Young Mother

Young Mother
Pertemuan dengan Al


"Ma---mama!" panggil Al lirih dengan tubuh yang bergetar ketakutan.


Ciara dan Devano yang tadinya hanya terfokus dengan masalah mereka seketika tersadar saat keduanya mendengar panggilan dari Al tadi.


Ciara kini menatap Al yang masih berdiri di anak tangga tersebut dengan memeluk boneka kelincinya.


"Al," ucap Ciara lemah. Ia tak menyadari ternyata sedari tadi anak yang harus ia lindungi dari Devano, sekarang tengah berdiri tak jauh darinya dan juga laki-laki itu. Ia tadi benar-benar larut dalam emosinya tanpa memperhatikan sekitarnya. Dan sekarang ia hanya berharap semoga sang anak tak melihat kekacauan yang tadi terjadi. Dia tak mau kalau Al terguncang mentalnya.


Sedangkan Devano yang tadi menundukkan kepalanya kini menatap tanpa berkedip kearah Al setelah mendengar suara anak laki-laki yang memanggil Ciara dengan sebutan Mama.


Deg!!


Tanpa disengaja tatapan Devano bertemu dengan tatapan Al dan tanpa ia percayai Al melemparkan senyum kearahnya yang membuat relung hati Devano menghangat dan berdesir hebat.


Ciara mengikuti arah pandang Al dan saat ia tau kemana tatapan itu di arahkan, Ciara berdecak sebal. Apalagi saat Al melemparkan senyum manisnya kepada laki-laki brengsek itu yang membuat Ciara jengah.


"BERDIRI DAN PERGI DARI SINI!" ucap Ciara dengan tegas.


"Apa dia anak kita?" tanya Devano tanpa melepas tatapan matanya ke arah Al dan tanpa bergeser tempat sedikitpun.


Ciara berdecak.


"Dia anakku. Dan perlu aku ingatkan lagi bahwa anak kamu sudah mati!" tutur Ciara dengan nada rendah namun sangat menusuk di kuping Devano.


Devano kini berdiri dan mendekati Ciara.


"Siapapun tau bahwa dia anakku, darah dagingku tanpa harus melakukan tes DNA sekalipun. See! He's look like me," bisik Devano pada Ciara.


Ciara kini menatap wajah Devano. Ia kini tersenyum namun senyumnya itu bukan senyum yang diinginkan oleh Devano karena senyum ini yang justru membuat dada Devano semakin sakit dan nyeri.


"Anakmu sudah mati. Dia anakku akan selalu menjadi milikku," tutur Ciara dingin. Setelah itu ia berjalan mendekati Al.


"Sayang, udah mandi?" tanya Ciara begitu lembut saat dirinya sudah berhadapan dengan anak laki-lakinya itu dan sudah menjongkokan tubuhnya untuk bersejajar dengan tubuh Al.


Al menatap sesaat kearah Ciara sebelum ia kembali menatap Devano.


"Apa yang terjadi Mama?" tanyanya penuh kebingungan.


Ciara tersenyum, kemudian tangannya ia ulurkan untuk mengelus rambut Al.


"Tidak ada apa-apa sayang. Semuanya baik-baik saja," jawab Ciara.


"Lalu kenapa Mama tadi membentak Uncle itu?" tanyanya lagi sembari menunjuk Devano.


Devano yang sedari tadi memperhatikan interaksi antara ibu dan anak itu pun hatinya menjadi lebih sesak lagi saat anaknya memanggil dirinya dengan sebutan Uncle. Harusnya anaknya itu memanggil dirinya dengan sebutan Papa bukan uncle seperti tadi. Ya Tuhan, jika waktu bisa Devano putar lagi pasti ia tak akan melakukan hal fatal seperti dulu. Tidak menolak, tidak merendahkan dan tidak melepas tanggungjawab kepada Ciara, pasti dirinya saat ini berada ditengah-tengah mereka berdua. Hidup dengan damai dan bahagia bersama orang-orang yang ia cintai. Tapi itu hanya angan-angannya saja, nyatanya dia sekarang hanya bisa pasrah dan menerima ganjaran atas apa yang dulu ia perbuat.


Devano tersenyum miris dengan air mata yang masih mengalir di pipinya. Ia benar-benar hancur ketika anak dan juga wanita yang sangat ia cintai tak bisa menerima laki-laki brengsek sepertinya ini.


Setelah berdiam sesaat karena tak bisa menjawab ucapan dari anaknya tadi, Ciara kini kembali mengangkat suaranya.


"Mama tadi gak melakukan itu kok sayang," ucap Ciara sekenanya. Ia sekarang benar-benar takut jika Al tau bahwa laki-laki yang berada di hadapannya itu adalah Papa kandungnya.


"Tidak sayang. Al, dengerin Mama ya nak. Al mungkin untuk sekarang belum mengerti dan suatu saat, jika Al sudah dewasa pasti akan tau dan mengerti semuanya, nak," ucap Ciara berusaha untuk memberikan penjelasan kepada anaknya.


Al pun kini menganggukkan kepalanya, setelah itu ia kembali menatap Devano dan perlahan kakinya bergerak maju kearah Devano.


Al yang biasanya cuek dan dingin kepada orang yang baru ia kenali kini tanpa Ciara arahkan bahkan Ciara juga tak akan sudi mengarahkan Al untuk mendekati Devano, kini Al malah berinisiatif sendiri untuk menghampiri Devano. Entah ada magnet apa di dalam tubuh Devano itu sekarang yang membuat Al berani mendekatinya.


Sedangkan Devano masih saja terpaku dan tatapannya terus terkunci kearah duplikatnya itu.


"Uncle, are you oke?" tanya Al sembari mendongakkan kepalanya menatap Devano.


Devano kini berlutut dihadapan Al.


"Tidak sayang. Un---uncle tidak kenapa-napa. Un--uncel it's oke," ucap Devano terbata saat memaksa bibirnya mengucap kata uncle untuk dirinya.


Tangan Al kini ia gerakkan untuk menghapus air mata Devano.


"Kalau Uncle baik-baik saja, kenapa Uncle terus menangis?" tanyanya.


"Uncle harus tau. Kalau laki-laki itu tidak boleh cengeng. Laki-laki tuh harus kuat, Mama sering bilang begitu ke Al. Al juga harus jadi anak baik biar Papa di surga bangga dengan Al. Uncel tau, Al selalu rindu sama Papa, Al pengen banget ketemu sama Papa, peluk Papa dan bermain dengannya tapi kata Mama, Al gak bisa pergi ke surga buat ketemu Papa," sambung Al dengan polosnya. Bahkan ia sekarang mendadak terbuka dengan Devano padahal Al tipe anak yang enggan berbicara dengan orang lain apalagi bercerita seperti saat ini. Seperti ia sudah mengenal Devano cukup lama, padahal hari ini pertemuan perdana mereka. Mungkin ini akibat dari ikatan batin di antara keduanya yang sangatlah kuat.


Devano terdiam saat curahan hati Al, ia dengarkan. Sakit? tentu. Siapa yang tak sakit hati jika anaknya sendiri bercerita bahwa sang Papa sudah tiada dan pergi ke surga padahal ia masih sehat, segar dan bugar bahkan Papanya juga seorang pembisnis muda yang cukup terkenal. Rasanya ia ingin menjerit dan mengatakan jika Papanya itu adalah dirinya. Laki-laki dihadapannya sekarang. Walaupun tanpa di lakukan tes DNA dan sebagainya. Ia sudah yakin bahkan 100% yakin kalau anak laki-laki di depannya ini adalah anaknya tanpa keraguan sedikitpun.


Sedangkan Ciara yang sedari tadi menyaksikan perbincangan dan wajah dari dua laki-laki beda usia tersebut hanya bisa menghela nafas berat, saat matanya tak bisa berbohong kalau dua orang itu benar-benar mirip jika disandingkan seperti itu, tampak lebih jelas lagi tingkat kemiripannya. Dan mungkin orang yang belum mengenal mereka pun juga akan tau kalau keduanya adalah sepasang ayah dan anak saat mereka berdua bersama.


"Al? apakah itu namamu?" tanya Devano.


Dengan polos Al mengangguk, membenarkan pertanyaan dari Devano tadi.


"Uncle, sekarang jangan nangis lagi ya. Maaf jika Mama Al tadi membuat Uncle takut. Tapi sebenarnya Mama Al itu sangat baik bahkan Al saja tidak pernah dibentak sama Mama," ucap Al.


Devano tersenyum sembari mengacak rambut Al.


"Uncle tak apa sayang. Mama tak salah, semua ini salah Uncle," tuturnya dengan mata yang kembali berkaca-kaca. Ia sangat bersyukur anaknya tumbuh dengan baik berkat didikan dari Ciara selama ini.


Al hanya mengangguk untuk menjawab ucapan dari Devano tadi walaupun ia sebenarnya tak paham dengan perkataan itu.


"Apa Uncle boleh peluk Al?" tanya Devano dengan hati-hati. Takut jika Al merasa tak nyaman dengan permintaannya itu.


Namun tanpa ia sangka ternyata Al mengangguk dengan antusias.


Kini Devano merengkuh tubuh Al setelah mendapat persetujuan dari anaknya itu. Air matanya kembali tumpah. Biarkan saja sifat arogan yang sering ia tunjukkan kepada orang-orang kini berubah menjadi rapuh dan lemah dihadapan anaknya dan juga Ciara.


...*****...


Yuk bisa yuk 400 like kajja💪


Stay safe, stay healthy and stay with me 🤭 SEE YOU NEXT EPS BYE 👋