Young Mother

Young Mother
Tingkah Konyol


Dengan nafas yang naik turun, Devano menatap tajam Rafa yang sudah berada dihadapannya.


"Lo niat gak sih ngajak gue liburan dan nginap di apartemen lo ini?" tanya Devano.


"Ya niat lah."


"Kalau niat kenapa disini cuma ada peralatan makan satu set, gelas juga cuma satu dan di sini gak ada sama sekali perabotan buat masak apalagi bahan makanan. Lo kira gue disini cuma makan angin doang ha?" Rafa menggaruk tengkuknya dengan cengiran khas di bibirnya.


"Gue juga gak tau Dev kalau disini cuma ada itu doang. Gue juga udah lama gak nempatin nih apartemen," ucap Rafa.


Tampak terdengar helaan nafas kesal dari Devano.


"Terus mau gimana dong ini?" Tanya Devano.


"Makan di restoran aja lah," jawab Rafa dengan enteng.


"Untuk sekarang mungkin kita bisa pergi ke restoran buat makan tapi kalau di tengah malam lo atau gue lapar atau haus gimana? Sedangkan disini gak ada apapun. Air putih pun juga gak ada. Emang lo mau minum air kran?"


Rafa dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Ya enggak lah. Ya udah lah kita belanja aja di minimarket bawah," ucap Rafa.


"Di minimarket itu cuma ada bahan makanannya aja. Alat masak dan alat makan gak ada," tutur Devano tak setuju dengan ucapan Rafa tadi.


"Supermarket gimana?"


"Oke. Kita pergi sekarang." Tanpa banyak kata lagi, Devano bergegas untuk mengganti pakaiannya begitu juga dengan Rafa.


Hingga tak butuh waktu lama, mereka telah siap dengan style masing-masing yang membuat aura ketampanan mereka berdua terpancar.


Dengan langkah beriringan mereka berdua menuju mobil yang sudah siap didepan lobi apartemen.


"Lo yang nyetir!" perintah Rafa dengan melemparkan kunci dari tangannya ke arah Devano.


Dengan terpaksa Devano akhirnya memposisikan dirinya di belakang kemudi dengan Rafa yang sudah duduk di sampingnya.


Mobil pun kini melaju dengan kecepatan sedang menuju supermarket di kota tersebut.


"Supermarketnya tutup anjim," umpat Rafa saat mereka berdua telah sampai di supermarket terbesar di kota tersebut.


"Ngalamat gak makan selama disini," gerutu Devano sebal.


"Cari dimana supermarket lainnya yang didekat sini!" perintah Devano.


"Kalau didekat sini adanya cuma mall. Kalau supermarket yang lain masih jauh," ucap Rafa.


"Haish. Ya udah, kasih tau arah mall kita kesana sekarang." Rafa menganggukkan kepalanya dan dengan laju mobil yang melambat, Rafa memberikan arahan ke Devano walaupun sebenarnya di dalam mobil tersebut ada GPS namun nampaknya Devano lagi tak mood menggunakan alat canggih tersebut.


Mobil yang mereka tumpangi saat ini sudah berada di parkiran mall tersebut. Dengan segera Devano maupun Rafa keluar dari mobil BMW sport Z4.


Dengan langkah cool mereka berdua memasuki mall tersebut dengan arah tujuan pertama kali yaitu supermarket yang kebetulan ada didalam mall.


"Lo yang bawa trolinya, gue yang milih bahannya," ucap Devano dengan menyerahkan troli kepada Rafa. Dengan terpaksa Rafa menuruti perkataan Devano. Dan kedua pria dewasa tersebut kini terlihat seperti layaknya sepasang kekasih dengan percekcokan yang selalu terlontar di antara keduanya saat diantara salah satu dari mereka tak menyetujui dengan pilihan mereka masing-masing.


Seperti saat Rafa ingin membeli satu set alat makan untuk Devano dan dengan tegas Devano menolak set alat makan tadi.


"Ini bagus Dev," ucap Rafa masih meyakinkan Devano.


"Gak."


"Tapi ini kualitasnya bagus banget lho." Devano menghela nafasnya.


"Kualitas memang bagus tapi warnanya gak bagus ogep. Lo kira gue cewek apa mau dibeliin perabotan warna pink. Gak punya otak emang," ucap Devano sebal. Setelah itu ia meninggalkan Rafa dengan beberapa orang yang tadi melihat adu cekcok diantara mereka berdua.


...*****...


Sedangkan saat ini ketiga perempuan dewasa sudah dibuat tepar dengan keaktifan Al yang semakin menjadi.


"Ya ampun aku menyerah," ucap Olive sembari menduduki tubuhnya disemping Dea yang lebih dulu menyerah.


"De, kamu punya air putih gak? Kakak minta dikit lah," sambung Olive sembari mengipasi mukanya dengan tangannya.


"Udah habis Kak," jawabnya.


"Haish. Aku haus banget ini, astaga mana gak ada air minum lagi. Arkh," ucapnya frustasi.


"Aku juga haus kali Liv. Gak cuma kamu doang," timpal Ciara.


"Lebih malangnya lagi aku sekarang. Karena aku benar-benar lapar, perut udah keroncongan dari tadi," tutur Dea ikut menimpali.


"Kita ke restauran disini yuk," ajak Olive. Dengan kompak Ciara dan Dea membenarkan posisi duduknya lalu mereka menatap Olive dengan berbinar.


"Yuk ah gas," ucap Ciara. Mereka bertiga pun berdiri dari duduknya dan beranjak meninggalkan area Timezone tersebut.


"Eh bentar deh," ucap Ciara saat mereka sudah keluar dari Timezone.


"Kenapa?" tanya Olive penasaran.


"Kayak ada yang kurang gitu tapi apa ya?" tanya Ciara sembari berfikir barang apa yang ia tinggalkan disana.


Dea membelalakkan matanya.


"Astagfirullah Kak. Al belum ada," ucap Dea heboh.


Ciara menepuk jidatnya. Bisa-bisanya dia lupa dengan anaknya sendiri yang masih tertinggal didalam area bermain tersebut. Dengan lari kencang ketiganya masuk kembali dan mencari keberadaan Al yang masih anteng mengamati setiap orang yang selalu memainkan permainan disana.


"Itu dia!" teriak Olive yang membuat orang-orang disana menatap mereka. Dengan cengiran Olive meminta maaf kepada pengunjung yang telah terganggu dengan suara cetarnya.


Mereka bertiga pun menghampiri Al. Ciara menjongkokan tubuhnya hingga sejajar dengan Al.


"Sayang!" panggilnya lembut.


Al yang mendapat sentuhan di kepalanya pun menengok kearah Ciara berada.


"Al, mainnya udah ya nak. Besok lagi ya," sambung Ciara. Namun bukanya langsung mendapat persetujuan dari sang anak, Ciara malah mendapatkan penolakan.


"No Mama," tolaknya.


"Tapi sayang. Mama, aunty Olive sama aunty Dea udah capek dan lapar. Emang Al gak lapar gitu?" Al nampak terdiam sebentar ia lapar tapi karena asik dengan dunia permainan tersebut rasa laparnya dapat teralihkan.


"No," bohongnya. Namun sesaat setelah ucapnya terlontar, bunyi keroncongan dari perut Al berbunyi yang membuat Ciara menahan tawanya.


"Tuh kan. Perut Al aja udah ngomong sama Mama kalau minta diisi. Kita makan dulu yuk, kapan-kapan kalau Mama ada rezeki yang banyak dan juga lagi libur kerja kita kesini lagi ya. Mama janji," ucap Ciara dengan menyodorkan jari kelingkingnya ke hadapan Al. Al nampak berpikir sejenak dan akhirnya jari kelingking Ciara ia balas dengan jari kelingking kecil miliknya yang ia lingkarkan di jari kelingking Ciara.


Ciara tersenyum dan bangkit dari jongkoknya.


"Let's go. Kita makan," ucap Ciara sembari menggandeng tangan Al menuju salah satu restoran di lantai dua mall tersebut.


...*****...


Disisi lain, Devano dan juga Rafa baru selesai berbelanja keperluan dapur. Dan mereka kini baru keluar dari supermarket di mall tersebut dengan membawa barang belanjaannya.


"Makan dulu lah. Gue lapar nih," ucap Rafa.


"Nanti aja kita cari restauran di dekat apartemen," tolak Devano.


"Ck lama kalau nanti. Please lah Dev, gue benar-benar lapar nih. Lo mau gue pingsan disini?" Devano memutar bola matanya malas. Lalu ia melangkahkan kakinya meninggalkan Rafa yang masih mematung disana.


"Haish tuh orang gak punya perikemanusiaan," gerutu Rafa. Ia kini berlari menghampiri Devano.


"Dev, tungguin!" teriaknya. Dengan malas Devano menghentikan langkahnya. Saat Rafa sudah berada di depannya, Rafa malah merebahkan dirinya di lantai mall tersebut. Orang yang sedang berlaku lalang pun menatap Rafa dan Devano bergantian.


"Astagfirullah, nih anak malu-maluin," batin Devano.


"Raf, bangun hoy," ucap Devano lirih.


"Anjim bangun gak lo. Gue tinggalin nih," ancamnya namun ancamannya sama sekali tak mendapat respon dari Rafa.


Devano berdecak sebal sebelum akhirnya ia memilih mengalah saja dan menuruti keinginan Rafa tadi dari pada ia malu sendiri dengan tingkah konyol sahabatnya itu.


"Lo bangun kita makan sekarang," ucap Devano yang sudah kembali menegakan tubuhnya.


Setelah mendengar ucapan Devano tadi, Rafa membuka matanya dan kembali bangkit dari rebahannya tadi.


"Let's go," ucap Rafa tanpa rasa malu sedikitpun. Devano hanya bisa menggelengkan kepalanya dan mengikuti arah langkah dari Rafa. Biarkan dia yang memilih restaurannya dari pada ia harus mendapat tingkah absurd dari Rafa lagi untuk yang kedua kalinya.