
Paginya, dirumah Devano dan Ciara telah di hebohkan dengan datangnya Kiara yang sudah berada di rumah tersebut dan kini perempuan itu tengah asik menggendong Kiya yang baru saja selesai Ciara mandikan.
"Hmmm wanginya keponakan Ante," ucapnya sembari menciumi pipi Kiya dengan membabi buta dan hal itu membuat Kiya tak nyaman dan berakhir menangis.
"Ck, jangan di bikin nangis terus lah, Ki," sebal Ciara sembari meraih tubuh Kiya dari gendongan Kiara. Pasalnya anaknya itu sudah 5 kali menangis pagi ini karena ulah Kiara tentunya. Untung saja yang di ganggu Kiya bukan Al, jika Al mungkin dia bisa dibalas oleh keponakan tampannya itu.
"Iya ish. Kasihan baby Kiya Aunty," timpal Al yang baru bergabung dengan mereka bertiga di ruang keluarga.
"Aunty gak ngapa-ngapain baby Kiya lho Al. Cuma nyium doang kok," tutur Kiara membela dirinya sendiri.
"Tapi aunty ciumnya gak pakai hati," cerocos Al yang masih tak terima jika adik kesayangannya itu harus menangis terus-menerus.
"Tapi kan---" Ucapan Kiara harus terhenti saat suara Al kembali mengintruksi.
"Stop aunty gak ada tapi-tapian lagi. Kalau sampai aunty bikin baby Kiya nangis lagi, besok-besok Al gak kasih izin aunty buat jagain baby Kiya," ucap Al final yang membuat Kiara mencebikkan bibirnya. Sedangkan Ciara yang sedari tadi memperhatikan keduanya sembari menyusui Kiya pun terkekeh kecil saat melihat Kiara dengan mudah dikalahkan oleh Al.
Saat diruang keluarga di ributkan dengan perdebatan kecil antara Tante dan keponakannya, didepan rumah kini juga tengah heboh dengan adanya dua orang wanita yang tengah berlari ngacir masuk kedalam rumah tersebut.
"Assalamualaikum. Aunty paling cantik, kece, semlehoy datang berkunjung! yuhuuuuuu!" teriakan cetar membahana masuk kedalam indra pendengaran semua orang yang berada di dalam rumah tersebut.
Dea yang berada disamping Olive pun langsung menyenggol lengan sang empu.
"Jangan teriak-teriak kali Kak. Malu ih," ucap Dea. Baru saja Olive ingin menimpali ucapan dari Dea tadi, suara Ciara mampu mengatupkan bibirnya.
"Waalaikumsalam," jawab Ciara yang baru muncul sembari menggendong Kiya diikuti Al di belakangnya.
Olive yang melihat adanya tubuh gembul Kiya pun langsung mendekati Ciara. Matanya langsung berbinar saat melihat wajah cantik Kiya.
"Ck, cetakan kamu sama Dev kok gak pernah gagal sih Ci. Heran aku tuh. Punya anak modelan Al sama Kiya gini. Cara kamu bikin ginian gimana biar hasilnya cakep-cakep kayak mereka?" tanya Olive dengan mencium sekilas pipi tembem Kiya.
"Kamu mau tau tipsnya?" bukannya menjawab Ciara balik bertanya sembari ia berjalan menuju sofa di ruang tamu.
Dengan tatapan berbinar Olive menganggukkan kepalanya ketika ia sudah duduk disamping Ciara.
"Kalau mau tau ya nikah dulu lah," jawab Ciara yang membuat Olive mencebikkan bibirnya.
"Aku gak kepikiran buat nikah Ci," ucap Olive dengan sendu.
"Kenapa? Nikah itu enak lho, ya walaupun masih ada gak enaknya juga sih tapi kalau di bandingkan masih banyakan enaknya kok. Atau jangan-jangan kamu gak suka cowok lagi. Astagfirullah Liv gak boleh gitu ih, dosa."
Pletakkk!!
Pukulan maut dari tangan Olive mendarat di kening Ciara yang membuat sang empu meringis kesakitan.
"Otakmu itu lho Ci. Negatif thinking mulu sama aku. Bukan karena aku gak suka cowok tapi belum siap aja buat nikah. Toh pasangannya aja belum nemu," tutur Olive dengan sendu.
"Lho bukannya kamu sama---" mulut Ciara kini dibungkam oleh Olive menggunakan telapak tangan perempuan itu sebelum dirinya menyelesaikan ucapannya tadi.
"Jangan bahas itu. Dia udah aku tendang sampai pluto," geram Olive sembari melepaskan tangannya dari bibir Ciara.
Ciara yang akan angkat suara kini terhenti saat melihat wajah Olive yang menjadi masam. Mungkin perempuan itu tengah ada masalah dengan kekasihnya yang baru beberapa bulan ini hubungan mereka terpublis sehingga ia tak mau siapapun membahas hubungannya itu. Ya sudah lah ya biarkan saja mereka menikmati pahitnya pacaran.
Olive yang tadinya menundukkan wajahnya pun kini ia sudah kembali menegakkan kepalanya. Matanya juga tengah aktif menatap keseluruhan penjuru ruangan tersebut untuk mencari keberadaan Al. Hingga ia menghela nafas lega saat sadar jika Dea juga tak ada diruangan tersebut.
"Lagi sama Dea kayaknya," ucap Olive.
"Hmmm iya kayaknya. Ya udah kita cari mereka aja dan gabung sama mereka." Olive menganggukkan kepalanya setalah itu mereka beranjak menuju ruang keluarga yang disana sudah ada Al dan kedua perempuan dewasa yang tengah bermain lego.
Saat Ciara baru mendudukkan tubuhnya untuk bergabung dengan yang lainnya, Devano datang menghampirinya.
"Mau sekarang atau nanti?" tanya Devano yang sudah memakai pakaian kasual.
Semua orang yang ada disana menatap kearah Devano bahkan Olive dan Kiara kini menatap laki-laki itu dari atas sampai bawah.
"Ciaelah bapak dua anak ini stylenya kayak anak muda banget," tutur Kiara. Devano yang tadinya tengah menatap wajah sang istri harus teralihkan.
"Maaf-maaf nih ya. Kakak iparmu ini memang masih muda bahkan julukan hot Daddy sudah aku dapatkan," ucap Devano sombong.
"Iyain aja lah biar cepat," tutur Kiara padahal didalam hatinya ia membenarkan ucapan dari Devano tadi yang memang kenyataannya bukan hanya sekedar membual saja.
Devano tak menanggapi ucapan dari Kiara tadi dan ia kini kembali menatap Ciara sembari memainkan tangan Kiya yang jari-jemari mungilnya itu menggenggam erat jari telunjuk Devano.
"Sekarang aja deh," ucap Ciara dan kini ia berdiri dari duduknya tapi sebelumnya Devano sudah melepaskan kaitan tangan Kiya.
"Liv, titip mereka berdua ya. Jangan bikin salah satu dari mereka nangis. Kalau sampai itu terjadi, aku geprek kamu. Dan kalau Kiya haus, suruh Mbak Frida hangatin ASI di freezer," ucap Ciara sembari memindahkan tubuh Kiya dalam gendongan Olive.
"Beres. Semuanya pasti bisa aku tangani." Ciara tersenyum kemudian ia mencium pipi Kiya dan setelahnya berpindah ke Al yang masih sibuk bermain.
"Al." Al yang merasa dirinya dipanggil pun menoleh kearah sumber suara.
"Iya Mama," jawab Al.
"Mama sama Papa berangkat dulu ya sayang. Jangan nakal sama aunty Dea, aunty Kiara sama aunty Olive ya. Dan bantu mereka buat jagain baby Kiya, oke sayang?" Al menganggukkan kepalanya.
"Oke Mama," ucap Al sembari mengacungkan jempolnya. Ciara yang gemas pun langsung menghujani Al dengan ciumannya setelah itu ia baru beranjak menuju kearah Devano lagi.
"Kita berangkat dulu. Assalamualaikum," pamit Ciara kepada keempat orang disana ditambah Kiya yang belum tau apa-apa.
"Waalaikumsalam," ucap mereka serempak.
"Hati-hati. Jaga diri Ci, jangan sampai lecet nanti kalau berhadapan langsung dengan cabe-cabean!" teriak Olive yang di beri acungan jempol oleh sang empu karena Ciara perlahan sudah menjauh dari mereka semua.
Yap, Olive, Dea maupun Kiara sudah tau cerita yang sebenarnya mengenai penculikan Al pada waktu itu, sehingga mereka bertiga dengan senang hati mau membantu sepasang suami istri itu untuk menjaga buah hati mereka tanpa pamrih dan imbalan tentunya. Bahkan Olive yang notabenenya memiliki sifat bar-bar, awalnya ingin ikut dengan Ciara dan Devano tapi dengan tegas Devano tak mengizinkan Olive untuk ikut dalam masalah ini. Alhasil dengan berat hati Olive mengalah dan berakhir ia hanya bisa ikut berpartisipasi untuk menjaga Al dan juga Kiya saja di rumah milik pasangan itu bersama dengan dua wanita lainnya.
...****************...
Siapa nih yang kangen sama 3 auntynya Al dan baby Kiya. Udah terobati belum kangennya? Jika belum kapan-kapan lagi deh author part untuk mereka bertiga. Tapi gak janji ya ðŸ¤
Oh ya author sampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya ke kalian semua yang sudah membaca cerita yang masih awut-awutan dan gak jelas ini. Dan untuk kalian yang udah Komen dicerita ini, tenang aja author baca kok tapi emang author belum bisa balas komen kalian satu-satu. Jadi mohon di maafkan 🤗
Dan gak bosen author katakan ke kalian semau untuk terus dukung author dengan cara Like, Komen, Vote dan Kasih hadiah ya. See you next eps bye 👋