
Devano dan Ciara yang baru saja bergabung dengan mereka semua kini keduanya saling pandang saat melihat Kiya masih memeluk leher Rafa tetapi badannya berada di pangkuan Kevin.
"Ada apa nih pakai pelukan segala?" tanya Devano yang membuat Kiya melepaskan pelukannya tadi.
"Itu Papa, Uncle Rap lagi terluka gara-gara tadi dilempar Aunty Lip," ucap Kiya.
"Dilempar? Kamu di banting Olive, Raf? Ck, lemah," cibir Devano yang membuat Rafa mencebikkan bibirnya.
"Bukan di banting Papa. Tapi Aunty Lip tadi lempar Uncle Rap pakai kayak gini," ujar Kiya sembari menunjuk asbak yang berada dihadapan Kevin.
"Kok bisa?" tanya Ciara.
"Biasalah mereka tadi bertengkar kayak anak kecil dan berakhir Aunty Lip lempar ini dan alisnya Uncle Rap kena deh," ucap Kiya yang hanya mendapat respon gelengan kepala dari kedua orangtuanya. Pasalnya mereka juga tau jika keduanya tak pernah akur. Tapi mereka juga sempat syok akan luka yang berada di atas mata Rafa, tidak seperti biasanya jika mereka bertengkar akan melukai fisik seperti saat ini.
"Udah-udah jangan dibahas lagi. Bikin gak mood aja," ujar Rafa yang masih dalam mode merajuk.
"Ya udah iya. Kita gak akan bahas lagi," ucap Devano sembari duduk disamping sang istri.
"Lho Kiara kemana?" tanya Ciara sembari melihat ke seluruh ruangan tersebut.
"Dia lagi kembaliin kotak P3K," jawab Rafa yang mendapat anggukan dari Ciara.
"Terus Al, anak itu gak ikut gabung kesini?" tanya Ciara sembari mengedarkan pandangannya.
"Dia sih tadi sempat ketemu kita saat kita mau ke ruangan ini. Tapi cuma say hello aja habis itu masuk lagi ke kamar," ucap Dea.
"Haish anak itu," gerutu Ciara dan saat dirinya ingin beranjak dari tempatnya, bertepatan dengan itu pula Al masuk kedalam ruangan tersebut dengan pakaian rapi.
Ciara maupun Devano kini menatap anak laki-lakinya itu dari atas sampai bawah.
"Mau kemana?" tanya Devano.
"Al mau izin keluar sebentar," jawab Al.
"Keluarnya kemana nak? ini udah hampir malam lho," ujar Ciara.
"Ke toko buku Ma," tutur Al.
"Toko buku jam segini emang masih buka? Dan walaupun masih, kenapa harus sekarang? gak bisa besok gitu?" cerocos Ciara.
"Gak bisa Ma. Buku yang mau Al cari tuh limited edition. Kalau Al gak carinya sekarang, besok Al gak yakin Al bisa dapatkan buku itu," ujar Al yang membuat Ciara menghela nafas. Kemudian ia menolehkan kepalanya kearah sang suami.
"Udah lah, izinin aja. Toh dia keluarnya juga dikawal," ucap Devano lirih. Dan hal itu lagi-lagi membuat Ciara menghela nafas lalu setalahnya ia mengalihkan pandangannya kearah Al lagi.
"Oke, Mama kasih izin ke kamu. Tapi sebelum pukul 8 kamu udah harus sampai rumah," ujar Ciara yang diangguki setuju oleh Al.
Al kini melangkahkan kakinya untuk bersalaman dengan orang-orang disana.
"Al pergi dulu. Assalamualaikum," pamit Al.
"Waalaikumsalam," jawab semua orang disana dengan serempak.
"Hati-hati dijalan. Tetap waspada," teriak Devano yang hanya dibalas acungan jempol oleh sang empu karena Al sudah mulai melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan tersebut.
Dan hal itu membuat Devano berdecak. Sedangkan yang lainnya tampak melongo tak percaya.
"Iya. Padahal dulu saat masih kecil. Tuh bocah nempel mulu sama kita-kita tapi sekarang buhhh jangankan nempel, lihat kita aja kayak jijik gitu," timpal Rafa yang diangguki setuju dengan semua orang.
Sedangkan Kevin, ia kini menepuk pundak Devano yang kebetulan duduk di sebelah kirinya.
"Dinginnya ngalahin kamu dulu," ujar Kevin yang hanya dibalas anggukan oleh Devano.
Tak berselang lama saat Al keluar dan ruangan itu, terlihat Kiara kini melangkahkan kakinya memasuki ruangan tersebut.
"Al tadi mau kemana?" tanya Kiara saat dirinya sudah bergabung dengan semua orang tadi.
"Malam mingguan," jawab Rafa sekenanya.
"Dia udah malam mingguan lho Ki. Kita kapan?" sambungnya yang membuat Ciara memincingkan alisnya.
"Apa nih? Ada apa? Kok aku ketinggalan berita," ujar Devano.
"Ki?" Kiara yang mendapat tatapan penuh dengan intimidasi dari Ciara dan Devano pun dengan cepat ia menggelengkan kepalanya.
"Gak. Bukan apa-apa kok Kak. Beneran deh. Aku sama Kak Rafa tuh gak ada apa-apa," ucap Kiara.
"Ck, jangan gitu lah Ki. Aku tau, aku gak sempurna. Belum bisa bahagiain kamu dan masih banyak kekurangannya tapi mbok ya, diakui sebagai calon suami gitu lho," tutur Rafa.
"Kak Rafa, apaan sih. Sejak kapan coba kita punya hubungan. Deket aja kita enggak," ucap Kiara.
"Ya udah gini aja deh. Mulai sekarang kita mulai dari awal lagi dan bulan depan kita nikah gimana mau gak?" tutur Rafa sembari menaik-turunkan alisnya.
"Eh eh eh enak aja. Kalau kamu mau nikahin Kiara harus dapat izin dan restu dari aku dong selaku Kakaknya. Ah satu lagi kamu juga harus ketemu dulu sama Mama dan Papa," ujar Ciara.
"Hmmm kalau kamu mah sudah pasti setuju."
"PD banget," timpal Ciara yang hanya dibalas cengiran oleh Rafa.
"Tapi kalau orangtua kalian. Hmmmm aku gak yakin. Tapi dicoba dulu lah, siapa tau setelah lihat wajah tampan aku ini, beliau restuin hubunganku dan Kiara. Iya kan Ki?"
Kiara yang sudah jengah pun hanya mengabaikan pertanyaan dari Rafa itu. Toh semua itu tak penting baginya. Dan ia rasa Rafa hanya bercanda saja, dan tak ada niatan seperti itu dengannya. Jadi lebih baik dirinya sekarang diam dan melihat kelanjutan percakapan antara Rafa dan yang lainnya.
"Modal tampan doang gak bakal menjamin direstuin sama camer. Terbukti aku dulu, tampan iya, kaya iya, badan perfect pun iya. Tapi ujung-ujungnya juga kena hantam sampai hampir mati pula," tutur Devano.
"Mohon maaf ya bapak Devano yang terhormat. Konsep kita berbeda. Kalau kamu dulu nemuin orangtua Cia membawa luka kalau aku kan membawa cinta, ditambah sayang, ditambah martabak, ditambah roti bakar, ditambah seblak, ditambah buah-buahan dan lain sebagainya. Aku pun kalau jadi orangtua Cia, akan ngelakuin yang sama bahkan gak akan pernah aku kasih kesempatan hidup. Biarin aja mati sekalian. Toh kalau kamu dulu mati, masih ada aku yang siap sedia menafkahi Ciara lahir batin. Bahkan memberikan kasih sayang seorang ayah buat Al," ucap Rafa yang langsung mendapat pukulan dari Devano.
"Sepertinya geprek bibir Rafa enak kali ya," ujar Devano dengan tatapan tajamnya.
"Jangan dong. Bercanda kali Dev, gitu aja udah mau gigit orang," ucap Rafa.
"Lagian kamu juga kenapa bicara seperti itu sih. Gak baik tau. Dan bukannya kamu tadi mau nikahin Kiara. Gimana sih kamu?" ujar Ciara.
"Hehehe ya kalau dapat restu sih gas aja aku mah. Dan ini tuh definisi dari gak bisa dapatin Kakaknya, tapi dapat adiknya," ujar Rafa dengan tingkah kepedean yang tinggi.
"Kalau aku gak mau, gimana?" tanya Kiara.
"Kalau kamu gak mau. Aku mah tenang aja masih ada Kiya soalnya," ujar Rafa yang langsung mendapat pelototan tajam dari Ciara dan Devano.
Sedangkan Kiya yang tak paham dengan arah pembicaraan para orang dewasa itu pun hanya melihat mereka semua dengan cemilan di pangkuannya sembari menikmati dada bidang Kevin yang ia jadikan sandaran kepalanya.