Young Mother

Young Mother
S2_Story MK Al, Kiya Part 43


Doni yang baru menyelesaikan makannya pun kini mulai mendekati Devano yang tengah membersihkan wajah Kiya yang terkena eskrim tadi.


"Saya sudah selesai tuan. Kita bicaranya diluar saja sekaligus saya akan memperlihatkan sesuatu kepada tuan," ujar Doni yang membuat Devano menghentikan aktivitasnya tadi lalu menatapnya sebelum berakhir ia menganggukkan kepalanya.


"Papa keluar dulu. Tetap duduk disini, jangan buat ulah," tutur Devano kepada Kiya karena ia takut anak perempuannya itu nanti akan mode jahil ke Yura atau siapapun yang berakhir akan membuat keributan di dalam ruangan tersebut.


Kiya menatap Devano sekilas kemudian ia menganggukkan kepalanya.


Setelah mendapat persetujuan dari Kiya, Devano bergegas menyusul Doni dan Toni yang lebih dulu keluar dari ruangan tersebut. Tapi sebelumnya, ia menghampiri Al dan sang istri terlebih dahulu.


"Papa keluar dulu sebentar ya nak," ujar Devano sembari mengelus kepala Al. Al tersenyum lalu mengangguk.


"Aku keluar dulu, sayang. Dan aku minta sama kamu buat bujuk anak perempuan itu untuk mengingat nomor ponsel orangtuanya biar mereka menjemput dia kesini," tutur Devano yang di peruntukan ke Ciara sembari menunjuk Yura dengan dagunya.


Ciara mengerutkan keningnya saat baru sadar jika di dalam ruangan itu ada Yura juga.


"Baiklah. Biar aku coba nanti," ujar Ciara.


Devano kini tersenyum sembari mengacak rambut Ciara sebelum akhirnya ia benar-benar pergi dari hadapan kedua orang tersayangnya itu.


Saat Devano sudah keluar, ia melihat kedua bodyguard Al itu telah menunggunya tepat di samping pintu kamar inap Al dengan sesekali memberikan siulan untuk menggoda para suster yang melewatinya.


"Mau bicara dimana?" tanya Devano yang membuat keduanya menghentikan siulannya tadi dan mengubah posisi berdirinya menjadi tegap.


"Hmmm sepertinya di mobil saja tuan. Masalahnya barang ini tuh bersifat tajam dan jika dibawa kesini kemungkinan saya akan di tangkap security disini," jawab Doni yang membuat Devano penasaran dengan barang yang dimaksud oleh Doni itu. Bukan hanya Devano saja yang penasaran melainkan Toni pun sama dengan Devano.


"Oke. Beritahu saya jalan menuju mobil kalian," ujar Devano yang diangguki oleh Doni. Dan setalahnya Doni mulai melangkahkan kakinya menuju parkiran rumah sakit tersebut diikuti Devano dan Toni dibelakangnya.


Sesaat setelahnya mereka semua telah sampai di depan salah satu mobil yang digunakan oleh Doni tadi.


"Ini mobilnya siapa? Perasaan saya tidak pernah memberikan kalian model mobil seperti ini," tutur Devano sembari mengamati mobil tersebut.


"Mobil ini saya dapatkan saat di lokasi kejadian tadi. Dan kemungkinan mobil ini adalah salah satu mobil yang digunakan segerombolan orang tadi," ujar Doni.


"Hmmm oke. Buruan katakan apa yang ingin kamu kasih tau ke saya tadi," ucap Devano tak sabaran.


"Silahkan masuk dulu tuan. Saya takut kalau disini nanti ada seseorang yang lihat dan berpikiran yang tidak-tidak dengan kita," tutur Doni yang membuat Devano memutar bola matanya malas. Bisa-bisanya dia di putar-putar oleh anak buahnya sendiri hanya untuk membicarakan sesuatu mengenai kejadian tadi padahal jika di lihat-lihat area parkir itu sangat sepi dan hanya ada mereka bertiga saja. Tapi ya sudahlah, Devano ikuti saja apa maunya bodyguard Al itu. Hingga ia kini sudah masuk kedalam mobil tersebut.


"Cepat katakan," perintah Devano saat mereka semua sudah berada didalam mobil tersebut.


"Jadi begini tuan---" mengalirlah kronologi dari kejadian tadi mulai saat mereka melihat Yura dikejar gerombolan orang tadi hingga berakhir Doni mengatakan jika ia melihat tuan mudanya ingin di tembak oleh salah satu orang-orang tadi tapi untungnya Toni dengan sigap menggagalkan rencana orang tersebut.


"Dan saat Toni tadi membawa tuan muda kesini. Saya menyempatkan untuk menyelidiki orang-orang disana, siapa tau kan ada petunjuk dari dalang atas tindakan tadi. Dan setalah saya geledah orang-orang tadi. Saya menemukan ini," ucap Doni sembari mengeluarkan sebuah kartu nama yang ia temukan tadi dan menyerahkannya ke Devano.


Devano langsung mengambil kartu nama tersebut dan membaca nama yang tertera di sana.


"Prastyo Dwi Cahyo," gumam Devano sembari mengingat-ingat apakah dia pernah mendengar nama itu atau tidak.


"Apa ada sesuatu lagi yang kamu temukan?" tanya Devano karena ia masih penasaran dengan barang yang Doni sebut sebagai barang tajam tadi. Tidak mungkin kan hanya sebuah kartu nama hingga membuat Doni tak berani berbicara hal itu di luar mobil itu?


"Yang satunya. Sebentar tuan saya ingat-ingat dulu dimana saya meletakkannya," ujar Doni yang benar-benar menguras kesabaran Devano.


Toni yang di berikan perintah oleh kembarannya itu pun langsung bergerak untuk mengambil benda yang memang tengah tergeletak di bawah kursi tersebut. Dan setalah ia mengambil benda tersebut, ia langsung memberikannya kepada Doni.


"Di belati ini ada sebuah simbol aneh. Tapi bukan hanya ada di belati ini saja tuan, tapi saya tadi juga menemukan simbol yang sama di samurai mereka. Tapi sayangnya samurai itu terlalu besar untuk saya bawa kesini," ujar Doni sembari menujuk kearah simbol yang terukir di belati tersebut.


Devano mengerutkan keningnya saat melihat simbol tersebut yang baru kali ini ia lihat. Karena selama hidupnya yang sudah bergulat dengan siapapun, Devano baru menemukan simbol seperti itu hari ini juga. Dan kemungkinan simbol itu adalah simbol dari kumpulan para gangster yang tak pernah membuat masalah dengan Devano.


"Kalian tidak menangkap salah satu orang itu?" tanya Devano yang dijawab gelengan keduanya.


"Mereka memilih membunuh dirinya sendiri tuan, sebelum kita seret kehadapan tuan. Dan kemungkinan dalang di balik kejadian ini adalah orang yang tak bisa kita remehkan dan orang itu mungkin juga bukan orang sembarang," ujar Toni.


"Baiklah kalau begitu. Simpan baik-baik benda ini. Kita akan bergerak setelah kita bertemu dengan orangtua dari anak perempuan itu. Dan kemungkinan orangtuanya tau siapa orang dibalik kartu nama ini dan juga tau arti simbol di benda ini," ujar Devano sembari menyerahkan kembali belati tadi ke Doni. Sedangkan kartu nama itu, tetap ia simpan sendiri.


"Baik tuan," ucap Doni dan Toni secara bersamaan.


Dan setelah mengatakan hal itu Devano segera keluar dari mobil tersebut dan bergerak untuk kembali ke kamar inap Al. Tapi baru beberapa langkah saja, ponselnya berdering nyaring yang mengharuskan dirinya menghentikan langkahnya dan segera mengangkat telepon tersebut yang ternyata dari sang istri tercinta.


"Ada apa?" tanya Devano.


📞 : "Aku sudah mendapatkan nomor ponsel orangtua Yura," ucap Ciara.


"Syukurlah kalau begitu. Kamu udah hubungi mereka kan?" tanya Devano.


📞 : "Belum," ujar Ciara.


"Kok belum?"


📞 : "Ya gimana mau nelepon orangtua Yura kalau aku aja gak punya pulsa, sayang. Aku aja telepon kamu lewat aplikasi sejuta umat," tutur Ciara yang membuat Devano melongo tak percaya. Sepertinya sebutan sultan yang tersemat di keluarganya kini perlu di pertanyakan.


"Oh astaga sayang. Ya sudah kirim nomornya sekarang juga biar aku yang telepon," ujar Devano.


📞 : "Oke, aku kirim setelah ini. Tapi sayang, sebelum kesini aku nitip sesuatu, boleh?"


"Katakan."


📞 : "Tolong beliin roti jepang," ucap Ciara.


"Roti jepang apaan?"


📞 : "Ck, itu lho sayang, pembalut. Yang ada sayapnya ya. Thanks sayangku. Love you," tutur Ciara dan tanpa menunggu persetujuan dari Devano, ia lebih dulu mematikan sambungan telepon tersebut yang membuat Devano berdecak sebal.


"Yang benar saja dia minta di beliin begituan sama aku. Haish untung istri sendiri pakai sayang pula. Dah lah masalah malu pikir nanti," ucap Devano tapi sebelum dirinya mulai melangkahkan kakinya pergi, ia menolehkan kepalanya kearah Toni dan Doni.


"Kalian ikut saya," perintah Devano.


"Kemana tuan?" tanya Toni.


"Ikut saja," ujar Devano kemudian langsung melangkahkan kakinya tanpa mau mendengarkan penolakan dari dua orang itu terlebih dahulu. Sedangkan Doni dan Toni kini hanya bisa pasrah saja dengan perintah tunanya tadi dan alhasil mereka berdua kini mengikuti langkah Devano dari belakang.