
"Pergi sekarang dan obati luka kamu. Atau kamu mau balas dendam dulu dengan Tiara?" tawar Devano yang membuat Lidya menatap bingung kearahnya.
"Balas dendam?" tanyanya diakhiri dengan ringisan karena menahan sakit di kedua telapak tangannya.
"Jika kamu mau."
"Memangnya dia juga ada disini Pak?" Devano menganggukkan kepalanya. Hal itu membuat Lidya terdiam. Ia masih memikirkan tawaran dari Devano. Hingga decakan Devano membuat dirinya tersadar.
"Jika tidak mau. Pergi sekarang!" tegas Devano.
"Sebentar Pak. Saya mau balas dendam dengan Tiara," ucap Lidya dengan mantap. Ia sejak menerima sebuah pesan dari Tiara untuk melakukan tindakan kejahatan hingga mengancamnya, pada waktu itu juga ia ingin sekali menjambak, mencakar atau menampar wanita sialan itu tapi apa daya kasta dari Tiara jauh lebih tinggi darinya. Hanya dengan sekali jentikan jari saja seluruh anak buah, bodyguard atau yang lainnya bergerak untuk menyerang keluarga. Maka saat itu ia tak bisa berkutik atas desakan dari Tiara.
Dan ini lah salah satu alasan kenapa dirinya dulu sangat gencar menggoda Devano. Ia ingin mengangkat derajat keluarga secara instan dengan cara merayu Devano hingga laki-laki mau menikahinya dan dari situlah nanti keluarganya tak lagi bisa diremehkan oleh siapapun. Tapi sayang Devano tak tertarik dengannya dan hal itu membuat dirinya lambat laun berubah walaupun terkadang suka khilaf namun untuk sekarang ia ingin benar-benar berubah. Ia akan menjalani kehidupan yang akan ia mulai dengan lembaran baru. Mengangkat derajat keluarganya dengan usahanya sendiri, tidak menggoda laki-laki manapun dan mungkin pakaian yang selalu kurang bahan untuk ia pakai akan ia buang semuanya dan menggantinya dengan pakaian yang lebih tertutup lagi walaupun nantinya ia akan tinggal di luar negeri tapi ia yakin bisa mengubah hidupnya dan keluarganya.
"Jika kamu mau. Bersihkan darah di tangan kamu itu," tutur Devano.
"Tapi Pak disini tidak ada---" belum sempat ucapannya selesai, tiba-tiba ada sebuah kotak P3K terlempar dan jatuh tepat di depannya.
Lidya segera mengambil kotak tersebut dengan hati-hati lalu ia melihat kearah orang yang melempar kotak tadi.
"Te---terimakasih," tutur Lidya dengan takut pasalnya tatapan orang tersebut sama persis dengan tatapan Devano saat diliputi dengan emosi membara.
"Jangan nakut-nakutin dia, Nando," ucap Devano. Yap, orang yang melempar kotak P3K tadi adalah Nando yang baru datang setelah ke ruang sebelah yang mana diruangan itu ada Tiara.
Devano yang mendengar hal itu pun memutar bola matanya malas. Perasaan dia tak ada niat untuk menakut-nakuti siapapun. Ya, siapa yang akan takut jika dirinya mempunyai paras yang tampan tapi dingin, tatapan tajam dan rahang yang tegas. Darimana letak menyeramkan dan menakutkan itu? Entahlah Nando jadi bingung sendiri.
Lidya kini terduduk dilantai sembari membuka kotak tersebut dan langsung memulai untuk mengobati lukanya dengan hati-hati namun juga harus cepat karena ia tak mau Devano menunggu dirinya terlalu lama dan berakibat dirinya nanti akan disakiti lagi oleh laki-laki itu.
Setelah beberapa menit berlalu akhirnya kedua telapak tangan Lidya yang terluka kini sudah selesai ia obati tak lupa ia juga beri perban yang melilit telapak tangannya itu. Sedangkan orang-orang hanya melihat dirinya tanpa berniat membantu sedikitpun.
Lidya kini kembali bangkit dari duduk lesehannya kemudian mengulur kotak tadi kearah Nando yang kebetulan berdiri di samping Devano.
"Terimakasih," ucapnya yang tak berani menatap wajah Nando ataupun Devano.
Lagi-lagi tanpa menjawab, Nando langsung merebut kotak tadi dari tangan Lidya. Ia tak peduli jika perlakuan kasarnya itu akan membuat luka Lidya kembali terbuka. Sedangkan Devano yang menyaksikan hal itu pun hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Ikut saya!" perintah Devano yang langsung diangguki oleh Lidya.
Kini semua orang yang tadinya berada di ruangan nomor 2 mulai bergerak menuju ke ruangan yang paling ujung di lorong bawah tanah tersebut.
Setelah mereka sampai didepan pintu ruangan tersebut, anak buah Devano langsung membukakan pintu tadi dan mempersilahkan semuanya masuk kedalam.
Ia benar-benar syok dan tak sanggup melihat pemandangan didepannya saat ini. Bukan pemandangan indah yang ia lihat melainkan pemandangan yang sangat bahkan jauh dari kata mengerikan.
"Silahkan kalau mau balas dendam," ucap Devano mempersilahkan Lidya untuk memulai balas dendamnya.
"I---itu Tiara?" tanyanya dengan lidah yang sangat kelu.
"Ya," Jawab Devano dengan singkat. Mulut Lidya kini menganga lebar dengan tangan yang ia gunakan untuk menutupi mulutnya itu.
Tiara yang terakhir ia lihat masih dalam keadaan baik-baik saja, kini wanita itu justru tengah lemah tak berdaya ditambah tubuhnya penuh dengan darah, rambut panjangnya terlihat dipotong asal hingga pendek, wajah yang selalu putih sekarang berubah menjadi merah dengan bekas sayatan dimana-mana. Tangan dan kakinya di ikat oleh rantai bahkan kedua anggota tubuh itu tak jauh berbeda dengan kondisi wajahnya atau bisa dikatakan lebih mengerikan.
Jika begini ia menjadi tak tega untuk balas dendam karena dalam pikirannya tadi Tiara dalam keadaan baik-baik saja hanya di kurung di dalam ruangan tersebut tapi tak taunya kondisi Tiara sangat mengkhawatirkan.
"Mau pakai pisau, belati, panah atau pistol?" tanya Devano menawarkan alat yang akan digunakan Lidya.
Lidya yang sedari tadi masih syok kini menatap kearah Devano kemudian ia menggelengkan kepalanya.
"Se---sepertinya saya berubah pikiran Pak. Saya serahkan saja urusan Tiara ke Pak Dev," ucap Lidya yang benar-benar tak tega jika harus menambah rasa sakit di tubuh Tiara. Begini-begini ia masih memiliki rasa kasihan.
Devano yang mendengar hal itu mengerutkan keningnya.
"Saya tak tega Pak," tutur Lidya seakan ia tau tatapan Devano yang seperti menuntut sebuah alasan di balik ucapannya tadi.
Devano hanya menganggukkan kepalanya. Mau bagaimana pun ia tak bisa memaksakan Lidya untuk melakukan sesuatu kepada Tiara yang sudah tak sadarkan diri itu. Bahkan Devano tadi juga sempat kaget melihat kondisi Tiara. Tapi untungnya ia bisa mengontrol kekagetannya itu sehingga orang-orang tak bisa melihatnya.
"Baiklah kalau kamu benar-benar tidak ingin melakukannya. Jadi apa kamu masih mau disini?" tanya Devano dengan tatapan dinginnya.
Lidya menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Jika tidak, keluar dan pergi dari sini!" Lidya dengan cepat berlari keluar dari ruangan tersebut sebelum Devano atau anak buah bosnya itu akan melakukan hal-hal diluar dugaannya.
"Salah satu diantara kalian, ikuti dia. Pastikan dia keluar dari rumah ini," ujar Devano dan salah satu anak buahnya pun kini bergerak mengikuti arah perginya Lidya tadi.
...****************...
Yuhu apa kabar semuanya? semoga baik-baik saja ya.
Oh ya author mau kasih tau ke kalian jika cerita ini sebentar lagi atau mungkin beberapa eps lagi akan segera TAMAT. Dan untuk menunggu cerita yang baru kalian juga bisa baca-baca cerita author yang lainnya. Kalau cari cerita yang udah END baca aja yang "My Bos CEO" dan jika kalian cari cerita yang masih ONGOING baca yang "The Triplets STORY" yuk ah yang belum baca dua-duanya segera merapatkan barisan di kedua cerita itu. Author tunggu 🤗
See you next eps bye 👋