
Devano menatap ke sekelilingnya dan setelah ia rasa situasinya sudah sedikit lebih tenang dari sebelumnya bahkan Yura dan Mamanya sudah berhenti menangis, Devano memutuskan untuk mendekati mereka sekeluarga.
"Maaf sebelumnya, apa bisa kita mengobrol sebentar?" tanya Devano yang membuat sepasang orangtua itu mengalihkan pandangannya kearahnya.
Sesaat setalahnya, Bian menganggukkan kepalanya. Lalu setelahnya ia mengelus kepala anak dan istrinya sebelum berdiri dari duduknya.
"Kita bicara di taman saja," ucap Devano saat Bian sudah berdiri di sampingnya.
"Baik," balas Bian. Lalu setalahnya mereka berdua kini beriringan menuju taman yang masih terletak di lingkungan rumah sakit tersebut.
Dan setelah mereka sampai juga telah duduk disalah satu kursi di taman tersebut, Devano langsung merogoh saku jasnya untuk mengambil kartu nama yang ia dapatkan dari Doni tadi lalu setelahnya ia menyerahkan kartu nama itu tepat di hadapan Bian.
Bian yang tak paham dengan Devano, ia mengerutkan keningnya tapi tangannya bergerak untuk menerima kartu nama tersebut.
"Baca baik-baik nama di kartu itu. Apa anda mengenal dia atau tidak?" tanya Devano.
Bian tampak terdiam sesaat dengan otak yang berputar untuk mengingat nama orang tersebut.
"Bagaimana? Apa anda mengenalnya?" tanya ulang Devano yang tak sabar ingin menghabisi orang dibalik kartu nama itu yang ia yakini jika orang itu adalah dalang dari semua masalah itu.
Bian tampak menghela nafas lalu setalahnya ia menggelengkan kepalanya sembari mengembalikan kartu nama tersebut.
"Saya tidak tau orang di balik kartu nama itu. Bahkan saya juga tidak memiliki teman atau rekan bisnis atas nama itu," ujar Bian yang membuat Devano juga menghela nafas berat.
"Memangnya ada apa dengan nama orang ini?" tanya Bian penasaran.
"Saya curiga, jika nama ini merupakan dalang di balik masalah yang menimpa anak anda," jawab Devano.
"Hmmmm tapi saya tidak pernah berurusan dengan orang itu," tutur Bian.
"Kadang memang benar kita tidak pernah berurusan dengan orang-orang yang sedang mengincar nyawa kita. Karena orang itu bermain secara halus. Dan kemungkinan orang ini merupakan salah satu orang yang tengah bersaing dengan anda di dunia bisnis atau bisa jadi ada masalah di masa lalu yang belum terselesaikan. Entah itu dengan keluarga besar anda, diri anda sendiri atau bisa jadi dengan istri anda. Jadi lebih baik untuk memastikan ini semua, anda bisa tanyakan ke istri dan keluarga besar anda," ujar Devano lalu setalahnya ia mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya kearah Bian.
"Tulis saja nomor ponsel anda. Biar memudahkan kita untuk saling bertukar informasi mengenai orang ini. Karena ulah orang itu anak saya sampai terluka. Dan saya janji akan bantu anda untuk menuntaskan masalah ini hingga bertemu dengan pelaku," sambung Devano. Bian menatap sekilas kearah Devano sebelum akhirnya ia mengambil ponsel tadi dan mulai mengetikkan nomor ponselnya.
"Terimakasih atas bantuan anda. Saya harap kita bisa bekerja sama untuk menemukan orang itu. Dan terimakasih juga karena anak anda dan juga bodyguardnya sudah menolong putri saya dari maut. Dan sekali lagi maaf gara-gara menolong anak saya, putra anda masuk rumah sakit. Izinkan saya untuk menanggung semua biaya rumah sakit putra anda sebagai rasa tanggungjawab saya sebagai ayah Yura," ucap Bian yang langsung ditolak oleh Devano.
"Tidak, tidak perlu anda menanggung biaya rumah sakit ini. Semua kejadian ini juga bukan kesalahan putri anda. Dan Al juga menolong putri anda tanpa paksaan apapun. Jadi tolong jangan merasa bersalah atas masalah ini," tolak Devano dengan tegas.
"Tapi---"
"Tidak ada bantahan sama sekali. Biar saya yang menanggung semua biaya rumah sakit Al. Anda cukup memfokuskan diri anda pada putri anda. Dan saya berharap, anda lebih waspada lagi dengan orang-orang disekitar anda. Karena bisa saja orang disekitar anda entah itu art, bodyguard, karyawan kantor, teman atau bahkan keluarga anda menjadi mata-mata dari orang yang ingin melukai putri anda itu. Jadi anda mulai sekarang harus pintar melihat gerak-gerik mencurigakan semua orang di sekitar anda," ucap Devano.
"Dan satu lagi, tambah pengawasan untuk putri anda jika dia ingin keluar rumah, dan anda juga istri anda tidak bisa menemani dirinya," sambung Devano sembari menepuk pundak Bian. Dan setalahnya ia beranjak dari duduknya.
Disaat kedua laki-laki tadi tengah memikirkan bagaimana caranya menemukan dalang dari kejadian tadi, berbeda dengan kedua bodyguard Al yang kini sudah tersenyum kembali dengan dua eskrim di tangan mereka masing-masing tak hanya itu, mereka juga membawa satu kantung plastik berukuran besar yang berisikan makanan ringan dan kini keduanya tengah berjalan menuju kamar Al. Dan dilihat-lihat tingkah dua bodyguard itu sama seperti Kiya saat datang ke kamar Al tadi.
"Assalamualaikum," ucap mereka berdua saat memasuki kamar inap Al dan hal itu membuat semua mata tertuju kearah mereka.
"Waalaikumsalam," jawab mereka serempak.
"Astaga, kalian habis ngerampok dimana?" tanya Ciara yang membuat senyum keduanya seketika luntur.
"Ck, nyonya mah pikirannya negatif mulu. Kita tidak nyuri nyonya tapi kita beli pakai uang halal," jawab Toni dengan kerucutan di bibirnya.
"Katanya Om tadi tidak punya uang. Kenapa tiba-tiba sekarang udah punya aja? Atau jangan-jangan Om nyopet ya. Ih Om nyopet tuh perbuatan yang tidak baik. Iya kan Ma?" timpal Kiya yang sedari tadi kerjaannya nyemil tak jauh berbeda dengan dua bodyguard itu.
Ciara menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Kiya.
"Ish, Kiya juga kenapa ikut-ikutan berpikir negatif sama Om sih. Om tuh tidak nyopet ataupun nyuri tapi Om dapat uang buat beli ini semua tuh dari tuan Devano," ujar Toni yang diangguki oleh Doni.
Dan hal itu membuat sepasang ibu dan anak itu ber-oh riya.
"Oh, bilang dong dari tadi," ujar Kiya dengan mulut penuh dengan makanan.
"Ya gimana mau bilang, kalau belum apa-apa saja Kiya sama Nyonya sudah menuduh kita yang tidak-tidak," ucap Doni sembari bergerak menuju sofa yang tadi ia tempati. Dan saat tatapan mata mereka berdua bertemu dengan Franda, keduanya melemparkan senyumannya.
"Jangan lupa bagi juga sama Yura," ucap Ciara yang ia tujukan kepada Doni dan Toni.
"Iya-iya nyonya," ucap keduanya menurut dengan apa yang diperintahkan oleh Ciara tadi. Dan setelahnya mereka berdua bergerak menuju kearah Yura.
"Yura mau apa? Om bagi buat Yura. Gratis gak bayar sepeser pun," tutur Doni.
"Iya, Yura ambil saja apapun yang Yura mau," timpal Toni.
Yura yang sedari tadi memeluk tubuh Franda pun kini menatap sekilas kearah Doni dan Toni secara bergantian lalu setelahnya ia menggelengkan kepalanya.
"Yura tidak mau?" tanya Doni yang lagi-lagi dijawab gelengan oleh Yura.
"Terimakasih Om, Yura lagi tidak mood untuk makan sepertinya," ucap Franda untuk mewakili anaknya.
"Baiklah kalau begitu. Nanti kalau Yura mau, tinggal bilang sama Om ya. Biar Om kasih ke Yura tapi kalau makanannya belum habis. Kalau udah habis suruh Mama atau Papa Yura buat beliin makanan yang Yura mau," celetuk Toni yang sudah duduk di sofa sebelah Kiya disusul dengan Doni disampainya.
Dan perkataan Toni tadi membuat Franda terkekeh kecil. Sedangkan Ciara dan Al, mereka berdua hanya bisa menggelengkan kepala mereka.