
Ciara sudah dipindahkan kembali ke kamar inapnya sedari 1 jam yang lalu sedangkan Devano ia baru kembali setelah mengadzani baby girl dan melihat baby girl di bawa ke ruang bayi untuk pemeriksaan lebih lanjut sebelum nantinya di serahkan sepenuhnya kepada keluarga saat dipastikan baby girl benar-benar dalam keadaan sehat dan itu semua keinginan dari Devano karena ia harus memastikan secara detail kesehatan bagi putrinya tercinta.
Saat dirinya masuk kedalam kamar inap Ciara, ia langsung mendengar teriakkan dari Al.
"Papa," teriaknya sembari berlari menuju kearah Devano.
Devano tersenyum kemudian menyambut tubuh anaknya yang sudah merentangkan kedua tangannya. Dengan sigap Devano langsung membawa tubuh Al kedalam gendongannya setelah Al didepannya tadi.
"Baby girl dimana?" tanya Al sembari melihat kearah kanan, kiri dan belakang tubuh Devano, mencari keberadaan adiknya. Ia benar-benar sudah tak sabar ingin berjumpa dengan bayi mungil itu.
"Baby masih di periksa dokter boy. Mungkin sebentar lagi baby girl di bawa kesini. Al sudah tidak sabar ya buat ketemu sama baby girl?" Al menganggukkan kepalanya penuh antusias.
Devano yang gemas pun mencubit hidung Al dengan pelan.
"Sabar ya sayang. Oh ya, Al udah makan?" tanya Devano sembari berjalan menuju ke kursi yang berada di samping brankar Ciara.
"Udah dong. Kita semua udah makan kecuali Mama," ucap Al. Devano menurunkan tubuh Al dari gendongannya sebelum dirinya duduk di kursi tadi.
Tatapan mata Devano kini beralih kearah Ciara.
"Kenapa belum makan hmm?" tanya Devano sembari mengelus lembut tangan Ciara. Sedangkan Al yang sepertinya tau kedua orangtuanya butuh berduaan saja akhirnya ia memilih untuk bergabung dengan para kakek dan neneknya yang juga di dalam kamar tersebut tapi mereka tengah mengobrol di sofa yang tak jauh dari brankar Ciara.
"Belum selera buat makan. Makanan di sini juga gak enak," jawab Ciara.
"Jangan gitu sayang. Kalau kamu gak makan bisa lemas tubuh kamu nanti. Apalagi setelah kamu kerahkan seluruh tenaga kamu tadi buat lahirin baby girl. Makan ya walaupun hanya sedikit tak apa yang penting perut kamu keisi," bujuk Devano sembari mengambil makanan yang pihak rumah sakit itu sediakan.
"Buka mulut kamu," titah Devano sembari menyodorkan sendok yang sudah berisi makanan tadi, tapi Ciara malah menutup mulutnya rapat-rapat.
"Ayolah sayang. Ini juga demi baby girl lho. Kalau kamu gak makan bisa-bisa ASI kamu gak keluar nanti. Emang kamu mau baby girl hanya minum susu formula?" Ciara terdiam. Ia tak menginginkan hal itu terjadi. Karena ia menginginkan anaknya itu meminum ASI-nya selama dua tahun sama seperti Al dulu.
"Tapi makanan ini gak enak Dev," rengek Ciara yang dilihat-lihat seperti anak kecil saja. Bahkan tingkahnya melebihi Al. Maklum lah hormon ibu baru melahirkan, sebelas dua belas sama seperti ibu hamil.
"Cuma buat sementara waktu aja sayang. Nanti kalau udah dirumah kamu boleh makan apa saja yang kamu mau, selain makanan cepat saji," tutur Devano yang mendapat kerucutan bibir dari Ciara.
"Jangan begitu sayang. Kalau kamu manyun-manyun gitu buat aku gak tahan untuk tidak menciummu." Ciara memelototkan matanya.
"Ish mesum. Ingat disini bukan cuma kita berdua tapi masih ada Al sama orangtua kita," peringat Ciara.
"Ya makanya jangan manyun dan makan cepat sebelum baby girl kesini nanti," ucap Devano sembari menyodorkan kembali sendok yang berisi makanan dari rumah sakit itu.
Dan dengan terpaksa Ciara akhirnya membuka mulutnya untuk menerima makanan tadi.
Dengan telaten Devano terus menyuapi Ciara hingga makanan tersebut habis tak tersisa dan bertepatan dengan itu pula baby girl di bawa masuk oleh suster.
"Permisi tuan dan nyonya. Baby-nya sudah di periksa keseluruhannya dan hasilnya sangat memuaskan tak ada kelainan atau apapun yang menjadi penghambat perkembangan baby nanti. Dan silahkan nyonya memberikan ASI ke baby yang seperti sudah mulai haus," ucap suster tadi sembari menyerahkan baby girl kedalam gedongan Ciara. Dengan hati-hati Ciara menerimanya.
"Terimakasih Sus," ucap Devano dan Ciara dengan serempak.
Suster itu tampak tersenyum dan mengangguk kemudian ia pamit undur diri.
Devano yang melihat anaknya tengah menaiki kursi pun dengan inisiatif Devano langsung mengangkat tubuh Al agar duduk di samping ranjang Ciara.
Setelah itu Devano membersihkan kursi tadi yang sempat diinjak Al sebelum mendudukinya lagi karena dia tadi sempat berdiri untuk menghormati suster yang mengantar baby girl.
"Hay baby girl," ucap Al setelah melihat lebih jelas wajah cantik dari adiknya sembari tangannya tengah usil mencolek pipi baby girl yang sedang asik menyusu.
"Ih lucu banget sih," gemas Al yang membuat Devano ataupun Ciara terkekeh.
"Jangan di cubit ya Al. Dedeknya nanti nangis kalau Al cubit," peringat Ciara karena melihat Al yang sudah tak tahan ingin mencubit pipi baby girl.
"Hehehe, gak Mama. Oh ya baby girl namanya siapa?" tanya Al penasaran.
"Al maunya siapa?" tanya Devano. Walaupun ia sudah menyiapkan nama bagi baby girl tapi tak apalah kalau Al menginginkan nama lain nanti bisa ia tambahkan sebagai nama depan atau tengah baby girl karena nama belakangnya sudah pasti menggunakan nama Rodriguez sebagi nama marga keluarganya.
Al tampak terdiam seolah berpikir tapi sesaat setelahnya ia menggelengkan kepalanya.
"Al gak tau Pa. Al gak jago bikin nama orang," tutur Al dengan polosnya. Devano kembali terkekeh sembari mengacak rambut Al.
"Nama baby girl adalah Adzkiya Eileen Rodriguez," ucap Devano.
Al tampak mendengus.
"Sulit sekali Papa. Yang singkat saja, nama panggilan baby girl siapa?"
"Panggil Kiya saja, boy." Bukan Devano yang menjawab melainkan Ciara.
Al tampak mengangguk, setidaknya dengan ia memanggil adiknya dengan nama Kiya tidak membuat lidahnya keseleo nantinya.
Tangan Al kembali terulur untuk mengganggu kegiatan adiknya itu.
"Dedek Kiya udah dong nenennya. Main yuk sama Abang," ucap Al.
"Al, dedek Kiya masih bayi sayang, jadi dedek belum bisa nemani Al main," tutur Ciara.
"Ck, jadi Al harus main sendiri lagi?"
"Gak sayang. Kan masih ada Mama, Papa, Mai, Dai, Oma sama Opa yang siap main sama Al. Dan untuk dedek Kiya tunggu dia sampai bisa merangkak ya. Nanti pasti Al selalu diganggu sama dedek Kiya," tutur Devano yang tadi melihat perubahan wajah Al yang menjadi cemberut.
"Jadi Al harus nunggu lagi?" Devano menganggukkan kepalanya.
"Berapa lama?" sambung Al.
"Hmmm sekitar 6 bulanan lah," jawab Devano.
"Huwaaaaa masih lama sekali. Al udah gak sabar mau main sama Kiya, Papa," keluh Al dengan suara nyaring.
"6 bulan cuma sebentar sayang. Al sabar ya." Ciara mengelus rambut anak laki-lakinya itu yang semakin cemberut. Sangat gemas sekali wajah Al saat ini ingin sekali Ciara mengigit pipi Al yang mengembung seperti bakpao itu. Tapi sayang ia tak ingin melihat anaknya kesakitan karena ulahnya. Alhasil Ciara memilih untuk menahan rasa gemasnya saat ini.