Young Mother

Young Mother
Dilema Dalam Dua Pilihan


Disisi lain, Devano tengah kalut dalam situasi yang membuatnya tegang dengan jantung yang terpacu sangat cepat. Bukan tanpa alasan Devano tengah gelisah sekarang, pasalnya saat dirinya tengah mengerjakan pekerjaannya, tiba-tiba saja ia menerima telepon dari art di mansionnya yang membuat dirinya langsung meninggalkan pekerjaan tersebut. Tak peduli kalau nanti ada jadwal meeting atau yang lainnya, yang ada di pikirannya sekarang adalah keselamatan Ciara.


Mobil yang di kendarai dengan kecepatan diatas rata-rata akhirnya terhenti saat sudah terparkir di lingkungan mansion. Dengan tergesa-gesa Devano berlari memasuki mansion tersebut.


"Ciara dimana?" tanya Devano dengan suara khawatir.


"Nyonya ada didalam kamar tuan," jawab art yang tadi ia tanyai.


Devano kembali berlari menuju lantai dua dimana disitu ada kamar utama rumah tersebut yang ditempati oleh Ciara dan Devano.


Saat sudah berada di depan kamar tersebut, Devano langsung membuka kasar pintu kamar itu dan matanya langsung bisa menangkap tubuh Ciara bersama dengan beberapa art yang setia menemaninya tengah berjalan kesana kemari dengan sesekali meringis menahan sakit.


"Kita kerumah sakit sekarang," ucap Devano setelah berhadapan langsung dengan Ciara. Para art yang tak ingin mengganggu pasangan suami istri itu pun akhirnya memilih untuk keluar dari kamar tersebut.


Ciara menengadahkan kepalanya menatap wajah suaminya yang terlihat sangat cemas.


Ciara tersenyum dan tangannya terulur untuk mengelus rahang tegas suaminya.


"Tenang lah sayang. Aku tadi udah ke rumah sakit dan katanya baru pembukaan dua," tutur Ciara menenangkan Devano.


Laki-laki yang berstatus sebagai suami Ciara pun mengerutkan keningnya tak paham dengan perkataan Ciara itu. Pasalnya yang ia tahu jika seorang wanita yang akan melahirkan tak akan melewati berbagai proses dan ketika bayi didalam perut itu mau keluar ya tinggal keluar saja, pikir Devano yang sangatlah bodoh itu.


Ciara yang paham akan ekspresi Devano pun terkekeh gemas.


"Jadi begini sayang. Kalau seorang wanita itu akan melahirkan maka wanita itu akan melewati berbagai proses pembukaan buat jalan baby yang akan keluar nanti. Dan selama proses itu maka setiap wanita begitu pun dengan aku akan merasakan sakit yang tiada tara maka dari itu kenapa seorang wanita dianggap spesial karena setiap dirinya akan melahirkan maka dia berani bertaruh nyawanya sendiri untuk menyelamatkan seorang buah hati. Tapi yakinlah setelah baby lahir semua rasa sakit itu akan hilang dan terganti dengan rasa bahagia yang teramat sangat dalam," jelas Ciara diakhiri dengan menggigit bibir bawahnya untuk mengalihkan rasa sakit yang masih samar-samar ia rasakan itu.


Devano yang sekarang paham akan ucapan dari Ciara pun langsung memeluk tubuh Ciara dengan sangat erat.


"Maaf," tutur Devano dengan suara yang bergetar.


"Maaf untuk apa?" tanya Ciara bingung.


"Untuk semuanya dan untuk kesakitan yang kamu rasakan saat ini. Jika saja aku tak menghamilimu, kamu pasti tidak akan merasakan sakit seperti ini," tutur Devano dengan air mata yang mulai menetes.


Ciara terkekeh geli. Bisa-bisanya suaminya itu berpikiran terlalu dangkal seperti ini. Tapi tangannya ia gerakkan untuk mengelus punggung Devano.


"Kamu ini. Sudah jangan berpikiran seperti itu. Kalau aku tidak kamu hamili terus bagaimana caranya kamu mempunyai keturunan hmm?" Devano melepaskan pelukannya.


"Gampang saja. Kita adopsi anak yang kurang beruntung di luar sana," ucap Devano dengan entengnya.


Ciara yang gemas dengan Devano pun langsung mencubit pipi Devano.


"Maaf." Lagi-lagi Devano hanya bisa mengucapakan kata maaf. Ia sangat tak bisa melihat istri tercintanya itu kesakitan.


Ciara meraih tubuh Devano dan kembali memeluknya. Beberapa saat hanya hening dan hanya terdengar desisan dari mulut Ciara ketika merasakan sakit itu kembali. Dan Devano hanya bisa mengelus punggung Ciara.


"Apa saat melahirkan Al dulu kamu juga seperti ini sayang?" tanya Devano penasaran tanpa melepas pelukannya. Karena ia yakin Ciara butuh kekuatan darinya.


"Hmmm kurang lebih rasanya memang seperti ini. Tapi Al anaknya sangat pengertian jadi sakitnya tak sampai parah," ucap Ciara.


"Al lahir tanggal 14 Februari kan?" tanya Devano untuk mengalihkan rasa sakit Ciara. Ciara menganggukkan kepalanya.


Devano tersenyum kemudian ia melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi Edrea.


"Kamu tau sayang pada saat tanggal itu aku juga merasakan hal yang sangat aneh. Semua badanku sangat sakit dan mungkin pada saat itu aku juga ikut merasakan kesakitan saat kamu melahirkan dulu. Jadi saat Al dilahirkan, ada dua orang yang menanggung kesakitan itu. Yaitu aku dan juga kamu," ucap Devano diakhiri dengan ia mencolek hidung mancung Ciara.


"Tapi sayangnya kenapa di kehamilanmu yang ini aku gak bisa ngerasain sesuatu. Hanya ada rasa khawatir yang terus melanda diriku. Padahal kalau bisa biar aku saja yang merasakan kesakitan ini seperti saat kelahiran Al dulu," tutur Devano sedih.


"Tak apa sayang. Mungkin saat Al dulu ikatan batin kamu sangat kuat dan mungkin itu menjadi bukti kalau Al benar-benar anak kamu. Dan sepertinya itu menjadi balasan Al yang dulu sempat tak kamu akui," tutur Ciara.


"Maaf atas kelakuanku dulu sayang. Dan maaf aku tak bisa berada disampingmu ketika kamu melahirkan Al," ucap Devano sedih.


"Sudah tak apa sayang. Oh ya ngomong-ngomong Al kok belum sampai dirumah ya. Padahal ini udah jam 2 siang," tutur Ciara.


"Mungkin jalanan lagi macet sayang." Ciara menganggukkan kepalanya. Baru saja bibir Devano terkatup, tiba-tiba ponselnya dan laptop di ruang kerjanya berbunyi secara bersamaan.


Devano yang mendengar bunyi khusus itu pun mendadak dirinya tak tenang dan khawatir. Hingga akhirnya ia merogoh ponselnya yang berada disaku dan melihat sinyal bahaya dari yang ia terima.


Saat dirinya membuka sebuah aplikasi, rahangnya mulai mengeras saat melihat ternyata sinyal itu berasal dari jam tangan yang diharuskan tetap melingkar ditangan Al.


Ciara yang menyadari akan perubahan wajah Devano pun langsung mengelus lembut lengan suaminya.


"Ada apa?" tanyanya penasaran.


Devano dengan buru-buru mengunci layar ponselnya agar Ciara tak melihat apa yang sedang ia khawatirkan.


"Tak ada apa-apa sayang. Hanya ada urusan genting," ucap Devano dengan menetralkan ekspresi wajah kembali.


"Ya sudah selesaikan urusanmu itu dulu," ujar Ciara.


Devano menghela nafas, ia bingung harus bagaimana sekarang. Kalau ia turun langsung untuk menghampiri Al maka ia akan meninggalkan Ciara dalam kondisi kesakitan. Ya kali ia akan meninggalkan Ciara melahirkan sendiri untuk yang kedua kalinya. Tapi jika ia hanya membiarkan bodyguardnya sendiri untuk bergerak, ia tetap tak akan tenang walaupun ia sangat percaya dengan mereka. Arkhhhh!!! Devano benar-benar sedang dilanda dilema saat ini.