Young Mother

Young Mother
Pelajaran yang Setimpal


Sedangkan Al yang terus di bentak dengan kata-kata kasar itu pun tubuhnya bergetar ketakutan.


"STOP!" suara rendah nan dingin itu mengkagetkan Vita yang tadi masih saja mengoceh. Ia pun kini berbalik arah menatap seseorang yang perlahan mendekati mereka.


Vita sekarang sangat kaget pasalnya ia tau benar siapa orang yang tengah mendekati dirinya itu.


Devano yang tadinya baru ke toilet untuk buang air kecil pun setelah selesai ia langsung berlari kecil kearah keributan yang terdengar telinganya dan saat dirinya tau bahwa anak tampannya lah yang sedang dibentak dan dicaci maki pun ia langsung menghentikan ocehan Vira tadi. Dan tujuannya sekarang adalah untuk menenangkan anaknya itu.


Setelah sampai di depan Vita, ia bawa Al kedalam gendongannya. Al yang melihat dan tau siapa gerangan yang membantu dirinya pun langsung memeluk leher Devano sangat erat. Bahkan Al sekarang tengah menangis tanpa suara.


Devano kini menatap tajam ke arah Vita.


"Maaf tuan, anak haram ini yang telah memukuli anak saya," ucap Vita takut namun masih saja berucap menyalahkan Al. Awalnya ia sempat tak percaya bahwa Devano tadi saat tiba langsung menggendong Al dengan sayang. Ada hubungan apa sebenarnya orang ternama seperti Devano dengan anak yang lahir tanpa seorang ayah, batinnya tadi. Namun setelah itu semua pikiran itu ia tepis.


Sedangkan Ciara, ia baru sampai di sekolah Al. Ia tadi terpaksa harus jalan kaki menuju kesana karena tiba-tiba di tengah jalan taksi yang ditumpangi dirinya mengalami ban bocor.


Setelah sampai di sekolah itu, Ciara langsung menuju ke arah kelas Al dengan tergesa-gesa takutnya sang anak sudah menunggu disana sendirian.


Namun saat sudah berada di jarak dekat, matanya terbuka lebar saat ia melihat anaknya berada di gendongan Devano dengan tubuh yang sesegukan.


"Ya ampun Al," gerutunya.


Ia kini semakin mendekati kelas Al dan setelah sampai ia mengelus rambut Al dengan lembut.


"Al!" panggilnya. Semua orang yang tadi terfokus dengan dua orang dewasa itu pun kini mengalihkan pandangan kearah Ciara tak terkecuali dengan Al dan Devano.


"Ma," ucap Al dengan lirih.


"Tenang sayang ada Mama disini," tutur Ciara yang masih mengelus rambut sang anak sembari mencium pipi Al.


Sedangkan Vita yang melihat hal itu pun merasakan muak dan kesal.


"Hey wanita murahan, anak haram mu itu tolong di ajari sopan santun supaya dia bisa menjaga sikapnya. Dia tadi melukai anakku sampai begini," ucap Vita dengan lantang.


Ciara yang tadi masih mencoba menenangkan Al pun kini ia langsung berjalan kesamping Devano.


Plakkk


Tamparan yang sangat keras ia berikan ke pipi Vita, ia sudah muak dengan kata-kata anak haram, murahan dan lain sebagainya.


"Tutup mulut kotor anda sebelum saya buat anda tak bisa berbicara lagi!" tutur Ciara dengan penuh emosi.


Devano yang melihat itu sempat terpaku, ia sadar sekarang Ciara telah berubah menjadi perempuan yang sangat kuat dan menakutkan.


Sesaat setelah itu, Devano tersadar dan ia kembali menatap tajam kearah Vita yang masih memegangi pipinya yang terasa kebas akibat tamparan Ciara tadi.


Namun sayang Vita tak menyadari tatapan tajam dari Devano, ia sekarang malah mendekati Ciara untuk membalas perbuatan Ciara tadi. Saat tangannya terangkat untuk mengembalikan tamparan Ciara, lengannya lebih dulu di cekal dan di genggaman sangat erat sebelum tangannya dihempaskan begitu keras oleh Devano.


"Siapa yang anda maksud dengan anak haram dan wanita murahan, Nyonya Geadon?" tanya Devano dingin.


Vita kini merasa takut akan tatapan Devano.


"Mereka," tunjuk Vita tanpa segan dan rasa takutnya tadi ia tangkis jauh-jauh.


"Maksud anda anak dan istri saya?" tanyanya lagi.


Vita kaget saat Devano berucap seperti itu. Pasalnya ia tau betul jika Ciara belum punya suami, tapi ini, hari ini dihadapannya secara langsung putra dari keturunan Rodriguez ditambah lagi pengusaha muda yang kaya raya mengakui bahwa dirinya suami Ciara sekaligus ayah Al.


Namun dirinya tak percaya hal itu.


"Hahaha, lelucon apa ini?" tutur Vita dengan tertawa keras.


Vita kini baru menyadari akan hal itu, ia sekarang mendadak panas dingin, tubuhnya lemas dengan keringat yang bercucuran. Ia sekarang tak bisa lagi membalas ucapan Devano dan hanya bisa menundukkan kepalanya.


"Nando!" panggil Devano. Nando yang sedari tadi pasang badan di belakang Devano pun langsung berdiri diantara bosnya dan juga Vita.


"Pastikan setelah ini keluarga Geadon sengsara," perintahnya mutlak tak bisa diganggu gugat.


Vita yang mendengar hal itu pun langsung menggelengkan kepalanya.


"Tidak, jangan tuan saya mohon ampun. Ampuni tindakan saya tadi," ucap Vita memohon dengan derai air mata buayanya itu.


Ciara kini berdiri di depan Devano.


"Siapapun tak akan pernah diampuni oleh suami saya sampai kapanpun. Jadi nikmati saja hidup baru anda yang akan segera dimulai. nyonya," ucap Ciara dengan penuh penekanan.


Sedangkan Devano yang mendengar bahwa dirinya tadi diakui sebagai suami oleh Ciara pun tersenyum senang. Kemudian ia mengganti posisi di samping Ciara dan memeluk pinggang Ciara.


"Sudah sayang. Kita pulang sekarang, biar Nando yang menyelesaikan urusan ini," ucap Devano dengan lembut setelah itu ia membawa Ciara keluar dari sekolah tersebut dengan tangan yang masih melingkar indah di pinggang Ciara dan tangannya yang satu untuk menahan tubuh Al yang masih ia gendong.


Sesampainya mereka berada di depan gerbang sekolah, Ciara language menangkis tangan Devano dari pinggangnya.


"Jangan cari kesempatan," ucap Ciara galak.


Devano terkekeh.


"Bukanya kamu suka hmm?" goda Devano.


Ciara tak menggubris godaan Devano tadi dan kini ia mengambil alih Al dari gendongan Devano.


"Al, sayang, hey jangan nangis lagi ya. Ada Mama disini, orang jahat itu udah gak akan ganggu Al lagi," ucap Ciara.


"Ma," panggil Al dengan suara parau.


"Iya sayang," jawab Ciara.


"Maafin Al yang udah ingkar janji sama Mama," tutur Al dengan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Ciara.


"Mama maafin, sayang. Sekarang coba cerita sama Mama, apa sebenarnya yang terjadi tadi," tanya Ciara lembut sembari mengelus punggung Al.


"Nanti saja ceritanya. Apa kamu gak lihat anak kita wajahnya pucat gini? mending kita cari makan dulu," tutur Devano sembari memegang pundak Ciara untuk ia giring ke arah mobilnya.


Ciara pun langsung memberontak supaya tangan Devano menjauh dari pundaknya.


"Aku bisa pergi sendiri," tolak Ciara.


Devano menghela nafas.


"Memangnya kamu bawa mobil hmm?"


Ciara menggelengkan kepalanya.


"Jadi kamu mau ajak anak kita jalan kaki panas-panas begini dengan keadaan Al yang masih seperti ini?"


Ciara terdiam begitu juga dengan Al yang sedari tadi mendengar ucapan dari Devano dan Ciara itu. Ia bingung kenapa Uncel ini sedari tadi menyebut diri Al sebagai anaknya? Bukakah Papa Al sudah disurga? Al sangat penasaran dengan hal itu. Ia akan tanyakan nanti karena sekarang ia begitu malas untuk membuka suaranya.


...*****...


Yuk 400 like yuk 💪


Stay safe, stay healthy and stay with me 🤭 SEE YOU NEXT EPS BYE 👋