Young Mother

Young Mother
Jurus Tendangan Bokong


Setelah sampai di dalam ruangannya, Devano berlari sekencang-kencangnya menuju ruang rahasia. Saat sudah sampai di depan pintu, ia langsung membuka dengan cepat dan menelisik setiap inci ruangan tersebut.


"Sayang," panggil Devano saat tak ada Ciara di ruangan tersebut.


"Sayang, kamu dimana? jawab!" teriak Devano lagi yang sudah mulai khawatir. Tapi teriakannya tak di jawab oleh sang istri.


Devano berdecak kemudian ia berlari keluar dari ruang rahasia dan betapa terkejutnya saat melihat Ciara tengah duduk manis di bawah karpet dekat sofa ruang kerja Devano tak lupa di depannya ada semangkuk bakso di sana.


Devano menghela nafas lega, perlahan ia mendekati istrinya dan duduk di sofa disamping Ciara.


"Sayang dari mana saja?" tanya Devano sembari mengelus rambut Ciara. Ciara yang awalnya fokus dengan makanannya kini mengalihkan pandangannya ke arah suaminya dengan cengiran kudanya.


"Tadi habis keluar beli bakso. Salah siapa kamu tadi gak ada jadinya aku keluar sendiri," tutur Ciara dengan diakhiri kerucutan di bibirnya.


"Maaf sayang. Aku tadi meeting sebentar." Ciara berdecak dan menghiraukan ucapan Devano tadi lalu kembali dengan makanan di depannya. Menyantapnya dengan nikmat.


Devano yang tak suka di diamkan kini mengubah posisi duduknya hingga kedua kakinya menghimpit badan Ciara.


"Ish, minggir. Masih banyak tempat di ruangan kamu atau kalau gak kerja sana," usir Ciara yang mulai terusik dengan kejahilan tangan Devano yang mulai berkelana kemana-mana di tubuh Ciara.


"Kerjaan aku udah selesai. Tapi hanya satu yang belum tertuntaskan," bisik Devano tepat disamping telinga Ciara.


Ciara menengadahkan kepalanya supaya dia bisa melihat suaminya yang berada di belakangnya.


"Ya udah kalau gitu buruan di selesaikan!" perintah Ciara.


Devano tersenyum jail dan tanpa permisi ia menangkup pipi Ciara agar sang empu tak bisa merubah posisi kepalanya kemudian ia mencium bibir sang istri dengan gemasnya.


Ciuman mereka semakin dalam dan ganas ditambah dengan tangan Devano yang tak bisa diam, pegang sana pegang sini menjelajah setiap inci tubuh Ciara. Hingga suara ketukan pintu menghentikan aktivitas yang sebentar lagi akan panas itu.


"Ck, ganggu," decak Ciara tak suka saat pautan kedua bibir itu diakhiri sepihak oleh Devano.


Devano yang melihat raut wajah masam dari istrinya itu hanya bisa tersenyum gemas dan sebelum beranjak menuju kursi kebesarannya, ia sempatkan untuk menggigit pipi gembul Ciara.


"Masuk!" teriak Devano setelah duduk di kursi kebesarannya tak lupa raut wajahnya telah berubah drastis menjadi sangat dingin dan menyebabkan suasana dalam ruangan tersebut tampak mencekam. Bahkan Ciara sampai bergidik negeri melirik sekilas kearah suaminya.


Tak berselang lama setelah teriak Devano tadi, pintu di ruangan tersebut terbuka dan menampilkan sekertaris lama Devano yaitu Lidya. Devano yang melihat Lidya yang berada di balik pintu pun langsung melirik kearah Ciara yang sudah menajamkan pandangannya kearah perempuan yang selalu saja berpakaian kurang bahan itu.


"Siap-siap perang dunia," batin Devano yang sudah memiliki firasat tak baik setelahnya.


Lidya kini sudah berdiri di depan Devano yang hanya terhalang meja. Dengan senyum manisnya ia menyelipkan rambut ke belakang telinga.


"To the point," ucap Devano saat Lidya sudah mulai membuka mulutnya untuk berbicara.


Lidya tampak menghela nafas.


"Ini Pak, saya di utus oleh Pak Anggara untuk menyerahkan dokumen proyek di kota Surabaya yang akan di selenggarakan bulan depan," ujar Lidya sembari menyerahkan dokumen yang tadi ia pegang ke hadapan Devano tak lupa ia juga dengan sengaja membungkukkan badannya agar buah dadanya bisa di lihat Devano. Emang perempuan ini masih saja gencar-gencarnya merayu Devano yang notabenenya sudah beristri. Prinsipnya kalau dia tak bisa menjadi istri pertama maka istri kedua boleh juga dan harus ia coba. Gila memang pemikiran perempuan yang tak tau malu itu.


Ciara yang sedari tadi sudah memasang kuda-kuda dan berdiri di belakang Lidya tanpa sepengetahuan sang empu dengan sengaja ia menendang bokong Lidya saat tubuh Lidya masih membungkuk. Karena tendangan yang cukup keras, sang empu hampir saja terjatuh dan membentur meja di depannya. Tapi untung saja tubuhnya masih bisa ia seimbangkan.


"Sudah di peringkat berulang kali kalau pakai baju itu yang sopan. Ini dikantor bukan club malam," ucap Ciara tanpa merasa bersalah sedikitpun setelah menendang bokong yang ia yakini bokong itu sudah tak suci lagi. Bahkan sekarang ia menatap tubuh Lidya yang sudah kembali berdiri tegak dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Lidya yang baru menyadari jika di dalam ruangan tersebut ada Ciara kini mengepalkan tangannya, sia-sia saja ia tadi mengunci Hisna, sekertaris Devano di kamar mandi kalau ujung-ujungnya ia harus berhadapan dengan pawang bosnya langsung.


"Kalau kamu masih berpakaian kurang bahan seperti ini mending kamu keluar dari kantor ini. Karena kantor ini gak nerima karyawan yang berkedok lonT kayak kamu," tutur Ciara diakhiri dengan mengacungkan jari tengah tepat di depan wajah Lidya. Lidya yang sudah tersulut emosi pun hanya mengepalkan tangannya tanpa bisa berbuat apapun karena disana ada Devano, coba saja di ruangan itu hanya ada dirinya dan Ciara. Sudah dipastikan bahwa Ciara akan menerima akibat dari ulahnya tadi.


"Jika tak ada kepentingan lain. Keluar!" gertak Devano tegas tanpa memandang Lidya sedikitpun.


Lidya yang merasa di pojokan pun dengan dongkol melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Devano.


"Awas saja aku akan balas kamu, Ciara!" geram Lidya setelah itu ia kembali melangkahkan kakinya menuju ruangannya.


Sedangkan di dalam ruangan Devano, Ciara sudah berkacak pinggang dengan tatapan nyalang ke arah Devano.


"Aku juga gak tau kenapa dia bisa kesini sayang," jelas Devano saat tau sorot mata Ciara yang menuntut penjelasannya sembari berjalan kearah Ciara. Setelah sampai ia langsung menarik tubuh istrinya itu kedalam pelukannya.


"Udah ya jangan marah-marah lagi. Aku minta maaf. Dan aku biasanya juga nyuruh Hisna buat cegah dia supaya gak masuk kedalam ruanganku tapi entah kenapa dia bisa masuk hari ini," sambungnya sembari mengelus punggung Ciara agar sang empu cepat merendam emosinya.


"Emang Hisna kemana? gak bertanggungjawab banget, udah di kasih amanah kok diabaikan gitu aja," tutur Ciara yang masih geram.


"Aku juga gak tau sayang. Biar aku lihat ke depan sebentar." Devano melepaskan pelukannya dan menatap wajah Ciara sesaat sebelum melangkahkan kakinya kedepan ruangannya diikuti Ciara di belakang.


"Loh kemana dia?" tanya Devano saat tak menemukan sang sekertaris di dalam ruangan itu.


"Dia gak ada?" tanya Ciara yang hanya menyembulkan kepalanya di antara pintu ruangan Devano.


Devano menolehkan kepalanya kemudian menggelengkan kepalanya.


Tak berselang lama, dering ponsel pribadinya berbunyi dan segera ia angkat setelah melihat siapa yang meneleponnya.


"Halo. Kamu kemana saja? ini masih jam kerja. Tak seharusnya kamu berkeliaran tanpa izin dari saya!" ucap Devano dengan datar.


Ciara kini mendekati suaminya dan ikut menguping pembicaraan Devano dan orang di sebrang telepon tersebut yang ia pastikan bahwa orang itu adalah Hisna. Ciara kalau dengan Hisna, ia biasa-biasa saja karena wanita itu penampilannya sangatlah tertutup bahkan berhijab di tambah Hisna juga sudah memiliki calon suami. Jadi sudah dipastikan bahwa sekertaris Devano yang satu ini aman tak mengancam rumah tangganya.


📞 : "Maaf Pak. Saya tadi hanya ke kamar mandi sebentar tapi saat saya mau keluar tiba-tiba pintu kamar mandi yang saya pakai tak bisa saya buka," ucap Hisna dari sebrang yang membuat Ciara dan Devano saling pandang.


"Hisna, katakan kamu sekarang dimana biar saya kesana." Bukan Devano yang berucap melainkan Ciara yang sudah mengambil alih ponsel Devano.


📞 : "Saya berada di kamar mandi sebelah meeting room Bu di bilik nomor dua. Saya ke kamar mandi ini karena kamar mandi di sebelah ruangan saya baru di bersihkan tadi. Saya mohon tolong saya Bu," ucap Hisna yang sedikit ketakutan.


"Kamu tenang dulu. Saya akan kesana sekarang juga," tutur Ciara. Dan tanpa mendengar jawaban dari Hisna kembali, Ciara sudah memutus sambungan telepon tersebut dan menyerahkan ponsel tadi ke Devano.


"Kamu panggil OB. Suruh mereka kasih kunci cadangan di kamar mandi dekat meeting room," ucap Ciara sebelum dirinya melenggang pergi.


Devano yang melihat punggung Ciara semakin menjauh hanya bisa menghela nafas. Kalau bukan istrinya ia tak akan mau di perintah seperti tadi. Karena Devano tergolong kedalam manusia yang tak mau di perintah dan ingin menang sendiri. Tapi berhubung dia bucin setengah mati dengan Ciara, ia tak masalah di perintah oleh bidadari dunia dan surganya itu. Maka dari itu ia sekarang segera beranjak menuju ke ruang OB yang berada di lantai paling bawah.