
Cukup lama Ciara dan Toni berdua membahas tentang rahasia Devano, hingga akhirnya Devano yang sudah tak tahan lagi melihat kebersamaan yang semakin lama terlihat seperti orang pacaran itu pun, tak pikir panjang ia akhirnya bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke arah Ciara berada.
Dan setelah ia sampai didekat mereka berdua, Devano berdehem untuk mengalihkan perhatian mereka berdua yang tengah asik tertawa.
"Ehemmm!" Tapi sayangnya deheman itu sama sekali tak di hiraukan oleh keduanya.
"Wahhhhh hebat sekali dia ya. Hahahaha," ucap Ciara.
"Hahahaha iya nyonya dan lebih parahnya lagi---" belum sempat Toni menyelesaikan ucapannya tadi, Devano sudah bergerak dan langsung menarik tubuh Ciara menjauh dari Toni.
"Lho lho lho kok nyonya di bawa kabur sih tuan. Saya belum selesai membocorkan rahasia tuan lho ini!" teriak Toni karena Devano dan Ciara sudah mulai menjauh darinya. Bahkan Devano kini terlihat menggendong Ciara menuju ke lantai atas.
"Diam! Jika kamu tidak mau saya pecat!" geram Devano sembari menolehkan kepalanya kearah Toni dengan tatapan tajamnya.
Toni yang melihat garangnya Devano pun, nyalinya kini menciut seketika.
"Heleh gitu aja marah-marah. Cepet tua baru tau rasa tuh orang," ucap Toni lirih.
"Saya masih bisa dengar apa yang kamu katakan Toni," ujar Devano.
"Eh masak? tapi tuan sudah di atas dan saya bicara dengan lirih kok. Apa telinga tuan tertinggal disini?" tanya Toni.
"Toni!" geram Devano.
"Iya-iya gak lagi. Maaf," ujar Toni pada akhirnya.
Hingga setelah dirinya meminta maaf, tak ada lagi pembicaraan dari Toni dan Devano karena Devano juga sudah tak terlihat lagi dari pandangan Toni saat ini. Dan entah apa yang akan Devano lakukan kepada Ciara, dia hanya bisa kepo saja tanpa berani mengintip aktivitas mereka berdua. Dan pada akhirnya, Toni memilih mendekati Kiya yang sedari tadi tak memperdulikan keributan di sekitarnya itu.
"Oy oy," ucap Toni saat dia sudah duduk tepat di belakang Kiya sembari tangannya mencolek-colek lengan Kiya.
"Ck, ay oy ay oy, siapa sih? ganggu banget. Pergi sana, Kiya lagi gak mood buat ajak kalian main wahai para setan," ujar Kiya tanpa melihat kearah belakangnya.
Toni yang mendengar ucapan dari Kiya tadi pun, ia sempat memelototi Kiya dari belakang.
"Hey anak kecil. Berani-beraninya ya kamu panggil saya dengan sebutan setan. Kamu tuh yang seperti setan, tiap hari selalu bikin keributan, selalu saja bikin seisi rumah heboh terus. Lama-lama nih ya, semua orang yang ada di rumah ini akan menua sebelum waktunya. Dan itu semua gara-gara kamu," ujar Toni yang sudah bangkit kembali dari duduknya bahkan ia kini berkacak pinggang.
Kiya yang sedari tadi fokus melihat kura-kura barunya itu pun, kini ia menolehkan kepalanya kearah Toni berada.
Dan tanpa rasa takut sedikitpun kepada Toni yang sudah semaksimal mungkin memperlihatkan ke garangannya, Kiya justru bersuara, "Apa sih Om? Berisik amat jadi orang. Kiya lakban juga nih mulutnya."
Toni lagi-lagi di buat melotot dengan ucapan Kiya tadi.
"Kiya! Siapa yang ngajarin kamu ngomong seperti itu hmmm?" tanya Toni dengan geram.
"Om Doni," jawab Kiya dengan santai.
"Doni siapa?"
"Ck, memangnya Om Doni disini ada dua? Orang cuma ada satu juga kok yang wajahnya mirip sama Om," ujar Kiya.
"Jadi yang ngajarin kamu ngomong begitu Doni kembaran saya?" Kiya menganggukkan kepalanya dengan polos.
"Wahhhhh gak bisa di biarin ini. Dia sudah berani merusak generasi penerus bangsa," ucap Toni dan tanpa berpamitan kepada Kiya, ia kini beranjak dari tempat tersebut untuk mencari keberadaan Doni yang entah orang itu sekarang ada dimana.
...****************...
Pagi harinya. Doni yang semalam di cari keberadaannya oleh Toni pun, wajah laki-laki itu terlihat ada beberapa lebam di wajahnya. Dan sudah bisa di pastikan, kalau Toni pada malam itu juga telah memberikan pelajaran kepada saudara kembarnya tersebut.
Sedangkan Ciara yang sepertinya telah mendapat hukuman dari Devano pun ia juga sekarang hanya terdiam di kursi makan. Dan Entah hukuman apa yang telah Devano lakukan kepada Ciara setelah dia membawa istrinya itu kemarin ke lantai atas, karena saat ini nyonya di rumah tersebut tampak sayu dengan tatapan lelahnya dan seperti tak ada semangat untuk memulai aktivitas di hari itu juga.
"Buka mulutnya," ucap Devano saat sendok yang berisi makan sudah ia arahkan ke bibir Ciara.
Ciara yang lagi malas untuk berbuat apapun dengan patuh ia membuka mulutnya itu dan menerima suapan dari Devano.
Kedua anak mereka yang juga tengah berada di meja makan, mereka kini mengerutkan keningnya saat melihat Devano menyuapi Ciara di hadapan mereka.
"Mama sakit?" tanya Al tiba-tiba yang membuat kedua orangtuanya kini mengalihkan pandangannya kearah Al.
"Sedikit demam," jawab Devano.
"Kalau Mama lagi sakit kenapa harus turun kebawah. Makan saja di kamar dan biarkan mbak atau Papa yang ambilin sarapan buat Mama. Jangan di paksaan kesini kalau memang tidak kuat. Sekarang, Al bantu Mama ke atas ya. Dan nanti sebelum Al berangkat, Al akan nyuapin Mama," ucap Al.
"Tidak usah Al. Mama sudah agak mendingan kok. Jadi kamu tenang saja oke. Lanjutkan makan kamu dan kalau sudah selesai langsung berangkat, Yura juga sudah kesini tuh," tutur Ciara sembari menujuk kearah Yura yang baru masuk kedalam rumah tersebut.
"Selamat pagi aunty, uncle," sapa Yura dengan senyum manisnya.
"Selamat pagi juga Yura," sapa balik Ciara dan Devano.
"Selamat pagi Kiya," ucap Yura sembari menatap kearah Kiya yang tengah melebarkan senyumnya itu. Entahlah mood anak perempuan Devano dan Ciara itu benar-benar cepat sekali berubahnya, kamarin saja dia tak mau bicara sama sekali dengan Al ataupun Yura dan tadi pagi dia juga masih ngomel-ngomel tak jelas. Dan sekarang, justru anak itu malah menyambut kedatangan Yura dengan senyum lebarnya.
"Selamat pagi juga Kak Yura. Ngomong-ngomong, Kak Yura pagi ini cantik sekali dengan menggunakan jepit rambut seperti itu. Kiya juga mau dong punya jepit seperti itu," ucap Kiya yang ternyata ada udang di balik batu dari senyumannya tadi.
"Kiya mau?" tanya Yura yang diangguki oleh Kiya dengan antusias.
"Kalau Kiya mau nanti sehabis pulang sekolah Yura kasih yang baru buat Kiya," ujar Yura yang semakin membuat Kiya kegirangan.
"Terimakasih Kak Yura. Kiya tunggu ya jangan sampai lupa nanti. Oh ya Kak Yura duduk sini, kita sarapan bareng," ajak Kiya.
"Tidak, aku tadi sudah sarapan. Dan---"
"Ma, Pa. Al berangkat dulu," sela Al di saat Yura tadi berbicara.
"Baiklah, hati-hati dijalan ya. Jagain Yura," ucap Ciara saat Al menyalami tangan kedua orangtuanya. Al yang mendapat amanah itu pun, ia menganggukkan kepalanya.
Dan setalah Al selesai bersalaman, kini giliran Yura yang berpamitan kepada kedua orangtua tersebut.
"Yura berangkat dulu Aunty, Uncle. Assalamualaikum," ucap Yura setelah selesai bersalaman.
"Waalaikumsalam," ucap semua orang disana yang mendengar salam dari Yura tadi. Kecuali Kiya yang justru ia saat ini kembali cemberut saat dari kedua orang tadi tak ada satupun yang berpamitan kepadanya.
...****************...
Hay Hay Hay untuk part ini kita santai dulu sebelum memasuki yang rumit-rumit besok 🤠tetap stay with me ya. See you next eps bye 👋