Young Mother

Young Mother
Baby Sitter Baru


Satu minggu setelah konsultasi ke psikolog, selama itu pula banyak perkembangan yang ditunjukan oleh Al yang awalnya anak laki-laki itu tak ingin jauh dari orangtuanya bahkan tidak mau tidur di kamarnya sendiri seperti sebelumnya juga sering mimpi buruk, kini hal itu perlahan menghilang. Mimpi yang setiap hari menghampiri tidur Al kini hampir hilang walaupun masih sesekali terjadi dan anak itu kini sudah bisa tidur di kamarnya sendiri.


Buku diary dan buku gambar yang Devano dan Ciara belikan untuk Al, perlahan buku-buku itu sudah di penuhi dengan coretan Al. Mulai gambar hingga tulisan walaupun tulisan anak itu belum rapi seperti orang dewasa tapi setidaknya Al bisa mengungkapkan semua keluh kesahnya yang tak bisa ia ungkapkan langsung ke Ciara maupun Devano, kini semua keluh kesahnya telah tercurahkan lewat buku diary itu dan untungnya tulisan Al masih bisa di baca dan di pahami oleh kedua orangtuanya.


Dan rencana untuk weekend ini Devano dan Ciara memutuskan untuk membawa Al ke suatu tempat khusus untuk melatih orang-orang menembak yang sering Devano kunjungi tentunya. Tapi tak hanya keluarga Devano saja yang ketempat itu melainkan teman-teman Devano dan Ciara juga ikut kesana. Benar-benar dimana ada pasutri itu pasti ada gerombolan para orang-orang gabut yang ikut dengan mereka.


Dan kini para sahabat mereka berdua sudah berkumpul dirumah Devano.


"Ini tuan rumah lama banget sih. Keburu siang dan penuh disana nanti," gerutu Kiara yang sudah tak sabaran ingin berkunjung ke tempat itu untuk pertama kalinya. Karena sebelum-sebelumnya ia ingin kesana tapi selalu saja tak diizinkan oleh sang Papa.


"Sabar, baru juga turun ini," ujar Ciara.


"Lho Kiya juga ikut?" tanya Kiara.


"Enggak lah. Kasian dia kalau ikut nanti," tutur Devano sembari memperhatikan Kiya yang berada digendong Ciara.


"Terus dia mau sama siapa sedangkan kita semua ikut kalian?" Tanya Dea.


"Tuh." Ciara menunjuk seseorang yang baru masuk kedalam rumah tersebut. Semua orang disana mengikuti arah jari Ciara dan mereka bisa melihat siapa orang yang akan membantu Ciara untuk menjaga Kiya kali ini. Olive dan Dea yang notabenenya kenal akan orang itu pun membelalakkan matanya tak percaya.


"Lho Dafit," ucap Olive sembari mengerjabkan matanya.


"Hay. Lama tidak bertemu," sapa sembari Dafit menyodorkan tangannya kearah Olive karena perempuan itu yang paling dekat dengannya. Dengan tampang yang melongo tak percaya, Olive membalas uluran tangan Dafit tadi.


Setelah itu baru Dafit menyalami satu-persatu orang-orang disana sekalian berkenalan dengan mereka. Devano yang awalnya menganggap Dafit sebagai saingan cintanya kini sudah bersikap biasa saja dengan laki-laki dihadapannya itu.


"Hay Al. Gak mau peluk Uncle kah? Uncle kangen tau sama Al," ujar Dafit. Al tersenyum kemudian berhambur keperluan Dafit.


"Al juga kangen Uncle. Uncle kesini kok gak kasih kabar dulu sama Al? kalau Uncle kasih kabar pasti Al gak mau ikut Mama sama Papa pergi hari ini," tutur Al sembari melepaskan pelukannya dan wajahnya kini menengadah agar bisa melihat wajah Dafit karena jarak diantara keduanya yang sangat jauh.


Dafit tersenyum kemudian mengacak rambut Al.


"Uncle kan mau kasih kejutan ke Al. Dan untuk sekarang, Al harus ikut sama Mama dan Papa ya. Uncle janji setelah ini Uncle akan bawa Al jalan-jalan," bujuk Dafit.


"Uncle janji?" Dafit mengangguk sembari menyodorkan jari kelingkingnya yang langsung di sambar lilitan jari kelingking Al.


"Kok sendiri? katanya kemarin mau sama seseorang?" tanya Ciara sembari menatap kearah belakang Dafit.


"Dia masih di mobil nyiapin mental katanya. Sebentar lagi juga kesini," ujar Dafit.


Bertepatan dengan ucapan Dafit tadi terlihat seseorang berjalan memasuki rumah tersebut dengan tangan yang tampak meremas tali tas selempang yang ia gunakan.


Saat orang itu sudah bergabung dengan mereka, ia memberanikan diri untuk memberikan salam kepada mereka semua.


"Hay, senang bertemu dengan kalian," ucapnya dengan menampilkan senyum manisnya.


"Selamat datang di rumah kita. Kamu gak perlu sungkan sama kita semua. Anggap kita semua teman kamu," ujar Ciara yang diangguki oleh orang tersebut.


"Oh ya kenalin aku, Ciara dan ini suamiku, Devano. Kalau ini anak pertama kami, Al dan ini Kiya. Yang lainnya kamu bisa kenalan sama mereka sendiri," sambung Ciara. Orang itu pun mengangguk kemudian menyalami mereka semua satu-persatu.


"Senang bertemu dan berkenalan dengan kalian," ucapnya.


"Senang juga kenalan sama kamu, Giselle. Oh ya btw ada hubungan apa nih kalian berdua?" tanya Olive penasaran.


Giselle terdiam tapi matanya sempat melirik kearah Dafit sebelum dirinya menundukkan kepalanya.


"Dia calon istriku." Bukan Giselle yang menjawab melainkan Dafit.


"Uhhhh wow," sorak mereka semua serempak.


"Lagi-lagi ke duluan," dengus Rafa. Semua orang disana yang mendengar ucapan dari Rafa pun terkekeh kecuali Dafit dan Giselle.


"Sabar ya bro." Olive mengelus punggung sepupunya itu yang tampak menderita karena perempuan yang selalu ia incar pasti lebih dulu mempunyai pasangan.


"Udah-udah jangan ngecengin mereka berdua. Kita berangkat sekarang saja," tutur Devano yang membuat semua orang terdiam dari tawanya.


"Aku nitip Kiya, gak papa kan?" tanya Ciara ke pasangan itu. Giselle menggelengkan kepalanya.


"Gak papa kok. Tenang aja, aku juga suka banget sama anak kecil. Kalian fokus aja sama penyembuhan Al. Semoga anak tampan kalian ini segera sembuh seperti sebelumnya," tutur Giselle. Ciara tersenyum kemudian ia menyerahkan Kiya kedalam gendong Giselle.


"Kita berangkat dulu. Kalian gak perlu sungkan, anggap aja rumah ini seperti rumah kalian. Disini juga ada Mbak, kalau kalian perlu sesuatu bilang aja sama mereka," ujar Ciara yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Giselle.


"Tubuh Kiya jangan sampai lecet. Kalau sampai lecet nyawa kalian jadi taruhannya," ancam Devano ke pasangan baru itu yang hanya dijawab dengan deheman oleh Dafit. Setelah itu Ciara, Devano, Al juga para sahabatnya perlahan keluar dari rumah tersebut.


"Bye-bye Uncle, Aunty, baby Kiya!" teriak Al saat dia sudah berada didalam mobil tak lupa ia melambaikan tangannya kearah ketiga orang yang mengantar mereka sampai di depan rumah tersebut.


"Bye Al," balas Giselle sembari membalas lambaian tangan Al.


Dan kini beberapa mobil yang berisikan kelurga Devano juga para sahabat pasturi itu mulai keluar dari lingkungan rumah tersebut menuju ke tempat yang mereka tuju.