
Lima hari setelah Al tersadar dari komanya, kini ia telah di pindahkan ke kamar inap VIP di rumah sakit tersebut.
"Ma, Al kapan pulang?" tanya Al yang sepertinya sudah mulai bosan.
"Sabar ya sayang. Al harus sembuh total dulu baru nanti pulang. Dan supaya Al cepat sembuh, sekarang makan dulu ya," ucap Ciara yang perlahan mengulurkan sendok yang berisi makanan kearah Al.
"Al sudah sembuh Ma. Al juga sudah bosan disini terus. Al mau pulang," rengek Al manja.
"Ya sudah gini saja. Biar Mama nanti tanya ke Papa kamu biar dia nanti berembuk dengan dokter, supaya kamu diizinkan untuk pulang hari ini juga. Tapi kalau belum diizinkan, Al harus tetap disini untuk beberapa hari lagi. Al mengerti?" Al tampak mengerucutkan bibirnya.
"Beberapa hari tuh tidak lama sayang, percayalah sama Mama," ucap Ciara sembari mengelus pipi Al.
"Al jenuh tidak ada teman disini," keluh Al.
"Lho Mama ini kan menjadi teman Al selama disini. Bukan cuma Mama saja tapi Papa, Kiya, Om Doni juga om Toni, mereka kan selama ini sering ngunjungi Al. Dan kamu tau, para aunty dan Uncle kamu nanti akan kesini," ujar Ciara.
Dan baru saja bibirnya terkatup, pintu dikamar Al kini terbuka lebar dan memperlihatkan orang-orang yang tadi Ciara sebutkan sebelumnya.
"Keponakan aunty Liv," ucap Olive dengan heboh bahkan dirinya kini berlari kearah Al lalu tanpa meminta izin, ia kini memeluk tubuh Al yang tengah terduduk diatas brankar tersebut.
"Unchhh, aunty kangen," ujar Olive.
"Kangen sih kangen tapi jangan kencang-kencang juga meluknya," tutur Al yang kesusahan untuk bernafas karena ulah Olive tadi.
Dan ucapan dari Al tadi kini membuat Olive melepaskan pelukannya.
"Aduh, maaf sayang. Aunty kelepasan. Lagian kamu sih bikin aunty khawatir. Mana disaat Mama kamu ngabarin keadaan kamu, aunty lagi di negara tetangga lagi. Jadinya gak bisa langsung jengukin kamu. Tapi kamu tenang saja, walaupun aunty gak jenguk kamu disaat kamu pertama kali masuk ke rumah sakit tapi aunty tetap bertukar kabar kok dengan Mama kamu," tutur Olive.
"Oh ya?" tanya Al yang diangguki semangat oleh Olive.
"Tapi Al dan yang lainnya tidak ada yang tanya masalah aunty bertukar kabar sama Mama, atau aunty tidak jenguk diwaktu pertama kali Al masuk ke rumah sakit. Karena kita tidak peduli sama sekali," sambung Al yang membuat Olive kini langsung mengeluarkan tanduknya.
Lalu setelahnya ia kini menangkup kedua pipi Al hingga membuat bibir anak laki-laki itu mengerucut lucu.
"Kamu itu ya, dari dulu sampai sekarang tidak ada perubahannya sama sekali. Kalau sama yang lain saja kamu bisa akur, adem ayem. Tapi kalau sama aunty, kerjaannya nabuh genderang perang mulu. Menyebalkan," tutur Olive diakhiri ia menggigit pelan pipi Al tersebut. Dan setelah melakukan hal tersebut, Olive langsung berlari menjauhi Al dan kini ia bersembunyi di balik tubuh Ciara.
"Aunty, pipi Al jadi bau. Ish," teriak Al sembari terus mengusap bekas gigitan Olive tadi.
"Bodoamat. Itu pelajaran buat Al karena Al sudah bikin aunty kesal terus," tutur Olive dengan wajah yang ia munculkan sedikit dan diakhiri dengan ia menjulurkan lidahnya kearah Al, berniat untuk meledek keponakannya itu.
"Aunty!" teriak Al yang tak terima jika dirinya diejek oleh Olive.
Dan tangan Al kini bergerak untuk mengambil bantal di belakang tubuhnya. Saat ia kini berniat untuk melempar bantal tadi kearah Olive, niatannya itu terhenti saat indra pendengarannya menangkap suara anak perempuan yang mencibir tingkah mereka berdua.
"Kalian ini seperti anak kecil saja, Ck," ucap anak perempuan tersebut yang tak lain adalah Kiya, yang baru saja masuk kedalam kamar inap tersebut dengan tangan yang sudah membawa banyak cemilan.
Dan hal tersebut membuat Al dan Olive mengalihkan pandangan mereka kearah Kiya berada.
"Tenang saja Kiya. Semua perkataan Kiya tadi benar adanya. Apalagi dengan aunty Olive. Umur sih boleh tua tapi kelakuannya masih kayak anak kecil umur 3 tahun," timpal Rafa.
"Raf, mau aku lempar ke kandang buaya?" tutur Olive dengan berkacak pinggang.
"Gak usah pakai nanyain segala aunty. Langsung lempar aja ke kandang buaya tapi kalau belum habis lempar lagi ke kandang singa," ujar Al yang mendukung niat jahat dari Olive tadi.
"Eh eh eh enak aja. Sebelum kalian lempar aku ke kandang buaya sama singa. Kalian duluan yang aku lempar kesana," tutur Rafa tak terima.
"Yah, anak kecilnya nambah satu lagi deh," timpal Kiya dengan mulut yang belepotan dengan es krim.
Dan perkataan dari Kiya tadi membuat ketiga orang tersebut lagi-lagi menatap kearah dirinya.
"Kenapa kalian natap Kiya begitu?" tanya Kiya dengan songongnya.
"Disini tuh yang anak kecil cuma kamu, Kiya. Buktinya kamu makan es krim saja masih belepotan begitu," tutur Rafa dan kini ia bergerak untuk mengelap sisa es krim di bibir Kiya.
Tapi saat tangannya hampir menyentuh bibir Kiya, Kiya lebih dulu merebut tisu di tangan Rafa.
"Kiya bukan anak kecil lagi. Kiya sudah besar. Dan kalau orang makan es krim, mereka pasti juga belepotan seperti Kiya sekarang. Kalau gak percaya, Uncle sekarang coba makan es krim Kiya ini," tutur Kiya sembari menyodorkan es krim tersebut kearah Rafa.
"Tapi biar Kiya yang pegang," sambung Kiya. Dan hal tersebut membuat Rafa memutar bola matanya malas.
"Gak dulu deh, uncle lagi gak mood makan es krim soalnya," tolak Rafa karena ia sudah tau siasat Kiya saat dirinya menuruti permintaannya tadi, pasti anak perempuan tersebut akan memelesetkan es krim tadi di samping bibirnya. Alhasil ia nanti juga akan belepotan sama seperti Kiya sekarang.
"Yahhhh uncle cemen gak mau buktiin kalau orang dewasa tuh makan es krim tidak belepotan seperti Kiya," tutur Kiya dengan menarik kembali es krimnya itu.
"Heh, mana ada begitu. Bukannya uncle cemen tapi Uncle tau rencana licik Kiya," ucap Rafa pada akhirnya.
"Ihhhhhhh uncle main nuduh Kiya berbuat yang tidak baik. Padahal Kiya kan cuma mau Uncel membuktikan saja. Dan tidak ada niatan lainnya," elak Kiya.
"Halah bohongnya kelihatan banget," ujar Rafa.
"Kiya tidak bohong, Uncle," tutur Kiya.
"Bohong."
"Tidak."
"Bohong."
"Tidakkkkk!"
Pertengkaran dari dua orang berbeda usia itu terus berlanjut dan hal tersebut membuat semua orang didalam kamar tersebut tampak menggelengkan kepala mereka dengan sesekali mereka tertawa karena melihat tingkah kocak kedua orang tersebut. Tak terkecuali dengan Al yang kini terlihat lebih cerah dan ceria dari sebelumnya. Dan hal tersebut membuat Ciara yang sedari tadi menatap kearah Al pun ikut tersenyum dan menghilangkan sejenak pikiran atas pertanyaan-pertanyaan yang setiap hari bahkan setiap jam Al tanyakan kepada dirinya mengenai masalah Yura.
Dan setiap pertanyaan dari Al tersebut, Ciara pasti akan menjawab dengan satu jawaban yang sama yaitu, "Yura tengah istirahat di rumahnya."