Young Mother

Young Mother
Berhasil


"Selamat pagi sayang," sapa Ciara dengan senyum lebar dan mencoba menghampiri Al untuk memeluk tubuh putra pertamanya itu.


Tapi sayang saat Ciara sudah berada dihadapannya, Al mundur dua langkah kebelakang. Alhasil Ciara hanya bisa memeluk udara saja.


"Ngapain Mama sama Papa kesini?" tanya Al dengan sinis.


Ciara dan Devano yang mendengarkan nada bicara yang tak biasa dari Al pun saling pandang. Setelah itu Devano mulai masuk kedalam, menuju kearah Ciara yang masih berdiri di depan Al.


"Kok bilang gitu sih boy? Mama sama Papa kesini kan mau jemput kamu buat pulang," ucap Devano dan saat tangannya ingin mengusap kepala Al, lagi-lagi Al menghindar dari sentuhan kedua orangtuanya.


Devano dan Ciara kini sama-sama bingung dengan perubahan Al pagi ini. Entah kenapa anak mereka sangat berbeda dan biasanya saat pagi Al akan sangat manja kepada mereka tapi pagi ini, Al sama sekali tak ingin disentuh oleh mereka berdua.


Dalam pikiran mereka sekarang tengah bertanya-tanya, apa ada sesuatu yang mereka lewatkan dalam perubahan ini mulai dari kemarin dan tadi malam? Jika iya, apa alasannya Al berubah?


"Kalian pulang aja sana berdua. Al nanti bisa pulang sendiri," tutur Al dengan tangan yang sudah terlipat di depan dada.


"Emang Al tau jalan pulang? Walaupun tau, Al mau pulang pakai apa?" tanya Devano.


"Bukan urusan Papa. Al mau tau jalan pulang atau tidak. Mau pulang pakai apa, emang Mama sama Papa peduli sama Al? Al rasa tidak." Ciara dan Devano melongo mendengar ucapan dari Al tadi. Sejak kapan mereka tidak peduli dengan anak tampan mereka?


"Al ada apa sih nak? kok perkataan Al begitu? itu gak boleh lho sayang. Nanti Al bisa dosa kalau bilang begitu ke Mama sama Papa," tutur Ciara menasehati.


Al terdiam, tak menjawab atau sekedar menimpali ucapan Ciara tadi. Ia masih saja berdiri dengan gayanya tadi.


"Ayo sayang kita pulang sekarang ya." Ciara kini menarik tangan Al tapi Al langsung meloloskan tangannya tadi dari genggaman tangan Ciara.


"Al bisa pulang sendiri!" tegas Al kemudian ia berlari untuk kembali masuk kedalam kamar mandi. Karena tempat itulah satu-satunya ruangan yang bisa membuat dirinya bersembunyi.


Rahel yang mendengarkan perbincangan dari keluarga kecil sahabatnya juga menatap kepergian Al dengan melongo. Ia tak tau harus berbuat apa.


Sedangkan Zidan yang masih setia memeluk tubuh Rahel dan masih dalam posisi rebahannya kini hanya tersenyum senang karena rencana mencuci otak Al tadi malam berhasil.


"Rasain kalian. Emang enak di cuekin anak sendiri," batin Zidan.


Zidan sekarang semakin mengeratkan pelukannya, tak perduli jika didalam kamar itu masih ada sepasang pasutri yang tengah bingung dengan situasi saat ini.


Ciara menghela nafas kemudian ia menoleh kearah ranjang yang terdapat Rahel dan Zidan disana.


"Hel, kamu tau gak alasan kenapa Al hari ini kayak gitu?" tanya Ciara sembari mendudukkan dirinya di sofa kamar tersebut. Karena ia sudah tak tahan lagi jika harus berlama-lama berdiri, efek karena baby di perutnya sudah semakin membesar jadi gampang sekali lelah.


"Aku juga gak tau. Perasaan bangun tidur tadi dia baik-baik aja," jawab Rahel jujur.


"Terus anak kita kenapa dong?" tanya Rahel dengan menatap kearah suaminya yang tengah duduk disampingnya itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Anak kalian ngambek karena semalam di usir dari kamar sama kalian." Bukan Devano yang menjawab ucapan dari Ciara tadi melainkan Zidan.


Semua orang disana kini mengalihkan pandangannya kearah Zidan yang berpindah posisi dengan menjadikan paha Rahel sebagai bantalan kepalanya.


"Ya kalian tadi malam ngerasa gak kalau kalian ngusir Al dan mempengaruhi dia buat tidur sama kita?" Ciara mengerutkan keningnya, sepertinya dia tak pernah mempengaruhi atau menyuruh Al untuk tidur di kamar pengantin. Tapi tunggu....


Ciara kini menoleh kearah Devano, menatap tajam kearah suaminya itu dengan tatapan mata yang perlu penjelasan.


Devano hanya nyengir dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Dianya sendiri juga mau sayang. Aku gak maksa dia buat tidur disini kok beneran. Hanya tadi malam aku nawarin aja dan dia juga langsung setuju," jelas Devano.


"Ck, kamu tuh ya. Kenapa sih tadi malam bisa berpikir seperti itu? anaknya jadi ngambek kan sekarang mana gak mau di peluk sama aku lagi." Suara Ciara melemah dan diakhiri dengan menundukkan kepalanya. Ia tak bisa terus-terusan di diamkan seperti ini oleh anaknya sendiri. Mungkin kalau Devano yang mendiamkan, ia masih sanggup tapi kalau Al, big no, dia tak akan sanggup.


Devano yang melihat raut kesedihan yang terpatri di wajah sang istri pun langsung memeluk tubuh Ciara dengan sangat erat.


"Maaf sayang. Ini semua gara-gara aku," ucap Devano sembari sesekali mencium puncak kepala Ciara.


Ciara melepaskan pelukan itu secara paksa dan setelah pelukan itu benar-benar lepas ia langsung menghapus air matanya dengan kasar.


"Iya lah. Ini semua gara-gara kamu. Pokoknya aku gak mau tau, kamu harus bujuk Al biar dia mau maafin kita berdua," tutur Ciara mutlak tak terbantahkan.


Devano menghela nafas dan hanya bisa mengangguk untuk mencoba memenuhi apa yang di inginkan sang istri. Ia pun kini berdiri dari duduknya kemudian berjalan menuju kamar mandi di kamar tersebut tak lupa tangannya sekarang membawa paper bag yang isinya baju ganti untuk Al.


Setelah sampai di depan pintu kamar mandi, Devano mencoba untuk mengetuk pintu tersebut.


Tok tok tok!!!


"Al, buka pintunya nak!" teriak Devano agar Al bisa mendengarkan suaranya dari dalam.


Sedetik, 2 detik hingga 3 menit tak ada jawaban dari Al. Tapi Devano tak menyerah, ia kembali mengetuk pintu tersebut.


Tok tok tok!!


"Al buka dulu sayang. Papa mau kasih baju ganti buat Al. Kalau Al terus-terusan cuma pakai handuk aja, Al nanti bisa sakit sayang. Bukain pintunya ya," ucap Devano lagi.


5 detik, 10 detik hingga...


Ceklekk!!


Pintu kamar mandi tersebut akhirnya dibuka oleh Al. Devano yang melihat wajah Al tertekuk pun ia hanya bisa tersenyum. Siapa tau kan anaknya itu bisa luluh gara-gara senyumnya.


"Ayo, biar Papa bantu Al ganti baju," ucap Devano antusias. Al masih diam tak ingin menjawab ucapan dari Papanya itu. Hanya saja tangannya kini bergerak untuk merebut paper bag yang ada ditangan sang Papa dan setelah berhasil ia langsung menutup lagi pintu kamar mandi tersebut saat Devano ingin menghampirinya. Alhasil tubuh Devano tak berhasil masuk kedalam dan hidungnya kini terasa sakit saat pintu yang ditutup oleh Al mengenai wajahnya.


Zidan yang melihat hal itu pun kini ia tertawa diatas penderita sahabat laknatnya itu.


"Hahahaha makanya jangan main usir anak sendiri. Jadi orangnya sekarang ngambek kan. Pusing sendiri kan jadinya. Bingung mau rayu dia pakai apa. Lain kali jangan main usir gara-gara kalian mau indehoy. Anak tuh nomor satu, indehoy nomor sekian. Untung aja Al tadi malam gak masuk ke kamar orang lain kalau sampai entahlah aku gak tau apa yang akan Al alami kalau hal itu sampai terjadi. Napsu kalian harusnya bisa kalian tahan, atau kalau kalian mau begituan setidaknya pesan dua kamar. Satu buat tidur kalian nanti yang satu khusus buat indehoy. Bukan kayak tadi malam, main usir seenak jidat. Karena kalau aku jadi Al pasti juga akan marah sama kalian. Dan anggap saja, acara ngambek Al adalah hukuman buat kalian," tutur Zidan dengan sedikit menasehati kedua temannya itu.