
Kiya terus saja memandangi wajah baby Avas yang masih tenang dalam tidurnya. Bahkan yang awalnya ia sangat excited untuk membuka box yang dibawa oleh Rafa tadi, kini box itu sepertinya sudah tidak menarik lagi bagi Kiya.
"Uncle, baby Apas kapan bangunnya sih? lama banget. Kiya kan mau main sama dia," ucap Kiya tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah baby Avas.
Zidan yang tengah terduduk di samping tubuh sang anak sembari memainkan ponselnya pun kini mengalihkan pandangan kearah Kiya.
"Entahlah. Mungkin masih beberapa jam lagi," ujar Zidan.
"Ck, lama ih," gerutu Kiya dengan bibir yang sudah maju beberapa senti kedepan.
"Sabar aja Kiya. Namanya juga masih bayi yang waktunya emang di habiskan buat tidur sama makan doang," tutur Zidan dan setelahnya tak ada percakapan lagi diantara orang-orang disana. Hingga suara Kiya kembali terdengar.
"Uncel baby Apas sekarang lagi mimpi apa ya?" tanya Kiya yang dijawab gedikkan bahu oleh Zidan.
"Hmmmmm sepertinya dia lagi mimpi minum susu karena bibir dia gerak begitu," tutur Kiya sembari menunjuk kearah bibir baby Avas. Dan hal itu membuat Zidan mengikuti arah pandang Kiya.
"Atau malah dia lagi mimpi makan sesuatu. Tapikan baby Apas belum boleh makan," sambungnya dan setelah itu ia mengalihkan pandangannya kearah Zidan.
"Uncel, Uncle harus bangunin baby Apas sebelum dia makan lebih banyak lagi. Kasian kalau dia nanti sakit perut karena salah makan. Buruan Uncle, bangunin baby Apas," ucap Kiya heboh sembari menunjuk-nunjuk baby Avas.
Zidan memijit pangkal hidungnya sebelum akhirnya ia beranjak dari ranjang tadi dan menghampiri Kiya yang setia berdiri di samping tubuh baby Avas.
Lalu setelah ia berada didekat Kiya, dengan cepat ia menggendong tubuh anak perempuan itu ala karung beras dan membawanya menjauh dari ranjang tersebut.
Sedangkan Rafa yang sedari tadi juga masih di dalam kamar tersebut, ia justru tak berniat membantu Zidan sedikitpun. Dan dia sepertinya sangat menikmati keributan di kamar tersebut. Bahkan saking asiknya sampai cemilan Kiya, ia makan.
Zidan kini mendudukkan tubuhnya disamping Rafa dengan tubuh Kiya berada di pangkuannya.
"Uncel apaan sih main gendong-gendong Kiya kayak tadi," gerutu Kiya tak terima.
"Kalau Uncle gak gendong Kiya kayak tadi, Kiya gak bakal diam. Kiya tau, kalau suara Kiya tadi bisa membangunkan baby Avas dari tidurnya," ucap Zidan yang mencoba untuk bersabar.
"Ya bagus dong. Kalau baby Apas bangun, dia gak bakalan makan lagi dalam mimpinya," ujar Kiya yang membuat Zidan gemas sendiri.
"Kiya, baby Avas bukan lagi mimpi makan tapi anak bayi itu memang sering begitu bibirnya. Jadi gak perlu kita bangunkan baby Avas dan jangan bikin keributan yang bisa buat baby bangun. Kiya mengerti?" Kiya tampak terdiam lalu setelahnya ia menganggukkan kepalanya.
"Dan lebih baik Kiya sekarang nemuin Uncel sama Aunty yang lagi kumpul di ruang santai," ucao Zidan.
"Memangnya Uncel sama Aunty yang lain juga kesini?" tanya Kiya yang membuat Zidan mengerutkan keningnya.
"Memangnya kamu gak tau mereka semua kesini?" Kiya dengan polosnya menggelengkan kepalanya.
"Kok bisa? Bukannya kamu dari tadi dirumah?" tanya Zidan.
"Dia emang dari tadi dirumah tapi dia kekunci di kamar mandi." Bukan Kiya yang menjawab melainkan Rafa lah yang angkat suara.
"Mana aku tau. Tanya aja sama anaknya sendiri," ucap Rafa yang membuat Zidan kembali mengalihkan pandangan ke arahnya.
"Kenapa bisa kekunci hmm?" tanya Zidan yang dijawab dengan gedikkan bahu oleh Kiya.
"Apa kamu tadi gak bisa buka kunci sendiri?" tanya Zidan lagi.
"Kunci kamar mandi ada diluar tadi, bahkan di letakkan di meja sini," ujar Rafa yang mewakili Kiya untuk menjawab pertanyaan dari Zidan.
"Kan bisa dia ngunci manual dari dalam terus dia gak bisa buka sendiri," ucap Zidan.
"Kiya gak kunci pintunya dari dalam kok. Tapi emang ada yang sengaja kunci Kiya aja tadi," ujar Kiya yang membuat Zidan melebarkan matanya sempurna. Walaupun anak-anak Devano sangat menyebalkan baginya tapi jiwa bapak-bapaknya selalu meronta-ronta jika ada seseorang yang ingin berbuat jahat dengan kedua anak sahabatnya itu. Karena ia sendiri sudah mengganggap keduanya seperti anak kandungnya sendiri.
"Apa Kiya tau siapa orang yang udah berani kunci Kiya tadi?" tanya Zidan.
"Ya, Kiya tau," jawab Kiya dengan santai.
"Coba sebutkan ciri-ciri orang itu atau kalau Kiya kenal, langsung saja sebutkan namanya," ujar Zidan.
"Hmmm Kiya tidak tau namanya tapi yang kunci Kiya tadi tuh sama seperti yang pernah Kiya lihat di depan rumah mbak. Dan ciri-cirinya tuh dia berjenis kelamin perempuan," ucap Kiya.
"Yang berjenis kelamin perempuan disini tuh banyak Kiya. Kasih tau Uncle ciri-ciri yang lebih spesifik lagi. Seperti, dia pakai baju apa, rambutnya seberapa, warna kulitnya apa dan wajahnya bagaimana. Apakah hidungnya mancung atau pesek, bibirnya tipis apa tebal, bentuk alisnya bagaimana."
"Ck, Kiya pusing ih Uncel sama pertanyaan Uncle itu. Yang Kiya lihat pokoknya dia perempuan. Ah iya rambut dia panjang sama pakai baju putih. Udah itu aja, yang lainnya Kiya tidak tau. Udah ah Kiya mau ketemu Aunty sama Uncle yang lain. Kalau baby Apas nanti udah bangun panggil Kiya ya Uncle," ucap Kiya sembari turun dari pangkuan Zidan dan anak itu kini sudah berjalan menuju pintu kamar tersebut. Tanpa memperdulikan kedua laki-laki tadi yang kini hanya bisa menggelengkan kepala mereka masing-masing.
Dan baru saja pintu itu terbuka, Kiya tampak diam di tempat dan tak melanjutkan langkahnya lagi. Zidan dan Rafa yang sedari tadi mempertahankan Kiya, keduanya kini saling pandang satu sama lain lalu dengan kompak keduanya menggedikkan bahu mereka dan setalahnya tatapan mereka kembali ke Kiya yang masih setia berdiri tegak di depan pintu.
"Kiya, ada apa?" tanya Zidan yang merasa ada yang tidak beres dengan anak sahabatnya itu. Tapi sayangnya pertanyaan dari Zidan tadi tak mendapatkan jawaban dari sang empu hingga membuat kedua laki-laki dewasa itu kini tampak cemas lalu keduanya langsung beranjak dari duduk mereka dan berniat menghampiri Kiya. Tapi baru beberapa langkah saja, langkah keduanya terhenti saat Kiya dengan cepat menolehkan kepalanya kearah mereka. Bahkan keduanya sempat terkejut dengan aksi Kiya tadi.
Tapi beberapa detik setelahnya mereka dikejutkan lagi dengan suara heboh Kiya.
"Uncel buruan selamatkan baby Apas. Orang yang ngunci Kiya tadi sekarang mendekati baby Apas!" teriak Kiya yang membuat kedua orang tadi mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan orang yang Kiya maksud tadi.
"Dimana orangnya Kiya?" tanya Rafa.
"Dia disamping baby Apas, Uncel. Buruan bawa baby Apas pergi dari sini!" ucap Kiya yang semakin membuat kedua laki-laki itu kebingungan.
"Tapi disini cuma ada kita berempat Kiya gak ada orang lain yang masuk kesini," tutur Zidan.
"Ish, Uncel lama! Tadi orang itu baru masuk saat Kiya buka pintu kamar. Dan dia sekarang ada di samping baby Apas. Masak Uncel gak lihat sih. Dia disamping baby Apas lho," heboh Kiya.
"Gak ada siapa-siapa disamping baby Avas, Kiya," ucap Rafa.
"Ada lho. Ih Uncle mah. Buruan Uncle bawa baby Apas menjauh dari dia, sebelum baby Apas di apa-apain sama dia. Kiya mau menyelamatkan diri Kiya sendiri sekarang," tutur Kiya dan setelah mengucapkan hal tersebut, Kiya langsung berlari menjauhi kamarnya itu.