
Hay semua, author mau menginformasikan sesuatu ke kalian semua 🤭 Jadi author baru aja buat akun Instagram baru khusus untuk tulisan author dan disana juga author mungkin akan kasih spoiler tentang cerita-cerita author dan informasi lainnya yang berkaitan dengan semua cerita author. Jadi jangan lupa follow ya Instagram baru author 😁 Dan ini nama IG-nya :
@author_absurb
dan untuk IG pribadi author nih namanya :
@yn.er_08
Buruan kuy difollow 😂
...****************...
2 ustadz kini sudah berada di rumah Devano dan kini semua orang yang ada dirumah tersebut ikut merapat ke kamar utama.
"Dia ada di dalam Tadz," ucap Devano yang diangguki dua ustadz tadi.
"Kalau begitu apa kita boleh masuk sekarang?" tanya salah satu ustadz tersebut.
"Silahkan-silahkan," tutur Devano sembari perlahan membukakan pintu tersebut. Dan setelah kedua ustadz tadi masuk barulah Devano, Ciara dan beberapa art ikut masuk kedalam.
Kedua ustadz tadi menatap tubuh Kiya yang masih sama seperti yang di lihat oleh Devano dan Ciara sebelumnya.
"Dia anak kami Tadz, kami mohon usir setannya keluar dari tubuhnya," ucap Ciara sembari menunjuk kearah Kiya. Ustadz tadi lagi-lagi mengangguk lalu setelahnya mereka berdua berjalan mendekati Kiya dengan mengucap berbagai doa.
Dan setelah sampai di samping Kiya, salah satu ustadz tadi mengulurkan tangannya dan menepuk pundak Kiya dengan pelan. Hal itu membuat Kiya yang tadinya berjingkrak-jingkrak dan selalu bergumam kini terhenti. Lalu setelahnya Kiya tampak menolehkan kepalanya kearah kedua ustadz tadi secara perlahan. Dan saat wajahnya sudah berhadapan langsung, kedua ustadz tadi tampak terkejut dan setelahnya mereka berlari menjauhi Kiya.
Bahkan orang-orang disana yang juga melihat wajah Kiya pun menjerit ketakutan tak terkecuali dengan Ciara dan Devano yang kini keduanya tengah berpelukan dengan mata yang tertutup rapat.
Sedangkan Kiya yang melihat semua orang tengah histeris, anak itu kini mendekati mereka semua yang justru semakin membuat orang-orang yang ia dekati mundur beberapa langkah.
"Stop, jangan mendekat ke kami. Kami tidak menggangumu. Dan saya mohon keluar dari tubuh anak saya," ucap Devano.
Kiya kini berhenti sembari menggaruk tengkuknya.
"Papa, ada apa? Kenapa semua orang takut sama Kiya?" tanya Kiya yang membuat Devano kini membuka matanya dan menatap Kiya.
"Kamu jangan banyak bicara, keluar sekarang dari tubuh anak saya," ucap Devano yang semakin membuat Kiya bingung dengan situasi saat ini.
"Siapa yang disuruh keluar Papa? Ih Kiya bingung," ujar Kiya.
"Kamu bukan Kiya," tutur Ciara.
"Hah? Maksud Mama apa sih? siapa yang bukan Kiya?"
Ciara dengan tangan bergetar menunjuk ke arah Kiya.
"Kamu. Kamu bukan Kiya," ujar Ciara.
"Lah? Aku kan Kiya Mama. Masak Mama lupa sama wajah anaknya sendiri," tutur Kiya dengan kerucutan di bibirnya.
Saat terjadi kekacauan di dalam lantai dua, Al yang baru pulang dari sekolah pun kini merasa heran dengan kesunyian di lantai bawah rumah tersebut bahkan ia juga bingung kenapa Mama dan Papanya tadi meminta izin kepada guru sekolahnya agar dirinya bisa pulang lebih awal.
Baru saja kakinya menginjak lantai dua, ia dibuat penasaran dengan gerombolan orang-orang yang berkumpul di kamar kedua orangtuanya. Bahkan samar-samar terdengar suara orang yang saling bersautan.
"Itu kenapa ramai sekali? Apa yang sebenarnya terjadi? Jangan-jangan terjadi sesuatu dengan Papa atau Mama," ujar Al. Kemudian ia berlari sekencang mungkin menuju kamar orangtuanya tadi dan dengan cepat ia membelah gerombolan orang-orang tersebut hingga akhirnya ia berhasil berada didalam kamar tadi dan melihat situasi didalam.
"Abang!" panggil Kiya saat ia melihat Al berdiri di ambang pintu lalu ia pun berlari dan memeluk tubuh Al dengan sangat erat.
"Jauhkan wajah kamu dari seragam Abang," ucap Al saat Kiya ingin menempelkan wajah belepotannya itu di seragam Al.
"Ck, iya-iya. Tapi Kiya mau peluk sebentar," ujar Kiya yang membuat Al menghela nafas kemudian tangannya bergerak untuk membalas pelukan sang Adik.
Sedangkan Devano dan Ciara yang melihat hal itu justru sekarang semakin gusar.
"Gimana ini? Jangan sampai Al juga kesurupan," ujar Ciara yang membuat Al mengerutkan keningnya.
"Kesurupan?" celetuk Al. Ciara kini menatap Al dengan iba.
"Sayang, sekarang menjauhlah dari dia. Dia bukan adik kamu tapi dia hantu," ujar Ciara.
"Hantu?" ucap Al sembari melepaskan pelukan dari Kiya lalu setelah pelukannya itu terlepas, Al menatap wajah Kiya.
"Kiya bukan hantu lho bang," ujar Kiya dengan wajah memelasnya.
"Iya, Abang percaya sama kamu," ucap Al.
"Lho Al jangan asal percaya gitu aja. Hantu itu pintar banget lho buat menghasut orang," ujar Ciara yang membuat Al berdecak.
"Ma, dia itu Kiya bukan hantu atau sebagainya," tutur Al.
"Bukan, dia bukan Kiya Al. Dia hantu. Kalau dia Kiya kenapa wajahnya jadi pink begitu? Dan saat kita tadi masuk ke kamar ini dia gak menyadari keberadaan kita semua hingga akhirnya Mama sama Papa panggil ustadz dan barulah dia menyadari keberadaan kita semua," jelas Ciara yang diangguki semua orang disana.
Al kini mengalihkan pandangan kearah dua ustadz tadi.
"Ustadz juga takut sama hantu?" tanya Al penasaran.
Ustadz tadi tampak terdiam tanpa berniat menjawab ucapan dari Al tadi. Tapi kalau boleh jujur penampilan Kiya sekarang lah yang membuat mereka takut bukan karena takut akan hantunya.
Al yang tak mendapat jawaban apapun dari dua ustadz tadi pun hanya bisa menepuk dahinya sendiri.
"Kalian semua dengar Al ya. Orang yang ada disamping Al ini adalah Kiya bukan orang lain ataupun hantu dan lain sebagainya. Dan tunggu sebentar," ucap Al, lalu kini anak laki-laki itu tengah berjalan menuju ke meja rias Ciara untuk mengambil sesuatu dan juga tisu basah untuk sang adik. Dan setelah ia kembali berdiri disamping Kiya, ia mulai menghapus warna pink di wajah Kiya.
"Lho kok hilang," ujar Ciara saat melihat wajah Kiya yang perlahan bersih lagi.
"Ma, warna pink di wajah Kiya itu gara-gara ini bukan gara-gara dirasuki sama hantu," ucap Al sembari menunjukkan sebuah lipstik dan blush on berwarna pink kearah semua orang didepannya.
"Tapi Kiya tadi gak dengar saat kita masuk dan saat kita manggil dia. Bahkan dia tadi juga sempat berpose, bergumam seperti tengah bernyanyi dan dia tadi juga joget-joget gak jelas. Apalagi juga kalau bukan kesurupan?" tutur Ciara yang tak yakin jika anak perempuan itu benar-benar anaknya.
Al kini menatap sang adik dengan alis yang terangkat satu.
"Kiya tidak dengar semua orang masuk dan manggil Kiya karena Kiya tadi pakai ini. Barang ini tadi tergeletak di samping ponsel Mama dan karena Kiya penasaran alhasil Kiya pakai. Setelah Kiya pakai, Kiya baru sadar barang itu ternyata didalamnya ada lagu-lagunya. Jadi saking Kiya keenakan dengerin lagunya Kiya sampai terbawa suasana dan tidak mendengar mereka semua," tutur Kiya sembari menunjukkan sebuah earphone yang tadi ia gunakan. Dan hal itu membuat semua orang melongo tak percaya. Jadi apa yang mereka sangka tadi salah besar dan hanya kesalah pahaman saja? Ah dasar, ini semua gara-gara keparnoan Ciara dan Devano akan hantu yang diceritakan oleh Kiya itu. Jika saja mereka tak terlalu memikirkan tentang cerita Kiya pasti semua ini tak akan terjadi.