Young Mother

Young Mother
Jeweran Mematikan


Kini orang-orang yang berkunjung di rumah Mommy Nina secara kompak beranjak untuk meninggalkan rumah tersebut setelah acara kecil-kecilan itu selesai.


"Aku pulang dulu ya Ci. Jaga baik-baik keponakan keduaku. Sehat-sehat terus kalian berdua," ucap Rahel sembari memeluk singkat tubuh Ciara sebelum pelukan itu terlepas dan berganti tangannya terulur untuk mengelus perut Ciara.


"Gak kamu bilangin juga aku bakal jaga dia Hel. Secara aku kan calon emaknya," tutur Ciara sembari terkekeh kecil tak luput matanya masih memandang tangan Rahel yang masih setia di perutnya.


Rahel mencebikkan bibirnya. Sahabatnya itu memang tak ada perubahan sama sekali, masih saja menyebalkan seperti dulu.


Kini tangan yang tadi bertengger di perut Ciara, ia tarik kembali.


"Oh ya, kamu pulang sama siapa? Udah pesan taksi?" tanya Ciara khawatir. Ia sudah tau soal kebangkrutan yang dialami keluarga Rahel hingga sahabatnya itu sekarang harus ekstra banting tulang untuk menghidupi keluarganya. Setelah sang empu bercerita panjang lebar mengenai hal-hal yang dilewati oleh Ciara selama meninggalkannya. Ada rasa menyesal di diri Ciara karena pada saat sahabatnya itu jatuh di dasar jurang ia tak ada disana untuk menolongnya.


"Dia pulang sama gue, Ci. Jadi tenang aja dia gue pastiin aman sampai tujuan," timpal Zidan menjawab pertanyaan dari Ciara tadi.


"Heh, enak aja mau antar calon pacar gue sampai rumahnya. Gak akan gue biarin lo deket-deket sama gebetan gue. Biar gue yang anterin dia. Lo pergi sana hus hus," ucap Rafa dengan kibasan tangannya guna mengkode Zidan untuk pergi dari hadapannya.


Zidan yang mendengar kata calon pacar dan gebetan keluar dari bibir Rafa pun ia langsung menatap tajam kearah sang empu.


"Apa Lo lihat-lihat begitu. Sebelum gue colok mata lo, mending lo buruan pulang sana. Jangan ganggu gue yang lagi mau PDKT," tutur Rafa dengan muka songongnya sebelum ia mengalihkan pandangannya kearah Rahel yang membuat raut wajahnya berubah menjadi tersenyum manis.


Zidan yang sudah muak dengan tingkah Rafa dalam mode buaya buntung itu pun segera menoyor kepala sang empu.


"Lo yang harusnya jauh-jauh dari calon bini gue. Cewek lo udah banyak, disetiap kota, desa, kecamatan, provinsi, bahkan disetiap negara ada. Masak calon bini teman sendiri juga mau lo jadiin ban serep. Kalau sampai hal itu terjadi, tubuh lo bakal gue cincang dan gue kasih ke hiu di laut," ancam Zidan.


Semua orang yang berada disana melongo tak percaya dengan ucapan Zidan tadi.


"Wanjir sejak kapan Rahel jadi calon bini lo? Jangan mengada-ada deh lo, Zi. Gue tau lo suka Rahel sejak kuliah tapi mbok ya kalau halu itu sewajarnya aja. Jangan berlebihan, malu anjing mana disini ada orangnya lagi," ucap Vino yang menatap malu kearah Rahel.


Zidan mendengus kesal kemudian dengan entengnya ia memukul kepala Vino cukup pelan tapi masih terasa menyakitkan.


"Astagfirullah, kekerasan dalam pertemanan," tutur Vino dramatis sembari mengusap kepalanya yang tadi dipukul oleh Zidan.


"Makannya jangan sok tau dulu. Mana ngatain gue halu lagi. Kalau lo gak percaya tanya aja tuh sama calon bini gue," ucap Zidan sembari menujuk Rahel dengan dagunya.


Rahel yang masih berada di depan Ciara pun tersenyum dan menundukkan kepalanya malu. Ciara yang menangkap gelagat mencurigakan itu langsung menepuk pundak Rahel pelan.


"Jadi yang dikatakan sama Zidan beneran Hel?" tanya Ciara penasaran. Rahel menoleh sesaat kemudian ia menganggukkan kepalanya.


Ciara lagi-lagi dibuat melongo dengan pengakuan Rahel tadi walaupun hanya lewat gerakan saja bukan lewat ucapan.


"Kok bisa?" tanyanya lagi masih tak percaya.


"Ya bisa. Mungkin udah takdir jodohku mentok di Zidan," jawab Rahel.


Rahel kini menangkup kedua pipi Ciara.


"Sebenarnya ini udah lama Ci. Tapi ada sedikit masalah yang buat kita pikir-pikir lagi. Udah lah nanti aja aku telepon kamu atau kalau gak pas hari weekend aku main kerumah kamu buat cerita masalah ini sekalian main sama anak tampan aku." Tangan Rahel kini mencolek dagu Al yang sedari tadi menatapnya dengan bingung.


"Heh. Enak aja. Ngaku-ngaku Al anak kamu. Kalau kamu mau buat aja sendiri sana secara udah ada pasangannya. Ngomong-ngomong Zidan jago lho kalau soal buat membuat, adon mengadon dan bercocok tanam." Devano yang sedari tadi bungkam pun ikut membuka suaranya sekarang.


Sedangkan Zidan, ia kini memelototkan matanya kearah Devano. Ia akuin dia dulu benar-benar nakal, tak jauh berbeda dengan Devano. Sama-sama saling suka gonta-ganti pasangan sampai akhir ia insyaf saat ia lulus kuliah dan berjauhan dengan Rahel. Walaupun ia masih sering ke club hanya untuk sekedar menghilangkan rasa pening di otaknya saat mendapat masalah dengan urusan kantor atau urusan pribadinya. Tapi mulai hari ini Zidan berjanji tak akan pernah menginjakkan kakinya di tempat yang selalu ramai dengan musik yang selalu berisik itu. Ia akan benar-benar menyusul Devano untuk bertaubat setelah menemukan pawang yang sudah dipastikan pawang itu termasuk dengan turunan singa betina.


Rahel kini mantap tajam kearah Zidan yang membuat sang empu kini mendekatinya dengan cengiran kuda di bibirnya.


"Itu dulu sayang. Kalau sekarang aku udah tobat kok. Dan perlu kamu tau sayang, aku dulu hanya ikut-ikutan saja, karena Devano yang mempengaruhi otak aku untuk berbuat begituan. Malah kadang Devano nyuruh aku buat cariin wanita murahan untuk dia tiduri. Bahkan ya dia melakukan itu satu kali sehari kalau aku kan paling cuma 1 Minggu sekali itu pun kalau mood aku gak bagus kalau moodku dalam mode bagus, ya aku gak bakal ngelakuin hal itu," jelas Zidan.


Ciara yang juga turut mendengar penjelasan tadi kini menatap kearah Devano yang kedua tangan suaminya itu digunakan untuk menutup telinga Al, agar telinga dan otak sang anak tak tercemar dengan perkataan Zidan walaupun ia yakin Al tak akan paham hal itu. Tapi setidaknya buat jaga-jaga saja.


"Dasar Zidan keparat," ucap Devano saat ia menyadari tatapan menghunus dari Ciara.


"Jangan salah paham sayang. Aku ngelakuin itu udah jauh sebelum aku kenal kamu. Tapi setelah kenal kamu bahkan setelah kita melakukan hal itu, aku udah gak berbuat hal bejat itu lagi. Percaya deh sama aku sayang," tutur Devano.


Ciara dan Rahel diam-diam keduanya saling melirik kemudian tanpa hitungan detik kedua wanita itu secara kompak menjewer telinga pasangan masing-masing.


"Baru juga baikan Zi. Masak mau buat hatiku kebakar lagi. Kurang ajar emang ya kamu. Pulang sekarang biar aku kasih kamu pelajaran di rumah." Rahel kini menyeret telinga Zidan yang membuat sang empu meringis kesakitan dengan mengikuti langkah Rahel. Kalau ia masih berdiam diri sudah dipastikan telinganya itu akan lepas dari tempatnya.


Sedangkan Devano dan Ciara, mereka berdua juga sudah masuk kembali kedalam rumah Mommy Nina tak lupa jeweran tadi masih bertengger indah di telinga Devano yang sudah mulai memerah.


"Kenapa Papa sama Uncle Zi kena jeweran telinga?" tanya Al polos.


Mommy Nina yang berada dibelakang Al pun mengelus rambut cucu tampannya itu.


"Karena Papa dan Uncle Zi nakal. Jadinya mereka berdua dapat hukuman. Al gak boleh nakal ya biar gak dapat hukuman seperti Papa sama Uncle. Al mengerti?" Al menengadahkan kepalanya dan mengangguk.


Dengan raut wajah sedih, Rafa menghampiri Mommy Nina dan tanpa berkata apapun ia mengambil tangan kanan Mommy Nina untuk ia cium sebagai tanda bahwa dia ingin pergi meninggalkan rumah tersebut. Setelah itu ia beranjak dari depan Mommy Nina sembari berkata.


"Ya Allah belum juga berjuang udah karam aja nih niatan hati untuk meminang," tutur Rafa dramatis sembari meninggalkan semua orang yang hanya menggelengkan kepalanya menatap kepergian Rafa.


"Dasar stress," ucap Olive.


Setelah itu ia menatap kearah Mommy Nina.


"Tante. Kita pulang dulu ya. Maaf karena udah ngerepotin Tante tadi," sambung Olive.


"Tante gak merasa di repotkan oleh kalian. Justru Tante senang dengan kehadiran kalian semua. Sering-sering kesini ya, Tante sering gabut kalau suami Tante lagi kerja." Kelima orang yang masih di hadapan Mommy Nina pun menganggukkan kepalanya sebelum mereka secara bergantian mencium telapak tangan Mommy Nina untuk berpamitan dan pergi menuju rumah mereka masing-masing.