
Mobil yang ditumpangi oleh Mommy Nina dan juga Al kini sudah memasuki lingkungan rumah utama keluarga Rodriguez. Saat mobil itu telah berhenti, Mommy Nina dan juga Al langsung turun dari mobil tersebut yang didepan mobil tadi sudah terdapat mobil milik Devano yang sudah terparkir rapi disana, menandakan bahwa sang empu mobil sudah berada dirumah tersebut.
Al yang mengerti jika mobil itu milik sang Papa, ia segera berlari masuk kedalam rumah yang kebetulan pintu rumah tersebut terbuka sedikit dan memudahkan Al langsung nerobos masuk begitu saja tanpa susah payah harus menjangkau knop pintu terlebih dahulu.
"Papa!" Teriak Al menggema memenuhi seisi rumah tersebut.
Devano yang tengah terduduk di ruang keluarga sembari menikmati kopi di tangannya, sempat terperanjat kaget karena teriakan Al tadi. Sedangkan Ciara yang tadi baru di kamar Devano untuk beristirahat kini harus terganggu dan membuat dirinya segera turun ke lantai bawah.
"Papa! Mama!" Teriak Al lagi saat dirinya tak mendapati orangtuanya di sekitar ruang tamu.
"Papa diruang keluarga sayang!" Jawab Devano dengan teriakan pula.
Al yang mendengar suara Devano, ia kembali berlari dan saat dirinya sudah melihat tubuh tegap milik sang Papa, ia segera menghampirinya.
"Papa," ucap Al saat dirinya sudah memeluk tubuh Devano yang seperti biasa saat Al berlari mesti Devano telah siap sedia menjongkokan tubuhnya untuk menyambut pelukan hangat dari putra tampannya itu.
"Kenapa boy?" Tanya Devano sembari menggendong tubuh Al menuju ke sofa ruangan tersebut tak lupa tangannya aktif mengelus punggung Al.
"Papa, tadi Al dimarahin sama tante-tante badut," adu Al. Ia sekarang memang lah sangat terbuka setalah kedatangan Devano disampingnya. Semua yang ia alami, baik itu senang ataupun sedih ia pasti akan menceritakannya kepada Devano maupun Ciara. Bukan seperti dulu yang apa-apa ia simpan sendiri didalam hatinya karena dia tak mau menjadi beban Ciara jika ia cerita semua hal yang ia alami di sekitarnya yang membuat hatinya sedih ataupun senang.
Devano yang mendengar aduan dari Al pun kini mengerutkan keningnya. Kemudian ia melepaskan pelukannya dan menatap Al yang tengah mengerucutkan bibirnya.
"Tante badut?" Tanya Devano bingung. Belum sempat Al menjawab, suara Ciara menghentikan bibirnya yang ingin berucap.
"Hay boy. Gimana jalan-jalan sama Mai? Seru tidak?" Tanya Ciara sembari mendekati anaknya juga Devano.
Al tambah mencebikkan bibirnya saat ingatannya kembali memutar kejadian tadi di mall.
"Awalnya memang seru tapi setelah Al bertemu sama Tante badut, jalan-jalan Al sama Mai jadi berantakan," gerutu Al.
Ciara kini mendudukkan tubuhnya di samping Devano, walaupun masih enggan untuk sekedar duduk bersebelahan dengan sang suami tapi Ciara memaksakan hal itu. Karena jika dipikir-pikir lagi, sikapnya itu sudah sangat kelewatan kepada Devano walaupun ia tau itu bukan ke inginannya tapi melihat raut wajah kecewa dari Devano atas penolakannya akhir-akhir ini membuat hatinya sakit sendiri. Dan mulai hari ini ia akan berusaha menepis rasa muaknya itu ke suaminya.
"Tante badut?" Reaksi Ciara benar-benar sama dengan reaksi yang dikeluarkan Devano tadi.
Al mengangguk dengan mantap.
"Iya. Al menyebut Tante itu Tante badut karena polesan diwajahnya udah kayak badut yang sering Al lihat di pinggir jalan dan saat menghadiri pesta ulangtahun teman Al," ucap Al dengan polosnya.
Devano dan Ciara kini saling pandang, mereka masih tak paham siapa sosok wanita itu yang dipanggil Tante badut oleh anak mereka ini. Hingga suara Mommy Nina menimpali ucapan Al tadi yang membuat mereka bertiga mengalihkan pandangannya ke Mommy Nina.
"Tiara siapa?" Tanya Devano.
Mommy Nina berdecak kesal dengan respon Devano itu. Entah anaknya itu pura-pura lupa atau emang sudah pikun.
"Tiara mantan kamu lah, mau siapa lagi coba," jawab Mommy Nina.
Devano kini membelalakkan matanya, begitu juga dengan Ciara, ia kini menatap Devano dengan tatapan tajam.
Devano yang merasakan aura keganasan singa betina, ia perlahan menolehkan kepalanya menatap wajah Ciara yang sudah sangat tak enak dilihat itu.
"Jangan salah paham dulu sayang. Tiara memang mantan pacar aku, tapi tenang saja hatiku sepenuhnya hanya untukmu. Tak ada yang bisa merebutnya darimu. Mantan ya mantan harus sepatutnya dibuang, benar begitu kan sayang?" Tutur Devano mencoba merayu Ciara agar sang istri nanti tak merajuk padanya.
Ciara memutar bola matanya malas saat mendengar rayuan gombal jaman baheula dari Devano itu.
"Mom gak ikut campur deh. Mom mau ke kamar dulu, kaki Mom rasanya mau pisah dari badan. Kalian tanya saja sama Al dan suruh cerita kejadian tadi. Mom mau istirahat bye," tutur Mommy Nina dan dengan susah payah ia bangkit dari duduknya lalu pergi menuju kamarnya.
Setalah Mommy Nina tak terlihat lagi, Ciara menatap penuh dengan kasih sayang kearah Al. Mengabaikan ucapan Devano tadi.
"Emang kenapa dengan Tante Tiara, sayang?" Tanya Ciara penuh dengan kelembutan.
"Al tadi di mall tidak sengaja menabrak Tante badut karena Al main lari-larian disana. Al juga tau Al salah makanya Al langsung minta maaf sama Tante badut. Tapi Tante itu malah marah-marah sama Al dihadapan orang banyak," jelas Al.
"Tapi setalah itu ada Tante cantik yang nolongin Al dan tak lama Mai datang buat marahin balik Tante badut itu," sambung Al.
Ciara tampak menghela nafas.
"Lain kali Al jangan lari-lari di tempat yang cukup ramai, contohnya di mall, di pasar, di kantornya Papa atau di supermarket ya, nak. Karena kalau Al lari-lari di tempat itu, Al bisa membahayakan diri Al sendiri, seperti tadi contohnya. Coba Al bayangin kalau disana cuma ada Al saja tanpa ada Tante cantik dan Mai, pasti Al tambah bingung dan tambah takut, bukan?" Al tampak terdiam sesaat sebelum akhirnya ia mengangguk.
"Bukannya Mama mau membela Tante Tiara. Mama hanya tidak mau melihat Al dimarahi orang lain seperti tadi atas kesalahan Al sendiri. Jadi Mama harap Al jangan mengulangi hal itu lagi ya sayang," tutur Ciara masih dengan kelembutan sembari mengelus kepala Al.
Al kini menatap Ciara dengan mata yang berbinar kemudian ia memeluk tubuh Ciara sangat erat.
"Maafin Al Mama," ucap Al.
"Mama maafin Al. Tapi ingat pesan Mama, jangan diulangi lagi ya sayang. Supaya Al terhindar dari bahaya dan juga terhindar dari kemarahan orang disekitar Al." Al menganggukkan kepalanya di sela dada Ciara yang dijadikan senderan untuk kepalanya.
Sedangkan Devano, ia sekarang tambah terkagum dengan istrinya itu. Sifat lemah lembut Ciara ini yang mampu membiusnya. Mampu membuatnya semakin hari semakin bertambah saja rasa sayang dan cintanya. Tidak salah memang dirinya menjatuhkan pilihannya kepada Ciara untuk menjadi ibu dari anak-anaknya itu.