


"Ehemmm," dehem Ciara agar keduanya melepas tatapan satu atau sama lain.


Tapi sayang dehemnya hanya mampu mengalihkan pandangan keduanya sesaat saja setelah itu mereka kembali bertatapan.


Al yang juga merasakan suasana yang sudah tak biasa itu pun kini mengangkat suaranya agar memecahkan suasana tersebut.


"Papa, Uncle. Main sama Al yuk. Al udah bosen nih," ucap Al.


Devano kini menundukkan kepalanya melihat Al yang berada di pangkuannya begitu juga dengan Dafit yang tengah mengarahkan pandangannya kearah Al.


"Al bosen?" tanya Dafit. Al pun mengangguk.


"Ya udah main sama Uncle yuk." Al tersenyum dan ketika ia ingin turun dari pangkuan Devano, Devano malah mengeratkan lengannya yang melingkar di tubuh Al.


"Papa," ucap Al sembari menatap wajah Devano.


"Iya sayang," jawab Devano dengan suara yang sangat lembut.


"Lepasin Al. Al mau main sama Uncle."


"Al main sama Papa aja. Ayok." Devano kini menggendong tubuh Al menuju ruang keluarga meninggalkan Dafit dan juga Ciara disana. Hingga saat dirinya sudah berada diruang keluarga, dirinya tersadar bahwa wanitanya tertinggal dengan laki-laki asing yang sepertinya bisa membahayakan posisinya sebagai pendamping Ciara.


"Ciara, sini sayang kita main bareng sama Al, anak kita!" teriak Devano sekencang-kencangnya agar Dafit juga mendengar ucapannya tadi.


Ciara yang berada diruangan yang sama dengan Dafit pun hanya bisa nyengir kuda kearah Dafit yang tengah menatap dirinya, seakan-akan ia perlu penjelasan lebih dalam lagi mengenai Devano.


"Apa ada yang aku lewatkan selama aku dan kamu beda negara?" tanya Dafit. Ciara menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Saat dirinya ingin menjawab pertanyaan dari Dafit tadi, teriakan Devano mendahuluinya.


"Sayang!" Ciara memejamkan matanya sesaat.


"Iya sebentar. Aku masih ada urusan," jawab Ciara dengan teriakan pula.


"Urusan apa?" tanya Devano kepo.


"Kepo sekali sih. Tunggu sebentar aja. Kamu tunggu dan ajak Al main dulu. Awasin anak itu," tutur Ciara yang tak tau jika ekspresi wajah Devano kini semakin tertekuk. Ia jadi menyesal mengajak Al main di ruang keluarga dan juga saat ia lupa membawa Ciara sekalian. Aihh menyebalkan sekali melihat wanita yang ia cintai tengah berbincang dengan laki-laki lain.


Setelah tak ada bantahan lagi dari Devano, Ciara menghela nafas untuk memulai ceritanya.


"Jadi hal apa yang aku lewatkan?" tanya Dafit tak sabaran.


"Huh, seperti yang kamu lihat dari kemiripan keduanya dan mungkin kamu tadi juga sempat mendengar Al memanggil Dev dengan sebutan Papa karena Dev memanglah Papa kandungnya. Dia adalah laki-laki yang pernah aku ceritakan ke kamu dulu," ucap Ciara.


Dafit menggertakkan giginya sembari mengepalkan tangannya. Ingin rasanya dia menghajar Devano saat ini juga, tapi ia masih waras dan ia juga tak mau Al melihat dia memukul Papanya yang nantinya malah akan berdampak besar padanya dan membuat Al menjaga jarak kepadanya.


Sedangkan Ciara yang melihat perubahan dari Dafit pun tiba-tiba panik sendiri. Ia tak mau melihat pertengkaran yang berakibat tinju meninju lagi.


"Tapi dia udah berubah kok Daf. Jadi kamu gak perlu khawatir kalau dia akan menyakiti Al atau aku untuk kedepannya," tutur Ciara.


"Dan kita akan melaksanakan pernikahan dua minggu lagi," sambung Ciara.


Dafit kini melongo, menatap tak percaya kearah Ciara.


"Apa aku salah dengar?" Ciara menggelengkan kepalanya.


"Apa---" baru saja Dafit ingin berbicara lagi dengan Ciara, suara tawa Al dan Devano menguasai rumah tersebut sembari berlari kejar-kejaran.


"Rawrrrrr monster datang rawrrrrr," seru Devano sembari mengejar Al yang semakin menambah kecepatan larinya.


"Mamaaaaa, tolongin Al," teriak Al sembari berlari dan setelah sampai di ruang tamu, ia langsung naik keatas sofa dimana Ciara berada kemudian ia bersembunyi dibalik tubuh Ciara.


"Rawrrrrr monster lapar rawr," ucap Devano dan perlahan ia mendekati Al yang masih bersembunyi di belakang Ciara.


"Hahahaha geli Papa hahaha," tawa Al sembari memberontak agar terlepas dari gelitikan sang Papa.


Ciara yang melihat hal itu tersenyum bahagia. Ia berharap kedepannya akan terus seperti ini.


Sedangkan Dafit, ia kini terdiam dengan mata yang melihat satu persatu antara Ciara, Al juga Devano secara bergantian. Dan saat ia melihat tawa dari Al juga Ciara sudut bibirnya ikut terangkat. Tapi setelahnya ia menundukkan kepalanya. Sepertinya tugasnya untuk menjaga dua orang yang telah mengisi sebagian cerita dari hidupnya itu telah usai dan sepertinya ini juga sudah saatnya ia mengikhlaskan mereka hidup dengan pilihan mereka. Walaupun sulit untuk melepaskan orang yang sangat ia cintai tapi ia juga tak akan egois memisahkan mereka yang tampaknya sudah berdamai dengan masa lalu, juga sudah tampak kompak untuk menjaga Al. Dan dia hanya bisa berdoa untuk kebahagiaan mereka untuk saat ini maupun kedepannya. Tapi ia juga akan berjanji pada dirinya sendiri, jika Ciara kembali disakiti oleh Devano, ia akan menjadi orang yang paling depan untuk melindungi Ciara kembali.


...****************...


"Apa Uncle tidak mau lebih lama lagi di sini?" tanya Al dengan tatapan mata kesedihan saat Dafit memberitahu dirinya bahwa sang Uncle akan pulang ke tanah kelahirannya yaitu Malaysia karena tiba-tiba saja ada sesuatu yang sangat penting sehingga mengharuskan dirinya hari ini juga terbang kembali kesana.


Dafit berjongkok tepat di depan Al kemudian ia mengelus kepala Al tak lupa dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Maafin Uncle sayang. Uncle hanya bisa nemenin Al main sebentar saja. Tapi Uncle janji akan kesini lagi setelah menyelesaikan urusan Uncle," tutur Dafit.


"Janji." Al mengulurkan jari kelingkingnya kearah Dafit. Dengan senang hati, Dafit membalas uluran jari tersebut dengan mengkaitkan jari kelingkingnya ke jari mungil Al.


Setelahnya Al langsung menubruk tubuh Dafit dan memeluknya cukup erat.


"Uncle harus tepatin apa yang Uncle tadi katakan karena Uncle udah janji sama Al. Janji harus ditepati," tutur Al.


"Pastinya boy." Untuk beberapa saat mereka saling berpelukan hingga akhirnya dering ponsel Dafit berbunyi dan mengharuskan dirinya melepaskan pelukannya tadi.


Ia merogoh ponselnya dan melihat sesaat siapa orang yang menghubunginya dan setelah tahu ia berdecak sesaat kemudian menolak panggilan tersebut.


"Uncle pulang dulu boy. Jangan nakal sama Mama oke," pamit Dafit. Al menganggukkan kepalanya. Kemudian ia mencium pipi Dafit.


"Uncel hati-hati ya," tutur Al. Dafit tersenyum lalu ia mengacak rambut Al sembari berdiri dari jongkoknya tadi.


"Ci, aku pulang dulu. Jaga diri kamu baik-baik. Jika butuh bantuanku jangan segan-segan telepon aku." Ciara tersenyum dan mengangguk.


"Kamu hati-hati. Dan semoga semua urusanmu segera terselesaikan," ucap Ciara.


Devano mengangguk dan kini ia mendekati Ciara untuk memeluk tubuh wanita tersebut. Tapi sayang saat sedikit lagi dirinya bisa memeluk Ciara, tubuhnya lebih dulu di dekap Devano.


"Hati-hati dijalan bro. Jangan lupa untuk datang ke pernikahan kita nanti," tutur Devano sembari menepuk-nepuk punggung Dafit.


Dafit tak menimpali ucapan dari Devano tadi, ia malah melepas paksa pelukan itu.


"Ci, kamu bisa bawa Al masuk dulu." Ciara mengerutkan keningnya.


"Ada hal yang aku mau bicarakan dengan dia," imbuh Dafit. Ciara berpikir sejenak, jika dia meninggalkan mereka berdua saja, apa tak akan terjadi hal yang tak inginkan? tapi jika dirinya tak memberikan waktu dan mengizinkan Dafit berbicara empat mata dengan Devano, jatuhnya dia nanti di bilang tak sopan lagi. Arkh sangat dilema sekali menjadi dirinya.


"Ci," panggil Dafit.


"Ah iya. Baiklah aku bawa Al masuk dulu. Kalian bicara saja," tutur Ciara.


"Al, ayo kita main di dalam," ajak Ciara sembari menggandeng tangan Al.


Saat dipastikan Al juga Ciara telah aman didalam, Dafit langsung melayangkan satu tinjuan kearah perut dan satu tinjuan lagi mendarat di pipi Devano.


"Itu belum seberapa atas apa yang kamu perbuat dengan Ciara dan Al dulu. Jika kamu memang serius ingin menjaga mereka untuk selamanya maka jangan ada niatan untuk mengulangi perlakuan bejatmu dulu. Jika sampai kamu melakukan itu dan menyakiti hati Ciara lagi, aku gak akan segan-segan untuk merebut Ciara darimu. Camkan itu," tutur Dafit.


Devano tak menimpali ucapan maupun membalas pukulan dari Dafit tadi. Ia nampaknya memaklumi hal tersebut yang memang pantas untuknya. Bahkan pukulan setiap orang yang mengerti dan tau jalan cerita Ciara dan dirinya dimasa lalu masih belum seimbang dengan kesulitan yang Ciara dulu alami.


Dafit kini tampak menghela nafas beberapakali untuk menetralkan emosinya, kemudian ia kembali berpamitan kepada dua orang yang berada didalam rumah tersebut.


"Cia, Al. Aku berangkat dulu. Assalamualaikum," teriak Dafit.


"Hati-hati, Waalaikumsalam," balas Ciara juga Al tanpa keluar dari rumah tersebut.


"Aku titip mereka," ujar Dafit kepada Devano sebelum beranjak dari depan rumah tersebut.