
Ciara kini mulai melangkahkan kakinya lebih mendekati Kiya yang masih menampilkan senyum tanpa rasa bersalahnya.
Saat sudah sampai dihadapan Kiya dan dia bisa melihat kekacauan yang di hasilkan oleh Kiya, tiba-tiba saja tubuhnya terasa lemas bahkan dia sekarang sudah terduduk di kursi yang tadi digunakan oleh Kiya.
Semau alat makeupnya hancur tak ada yang tersisa, bahkan 2 foundation yang berharga ratusan ribu telah pecah dilantai. Bohong jika Ciara tak merasa marah akan hal itu, tapi jika ia marah nanti akan berujung anak itu nangis dan berakhir akan ngadu ke Devano dengan segala kepintaran berbicaranya.
Ciara kini menangkup wajahnya, ingin sekali ia menangis saat itu juga melihat tak ada satupun alat makeupnya tersisa dari tangan ajaib Kiya.
Kiya yang masih menatap Ciara pun kini mulai menepuk paha Ciara.
"Mama, Mama. Lihat dong Kiya udah cantik kan?" tanyanya dengan berpose layaknya model papan atas.
Ciara menggusap wajahnya dengan kasar. Bisa-bisanya anaknya itu tak tau situasi jika Mamanya tengah patah hati karena dirinya. Dan kini ia melihat kearah Kiya yang wajahnya sudah belepotan.
"Nak, lain kali jangan main makeup Mama lagi ya," ucap Ciara yang masih bisa mengontrol emosinya.
"Kenapa? kan kalau Kiya main makeup jadi lebih cantik," ujar Kiya dengan wajah polosnya.
"Iya Mama tau kalau Kiya main makeup-makeupan seperti ini jadi cantik, tapi dengar kata Mama ya nak. Makeup yang Kiya pakai sekarang gak bagus buat kulit Kiya. Kalau Kiya mau makeup nunggu Kiya dewasa dulu ya sayang. Takutnya kalau Kiya kebiasaan pakai makeup seperti ini di usia Kiya yang masih kecil, wajah Kiya nanti akan rusak dan gatal. Memangnya Kiya mau wajah Kiya gak cantik lagi?" Kiya tampak terdiam lalu beberapa detik kemudian ia menggelengkan kepalanya.
"Nah maka dari itu mulai hari ini Kiya gak boleh pakai makeup Mama lagi ya sayang. Kalau Kiya masih nekat pakai makeup Mama, wajah Kiya nanti akan jelek," ujar Ciara yang ia yakini Kiya suatu saat nanti pasti juga akan mengulangi apa yang ia lakukan hari ini walaupun sekarang dia mensetujui perintahnya.
"Sekarang Mama bantu Kiya buat hapus makeupnya ya." Kiya menggelengkan kepalanya dan mulai memundurkan tubuhnya dari jangkauan Ciara.
"Kiya gak mau, Mama," tolak Kiya.
"Tapi sayang, kalau makeupnya kelamaan gak dihapus wajah Kiya nanti akan gatal-gatal lho," ucap Ciara menakut-nakuti anaknya itu. Tapi Kiya tetap saja menggelengkan kepalanya.
Ciara menghela nafas, sepertinya hari ini ia harus benar-benar memiliki tingkat kesabaran lebih banyak lagi.
"Terus mau Kiya kapan dihapusnya?" tanya Ciara.
"Nanti nunggu Papa sama Abang pulang. Biar mereka juga lihat kecantikan Kiya," jawab Kiya.
Ciara kini memijit pelipisnya, jika harus menunggu kedua laki-laki itu pulang, wajah Kiya keburu gatal-gatal betulan nanti.
Tapi tiba-tiba saja otak cerdas Ciara memiliki sebuah ide agar Kiya segera menghapus makeupnya.
"Kiya, Mama punya ide. Kan kalau nunggu Papa sama Abang pulang masih lama dan juga makeup Kiya nanti akan luntur, jadi gimana kalau Kiya sekarang foto saja terus habis foto, Mama nanti akan kirim ke Papa dan Abang. Jadi Kiya gak bakal nunggu mereka pulang juga makeup Kiya saat dilihat sama mereka masih bagus. Gimana? Kiya setuju kan?" Kiya tampaknya tengah memikirkan ucapan dari Ciara tadi. Hingga beberapa saat setelahnya ia mendekati Ciara dan langsung mengulurkan tangannya.
"Apa?" tanya Ciara yang tak paham dengan maksud Kiya.
"Ponsel Mama mana? Kiya mau foto." Ciara tersenyum sepertinya idenya tadi mempu meruntuhkan keinginan Kiya tadi. Dan dengan cepat Ciara mengeluarkan ponselnya dari saku celananya kemudian memberikan ke Kiya.
Kiya yang sudah mendapatkan ponsel tadi, ia langsung pergi dari hadapan Ciara dan menuju ke ranjang di kamar tersebut untuk mengambil foto dirinya. Sedangkan Ciara yang melihat kecentilan anaknya saat berpose pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Entah kecentilannya itu nurun dari siapa? Padahal aku tuh biasa aja, malah males kalau disuruh makeup tapi tuh anak hobi banget nyoret-nyoret mukanya kayak gitu," gumamnya dan sekarang pandangannya teralih ke arah meja riasnya.
"Wahai bapak Devano. Siap-siap uang kamu nanti habis buat ganti ini semua," sambungnya dan kini ia bergegas untuk membereskan kekacauan yang dibuat oleh Kiya.
Saat Ciara telah selesai membersihkan meja riasnya dan juga lantai yang terkena tumpah foundation tadi, bertepatan itu pula, Kiya menghampirinya.
"Udah selesai fotonya?" tanya Ciara yang diangguki oleh Kiya tak lupa anak itu memperlihatkan senyumannya.
"Jangan lupa di kirim Papa sama Abang ya, Ma." Ciara menganggukkan kepalanya. Lalu ia mendudukkan tubuh Kiya di kursi riasnya.
"Sekarang makeupnya dihapus ya."
Beberapa menit telah berlalu dan kini wajah Kiya kembali bersih.
"Selesai," ucap Ciara.
"Terimakasih Mama," tutur Kiya diakhiri dengan mencium pipi Ciara.
"Sama-sama sayang. Sekarang Kiya mandi ya, biar sisa-sisa makeupnya hilang semua," ucap Ciara yang membuat Kiya langsung turun dari kursi tadi kemudian ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar orangtuanya dengan lambaian tangan sebelum dirinya hilang dari balik pintu kamar itu.
Saat tubuh Kiya benar-benar hilang dari pandangan Ciara, ia langsung mengotak-atik ponselnya untuk melihat-lihat foto Kiya tadi. Ia terkekeh saat melihat beberapa foto Kiya yang sangat menggemaskan itu lalu dengan cepat ia segera mengirimkan foto tadi ke Devano dan untuk mengirimkannya ke Al biar nanti saja. Ia tidak mau anak laki-lakinya itu terganggu dengan pesannya saat tengah belajar.
📨 To : Crazy Rich Husband
Tolong anaknya dikondisikan ya bapak Devano. Dan siap-siap uang anda habis setelah ini untuk ganti rugi semua yang dilakukan anak anda.
Devano yang masih sibuk dengan lembaran kertas didepannya pun kini fokusnya teralihkan saat ponselnya berdering dan layar ponselnya memperlihatkan nama istrinya.
Ia buru-buru melihat isi pesan tersebut dan saat ia membukanya, Devano langsung kekeh kecil melihat foto Kiya dan juga membaca isi pesan istrinya itu.
Dengan cekatan Devano kini membalas pesan dari sang istri.
📨 To : My Perfect Wife
Ya Allah gemes. Pengen cepat pulang kan jadinya. Urusan ganti rugi tenang aja sayang. Aku bakal tanggungjawab. Mau aku transfer atau mau black card aja?
Tak berselang lama setelah pesan tadi terkirim, balasan Ciara, ia terima.
📨 : My Perfect Wife
Black card dong. Pokonya aku mau belanja apapun yang aku mau. Titik gak pakai koma.
Lagi-lagi Devano terkekeh. Ia tau jika istrinya sekarang tengah marah besar tapi tak bisa ia luapkan dengan kata-kata dan Ciara akan meluapkannya dengan berbelanja. Dan kini ia kembali membalas pesan dari Ciara.
📨 To : My Perfect Wife
Siap. Tapi tunggu aku pulang ya. Atau kalau gak pakai black card yang kamu pegang aja karena aku pulangnya juga masih lama.
^^^Gak mau, pokoknya harus black card kamu.^^^
Baiklah sayang. Tapi tunggu aku pulang.
^^^Hmmmm.^^^
Devano kini tertawa lebar saat melihat isi pesan itu. Dan tentunya Devano tak keberatan sama sekali dengan keinginan Ciara itu. Karena ia bekerja juga untuk membahagiakan anak istri. Jika istrinya tak suka berbelanja terus siapa lagi yang akan menghabiskan uangnya nanti?
...****************...
Dapat salam dari si centil Kiya, jangan lupa Like, Vote, komen, dan kasih hadiah tuh katanyaðŸ¤
See you next eps bye 👋