
Lima bulan telah berlalu setelah kejadian itu terjadi membuat semua orang benar-benar dilanda kesedihan yang mendalam. Apalagi dengan kematian Yura, benar-benar membuat semua orang yang mengenal sosok anak perempuan yang selalu memberikan aura positif kepada orang lain itu benar-benar terluka sangat dalam. Dan selama dua bulan terakhir ini semua proses hukum juga sudah di tegakkan setelah pihak kepolisian menemukan tersangka yang sudah menabrak keempat korban tadi.
Dan tersangka tersebut diketahui merupakan istri dari Rizal dan satunya lagi merupakan sepupu perempuan tersebut.
Dia juga memberikan alasannya kepada pihak kepolisian, jika motif dari semua yang ia lakukan itu tak lebih dari rasa balas dendam karena gara-gara Rizal tertangkap dan masuk kedalam sel tahanan, saat itu pula ekonomi dan kehidupan dirinya telah berubah drastis. Dan hal itu membuat dirinya terpaksa meneruskan niat jahat suaminya itu dengan membunuh Yura dan juga orang-orang yang mencoba melindungi anak perempuan tersebut. Dan karena penuturannya tersebut dan beberapa bukti yang sudah pihak kepolisian kumpulan juga beberapa saksi yang sudah memberikan keterangan mereka, alhasil hakim yang memutuskan perkara atas masalah tersebut menjatuhi hukuman seumur hidup kepada istri Rizal dan juga satu laki-laki yang turut andil dalam rencana tersebut dan merupakan orang yang telah menabrak kedua bodyguard Al dengan tuduhan rencana pembunuhan berencana juga karena sudah berhasil membuat satu korban meninggal dunia.
Dan kedua bodyguard Al yang juga merupakan saksi dari kasus itu pun tampak puas dengan keputusan hakim tersebut. Walaupun itu semua tak sebanding dengan rasa sakit yang mereka berdua rasakan dan juga tak membuat Yura kembali dan Al tersadar dari komanya.
Ya, Al masih tak sadarkan diri mulai dari kejadian berlangsung sampai detik ini juga dia masih terbaring lemah dengan mata yang terus tertutup rapat dan di bantu beberapa alat untuk menyokong hidupnya.
"Papa, Abang kapan keluarnya dari dalam situ? Abang kapan bangun dari boboknya? Kiya sudah tidak tahan lagi untuk menahan rindu yang tengah Kiya pendam ini," ucap Kiya yang tengah di gendong Devano agar ia bisa melihat Al yang masih berada di dalam ruang ICU tersebut. Walaupun mereka hanya melihat dari kaca karena tidak mungkin jika mereka bertiga masuk kedalam ruangan tersebut. Sedangkan yang harus masuk kedalam hanya di perbolehkan satu orang saja.
Ciara yang mendengar ucapan dari Kiya itu pun ia kini mengelus kepala anak perempuannya itu.
"Kiya doakan saja ya, agar Abang cepat bangun dan keluar dari ruangan itu," tutur Ciara.
"Setiap hari Kiya sudah berdoa biar Abang segera bangun, Mama. Tapi doa Kiya tidak juga di kabulkan sama tuhan. Apa tuhan marah sama Kiya karena Kiya sering bandel dan tidak pernah menuruti ucapan dari Abang dulu, jadi Tuhan menghukum Kiya dengan cara begini? Kalau tau hukuman Tuhan seperti ini, Kiya tidak akan pernah nakal sama Abang," ujar Kiya dengan kepala yang tertunduk.
Devano yang masih menggendong tubuh Kiya pun ia kini memeluknya dengan sangat erat untuk memberikan ketenangan kepada anak perempuannya tersebut yang kini tengah menangis didalam dekapannya.
"Kiya sudah kehilangan Kak Yura. Kiya tidak mau kehilangan Abang, Pa. Hiks," ucap Kiya dengan sesegukan.
"Kiya tenang ya, Papa yakin Abang gak akan kemana-mana. Gak akan ninggalin Kiya, Mama dan Papa. Papa juga yakin Abang sebentar lagi akan sadar dan bertemu dengan kita," tutur Devano.
Saat Devano dan Ciara tengah berusaha untuk menenangkan Kiya, tampak dua bodyguard Al yang sudah pulih kini datang menghampiri mereka bertiga.
"Bos," panggil Doni yang membuat Devano dan Ciara mengalihkan pandangan mereka kearah dua bodyguard tersebut.
"Ya?" jawab Devano.
"Apa tuan muda sudah memperlihatkan tanda-tanda jika dia akan segera sadar?" tanya Doni yang benar-benar merasa bersalah atas kejadian itu.
Devano tampak menghela nafas berat dan ia menjawab pertanyaan dari Doni dengan gelengan di kepalanya. Dan hal itu membuat kedua bodyguard tadi tampak menampilkan wajah lesunya.
Dan dengan kepekaan yang tinggi, Toni yang tak memiliki cedera di tangannya akibat kecelakaan itu pun kini ia bergerak untuk mengambil alih tubuh Kiya dari gendongan Devano.
"Hiks, Kiya lagi sedih Om, hiks," ujar Kiya.
"Sedih? Memangnya Kiya sedih kenapa?" tanya Doni. Walaupun mereka berdua tau alasan kenapa anak perempuan itu menangis. Karena bukan hanya Kiya saja yang merasakan kesedihan tapi mereka berdua juga merasakan hal yang sama seperti yang di rasakan Kiya sekarang. Tapi mereka berdua memilih untuk menyembunyikan kesedihan itu saat mereka berdua bersama dengan Kiya. Karena Doni dan Toni lah harapan satu-satunya Devano dan Ciara agar Kiya selalu tersenyum setelah kehilangan sosok Yura di hidupnya dan Al yang belum juga tersadar dari komanya.
"Hiks, Kiya sedih karena Abang belum juga bangun dari boboknya," ujar Kiya.
"Memangnya Om tidak sedih lihat Abang terus didalam ruangan itu?" sambung Kiya dengan tatapan tajamnya.
"Ah bukan begitu. Kita berdua sebenarnya juga sedih melihat Abang Al didalam. Tapi karena kita berdua kuat dan gak mau bikin Abang Al sedih karena melihat kesedihan kita ini, alhasil Om menahan kesedihan itu," ucap Toni.
"Halah itu mah cuma alasan Om aja. Om bohong. Om tidak sedih sama sekali," tutur Kiya dan hal itu membuat Doni dan Toni berdecak sebal.
"Terserah kamu saja lah Kiy. Dan daripada Kiya nangis terus begini bagaimana kalau kita beli coklat saja," ucap Doni yang langsung membuat Kiya kini menatap kearahnya dengan binar kesenangan.
"Benarkah?" tanya Kiya yang diangguki oleh Doni. Dan anggukan kepala tersebut membuat Kiya dengan cepat menghapus air matanya.
"Let's go Om, kita berangkat sekarang," ucap Kiya dengan semangat.
"Uangnya?" tutur Doni dengan menengadahkan tangannya kearah Kiya.
"Minta Papa," ujar Kiya dengan menolehkan kepalanya kearah Devano.
Devano yang melihat perubahan diwajah Kiya setelah kedatangan dua bodyguard somplak itu pun kini ia merogoh saku celananya untuk mengambil dompet miliknya. Dan hal itu membuat Doni kini berjalan mendekati Devano dengan tangan yang masih menengadah.
"Beli makanan atau minuman apapun yang kalian mau. Pinnya 010212," ucap Devano sembari memberikan salah satu kartu miliknya diatas tangan Doni.
"Ashiap. Tenang saja tuan, kita bertiga siap untuk menguras isi kartu ini. Oh ya kalau tuan muda sudah ada perkembangan atau sudah sadar, kasih tau saya ya tuan. Biar saya belikan es krim untuk tuan muda," ujar Doni. Dan tanpa menunggu jawaban dari Devano kini ia langsung mengajak Toni dan Kiya pergi dari hadapan Devano dan Ciara. Dan hal itu mampu membuat Devano menggelengkan kepalanya. Bahkan karena tingkah mereka berdua, mampu memberikan sedikit senyuman yang sudah jarang mereka perlihatkan itu, kini senyuman yang hilang tersebut perlahan kembali berkat mereka berdua.