
Saat sudah memastikan bahwa yang ia lihat tak salah lagi, Devano kini segera berlari dari hadapan Rafa yang saat ini tengah menatap kepergiannya dengan penuh tanda tanya.
"Tuh orang kenapa?" tanya Rafa pada dirinya sendiri.
Karena ia tadi melihat raut muka dari Devano yang tiba-tiba berubah, akhirnya Rafa memilih untuk menyusul Devano yang saat ini tengah mengejar seseorang.
...*****...
Devano kini sudah berada diluar restauran. Mata elangnya kini tengah berusaha mencari keberadaan Ciara diantara beberapa pengunjung mall tersebut.
Dan sekelebat bayangan dari Ciara kini kembali terlihat oleh mata elang Devano. Tanpa menunggu lama, Devano segera berlari menghampiri arah Ciara tadi.
Saat dirinya sudah berada didekat tubuh Ciara, ia tertegun sesaat, memandangi tubuh Ciara dari belakang.
"Ciara!" panggil Devano.
Ciara yang merasa dirinya dipanggil pun menolehkan wajahnya kearah sumber suara. Dan betapa terkejutnya Ciara saat melihat orang yang memanggil dirinya tadi adalah pria yang selama ini ia hindari. Dengan cepat Ciara berbalik dan ketika dirinya ingin melarikan diri dari Devano, lengannya lebih dulu di cekal oleh Devano.
Karena rasa takut akan kehilangan Ciara, Devano menarik tubuh Ciara kedalam dekapannya. Menumpahkan rasa rindu yang selama beberapa tahun ini ia pendam. Dan untuk beberapa detik Ciara terpaku didalam pelukan hangat Devano namun setelah itu ia memberontak berusaha membebaskan tubuhnya dari pria yang dulu pernah ia kagumi dan sekarang pria yang sangat ia benci.
"Lepasin!" perintahnya.
Devano menggelengkan kepalanya di atas kepala Ciara. Ia sekarang malah mengeratkan pelukannya.
"Lepasin gue!" teriak Ciara.
"Gak akan Cia," tutur Devano
"Gue bilang lepasin atau kalau gak..." ucap Ciara menggantung.
"Kalau gak kenapa? Please Cia biarkan aku peluk kamu sebentar saja," pinta Devano.
"Dan aku minta maaf untuk sikapku yang dulu ke kamu. Aku nyesel Cia. Tolong maafin aku," sambungnya.
Ciara menghiraukan ucapan Devano. Ia sekarang tengah memikirkan bagaimana caranya untuk keluar dari pelukan Devano.
Ciara tersenyum setelah menemukan cara yang menurut dirinya tepat. Ia kemudian meluncurkan aksinya dengan menendang adik kecil Devano dengan menggunakan lututnya.
"AW, shit," umpat Devano sembari memegangi adik kecilnya itu yang terasa begitu nyeri.
Saat dirinya sudah terlepas dari pelukan tersebut, ia langsung berlari meninggalkan Devano yang masih menahan rasa sakit dengan begitu saja.
Devano memandangi punggung Ciara yang semakin menjauh dari hadapannya. Ia ingin sekali mengejar Ciara namun keadaannya saat ini tak memungkinkan.
Rafa yang baru menemukan keberadaan Devano pun segera menghampiri sang sahabat.
"Lha lo kenapa?" tanya Rafa heran.
"Bantuin gue!" pinta Devano sembari memegang pundak Rafa untuk membantunya berjalan.
Dengan cepat Rafa memapah Devano kembali ke dalam restauran.
Saat sudah kembali di meja mereka tadi, Rafa perlahan mendudukkan tubuh Devano.
"Lo kenapa sih? Burung lo lagi sakit atau gimana? Dari tadi gue perhatiin lo lagi kesakitan dibagian itu," kepo Rafa.
"Ck diam!" Rafa yang mendapat bentakan dari Devano, kini menutup mulutnya rapat-rapat. Tak berani lagi untuk bertanya kepada singa jantan didepannya itu.
Devano menatap kearah depan dengan tatapan kosong, bahkan bayangan wajah Ciara kini memenuhi penglihatannya. Hingga tak terasa pesanan mereka datang.
"Thank you," tutur Rafa kepada pelayan restauran tersebut. Pelayan tersebut mengangguk dan pergi.
"Dev!" panggil Rafa saat Devano masih saja terbengong.
"Woy Dev." Kini Devano tersadar dari lamunannya dan beralih menatap Rafa.
"Makan tuh. Pesanan lo udah datang," ucapnya. Devano mengangguk dan ia menarik piring pesanannya tadi. Namun bukannya makan ia hanya mengaduk-aduk makanan tersebut.
...*****...
Beralih ke Ciara yang saat ini masih saja berlari menuju mobil Olive yang masih terparkir rapi di parkiran mall tersebut.
Dengan perasaan campur aduk Ciara memasuki mobil tersebut.
"Pergi sekarang!" perintah Ciara.
Olive maupun Dea saling pandang.
"Pergi sekarang!" teriak Ciara membuat Al yang tadinya tertidur kini bangun dan menangis.
"Kak Olive, mending jalan aja sekarang," ucap Dea sembari menenangkan Al yang masih menangis.
Olive menatap Ciara sekilas. Setelah itu ia baru menjalankan mobilnya.
"Ci, kita langsung pulang atau kamu mau mampir kemana lagi?" tanya Olive mencoba mengalihkan perhatian dari Ciara yang sedari tadi hanya melihat kesamping jalan tanpa berucap sedikitpun bahkan Al yang masih mode menangis pun ia abaikan.
"Ci!" panggil Olive.
"Pulang," ucap Ciara singkat.
Olive pun menghela nafas dan melajukan mobilnya kearah rumah Ciara.
"Al jangan nangis lagi ya sayang. Cup cup cup," tutur Dea menenangkan.
"Mama hiks hiks," ucap Al disela menangisnya sembari mencoba untuk meraih Ciara.
"Al sama aunty Dea dulu ya sekarang." Al menggelengkan kepalanya.
"Mama!" teriaknya histeris.
Ciara masih saja terdiam, seakan-akan telinganya kini tuli dengan jeritan sang anak.
"Mama hiks Mama," jeritnya meraung.
"Sayang. Al sama aunty Dea dulu ya, Mama lagi sakit," ucap Olive yang khawatir dengan keadaan Al yang terus menangis dan juga keadaan Ciara yang tiba-tiba menjadi pendiam seperti itu.
"No hiks Mama," teriakan Al kini kembali terdengar.
Dea yang sudah tak tega dengan Al pun akhirnya memberanikan diri untuk mengelus pundak Ciara.
"Kak Ciara," panggilannya pelan.
Ciara kini memalingkan muka dan menatap Dea dengan tak bersemangat.
"Mama!" Ciara membelalakkan matanya saat melihat wajah sang anak yang sudah memerah, kebanyakan menangis.
"Sini sayang." Al pun mendekati Ciara yang berada di kursi depan mobil tersebut. Dengan sekuat tenaga, Ciara menjunjung tubuh Al hingga berada di pangkuannya.
"Hey gantengnya Mama kenapa nangis?" tanya Ciara sembari menghapus air mata Al.
"Atut," ucap Al.
"Jangan takut sayang Mama ada disini sama Al," tutur Ciara sembari memeluk tubuh Al dengan sangat erat.
Dengan dekapan Ciara, perlahan Al tenang. Tangisannya kini sudah tak terdengar lagi bahkan saat ini Al kembali tertidur dalam pelukan Ciara.
Ciara tersenyum dan mengecup puncak kepala Al dengan sayang.
"Maafin Mama sayang," ucap Ciara lirih.
"Mama juga takut kehilangan kamu, sayang. Mama takut kalau Papamu tau kamu telah lahir di dunia ini, Papamu akan merendahkan kamu lagi sayang sama seperti dulu saat kamu di dalam perut Mama. Mama takut kamu akan pergi dari dekapan Mama. Bahkan Mama sangat takut jikalau Papa kamu melakukan hal yang lebih berbahaya untuk menghilangkan keberadaanmu didunia ini," batin Ciara. Air matanya kini berhasil lolos begitu saja dan dengan cepat Ciara menghapus air mata tadi hingga tak meninggalkan jejak di pipinya. Ia takut jika Olive ataupun Dea nanti akan melihat kesedihannya bahkan ketakutannya yang selama ini ia sembunyikan.