
Ciara menggelengkan kepalanya dengan cepat saat 4 pasang mata menatap kearah dirinya.
"Kalian itu jangan ngaco deh. Kalau aku hamil lagi pastinya akan mengalami mual dan muntah sama seperti saat aku hamil Al dulu," tutur Ciara.
"Hey Mama Ciara yang paling cantik tapi masih kalah sama kecantikan aku. Menurut buku yang iseng-iseng aku baca ditambah pengetahuan yang sangat minim ini. Tidak semua ngidam ibu hamil itu sama. Tergantung dengan mood janin di perut sang ibu. Mungkin mood Al dulu ingin buat kamu diet makannya dia buat kamu mual dan muntah. Sedangkan adik Al yang kemungkinan besar sudah didalam perut kamu itu ingin buat kamu menjauh dulu sama Devano, mungkin karena dia cemburu sama keromantisan kalian berdua alhasil janin itu buat kamu merasakan enggan untuk bersanding dengan Devano," ucap Olive menjabarkan semua pengetahuannya itu ditambah dengan bumbu-bumbu sedikit didalamnya.
"Nah benar apa yang dikatakan sama Kak Olive. Gak semua anak menyiksa ibunya dengan cara yang sama," timpal Kiara.
"Tapi bentar dulu deh. Aku waktu Ciara hamil Al juga ngerasain mual dan muntah tapi jika sekarang Ciara hamil lagi, kenapa aku gak ngerasain hal yang sama seperti yang dirasakan Ciara?" tanya Devano seperti orang bodoh saja.
"Ya mungkin ikatan batin kamu sama Al dulu sangat kuat. Tapi kalau sekarang mungkin ikatan batinnya cuma dikit jadinya kamu gak bisa ngerasain apa yang di rasakan sama Ciara. Gak kayak dulu waktu Al," jawab Olive.
Devano mengangguk-anggukkan kepalanya paham.
"Toh kamu mual dan muntah kemungkinan juga karena karma kamu dulu dan mungkin itu cara Allah buat negur kamu juga, buat buka hatimu yang seakan-akan tertutup tangan setan," sambung Olive sembari mencebikkan bibirnya.
Devano tak merasa tersinggung sedikitpun dengan perkataan dari Olive tadi karena ia juga merasakan ucapan dari Olive tadi memang benar adanya. Karena dengan kejadian ia ngidam yang teramat menyiksa dirinya itu, ia jadi sadar bahwa memang janin yang dikandung Ciara dulu adalah anaknya, darah dagingnya.
"Udah-udah, pikiran kalian terlalu jauh aja. Hidungku cuma lagi eror bukan karena ngidam dan sebagainya," tutur Ciara yang masih menyangkal dugaan dirinya tengah berbadan dua.
"Ck, pokoknya aku yakin kalau perut kamu udah isi calon adiknya Al. Sekarang coba katakan terakhir kali kamu datang bulan!" perintah Olive.
Ciara tampak berpikir sesaat sembari mengingat kapan terakhir ia datang bulan.
"Hmmm bulan kemarin tanggal 5," jawab Ciara.
"Sekarang tanggal berapa? cepat kasih tau aku," tutur Olive heboh sembari menepuk-nepuk paha Dea yang duduk disampingnya.
Dea kini meraih ponselnya yang sedari tadi berada di tas kecilnya. Setelah mendapatkan ponsel tersebut, Dea langsung melihat tanggal hari itu juga.
"Sekarang tanggal 15," ucap Dea.
Mereka yang berada di sana kini terdiam dan menatap lekat kearah Ciara secara bersamaan.
"Ck, biasa aja kali lihatnya. Toh aku akhir-akhir bulan ini kalau datang bulan sering banget telat. Jadi udah biasa lah," tutur Ciara masih santai.
Tapi tidak dengan ketiga perempuan tadi. Mereka kini beranjak dari duduknya dan segera menuju ke lokasi mereka masing-masing. Olive berlari keluar rumah dengan menyambar kunci Devano yang tadinya tergeletak begitu saja di atas meja ruang tamu.
Dea berlari menuju ke dapur untuk menyiapkan jus juga menyiapkan buah-buahan untuk Ciara.
Sedangkan Kiara, ia juga berlari keluar rumah tapi ia menuju ke arah rumah sakit berniat untuk membawa dokter kerumah Devano untuk memeriksa Ciara sekaligus memastikan apakah hasil testpack yang akan di beli Olive nanti akurat atau tidak. Walaupun belum dilakukan pengetesan tapi setidaknya bersiap dulu tak ada salahnya.
Kini Devano dan Ciara hanya bisa terbengong menatap ketiga wanita tadi berhamburan ke arah yang berbeda.
Begitu juga dengan Al yang melongo menatap para auntynya seperti orang yang habis melihat hantu di rumah tersebut.
"Papa, kenapa mereka lari-lari seperti itu?" tanya Al sembari menghampiri Devano.
"Papa juga gak tau Al. Mungkin mereka merencanakan sesuatu," jawab Devano.
Tak berselang lama, Dea telah selesai dengan. aktivasinya setelah itu ia membawa satu persatu sajian yang ia buat tadi dihadapan Ciara.
"Kak, jusnya di minum dulu. Tenang gak ada pemanis buatan. Asli manisnya dari buah itu sendiri." Dea memberikan satu gelas jus tadi ke arah Ciara yang langsung diterima oleh sang empu tapi dengan tatapan bingungnya.
Setelah Ciara menyesap jus tadi yang kini hanya tinggal separuh. Buru-buru Dea menyodorkan buah-buahan ke arah Ciara lagi.
"Buka mulutnya Kak. Aaaaa." Dea berniat menyuapi Ciara dan saat sang empu sudah membuka mulutnya tiba-tiba saja terdengar dobrakan pintu yang membuat suapan tersebut terhenti dan tak jadi masuk ke mulut Ciara karena Dea mengalihkan pandangannya kearah pintu tadi yang menampilkan Olive disana.
Olive kini berlari kearah Ciara.
"Stop. Jangan mendekat!" teriak Ciara. Teriakan itu mampu membuat Olive menghentikan larinya secara mendadak dan untungnya tubuhnya bisa ia seimbangkan. Jika tidak sudah dipastikan tubuhnya itu jatuh dan mencium lantai.
"Haish. Kamu ini. Untung aja aku gak jatuh," gerutu Olive.
"Maaf-maaf. Aku gak mau cium bau badan kamu soalnya," tutur Ciara yang membuat Olive mencebikkan bibirnya.
"Dea, coba kamu kesini." Dea mengangguk kemudian ia menaruh piring yang berisi buah-buahan tadi ke meja depan Ciara, lalu ia beranjak mendekati Olive.
"Nih kasih ke Ciara. Habis itu ajak dia ke kamar mandi dan paksa dia untuk tes kehamilan. Setelah kamu ke kamar mandi sama Ciara, aku bakal nyusul di belakang kalian," tutur Olive sembari memberikan satu kantong plastik yang berisikan beberapa merek testpack yang berbeda-beda.
Dea segera menerima kantong tersebut dan setelahnya ia kembali melangkahkan menuju kearah Ciara yang tengah melahap buah-buahan tadi.
"Kak, ikut aku sekarang," tutur Dea. Ciara menghentikan tangannya yang ingin memasukkan buah-buahan tadi kemulutnya.
"Kemana?" tanya Ciara.
"Ke kamar mandi." Ciara mengkerutkan dahinya.
"Kamu gak berani ke kamar mandi sendiri?"
"Ck, buka itu. Pokonya Kakak harus ke kamar mandi sekarang."
"Buat apa sih? orang Kakak gak lagi pengen pup atau buang air kecil." Dea yang merasa gemas karena Ciara tak kunjung menuruti apa yang ia ucapkan tadi. Sekarang ia memegang tangan Ciara dan berusaha membuat sang Kakak angkatnya itu untuk beranjak dari duduknya.
"Ayo lah Kak," geram Dea yang usahanya seperti sia-sia saja.
"Cia, kalau kamu gak mau berdiri dan ke kamar mandi untuk tes kehamilan. Aku bakal deketin kamu dan 24 jam nempel sama kamu," ancam Olive yang membuat Ciara membelalakkan matanya kemudian mau tak mau ia menuruti apa yang di mau oleh Dea juga Olive tadi. Tapi tunggu, apa yang Olive tadi katakan?
"Jadi maksud kalian aku disuruh ke kamar mandi buat ngelakuin testpack?" tanya Ciara.
"Iya. Udah jangan banyak tanya lagi. Buruan test sana," jawab Olive.
"Aku kan udah bilang. Hidung aku yang lagi bermasalah bukan karena ngidam," tutur Ciara lesu.
"Ciara." Olive kini melangkahkan kakinya satu langkah kedepan.
"Oke-oke aku testpack sekarang. Tapi kalau hasilnya gak sesuai apa yang kalian inginkan jangan kecewa," tutur Ciara sembari menyambar satu kantong plastik tadi dari tangan Dea kemudian ia menuju kamar mandi yang berada di dekat ruangan tersebut.
Bukannya ia tak mau melakukan hal itu, hanya saja ia tak ingin kecewa dengan hasilnya nanti. Karena ia dulu pernah melakukan testpack saat dia telat datang bulan tapi setelah melakukan hal tersebut hasilnya tak sesuai dengan apa yang dia dan Devano inginkan. Dan berhasil membuat dirinya sangat kecewa tapi Devano selalu menguatkannya.
Tak berselang lama, Ciara telah keluar dari kamar mandi tersebut yang langsung disambut oleh Dea, Olive, Devano juga Al yang sedari tadi menunggunya di depan kamar mandi.
"Hasilnya gimana?" tanya Olive tak sabaran.
"Tunggu bentar lagi. Nanti juga tau hasilnya," tutur Ciara sembari melangkahkan kakinya dan menyerahkan 10 testpack ke tangan Devano. Setelah itu ia ngeloyor pergi kembali ke ruang tamu tadi.