Young Mother

Young Mother
S2_Story MK Al, Kiya Part 34


Ucapan dari Rafa tadi berhasil membuat Devano kini beranjak dari duduknya dan mulai menghampiri sahabatnya itu.


"Sepertinya tubuh kamu perlu di banting dulu," ucap Devano yang sudah berdiri di depan Rafa.


"Canda kali Dev. Lagian kalau aku sama Kiya yang ada Kiya dapat Om-om nanti. Dan satu lagi aku juga gak mau di bilang pedofil gara-gara nikah sama perempuan yang usianya jauh dibawahku. Makanya restuin aku sama Kiara aja. Kan kalau sama Kiara kita cuma selisih 5 tahun. Masih bisa dia kalau ngimbangin aku nanti," ujar Rafa yang sepertinya masih tetap berusaha untuk mendapat restu dari Devano dan Ciara.


Devano kini menolehkan kepalanya kearah sang adik ipar.


"Kamu mau jadi istrinya dia?" tanya Devano yang langsung mendapat gelengan kepala oleh sang empu.


"Gak dulu deh Kak. Trauma sama yang buaya," ujar Kiara.


"Lho aku bukan buaya lho, Ki," timpal Rafa.


"Terus apa dong?" tanya Kiara.


"Aku biawak bukan buaya. Dan satu lagi yang perlu kamu tau kalau aku tuh masih perjaka ting-ting belum pernah masuk lubang manapun," ucap Rafa.


"Masak sih. Kok aku gak percaya ya," tutur Kiara.


"Mau coba apa gimana. Yok ah gasss," ujar Rafa penuh dengan semangat bahkan dirinya kini sudah berdiri dari duduknya tapi sebelum dirinya beranjak, Devano lebih dulu mencekal tangannya.


"Jangan macam-macam kamu. Kalau sampai kamu berani nyentuh Kiara, aku gak akan segan-segan buat bunuh kamu," ucap Devano dengan tatapan tajamnya. Dan hal itu mampu membuat Rafa kini kembali duduk di tempatnya tadi.


"Ya---ya udah sih kalau gak di bolehin sama Kiara, santai aja kali natapnya dan gak usah pakai ancaman segala. Kalau benar-benar gak di restuin kan aku juga bakal mundur. Lagian disini juga masih ada Dea. Dea, kamu mau kan nikah sama aku?" tanya Rafa yang tak tau saja kalau dirinya kini juga tengah ditatap tajam oleh seseorang di ruangan tersebut.


"Eh kok aku dibawa-bawa. Padahal aku gak tau apa-apa lho ini," ujar Dea.


"Udah jawab aja. Mau apa gak nikah sama aku. Kalau mau besok kita nikah," tutur Rafa.


Belum sempat Dea menjawab, Kiara lebih dulu menimpali ucapan mereka tadi.


"Jangan mau De. Mana ada laki-laki yang baru beberapa menit di tolak udah dapat mangsa baru," ucap Kiara yang justru membuat Rafa tersenyum.


"Ehemmm kamu cemburu Ki?" tanya Rafa.


"Gak lah. Ak---aku cuma gak mau Dea terjerumus sama biawak seperti kamu ini," ujar Kiara.


"Ah masak sih. Ngaku aja kalau cemburu," goda Rafa.


"Gak ya. Enak aja. Lagian aku juga udah punya pacar," tutur Kiara yang membuat senyum Rafa luntur seketika.


Dan baru saja Vino mengatupkan bibirnya, tiba-tiba saja Kiya yang sedari tadi anteng dengan cemilannya kini anak itu berteriak heboh sembari menunjuk pintu ruangan tersebut.


"Mama, Mama, ada orang yang tadi mau culik baby Apas kesini," teriak Kiya yang membuat semua orang kini mengikuti arah pandang dari Kiya. Tapi berbeda dengan Rafa dan Zidan, yang kini kedua orang itu sudah menutup matanya mengunakan tangan mereka.


"Dimana sayang?" tanya Ciara saat tak mendapati satu orang asing pun di sekitar ruangan tersebut.


"Itu Mama. Dia melangkah kesini. Baby Apas sembunyiin Aunty!" teriak Kiya yang semakin membuat orang-orang itu tak mengerti.


"Gak ada siapa-siapa lho, nak," ucap Devano sembari mengambil Kiya dari pangkuan Kevin ke gendongannya.


"Ada Papa. Orangnya sekarang berdiri di belakang Uncle Zi," tutur Kiya yang membuat Zidan kini membuka matanya lalu setalahnya dengan cepat ia berpindah tempat menjauhi tempat duduknya tadi.


"Udahlah Kiya jangan nakut-nakutin Uncle mulu," keluh Zidan yang tengah bersembunyi dibalik badan Devano.


"Kiya gak nakut-nakutin Uncle lho. Orang Kiya lihat sendiri. Dan orangnya sekarang lagi jalan kesini," ujar Kiya yang tak mengalihkan pandangan sama sekali dari obyek yang ia lihat itu.


Sedangkan Devano yang sudah paham dan semakin yakin jika Kiya bisa melihat makhluk halus pun kini ia menghela nafas. Lalu setelahnya ia perlahan menurunkan Kiya dari gendongannya.


"Kalau Kiya lihat orang yang Kiya maksud tadi, Kiya bisa menghampiri orang itu dan katakan kepadanya buat tidak menggangu kita sekaligus kasih tau ke dia buat pergi dari rumah ini," ujar Devano yang hanya dijawab anggukan setuju oleh Kiya. Dan perlahan Kiya kini melangkahkan kakinya hingga langkah itu terhenti tepat di sofa tempat Zidan tadi.


"Aunty boleh pindah tempat dulu?" tanya Kiya yang membuat Rahel kini bergerak menuju ke tempat yang masih kosong. Dan setelah kepergian Rahel tadi, Kiya kini mendudukkan tubuhnya di tempat Rahel tadi setelah itu ia terdiam cukup lama. Entah apa yang sedang dilakukan anak itu mereka semua tak tau.


Setelah 10 menit telah berlalu dengan ketenangan tanpa ada yang berani angkat bicara, Kiya kini justru tertawa dan memecahkan keheningan di dalam ruangan tersebut.


"Dev, anak kamu kenapa? Jangan bilang kalau dia lagi kesurupan," bisik Zidan yang masih bersembunyi di belakang tubuh Devano.


"Amit amit jangan sampai," balas Devano walaupun ia juga khawatir dengan perubahan ekspresi Kiya saat ini.


Dan perhatian mereka semua kembali berpaling kearah Kiya saat anak itu kembali tertawa dengan renyah.


"Hahahaha bye bye. Hati-hati dijalan," ucap Kiya sembari melambaikan tangannya kearah pintu keluar ruangan tersebut.


Dan beberapa detik setelahnya Kiya kini mengalihkan pandangannya ke semua orang-orang disana.


"Orangnya udah pergi. Dia tadi tidak berniat menganggu atau mau culik baby Apas kok tapi dia hanya ingin menghibur anak-anak saja. Dan Uncle Rap, dia juga yang tadi ngunciin Kiya dikamar mandi. Tapi Mama sama Papa tidak perlu khawatir lagi, dia udah berjanji mau pergi dari rumah ini dan rumah mbak. Dan dia tadi kesini cuma untuk berpamitan saja," ujar Kiya.


"Jadi sekarang dia udah benar-benar pergi?" tanya Ciara yang diangguki oleh Kiya.


"Iya, dia udah pergi jauh sekarang," jawab Kiya yang membuat Devano dan Ciara kini bisa menghela nafas lega. Tak sia-sia juga mereka tadi mengadakan pengajian selama beberapa jam tadi karena hasilnya sekarang benar-benar memuaskan untuk mereka dan hati yang tadinya gelisah kini kembali tenang setelah dipastikan hal yang tak pernah mereka inginkan kini telah hilang dari kediaman mereka.