
Selesai dengan acara sarapan pagi yang cukup terlambat itu, kedua pasangan di tambah Al sudah bersiap untuk keluar dari kamar hotel tersebut.
"Gak ada yang ketinggalan kan?" tanya Rahel memastikan.
"Gak. Kitakan gak bawa apa-apa disini cuma pakaian ganti aja sama pakaian buat resepsi kemarin," jawab Zidan dan diangguki oleh Rahel. Kini ke-lima orang itu secara beriringan pergi dari kamar pengantin yang batal menjadi saksi bisu malam pertama bagi Rahel dan Zidan menuju lantai bawah untuk melakukan check out.
"Kita pulang duluan. Makasih buat kegagalan tadi malamnya," tutur Zidan sedikit menyindir sepasang suami istri yang tengah berhadapan di depannya itu.
Ciara dan Devano yang paham akan hal itu pun tersenyum canggung.
"Sorry. Tadi malam gue khilaf. Thanks juga udah jagain anak gue tadi malam," tutur Devano yang mendapat cebikan bibir dari Zidan.
"Asal kalian tau, tak ada yang gratis di dunia ini." Devano memutar bola matanya malas kemudian ia mengambil sesuatu yang berada di paper bag yang sedari tadi ia pegang.
Setelah menemukan apa yang ia cari, Devano langsung menyerahkan sebuah box kearah Zidan.
"Apa nih? gue gak mau ya kalau isi dari box ini cuma uang 1 juta," tutur Zidan tapi tak hayal tangannya bergerak untuk menerima box tadi dari tangan Devano.
"Bacot, buka dulu baru protes," titah Devano. Tangan Zidan pun kini bergerak untuk membuka box tersebut dan matanya membelalak sempurna saat melihat dua tiket pesawat ke sebuah negara yang menjadi tujuan utama bagi pengantin baru itu untuk bulan madu. Negara itu tak lain dan tak bukan adalah Paris, sebuah kota yang menurut mereka cukup romantis untuk dijadikan langkah awal mereka mengukir sejarah dalam pernikahan yang baru satu hari dilaksanakan. Tak hanya itu, didalam kotak itu juga ada sebuah cek yang tertuliskan 50 juta rupiah.
"Itu buat ganti malam pertama kalian yang udah gagal karena Al. Dan buat yang 50 juta, itu uang saku dari kita," tutur Devano santai.
"Wahhhhh. Kalian tau aja kalau kita punya rencana bulan madu ke Paris. Tapi kalau hanya ini aja sih menurut gue kurang." Nahkan sudah di kasih hati mintanya jantung.
"Disana aku punya satu apartemen yang lumayan dekat sama menara Eiffel. Kalian bisa tempatin apartemen itu selama kalian disana, asalkan barang-barang didalam apartemen gak ada yang pecah, rusak dan hilang." Kini Ciara mulai angkat bicara. Sebenarnya apartemen itu terbilang baru karena ia mendapat apartemen itu dari orangtuanya sebagai kado pernikahan dirinya juga Devano. Tapi karena diantara Ciara dan Devano tak menginginkan sebuah bulan madu, akhirnya mereka tak pergi kemana-mana setelah menikah. Yang mereka lakukan hanya menikmati peran mereka masing-masing. Karena menurut mereka itu sudah lebih dari cukup. Berkumpul dengan anak dan istri/suami, bercanda bersama, saling tukar cerita satu sama lain dan masih banyak lagi, itu semua lebih menyenangkan dibanding dengan melakukan bulan madu yang pastinya akan meninggalkan Al sendirian di negara ini, walaupun ada orangtua mereka yang dengan senang hati menjaga Al, tapi hati orangtua pastinya tak akan tega meninggalkan Al sendiri tanpa pengawasan langsung dari mereka. Namum tak hayal jika sesekali keluarga kecil itu pergi ke luar negeri hanya untuk sekedar refreshing otak mereka karena jenuh akan aktivitas yang melanda.
Mata sepasang pengantin baru itu pun berbinar. Enak juga mempunyai teman sultan seperti mereka dan ini juga merupakan keberuntungan bagi keduanya. Jika saja mereka tadi malam tak memperhatikan Al yang terus menggedor-gedor pintu kamarnya pasti mereka sekarang tak akan mendapatkan itu semua. Tiket bulan madu gratis, disana juga sudah tersedia tempat tinggal untuk mereka ditambah di kasih uang saku pula untuk keduanya. Duh ini lah definisi nikmat mana yang kalian dustakan.
Rahel kini memeluk tubuh Ciara untuk beberapa saat sebelum ia melepaskan pelukannya dan beralih mencium pipi Ciara yang tampak gembul itu beberapa kali.
"Ish Hel. Bau jigong pipi aku nanti," geram Ciara.
"Jigongku masih wangi kok jadi tenang aja," tutur Rahel dan kembali menciumi pipi Ciara yang satunya lagi.
"Rahel ih," rengek Ciara yang mulai risih dengan sikap Rahel itu.
"Aku cuma nyediain apartemen aja selebihnya Devano yang ngasih," ucap Ciara.
"Oh yah." Ciara menganggukkan kepalanya. Mata Rahel kini beralih menatap Devano.
"Thanks Dev. Walaupun aku masih sebal sama kamu setidaknya hadiah ini bisa buat ngurangin kekecewaan yang terpatri di hati aku," tutur Rahel. Devano hanya memutar bola matanya malas untuk membalas ucapan dari Rahel tadi.
"Gunakan itu semua dengan baik. Dan kalau bisa pulang-pulang udah ada baby di perut kamu," ujar Ciara yang langsung mendapatkan aamiin dari sepasang pengantin baru itu.
"Ya udah kalau gitu, kita duluan. Al kayaknya juga udah gak mood tuh. Jangan lupa bawa oleh-oleh juga. Awas aja kalau gak," sambung Ciara.
"Beres, kalau masalah oleh-oleh mah. Hati-hati dijalan." Rehel kembali memeluk tubuh Ciara sebagai salam perpisahan karena setelah ini mungkin keduanya tak sempat berpamitan lagi dengan para sahabatnya itu karena mereka akan berangkat ke Paris 4 jam lagi.
"Hati-hati juga berangkatnya." Rahel mengangguk dalam pelukan Ciara sebelum pelukan itu terlepas.
"Dan buat kamu Zi, jagain sahabatku jangan sampai lecet. Kalau kamu buat dia nangis atau kalau pulang-pulang dia lecet siap-siap bogemanku nanti mendarat di wajah kamu," ucap Ciara sembari menunjukkan kapalan tangan kearah Zidan.
Zidan terkekeh geli mendengar ancaman dari Ciara tadi. Walaupun tak diancam dan diingatkan pun ia juga akan melindungi istrinya itu.
"Tenang aja kali Ci. Sahabat Lo ini akan aman di sisi gue. Oh ya buat ucapan terimakasih, gue mau peluk Lo," tutur Zidan yang langsung mendapat tatapan tajam dari pawang Ciara, siapa lagi kalau bukan Devano. Laki-laki itu bahkan sekarang sudah memeluk pinggang Ciara dengan posesif.
"Kalau lo sampai nyentuh istri gue. Jangan salahkan gue kalau paginya Rahel udah jadi janda," ucap Devano memperingati sahabat laknatnya itu.
"Wow wow wow santai bos. Gue cuma bercanda kali. Walaupun gak bercanda toh kenapa sih, orang cuma mau peluk doang bukan mau gue ehemmm tuh bini lo." Tatapan Devano kini semakin tajam bahkan tangannya pun sudah mengepal erat. Ciara yang sadar akan hal itu pun mengelus dada suaminya agar laki-laki itu tak mengamuk dan berakhir menghajar sahabatnya itu.
"Zidan!!!" suara cempreng tapi sangat menakutkan itu membuat bulu kuduk Zidan berdiri. Ia pun menoleh kearah sang istri yang juga menatapnya seakan-akan ia akan memakan Zidan hidup-hidup.
"Ya ampun sayangku. Aku tadi hanya bercanda sayang. Ya kali aku mau berbuat begitu ke istri teman sendiri. Apalagi kan aku udah punya kamu disisi ku," tutur Zidan yang tak di pedulikan oleh Rahel. Wanita itu kini justru pergi meninggalkan tempat tadi.
"Rasain, pusing-pusing dah tuh kepala mikir buat bujuk Rahel," ucap Devano.
Zidan berdecak sebal dan tanpa mengucapkan sepatah katapun ia langsung berlari menyusul Rahel yang sudah mulai menjauh dari dirinya. Kalau istrinya itu sampai ngambek duh bisa gagal acara bulan madu mereka. Kan semuanya jadi sia-sia nanti.