Young Mother

Young Mother
Siap Bertemu Camer?


Devano kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya, bertepatan dengan hal itu dokter Rendi dan Al keluar dari ruang rontgen.


"Gimana?" tanya Devano tak sabaran setelah menghampiri dokter Rendi.


"Tunggu sebentar lagi, hasil Rontgen akan keluar," ujar dokter Rendi.


Devano mengangguk kemudian ia mengambil Al dari gendongan dokter Rendi.


"Kepala Al masih sakit?" tanya Devano.


"Udah gak sakit Papa. Al kan anak kuat." Devano tersenyum sembari mencium pipi Al.


"Mama," panggil Al dengan menatap wajah Ciara.


"Iya sayang. Al mau apa hmmm?" Al menggelengkan kepalanya.


"Al gak mau apa-apa Mama. Al hanya gak suka lihat Mama nangis kayak tadi. Mama gak salah, Al yang gak bisa jaga diri Al sendiri, Al yang bandel Ma. Al minta maaf," ujar Al dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Ciara mengelus kepala Al dengan lembut dan menatap lekat mata putra semata wayangnya itu.


"Kalau Al gak mau lihat Mama nangis lagi, lain kali Al harus hati-hati jangan sampai jatuh kayak tadi, ya nak," ucap Ciara.


Al mengangguk kemudian menundukkan kepalanya untuk mencium pipi Ciara.


Devano yang melihat kehangatan itu hanya bisa tersenyum bahagia. Ia berharap sampai kapanpun bahkan sampai akhir hayatnya ia bisa bersama dengan dua orang yang ia cintai sekarang.


"Dev," panggil dokter Rendi saat sudah kembali di dalam ruangan tadi sembari membawa hasil rontgen milik Al.


Devano mengalihkan pandangan begitu juga dengan Al dan juga Ciara, kemudian mereka segera menghampiri dokter Rendi yang sudah duduk di kursi di ruangan tersebut.


"Ini hasil rontgen Al. Semuanya aman tidak ada masalah serius dan tidak ada luka dalam di kepala maupun tubuh Al yang lainnya. Jadi kalian tidak perlu khawatir," jelas dokter Rendi yang membuat Ciara dan juga Devano bisa bernafas lega sekarang.


"Syukurlah," ucap Devano.


"Papa," panggil Al mendangakan kepalanya untuk melihat wajah Devano.


"Iya sayang ada apa?"


"Al mau ganti baju. Pakai baju ini gak nyaman." Devano tersenyum dan mengangguk.


"Sama Mama aja yuk gantinya," ajak Ciara kemudian ia mengambil Al dari pangkuan Devano dan pergi menuju kamar mandi karena Al juga ingin buang air kecil.


Setelah dirasa Ciara dan Al menjauh dari ruangan tersebut. Dokter Rendi menatap lekat wajah Devano.


"Kenapa?" tanya Devano.


"Gini, aku tuh heran sama kamu, bukannya selama ini kamu belum nikah ya? Kalau udah nikah gak mungkin dong kamu gak kasih undangan ke aku dan gak mungkin juga para media gak meliput hari bahagia pembisnis muda nomor satu di negara ini. Tapi kalau kamu belum nikah kenapa udah punya anak? atau jangan-jangan kamu menginginkan Mamanya Al yang notabenenya janda dan mengharuskan kamu juga akrab dengan anaknya. Atau jangan-jangan---" belum sempat dokter Rendi menyelesaikan perkataannya, Devano lebih dulu memutus ucapan tersebut dengan membungkam mulut dokter Rendi menggunakan telapak tangannya.


"Al anak kandung aku. Apa mata kamu tadi rabun atau malah buta? jadi gak bisa lihat kemiripan kita berdua?" Dokter Rendi menyingkirkan tangan Devano dari bibirnya.


"Enak aja, mata aku masih normal ya. Tapi emang benar sih kalau kalian itu mirip bahkan sangat mirip. Aku aja tadi sempat tidak bisa berkata apa-apa saat lihat secara detail wajah Al. Tapi kapan kamu dan Mamanya Al nikah? Kenapa gak ngasih undangan? Tega bener jadi orang." Devano memutar bola matanya malas.


"Kepo. Udah lah aku mau balik dulu. Thanks udah periksa anak aku tadi," ucap Devano sembari beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan tersebut meninggalkan dokter Rendi yang masih menggerutu karena pertanyaannya belum juga mendapatkan jawaban yang membuat dirinya puas.


...****************...


Devano terus berjalan hingga parkiran mobil rumah sakit tersebut dimana Ciara tadi sudah mengirimkan pesan kepadanya. Dan ternyata disana sudah ada Ciara dan juga Al yang tengah menunggunya.


"Pakaiannya tadi di kasih ke siapa?" tanya Devano.


"Aku kasih ke resepsionis," jawab Ciara.


Devano pun mengangguk kemudian ia membukakan pintu untuk Ciara.


"Al mau sama Mama atau duduk sendiri?" tanya Devano saat Ciara sudah duduk di kursi mobil tersebut dengan Al di pangkuannya.


"Mau sama Mama aja, Pa," jawab Al.


Devano mengangguk lalu ia menutup kembali pintu disamping Ciara, setelah itu ia bergegas menuju pintu di samping kemudi, kemudian masuk ke dalam, lalu menjalankan mobilnya perlahan.


Mobil tersebut terus berjalan hingga memasuki perumahan elit dimana perumahan tersebut merupakan tempat tinggal keluarga Rodriguez.


"Kita mau kemana?" tanya Ciara karena baru pertama kali dia melewati kawasan tersebut.


"Hah!" teriak Ciara kencang dan mengakibatkan Al yang tadinya tidur dengan nyenyaknya kini terbangun.


"Mama, ada apa?" tanya Al sembari mengucek matanya.


"Astaga, Mama lupa nak kalau kamu tadi tidur. Maaf ya sayang." Al menggelengkan kepalanya kemudian ia menyenderkan kepalanya di dada Ciara.


"Al udah gak ngantuk lagi," ucap Al.


"Al," panggil Devano sembari melirik sekilas kearah Al.


"Iya Papa."


"Al mau gak ketemu Opa sama Oma?" tanya Devano. Al yang mendengar kata tersebut langsung menegakkan tubuhnya kembali.


"Opa Lian sama Oma Mila, Pa?" Devano menggelengkan kepalanya.


"Bukan Opa Lian sama Oma Mila sayang. Tapi Opa Tian sama Oma Nila, mereka orangtua Papa dan juga nenek dan kakeknya Al," ujar Devano.


"Apa mereka galak?" selalu saja Al bertanya seperti itu jika ia akan bertemu dengan orang yang baru di hidupnya.


"Papa pastiin mereka gak akan berani galak sama Al. Mereka baik kok. Jadi Al mau gak ketemu sama mereka?"


Al nampak berpikir sesaat kemudian ia menatap wajah Ciara yang terlihat begitu cemas.


Setelah melihat raut muka sang Mama, Al mengalihkan pandangannya ke arah Devano yang tengah fokus menyetir.


"Al sebenarnya mau ketemu sama mereka Pa, tapi Mama sepertinya belum siap," ujar Al.


Devano kini menoleh kearah Ciara saat mobil yang ia kendarai kini telah berhenti tepat di depan rumahnya.


"Hey, kenapa?" tanya Devano sembari meraih tangan Ciara dan menggenggamnya.


"Hmmm apa? kenapa?" Devano menghela nafas.


"Kamu belum siap berketemu orangtuaku?" Ciara menatap lekat mata Devano dan mengangguk untuk menjawab pertanyaan tadi.


"Kenapa?"


"Aku takut mereka akan mengusirku dan," ucapan Ciara menggantung membuat Devano penasaran.


"Dan apa hmm?"


"Dan aku... aku takut mereka akan mengambil Al dari ku," jawab Ciara dengan memberanikan diri untuk mengungkapkan isi pikirannya sedari dulu.


"Hey, jangan khawatir. Mereka tidak akan mengambil Al darimu. Mereka juga tidak akan berani mengusirmu nanti. Tenang lah, aku ada disampingmu. Toh cepat atau lambat orangtuaku akan jadi orangtuamu juga," tutur Devano dengan akhir kalimat yang menggoda Ciara.


Ciara tampak berdecak sembari melepaskan tangannya dari genggaman Devano.


"Ck, aku juga tau itu. Tapi gak sekarang juga dong, huh menyebalkan. Emang dia kira untuk bertemu dengan orangtuanya tidak harus menyiapkan mental dan kesiapan diri yang matang gitu. Dia mah enak karena emang dia udah terbiasa dengan orangtuanya. Lah aku baru pertama kali dan bawa anak pula. Iya kalau mereka percaya Al ini anak kandung dia kalau tidak kan nanti bisa perang dunia ke 5," gumam Ciara lirih namun masih bisa didengar oleh Devano. Dan hal itu membuat sang empu terkekeh kecil.


"Kamu tau apa nih? tau kalau bentar lagi jadi menantu keluarga Rodriguez atau tau hal yang lainnya?" goda Devano.


"Ish siapa juga yang mau nikah sama kamu. PDnya ketinggian," ucap Ciara.


"Masak sih." Devano mencolek dagu Ciara.


"Ck apaan sih. Buruan lanjutin jalan kerumah kamu, keburu malam tar dan keburu aku berubah pikiran," tutur Ciara.


"Kita udah sampai di depan rumahku tinggal masuk kedalam aja," ucap Devano dan ia menyalakan mesin mobilnya kembali, masuk kedalam area rumah mewah tersebut setelah gerbang rumah tadi terbuka lebar.


Mobil Devano kini telah berhenti dan dengan sigap Devano keluar dari mobil tersebut.


Sedangkan Ciara, ia masih terdiam. Ia gugup sekarang, bahkan jantungnya berdetak lebih kencang, telapak tangannya terasa dingin, dan ia juga bingung apa yang akan ia lakukan nantinya setelah bertemu dengan orangtua Devano. Arkh rasanya ia ingin menghilang saja dari tempatnya berada saat ini supaya tidak jadi bertemu dengan orangtua Devano yang belum pernah ia temui sebelumnya.


...****************...


Huh kenapa semakin hari likenya semakin hilang satu persatu 😭 mengsedih nih author jadinya hiks. Ayo dong balik lagi likenya biar author semangat nulisnya dan biar bisa double up😭


Dan untuk semua yang masih mendukung author dengan meninggalkan Like, komen, vote, kasih author hadiah, author ucapkan banyak-banyak terimakasih karena satu like kalian mempengaruhi mood author 🤭


Salam hangat untuk kalian semua🤗 SEE YOU NEXT EPS BYE 👋