
Proses operasi untuk mengambil peluru di lengan Henry, beberapa menit yang lalu telah selesai. Dan kini anak laki-laki itu juga sudah di pindahkan ke kamar inap biasa. Bahkan Devano telah memanggil pihak keluarga dari Henry.
Dan sembari menunggu kehadiran mereka, keluarga Devano dan keluarga Bian ditambah dengan dua bodyguard konyol itu memilih untuk tetap menemani Henry di kamar tersebut supaya saat anak itu telah tersadar dan membutuhkan sesuatu, dirinya tak perlu memanggil suster di rumah sakit tersebut yang pastinya akan membuatkan waktu lama.
Dan saat mereka tengah berbincang-bincang, tiba-tiba terdengar rintihan dari brankar Henry. Dan hal tersebut membuat semua orang yang ada di ruangan tersebut kini mengalihkan pandangan mereka ke sumber suara.
"Henry sudah sadar," ucap Yura. Semua orang kini mendekati Henry yang masih meringis merasakan sakit di bagian lengan, tapi ternyata bukan hanya lengannya saja yang terkena tembakan dari Al, melainkan di dada bagian kanannya juga ikut terkena tembakan Al.
"Ada yang sakit, nak? Aunty panggilkan dokter dulu ya. Kamu tahan sakitnya sebentar," ucap Ciara lalu setalahnya ia bergegas keluar kamar inap tersebut untuk memanggil dokter yang tadi menangani luka Henry.
Saat Ciara sedang sibuk mencari dokter, berbeda didalam kamar inap sekarang yang hanya ada kesunyian tanpa ada seorang pun yang berniat memulai membuka suaranya. Bahkan Henry yang sepertinya baru sadar jika di ruangan tersebut masih ada orang-orang yang tadi bertengkar dengannya itu pun kini tatapan matanya menatap tajam kearah Al, Yura dan kedua laki-laki dewasa yang berhasil menjebloskan Papanya ke polisi.
Sedangkan Franda yang merasa aneh dengan situasi diruangan tersebut pun kini ia berdehem sesaat untuk mulai mencairkan suasana.
"Ehemmm, kalian berempat ke sofa itu lagi aja deh. Urusan anak ini biar aku sama Ciara yang tangani," ujar Franda yang sepertinya tau tatapan dari Henry tadi.
Keempat orang yang dimaksud oleh Franda tadi dengan seketika dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun mereka langsung bergerak menuju ke sofa di kamar tersebut sesuai dengan perintah dari Franda tadi.
Franda menghela nafas sembari melihat pergerakan dari keempat orang tadi dan setalahnya tatapan matanya kini beralih menatap kearah Henry yang hanya terdiam tanpa merintih lagi seperti sebelumnya.
Franda kini berpindah posisi yang tadinya berdiri di ujung kaki Henry, kini ia berpindah tepat di samping anak laki-laki itu. Dan saat dirinya sudah berdiri disamping Henry, Franda memberanikan dirinya untuk mengusap kepala Henry dengan lembut.
"Kamu minum dulu ya. Aunty bantu," ucap Franda sembari melepaskan tangannya dari atas kepala Henry dan setalahnya ia mengambil gelas berisi air putih di atas nakas samping brankar tersebut, dan setalahnya dengan penuh ke hati-hatian ia mulai membantu Henry minum.
Dan saat Franda baru saja selesai membantu Henry minum, terdengar suara deheman seseorang yang berhasil mengalihkan perhatian dari Franda.
Franda mengernyitkan dahinya saat mengetahui sumber dari suara tersebut ternyata dari dua bodyguard Al.
"Kenapa?" tanya Franda.
"Begini nyonya, bukannya kita tidak memiliki sopan santun dan tidak menghormati nyonya disini. Tapi apakah kita berdua boleh jujur, nyonya?" tanya Toni.
"Jujur masalah apa? Dan memangnya kalian pernah bohong sama saya?" tanya Franda penasaran.
"Bukan, bukan jujur masalah pembohong, nyonya. Melainkan kita mau jujur kalau kita itu capek berdiri terus," jawab Doni.
"Lah siapa juga yang nyuruh kamu berdiri terus sih. Kalau capek ya duduk sana. Gitu aja kok pakai jujur-jujuran segala," ujar Franda tak habis pikir.
"Tapi kan kita berdua belum nyonya suruh duduk. Kalau kita duduk tadi tanpa seizin nyonya kan namanya kita tidak menghormati keluarga sahabat bos saya," tutur Toni yang diangguki setuju oleh Doni.
"Astaga. Ribet juga ya ngurusin kalian berdua. Untung aja kalian bukan salah satu bodyguard di rumah saya. Kalau saya punya bodyguard modelan kalian berdua belum apa-apa aja nih rambut udah putih semua kayaknya," ucap Franda yang merasa gemas sendiri dengan tingkah kedua bodyguard tersebut.
"Sekarang kalian duduk sana. Jangan berdiri disitu lagi," sambung Franda, menyuruh mereka berdua untuk segera duduk di sofa yang sudah ada keempat orang tadi. Dan baru saja dirinya mengatupkan bibirnya, dua bodyguard tersebut langsung berlari dan segera duduk di sofa tersebut.
"Bisa-bisanya Ciara sama Devano betah punya bodyguard modelan begitu, huh," gumam Franda diakhiri dengan helaan nafas.
Dan tak berselang lama kini pintu kamar tersebut kembali terbuka dan memperlihatkan Ciara yang membawa dokter masuk kedalam kamar tersebut.
"Silahkan, Dok," ucap Franda sembari memundurkan tubuhnya agar memberikan ruang kosong untuk dokter tersebut memeriksa kondisi Henry.
Saat dokter tersebut terus terfokus ke aktivasinya, saat itu juga keluarga dari Henry telah tiba di kamar tersebut.
"Henry!" teriak Mama Henry yang membuat semua orang kini mengalihkan pandangan mereka ke sumber suara tak terkecuali dengan dokter yang tengah memeriksa Henry tadi.
Henry yang melihat wajah Mamanya itu pun dengan seketika ia menarik jas kerja dokter tersebut dan menggenggamnya dengan sangat erat.
"Apa yang sudah kamu lakukan lagi Henry?" tanya Mama Henry saat dirinya sudah berada disamping kanan tubuh anaknya.
Henry yang mendapat pertanyaan itu pun ia hanya terdiam tanpa berniat menjawab pertanyaan dari sang Mama hingga hal itu membuat wanita tersebut kini mencengkeram lengan Henry dengan sangat erat.
"Aws, sakit Mama," ringis Henry.
"Sakit? Sakitan mana sama rasa sakit yang Mama rasakan dulu saat melahirkan kamu hmmm. Kamu itu ya jadi anak jangan bikin masalah terus Henry. Mama udah pusing mikirin Papa kamu yang gila itu. Dan kamu, tolonglah nak, jangan ikut-ikutan bikin Mama banyak pikiran. Jangan buat masalah lagi. Sudah cukup, nak. Mama capek, hiks," ucap Mama Henry dengan air mata yang kini mengalir di pipinya bahkan tubuhnya kini sudah luruh ke lantai.
"Mama mohon sayang. Ini terakhir kalinya kamu bikin masalah. Mama mohon," ujarnya sembari menggenggam telapak tangan Henry dengan lembut.
Henry yang melihat mata Mamanya yang menggambarkan seakan-akan wanita itu benar-benar lelah menghadapi setiap permasalahan yang menimpa hidupnya pun, kini tangan yang ia gunakan untuk menggenggam erat jas kerja dokter tersebut kini bergerak untuk membalas genggaman tangan Mamanya.
"Ma," panggil Henry dengan mata berkaca-kaca.
Mama Henry yang tadinya menundukkan kepalanya kini kepala itu mulai ia tegakkan lagi.
"Maafin Henry," ucap Henry dengan air mata yang sudah keluar.
"Maafin Henry yang sering mengabaikan ucapan Mama. Maafin Henry yang sering buat Mama pusing dengan mengurusi masalah yang selalu Henry buat. Maafin Henry Ma, hiks. Henry minta maaf," sambung Henry yang langsung membuat sang Mama berdiri kembali lalu setelahnya ia memeluk tubuh Henry dengan erat.
"Mama sudah memaafkan Henry. Tapi Mama mohon ya sayang. Ini yang terakhir kali Henry buat masalah. Entah itu dengan orang lain atau dengan pihak keluarga kita sendiri. Mulai sekarang Henry jadi anak baik ya sayang," ujar Mama Henry sembari melepaskan pelukannya. Dan setalahnya tangannya kini bergerak untuk memegang kedua pipi Henry.
"Kita perbaiki semuanya dari awal lagi ya nak. Kita sama-sama merubah diri kita menjadi lebih baik lagi. Henry mau kan merubah sikap Henry bersama Mama?" Tanpa ragu sedikitpun Henry langsung menganggukkan kepalanya.
"Henry mau dan Henry janji akan merubah sikap Henry lebih baik lagi dan tidak membuat masalah lagi," ujar Henry.
Mama Henry kini tersenyum kemudian ia langsung menciumi seluruh wajah Henry sebelum akhirnya ia memeluk tubuh anaknya kembali.