Young Mother

Young Mother
Kemurkaan Mom and Dad


"Mom," panggil Devano sembari menatap wajah cantik Mommy Nina yang berdiri disampingnya.


"Hmmm," jawab Mommy Nina.


"Dev mau cerita sesuatu sama Mom," tutur Devano dengan sorot mata sendu.


Mommy Nina yang melihat sorot sendu dari Devano pun merasa khawatir, tak seperti biasanya Devano akan memperlihatkan hal selemah itu walaupun seberat apapun masalah yang Devano hadapi. Tapi kini di depan matanya sendiri, anaknya seolah-olah memberitahu akan kesedihan, kefrustasian dan seberapa berat masalah yang tengah anaknya itu hadapi saat ini.


"Hey, ada apa?" tanya Mommy Nina khawatir sembari membelai wajah tegas Devano.


"Dev harap saat Mom sudah mendengar cerita ini, Mom tak akan membenci Dev," ucap Devano penuh harap.


Mommy Nina mengerutkan keningnya, kenapa Devano harus berucap seperti itu kepadanya? Ucapan Devano tadi membuat Mommy Nina semakin penasaran.


"Dev, dengar ucapan Mom. Mom gak akan pernah benci sama Dev. Apapun yang Dev lakuin, Mom akan maafin Dev," tutur Mommy Nina menenangkan.


"Kita cerita di dalam aja yuk, jangan disini," sambungnya sembari menarik tangan Devano ke arah ranjang kamar tersebut.


"Coba sekarang ceritain, apa masalah yang sedang kamu hadapi. Pelan-pelan aja gak papa," ucap Mommy Nina setelah mereka duduk di atas kasur.


"Dev udah nyakitin hati perempuan yang awalnya Dev pikir hanya akan jadi mainan Dev aja. Dev udah rusak dia hingga dia benci sama Dev, bahkan dia tak mau lagi ketemu sama Dev. Apa yang harus Dev lakuin buat dapat maaf dari dia Mom? Apa yang harus Dev perbuat agar bisa menebus semua kesalahan yang Dev lakuin ke dia?" tanya Devano dengan penuh keputusasaan.


"Dev nyakitin dia dalam hal apa nak? Dan apa yang kamu maksud dengan merusak dia?" tanya Mommy Nina dengan sabar tapi otaknya sudah tak sabar lagi untuk mengetahui masalah anaknya itu.


"Beberapa tahun yang lalu, Dev hamilin perempuan Mom. Dev udah rusak mahkota dia yang harus ia jaga untuk suaminya kelak dan Dev juga merusak masa depan dia yang sudah ia rencanakan dalam hidupnya, Mom. Dan beberapa bulan setelah kejadian itu, dia nemuin Dev buat minta pertanggungjawaban atas apa yang Dev lakuin kedia dan pada saat itu pula ia juga tengah mengandung anak Dev, darah daging Dev yang sayangnya Dev dulu tak mau mengakuinya dan meminta dia untuk gugurin kandungan itu. Dev pada waktu itu tak percaya kalau janin yang berada di kandungan perempuan itu adalah darah daging Dev. Dev pikir dia itu sama dengan wanita sampah lainnya yang sering berhubungan dengan laki-laki manapun," cerita Devano dengan ceda sesaat untuk mengambil nafas dalam-dalam sebelum akhirnya tersambung lagi.


"Dan Mom ingat, saat Devano muntah-muntah dulu? Saat itu ternyata Dev tengah mengalami morning sickness, sama seperti yang Mom dulu bilang. Kalau Dad dulu ngalamin hal itu saat Mom mengandung Dev dan Dev pun juga mengalami hal yang sama dengan Dad saat perempuan itu mengandung darah daging Dev. Beberapa tahun ini, Dev menjalani hidup penuh penyesalan. Setiap malam Dev merutuki diri Dev sendiri atas apa yang telah Dev lakuin ke perempuan itu dan rasa bersalah itu bertambah saat Dev tau jika dia menghilang tanpa jejak. Dev sudah kerahkan semua anak buah Dev buat mencari keberadaannya namun hasil yang harus Dev terima nihil, tak ada satu orangpun yang berhasil menemukan dia. Hingga 5 tahun lebih Dev akhirnya bertemu dengan perempuan itu bersama anak laki-laki yang sama persis dengan wajah Dev. Tapi semuanya sepertinya sudah terlambat buat Dev, Mom karena dia benar-benar membenci Dev, tak mau bertemu dengan Dev lagi dan lebih sakitnya lagi saat anak Dev tak tau jika Dev ini Papanya," tutur Devano dengan sendu.


Mommy Nina yang sedari tadi mendengarkan cerita anaknya itu sekarang tampak tertegun, syok bahkan ia sudah tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia menggelengkan kepalanya, lalu...


Plak!!!


Tamparan cukup keras mendarat di pipi Devano.


"Mommy kecewa sama kamu, Dev," ucap Mommy Nina.


"Kenapa kamu berbuat hal yang menjijikan seperti ini Devano?" teriak Mommy Nina dengan air mata yang menetes di pipinya.


"Mom, maafin Dev," gumam Devano dengan kepala yang tertunduk.


...****************...


Daddy Tian menatap tajam kearah Devano dengan emosi yang meluap-luap. Setelah ia tadi mendapat telepon dari istrinya tercinta dan istrinya itu bercerita mengenai masalah Devano, Daddy Tian langsung tancap gas untuk pulang kerumah padahal di saat itu pula Daddy Tian tengah melakukan meeting perusahaan miliknya pribadi bukan Rodriguez Corp.


Dan setelah sampai rumah ia langsung menghampiri Devano dengan bogeman beberapa kali ke tubuh Devano tanpa merasa iba saat melihat wajah putra semata wayangnya itu masih terluka.


"Daddy benar-benar kecewa dengan kelakuan kamu," tutur Daddy Tian. Ia mengepalkan tangannya hingga kuku-kuku tangan tersebut tampak memutih.


"Entah sifat binatang mana yang kamu tiru. Daddy membebaskan kamu dalam bergaul tapi tidak begini juga Devano. Merusak anak gadis orang. Apa kamu pikir orangtuanya tidak terpukul akan nasib anaknya yang sudah kamu rusak hah? apa kamu juga pernah berpikir perasaan perempuan itu Dev?" geram Daddy Tian.


Sedangkan Mommy Nina, ia terus menangis di dekapan Daddy Tian. Menangisi kebodohan putra satu-satunya itu, menangisi perempuan malang yang telah dihancurkan putranya dan juga menangisi dirinya sendiri yang telah gagal mendidik Devano. Hatinya serasa diremas hingga hancur oleh putra yang selalu ia percaya dan ia banggakan.


"Ya Tuhan!! Dosa apa yang telah aku perbuat di masa lalu hingga mempunyai anak yang tak punya hati nurani seperti ini," gerutu Daddy Tian.


Devano? ia sekarang hanya bisa terdiam. Dadanya begitu sesak saat melihat wanita yang mengandung dan melahirkannya, wanita yang selalu lemah lembut dengannya kini dia tengah menangis tersedu dengan rasa kecewa yang teramat dalam dan itu semua karena ulahnya.


Devano memejamkan matanya sekilas, mencoba untuk menetralisir rasa sesak di dadanya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana Ciara dulu harus melewati semua rintangan yang teramat mengerikan tanpa ada dukungan seorang pun di belakangnya.


"Maafin Dev, Dad, Mom," ucap Devano lirih.


"Apa maafmu itu bisa menebus semua dosa yang telah kamu tumpuk selama ini?" tanya Daddy Tian sarkas.


Devano terdiam, bibirnya serasa kelu saat mendengar ucapan dari Daddynya itu. Kata maafnya memang tak bisa menebus semua kesalahan dan dosa yang ia perbuat selama ini.


Daddy Tian menghela nafas sesaat.


"Katakan, siapa gadis malang yang harus menanggung semua kelakuan kamu itu?"


Devano menegakkan kepalanya yang sedari tadi tertunduk dan sekarang matanya ia beranikan untuk menatap mata coklat milik Daddy Tian.


"Perempuan itu Cia, lebih tepatnya Ciara Devania Eveline."