
Sebelum dering telepon tadi berhenti, Devano segera meraih ponselnya dan menggeser ikon telepon berwarna hijau untuk mengangkat telepon dari Nando tadi.
"Ada apa?" tanya Devano to the point karena ia sudah benar-benar kepo dengan topik yang akan Nando bicarakan kepadanya.
📞 : "Apakah anda tidak mau basa-basi dulu ketika saya telepon anda? jarang-jarang lho saya telepon begini." Bukannya langsung menjawab dan menceritakan secara rinci hal yang tengah Nando ketahui, laki-laki itu justru komplain terlebih dahulu kepada Devano yang notabenenya adalah bosnya.
Devano memutar bola matanya malas. Untuk apa dirinya harus basa-basi terlebih dahulu, membuang-buang waktu saja, pikir Devano.
"Cepat katakan apa yang ingin kamu katakan. Saya tidak punya waktu untuk menanggapi bercandaan kamu. Jika tidak ada yang penting telepon ini akan saya matikan," tutur Devano.
📞 : "Oh astaga, saya baru ingat jika waktu adalah uang buat anda tuan. Baiklah kalau begitu saya akan memberitahu sesuatu yang berkaitan dengan penculikan tuan muda Al beberapa hari yang lalu," ucap Nando.
Devano mengerutkan keningnya. Apa lagi ini? bukankah Tiara sudah di tahan anak buahnya begitu juga dengan para anak buah dari Tiara mereka semua sudah di bantai satu-persatu oleh pihak Devano. Apa jangan-jangan...
"Tiara kabur?" tanya Devano dengan waspada.
📞 : "Bukan. Tiara masih aman dalam pengawasan kita. Dan perempuan itu mana mungkin bisa kabur jika kakinya saja sudah mulai membusuk bahkan anak buah anda itu dengan kejam menyayat telapak kakinya dengan pisau panas bahkan jari-jari kakinya saja tinggal satu. Sungguh kejam," jawab Nando.
Devano tampak menghela nafas lega.
"Syukurlah jika Tiara masih aman karena perempuan itu kalau di biarkan berkeliaran akan membuat masalah dengan orang lain. Dan apa katamu tadi, anak buahku sangat kejam? hey, apa kamu lupa jika kamu juga anak buah saya? bahkan kamu lebih kejam dari pada anak buah saya yang lainnya. Katakan apa yang sudah kamu lakukan ke perempuan itu?"
📞 : "Maaf tuan tapi saya bukan orang yang sangat kejam seperti yang anda pikirkan. Dan saya hanya menguliti telapak kakinya saja setelah anak buahmu yang lain menyayatnya ditambah memberikan air garam di luka-lukanya yang lain," jawab Nando dengan jujur.
Devano hanya bisa menggelengkan kepalanya. Perlakuan itu tidak dianggap kajam oleh Nando, oh ayolah itu lebih kejam dari yang lainnya.
"Sudahlah. Terserah kamu saja. Cepat katakan hal apa lagi yang menyangkut penculikan itu jika Tiara masih aman-aman saja!"
📞 : "Ada orang lain yang ikut terlibat dalam penculikan itu. Setelah saya telusuri dari CCTV di rumah itu. Saya dapat melihat ada seorang wanita yang turun dari mobil bersama dengan tuan muda dan juga bertemu dengan Tiara. Tapi setelah itu saya melihat dia keluar setelah tuan muda di bawah masuk ke ruangan penyekapan dan sepertinya pada waktu keluar, wanita itu tengah menangis sebelum meninggalkan rumah itu. Tapi sayangnya rekaman CCTV kurang jelas jadi saya belum bisa memastikan wanita itu siapa. Tapi ini hanya tebakan saya dan juga insting saya bahwa body dari wanita itu mirip dengan seseorang yang mungkin Anda kenal juga tuan," jelas Nando.
📞 : "Tapi ini hanya tebakan saya saja tuan."
"Mau itu tebakan kamu atau apalah, saya tidak peduli! katakan sekarang!" perintah Devano.
📞 : "Baiklah-baiklah akan saya katakan. Jadi tebakan saya itu mengarah ke sekertaris tuan," tutur Nando yang membuat Devano mengerutkan keningnya.
"Maksud kamu, Hisna?" tanya Devano tak percaya. Ya siapa yang percaya jika seorang wanita yang sangat paham akan agama itu melakukan hal kejam kepada Al yang notabenenya anak bosnya sendiri. Dan apa motivasi dari sekertarisnya itu melakukan hal keji tersebut? Jika dia dendam dengan Devano karena sering ia marahi, sepertinya tidak. Lalu apa? pikir Devano yang terus menebak-nebak.
📞 : "Bukan dia. Tapi sekertaris anda yang lainnya," tutur Nando.
"Oh ayolah Nando. Saya tidak ingin bermain tebak-tebakan denganmu. Katakan saja siapa wanita itu tanpa harus berbelit-belit seperti ini," geram Devano. Ingin sekali dia melempar belati kerah Nando sekarang juga jika laki-laki itu berada di hadapannya. Tapi sayang ia tak bisa melakukannya sekarang.
📞 : "Ck, anda tidak seru sekali tuan. Begitu saja sudah menyerah," ucap Nando yang sepertinya benar-benar ingin sekali mendapat masalah.
"Nando!" geram Devano yang sudah muak dengan setiap basa-basi dari anak buahnya itu. Dan kini ia menyesali dengan telepon dari Nando dan lebih baik laki-laki itu mengabari dirinya melalui pesan saja entah itu penting atau tidak. Karena jika melalui pesan Nando pasti akan to the point bukan seperti sekarang yang harus main tebak-tebakan dulu untuk mendapat jawabannya.
📞 : "Baiklah tuan saya akan to the point sekarang jika wanita yang berada didalam pikiran saya saat pertama kali melihat CCTV itu mengarah ke sekertaris tuan yang dulu yaitu Lidya. Tapi ini hanya tebakan saya saja tuan. Dan jika tuan penasaran, tuan bisa menanyakan langsung kepada wanita itu," tutur Nando.
📞 : "Dan untuk rekaman CCTV sudah saya salin dan setelah ini saya akan kirim ke email anda. Hanya itu yang akan saya sampaikan. Selamat pagi dan selamat beraktivitas," sambung Nando setelah itu tanpa menunggu jawaban dari Devano, Nando lebih dulu mematikan sambungan telepon tersebut. Sungguh anak buah yang sangat tak punya sopan santun sama sekali dengan bosnya. Tapi bukan saatnya Devano marah dengan Nando untuk sekarang. Melainkan ia akan fokus dengan ponselnya yang sekarang sudah menampilkan sebuah salinan CCTV yang sudah Nando kirim tadi.
Ia mengerutkan keningnya saat ia kenal betul dengan tas yang di bawa oleh wanita itu. Tas yang sama seperti punya Lidya yang sangat sering di gunakan wanita itu kekantor atau saat perjalanan bisnis dengan dirinya dulu.
Dan jika dilihat dari potongan rambut, penampilan juga body dari wanita yang terpampang di ponselnya itu memanglah mengarah ke mantan sekretarisnya itu.
"Apa motivasi dia sehingga dia mau bekerjasama dengan Tiara untuk menculik Al?" geram Devano sembari mengepalkan tangannya.
"Tidak, tidak bisa dibiarkan lagi orang itu terus berkeliaran di luar. Sedangkan Al sekarang tengah trauma karena kelakuan wanita murahan seperti mereka," sambungnya kemudian ia berdiri dari duduknya dan meninggalkan ruang kerjanya yang untungnya pekerjaan yang sempat tertunda tadi sudah selesai ia kerjakan dan pikirannya sekarang hanya ingin segera pergi ke kantor, bertemu dengan Lidya dan mengintrogasi wanita itu hingga jika wanita itu benar-benar melakukannya akan mengakui semua kesalahannya di depannya. Dan untuk hukumannya, tenang saja Devano sudah memikirkan hal itu. Entah wanita itu akan berakhir sama seperti Tiara yang tengah disekap di ruang bawah tanah dengan siksaan tanpa henti atau dengan hukuman yang lebih mengerikan atau juga hukuman yang lebih ringan dari Tiara. Entahlah hanya Devano saja yang tau.