Young Mother

Young Mother
Quality Time


"Kamu gak mau peluk Papa, nak?" tanya Papa Julian saat sudah berada di depan Ciara.


Ciara mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Papa Julian yang tengah tersenyum kepadanya lalu pandangannya ia alihkan ke arah Mama Mila.


Mama Mila pun mengangguk dan melepas pelukannya.


"Papa," panggil Ciara sembari berhambur ke pelukan Papa Julian. Pelukan yang selama ini ia rindukan, hari ini juga bisa ia rasakan kembali.


"Hiks, Cia minta maaf Pa, maafin Cia yang udah buat Mama sama Papa malu. Maafin Cia yang gak bisa jaga nama baik keluarga. Maafin semua kesalahan Cia, Pa. Hiks," ucap Ciara sesegukan dan saat dirinya ingin bersimpuh di kaki Papa Julian, Papa Julian segera menghentikannya dan membawa tubuh Ciara kembali berdiri tegap.


"Papa udah maafin semuanya. Itu sudah menjadi masa lalu nak dan kamu tau Papa malah bangga sama kamu karena kamu telah mengambil keputusan yang paling benar. Jika waktu itu kamu menyetujui dan ikuti perintah Papa, pada waktu itu pula kita semua menjadi pembunuh bayi yang tak berdosa. Maafin Papa ya nak atas ucapan Papa yang dulu dan maaf selama ini Papa belum bisa jadi ayah yang baik buat kamu dan Kiara," tutur Papa Julian dengan derai air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya pecah juga.


Ciara yang mendengar permintaan maaf dari Papa Julian pun langsung menggelengkan kepalanya.


"Papa gak salah. Papa udah jadi Papa yang paling baik buat Ciara dan juga Kiara. Jangan minta maaf lagi Pa. Papa gak salah sama sekali. Ciara sayang Papa, Mama dan Kiara. Maaf. Maaf Ciara belum bisa menjadi anak yang berguna dan membanggakan kalian," ucap Ciara sembari menunduk.


Mama Mila yang sedari tadi di belakang Ciara pun langsung mensejajarkan dirinya di samping Ciara dan mengelus lembut kepala anaknya.


"Sudah ya, semuanya juga sudah berlalu. Kita makan dulu yuk. Kiara udah nunggu disana, kasihan dia kelamaan nunggu kita dan Mama juga udah lapar banget nih," ajak Mama Mila.


"Udah jangan nangis lagi. Anak papa gak boleh sedih, oke," tutur Papa Julian sembari mengelap air mata Ciara.


Ciara pun mengangguk setelah itu ia dan juga kedua orangtuanya berjalan ke ruang makan yang sudah ada Kiara disana.


"Lama sekali sih. Kiara kan udah lapar nih. Gak sabar juga makan masakan Kak Cia yang kelihatan enak ini," gerutu Kiara saat mereka bertiga telah sampai di ruangan tersebut.


Ketiganya pun terkekeh kecil atas gerutuan dari Kiara tadi.


"Emangnya ini semua yang masak Ciara? setau Papa, Ciara tuh anak manja gak mungkin lah masak segini banyaknya," goda Papa Julian.


"Iya ya Pa, dulu aja masak nasi goreng buat dia aja udah ngeluh," timpal Mama Mila dengan senyum dan melirik kearah Ciara.


"Ehemmm. Permisi tuan Julian dan nyonya Mila. Sepertinya makanan ini hanya untuk saya saja. Permisi saya akan menghabiskan semuanya sendiri," rajuk Ciara sembari memanyunkan bibirnya beberapa senti kedepan.


"Tenang aja Kak. Aku siap bantu kamu buat habisin semua ini," tutur Kiara penuh semangat. Tangannya pun kini dengan lincah mengambil nasi beserta lauk pauk yang Ciara tadi masak.


"Eh eh eh. Papa juga mau lho. Jangan dihabiskan semua, sisain untuk Papa dan Mama," cegah Papa Julian.


"Gak boleh. Ini semua Ciara dan Kiara yang habisin. Siapa suruh tadi gak percaya sama kemampuan Ciara di dapur," ucap Ciara masih dalam mode ngambeknya.


"Hahahaha, Mama sama Papa bercanda sayang. Mama udah yakin 100% kalau Ciara sekarang udah banyak berubah dan semakin dewasa," tutur Mama Mila.


"Iya sayang. Papa tadi bercanda kok. Sekarang boleh ya makan masakan Ciara," mohon Papa Julian.


"Huh baiklah. Ciara tadi juga bercanda kok. Mana mungkin Ciara bisa marah sama Mama dan Papa. Makan yang banyak ya Pa, Ma. Ciara jamin masakan Ciara yang paling the best setelah masakan Mama."


Kedua orangtua tadi kini mengambil nasi beserta lauk-pauknya dan segera menyantap hidangan itu.


"Hmmm Mama suka, rasanya pas di lidah," puji Mama Mila.


"Papa juga suka banget. Mungkin nanti Papa akan nambah lagi," tutur Papa Julian.


"Boleh Pa. Kalau bisa habisin semuanya," ucap Ciara dengan senyum puas akan hasil dari masakannya.


Sedangkan Kiara yang sedari tadi makan sembari mendengarkan percakapan dari kedua orangtuanya dan juga Ciara pun ikut tersenyum senang. Ia sangat bersyukur akan kehangatan dalam keluarga yang sudah sejak lama tak ia rasakan.


"Terimakasih ya Allah, engkau telah mempertemukan kita lagi. Semoga hari ini menjadi titik kehangatan di keluarga ini untuk kembali menjadi sempurna," batin Kiara.


...****************...


Waktu begitu cepat berlalu dan kini jarum jam sudah menunjukkan pukul 3 sore saat Ciara, Kiara dan kedua orangtuanya itu berkumpul di ruang keluarga. Bercanda, bergurau dan bermanja-manja dengan orangtua membuat Ciara lupa akan statusnya yang telah menjadi seorang ibu anak satu. Saking melepaskan kerinduan kepada keluarganya, Ciara sampai lupa akan Al, putra tampannya itu.


"Papa gak balik lagi ke kantor?" tanya Ciara.


"Enggak, kerjaan Papa udah di handle sama sekertaris Papa. Dan khusus hari ini, Papa akan habisin waktu dengan kalian tanpa gangguan pekerjaan," jawab Papa Julian.


Ciara mengangguk dan pandangannya kini ia alihkan ke arah Mama Mila.


"Ma," panggilnya.


"Eummm."


"Bikin brownies yuk. Ciara lagi pengen banget makan brownies buatan Mama," tutur Ciara dengan tatapan mata memohon.


"Setuju. Mama udah lama gak buat brownies. Kiara pun juga rindu buat habisinnya," timpal Kiara.


"Kalian ini. Ya sudah kita buat sekarang," ucap Mama Mila mensetujui permintaan keduanya.


Mereka bertiga pun beranjak dari ruang keluarga, meninggalkan Papa Julian sendirian disana.


...****************...


Dan mereka bertiga pun sudah kembali ke ruang keluarga, menghampiri Papa Julian disana yang tengah menonton serial FTV.


"Di makan Pa," ucap Ciara sembari meletakkan sepiring brownies di meja, depan Papa Julian tak lupa setelah meletakkan brownies tadi, Ciara mendudukkan tubuhnya disamping Papa Julian.


"Wah kelihatannya enak nih," tutur Papa Julian sembari mengambil satu potong brownies dan memakannya.


"Hmmm enak," puji Papa Julian yang membuat tiga wanita yang itu tersenyum senang.


Tringgg!! Tringgg!! Tringgg!!


Bunyi ponsel Ciara berdering yang membuat sang empu langsung mengambil ponsel yang ia tadi letakan di atas meja. Ia mengamati nama yang tertera di layar ponselnya itu yang ternyata nama Dea yang tertulis disana.


Ciara pun langsung menepuk keningnya, ia sekarang ingat akan keberadaan Al.


"Astagfirullah," ucapnya sebelum mengangkat telepon dari Dea.


Digesernya ikon telepon berwarna hijau itu.


"Halo, Assalamualaikum," ucap Ciara setelah telepon keduanya tersambung.


📞 : "Waalaikumsalam Kak."


"Ada apa De? Al baik-baik aja kan?" tanyanya penuh khawatir.


Sedangkan ketiga orang di sampingnya kini saling pandang saat mendengar nama yang disebutkan Ciara tadi. Siapa Al? kenapa Ciara terlihat khawatir? pikir mereka dengan penuh tanda tanya.


📞 : "Al baik-baik aja Kak. Hanya saja dia sedari tadi nanyain Kakak terus," jawab Dea.


"Syukurlah kalau dia baik-baik aja. Sekarang Al dimana?"


📞 : "Ada di samping aku, Kak. Bentar biar aku kasih ke anaknya," tutur Dea.


📞 : "Mama, Al kangen," terdengar suara nyaring khas milik Al.


"Mama juga kangen sama Al," ucap Ciara sembari tersenyum walaupun senyuman itu tak bisa dilihat oleh anaknya.


Ketiga orang yang sedari tadi mendengar percakapan Ciara pun kini membuka matanya lebar. Mereka juga baru ingat kalau Ciara dulu kabur dari rumah karena mempertahankan kandungannya. Dan sudah dipastikan jika yang di panggil dengan nama Al tadi adalah anak Ciara.


"Mama minta maaf ya sayang tadi Mama lupa jemput Al disekolah," sambung Ciara.


📞 : "Tak apa Mama. Al tau Mama pasti sangat sibuk," tutur Al.


Lagi-lagi Ciara tersenyum bangga kepada anaknya itu yang selalu mengerti keadaannya.


"Makasih sayang. Al udah makan? Gimana tadi sekolahnya?"


📞 : "Belum, Al nunggu Mama aja. Disekolah tak ada yang istimewa semuanya terlihat sama saja," tutur Al.


"Ya sudah Mama sebentar lagi pulang. Al mau di bawain apa?"


📞 : "Al mau bakso yang super jumbo."


"Emang Al bisa habisin?"


📞 : "Bisa dong."


Ciara tampak terkekeh.


"Baiklah Mama akan bawakan bakso super jumbo buat Al. Mama meluncur sekarang."


📞 : "Hati-hati Mama."


"Oke boy. Love you," ucapnya untuk mengakhiri sambungan telepon tadi.


📞 : "Love you too, Ma," balas Al.


Setelah itu sambungan keduanya benar-benar terputus.


...****************...


Happy reading semuanya 🤗 jangan lupa tetap dukung author ya dengan cara Like, komen, vote dan juga kasih hadiah, biar author semakin semangat nulisnya 😚 Kalau bisa 500 Like ya 🤭 Kayaknya gak bisa deh, masalahnya akhir-akhir ini like turun 😭 mengsedih author jadinya. Ya udah lah gak papa😭


Jangan lupa juga untuk kasih tau author jika ada kesalahan dalam penulisan 🤗


Stay safe and stay healthy 🤗 SEE YOU NEXT EPS BYE 👋